A.M. Hendropriyono, Kraton Majapahit Jakarta dan Gerakan Aksara Nusantara
Tulisan dari Zulfikar Fuad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Cipayung, Jakarta Timur, A.M. Hendropriyono menggagas pembangunan replika sebagian Kraton Majapahit yang diresmikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada 7 Mei 2024. Kompleks ini menghadirkan sejumlah bangunan Kraton yang merujuk pada Kraton Majapahit di Mojokerto, antara lain Taman Madakaripura, Pendopo Maharaja Hayam Wuruk, Balairung Mahapatih Gajah Mada dan Alun-Alun Wilwatikta. Kementerian Pertahanan menyebutnya sebagai replika sebagian Istana Raja Majapahit di Jawa Timur.
Namun, membaca Kraton Majapahit Jakarta semata sebagai replika bangunan masa lalu berarti kehilangan makna yang lebih besar. Yang dibangun di Cipayung bukan hanya ruang fisik, melainkan ruang ingatan—sebuah upaya menghadirkan masa lalu ke tengah kehidupan modern agar sejarah tidak tercerabut dari kesadaran generasi penerus bangsa.
Dari ruang ingatan itulah muncul pertanyaan kebudayaan yang lebih mendasar: bagaimana Indonesia menghidupkan kembali identitasnya, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan memasuki masa depan dengan kesadaran tentang siapa dirinya? Di titik inilah Kraton Majapahit Jakarta dan Aksara Nusantara bertemu.
Ketika Bangsa Mulai Kehilangan Ingatan Jati Dirinya
Indonesia memiliki ratusan bahasa, beragam tradisi aksara, manuskrip, seni, sastra, arsitektur, ritual dan pengetahuan lokal. Kekayaan tersebut merupakan modal peradaban, tetapi sebagian warisannya semakin jauh dari generasi yang akan mewarisinya.
Globalisasi dan revolusi digital mempercepat perubahan itu. Identitas berisiko berubah menjadi sesuatu yang hanya dikenang, bukan digunakan. Padahal kebudayaan bukan ornamen kehidupan. Ia adalah cara sebuah bangsa memahami siapa dirinya sesungguhnya.
Karena itu, pesan Prabowo Subianto saat meresmikan Kraton Majapahit Jakarta patut dicermati. Ia menekankan pentingnya menghormati dan melestarikan budaya sendiri, sementara prasasti yang ditandatanganinya menyebut replika tersebut sebagai “gelombang kebangkitan bangsa Indonesia di bidang kebudayaan.”
Pesan itu melampaui seremoni peresmian: Bangsa yang kehilangan ingatan tentang dirinya sendiri akan kesulitan menentukan arah masa depannya.
Majapahit sebagai Cermin, Bukan Sekadar Nostalgia
Majapahit tidak perlu dihidupkan kembali sebagai kerajaan. Yang perlu dihidupkan adalah kesadaran peradabannya.
Kejayaan masa lalu tidak semestinya berhenti pada kebanggaan. Pertanyaan yang lebih produktif ialah apa yang dapat dipelajari dari kemampuan masyarakat pada zaman Majapahit membangun kebudayaan, mengelola keberagaman, membentuk jaringan dan menjadikan Nusantara sebagai kemajuan peradaban bangsa.
Dengan cara pandang itu, Majapahit bukan nostalgia, melainkan cermin. Kita menoleh ke masa lalu bukan untuk kembali ke sana, tetapi untuk bertanya: Indonesia seperti apa yang hendak kita bangun hari ini dan di masa depan?
Peradaban tidak semata meninggalkan bangunan. Ia mewariskan bahasa, tulisan, pengetahuan dan cara berpikir. Karena itu, jika Kraton Majapahit Jakarta menghadirkan kembali ruang peradaban, Maka, Aksara Nusantara memungkinkan peradaban itu dapat diwariskan.
