Konten dari Pengguna

"Awanama”, Proteksi Privasi dan Hindari Bias Identitas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tangkapan layar hasil gim Tebak Kata, Selasa (16/6/2026) siang. (Foto: Mohamad Jokomono)
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar hasil gim Tebak Kata, Selasa (16/6/2026) siang. (Foto: Mohamad Jokomono)

Ketika saya main gim Tebak Kata, Selasa (16/6/2026) siang, hasil jawaban yang benar, yaitu “anonim”, tidak terlalu mengusik perhatian saya. Kata ini sudah sering kedapatan dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Sudah lazim terdengar, terutama terkait dengan karya sastra, seni pertunjukan, ataupun lagu (biasanya berlabel lagu rakyat) yang tidak dikenali siapa nama kreatornya.

Pada mulanya secara sepintas, pandangan saya tertuju pada keterangan makna. Statemen “tanpa nama” dan “tidak beridentitas” sudah tentu tidak menimbulkan persoalan apa pun untuk memahaminya. Namun, perhatian saya terhenti pada “awanama”. Tunggu dahulu, yang satu ini membutuhkan banyak waktu jeda untuk mengingat-ingat kapan pernah menemukannya dalam suatu bacaan atau mendengarnya pada konversasi sehari-hari.

Tapi, memang awanama belum begitu familier dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. Kemudian untuk mengeceknya, apakah ia sudah menjadi bagian khazanah kosakata yang resmi dari bahasa Indonesia, pastilah Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring), bisa menjadi jujukan untuk keperluan itu. Setelah saya cek, memang lema tersebut kedapatan di situ.

Tangkapan layar dengan warna latar belakang hasil kreasi pengubahan Meta AI.

Menurut KBBI, awanama itu (a)djektiva dengan makna: tanpa nama atau anonim. Ia melewati proses morfologis dari