Dari Menjaga Kedaulatan ke Menjaga Kesadaran
A.M. Hendropriyono dikenal luas melalui perjalanan panjangnya di militer, pemerintahan dan intelijen. Namun dalam fase kehidupannya kemudian, perhatiannya semakin besar pada kebudayaan. Sekilas, kedua dunia itu tampak berbeda. Namun sesungguhnya keduanya bertemu pada satu kepentingan: ketahanan bangsa.
Pertahanan menjaga kedaulatan, ekonomi memperkuat kemampuan negara, teknologi memperbesar daya saing, sedangkan kebudayaan menjaga kesadaran tentang siapa kita dan untuk apa seluruh kekuatan itu digunakan.
Sebuah negara dapat memiliki pertahanan kuat, ekonomi besar dan teknologi maju. Namun tanpa identitas, kemajuan kehilangan orientasi. Dalam konteks itulah perjalanan Hendropriyono dari medan pertempuran ke medan kebudayaan menarik untuk dibaca: dari mengawal negara ke menjaga ingatan bangsa.
Aksara Nusantara: Kegelisahan Jadi Gagasan dan Gerakan
Gagasan Aksara Nusantara muncul sebelum Kraton Majapahit Jakarta diresmikan. Pada 2023, A.M. Hendropriyono mengingatkan pentingnya Indonesia memiliki Aksara Nusantara sebagai bagian dari upaya memperkuat karakter dan identitas bangsa.
Gagasan itu kemudian bergerak ke ruang publik. Pada 28 Oktober 2023, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, Hendropriyono memperoleh penghargaan MURI sebagai penggagas dan perintis gerakan memasyarakatkan Aksara Nusantara. Pada kesempatan itu, tata cara penulisannya juga diperagakan.
Nilai penting peristiwa tersebut bukan semata penghargaan. Ia menandai momentum ketika gagasan yang semula berada pada tataran pemikiran mulai diperkenalkan sebagai gerakan kebudayaan.
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting: bisakah Aksara Nusantara itu dikembangkan lebih jauh menjadi alat berbahasa? Perkembangan berikutnya menunjukkan upaya ke arah itu
Ketika Gagasan Berkembang Menjadi Kerja Kolektif Bangsa
Sebuah gagasan kebudayaan tidak dapat tumbuh hanya dengan energi seorang penggagas. Ia membutuhkan perumusan, pengujian dan keterlibatan lintas disiplin keilmuan.
Salah satu figur yang tampil dalam proses itu adalah Saifur Rohman, yang kemudian dipercaya A.M. Hendropriyono sebagai Rakawi Agung Kraton Majapahit Jakarta. Saifur terlibat dalam pengembangan konsep hingga mendemonstrasikan penggunaan Aksara Nusantara.
Tahap penting berlangsung pada 18 Juni 2026, ketika Kraton Majapahit Jakarta menggelar implementasi Aksara Nusantara dengan menghadirkan para profesor, ilmuan dan budayawan. Di antaranya Prof. Dr. Muhammad Baiquni, Ketua Dewan Guru Besar UGM; Prof. Mukhtasar, Ph.D., Ketua Senat Fakultas Filsafat UGM; Prof. Dr. Lasiyo, Ph.D., akademisi filsafat UGM; Prof. Dr. Mustari Mustafa dari UIN Alauddin Makassar; Prof. Dr. Junaedi dari ISI Yogyakarta; dan Dr. Purwadi dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Acara ini menunjukkan bahwa Aksara Nusantara mulai dibawa ke ruang dialog, pengujian dan pertukaran pengetahuan. Dalam forum itu, Saifur Rohman mendemonstrasikan penulisan Aksara Nusantara secara langsung. Nama “Profesor Hendropriyono” dan frasa “Sumpah Palapa Gajah Mada” antara lain diperagakan dalam sistem aksara yang sedang dikembangkan.
Rangkaian itu memperlihatkan proses yang semakin konkret: gagasan, perumusan, pengujian, lalu demonstrasi. Sebuah proyek kebudayaan mulai bergerak dari wilayah simbolik menuju praksis.
Menyatukan Aksara, Tanpa Mengabaikan Keragaman
Saifur Rohman mengungkalkan, bahwa perumusan Aksara Nusantara telah melalui tahapan analisis kebutuhan, desain, uji coba, perbaikan dan implementasi. Aksara Jawa menjadi salah satu basis, kemudian disederhanakan dan disesuaikan untuk kebutuhan penulisan bahasa Indonesia. Beberapa bunyi yang tidak tersedia dalam sistem Jawa memerlukan rancangan bentuk baru.
Di sinilah tantangan substantifnya muncul. Indonesia tidak hanya memiliki aksara Jawa, tetapi juga aksara Sunda, Bali, Batak, Bugis, Rejang, Lampung, Kawi, Pegon dan berbagai tradisi aksara lainnya. Karena itu, persoalannya bukan sekadar seperti apa bentuk hurufnya, melainkan bagaimana menyatukan tanpa menyeragamkan. Setiap aksara daerah membawa sejarah, pengetahuan dan identitasnya sendiri.
Karenanya, pengembangan Aksara Nusantara membutuhkan dialog berkelanjutan dengan ahli linguistik, filologi, sejarah, antropologi, pendidikan, tipografi, komunitas pemilik aksara daerah dan teknologi digital. Gagasan besar membutuhkan ruang untuk diuji. Pengujian bukan kelemahan, melainkan jalan menuju legitimasi dan konsensus.
Dari Ruang Gagasan Menuju Ruang Kebijakan
Perkembangan mutakhir menunjukkan perhatian pemerintah mulai menguat. Pada Agustus 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengunjungi Kraton Majapahit Jakarta dalam kegiatan sosialisasi Aksara Nusantara dan menyebutnya sebagai tantangan sekaligus inovasi kebudayaan.
Fadli menekankan pentingnya memperkenalkan kekayaan aksara kepada generasi muda. Indonesia memiliki sekitar 1.340 etnis dan 718 bahasa, sementara variasi aksara Nusantara diperkirakan sekitar 15–30. Menurutnya, upaya tersebut merupakan pencarian titik temu dan sintesis atas keragaman budaya Indonesia.
Perkembangan itu menandai pergeseran penting: Aksara Nusantara mulai bergerak dari ruang gagasan menuju ruang dialog kebijakan dan pendidikan. Namun batas faktual tetap harus dijaga. Aksara Nusantara belum merupakan aksara resmi negara. Ia masih berupa gagasan dan hasil perumusan yang diperkenalkan, disosialisasikan dan memasuki tahap pengujian lebih luas.
Sikap yang diperlukan bukan tergesa-gesa memberi legitimasi formal, melainkan membuka ruang inovasi sekaligus memastikan setiap tahap memperoleh dasar ilmiah yang memadai.
Masa Depan Aksara Nusantara Ada di Ruang Digital
Aksara akan mati jika hanya disimpan. Ia hidup jika digunakan. Karena itu, masa depan Aksara Nusantara tidak cukup berada di pendopo Kraton Majapahit Jakarta. Ia harus hadir di telepon pintar, papan ketik, perangkat lunak, buku elektronik, sekolah, media sosial dan kecerdasan artifisial.
Teknologi dapat menjadi mitra pelestarian. Digitalisasi manuskrip memperluas akses terhadap pengetahuan lama. Teknologi pengenalan karakter membantu membaca aksara kuno. Kecerdasan artifisial membuka peluang transliterasi, pembelajaran dan pengolahan naskah.
Penelitian komputasional juga mulai mengembangkan dataset dan benchmark untuk aksara asli Indonesia, termasuk pengenalan karakter, transliterasi dan penerjemahan.
Kraton Majapahit Jakarta sebagai Laboratorium Peradaban
Masa depan Kraton Majapahit Jakarta idealnya tidak berhenti pada kemegahan bangunan. Ia dapat berkembang menjadi laboratorium kebudayaan: tempat sejarah dipelajari, naskah dibaca, aksara diteliti, seniman bertemu teknolog, filolog berdialog dengan pengembang kecerdasan artifisial, dan generasi muda menemukan bahwa menjadi modern tidak berarti memutus diri kita dari akar budaya.
Dengan demikian, Kraton Majapahit Jakarta tidak sekadar menjadi monumen sejarah dan budaya, tetapi juga ekosistem pengetahuan. Bangunan dapat menjadi simbol kejayaan, dan pengetahuanlah yang membuatnya hidup.
Ketika Kebudayaan Menjadi Kekuatan Strategis Bangsa
Dalam persaingan global, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan pertahanan, ekonomi dan teknologi. Ada kekuatan lain yang semakin penting: kemampuan memengaruhi dunia melalui kebudayaan.
Bahasa, musik, film, makanan, desain, sejarah dan sastra adalah sumber soft power. Indonesia memiliki modal budaya yang luar biasa, tetapi memiliki kekayaan budaya dan mengubahnya menjadi kekuatan peradaban adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah warisan. Yang kedua adalah pekerjaan.
Karena itu, kita berharap pengembangan Aksara Nusantara tidak berhenti sebagai proyek simbolik. Jika hendak menjadi kekuatan kebudayaan, ia membutuhkan tiga fondasi: legitimasi ilmiah, penerimaan sosial dan daya hidup teknologi. Tanpa ilmu, ia rapuh. Tanpa masyarakat, ia tidak hidup. Tanpa teknologi, ia sulit menjangkau generasi masa kini dan masa depan.
Menulis Masa Depan dengan Ingatan Masa Lampau
Pada akhirnya, Kraton Majapahit Jakarta bukan sekadar cerita tentang bangunan yang menghidupkan sejarah. Ia adalah ikhtiar mempertemukan ingatan masa lalu dengan kebutuhan untuk menjemput masa depan gemilang.
Majapahit menghadirkan ingatan tentang kejayaan peradaban Nusantara. Kraton Majapahit Jakarta menghadirkannya ke ruang modern. Hendropriyono menggerakkan pengembangan Aksara Nusantara agar ingatan itu diabadikan dalam bentuk tulisan. Para akademisi, ilmuan dan budayawan mulai mengujinya. Pemerintah membuka ruang untuk dukungan kebijakan.
Karena itu, keberhasilan Aksara Nusantara tidak semestinya diukur dari seberapa cepat ia memperoleh status formal sebagai alat komunikasi negara Terpenting saat ini adalah pengembangan dan pemantapan lebih lanjut agar Aksara Nusantara dapat terus dipelajari, digunakan, diuji, diterima dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebuah aksara menjadi milik bangsa ketika bangsa itu menggunakannya. Sebuah kebudayaan menjadi kekuatan ketika ia tidak hanya dikagumi, tetapi mampu memberi arah.
Mungkin di situlah makna terdalam gagasan dan gerakan A.M. Hendropriyono dalam bidang kebudayaan. Ia tidak sedang mengajak Indonesia kembali menjadi Majapahit. Ia mengajak Indonesia menyadari bahwa sebelum menjadi bangsa modern, Nusantara telah memiliki sejarah peradaban yang panjang. Dari kesadaran itu, tumbuh kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar untuk modal menjemput kejayaan Indonesia Emas 2045.
Kraton Majapahit Jakarta adalah ruang untuk mengingat. Aksara Nusantara adalah ikhtiar mencipta ulang bahasa resmi dalam berbangsa dan bernegara. Teknologi adalah medium untuk menghidupkannya. Generasi muda adalah pewarisnya.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, menguasai teknologi dan memiliki kekuatan pertahanan yang tangguh. Semua itu membutuhkan kekuatan dari dalam: kemampuan mengenali jati diri bangsa Indonesia, menjaga ingatan, dan membawa warisan itu untuk menjemput masa depan.
Jika kelak Aksara Nusantara hidup di sekolah, kampus, buku, ruang publik dan teknologi digital, yang lahir bukan semata sistem komunikasi untuk berbangsa dan bernegara yang berbasis akar budaya. Kita sedang menyaksikan babak baru perjalanan bangsa Indonesia yang sedang menulis ulang identitasnya—dengan tinta masa lalu, di atas halaman masa depan.

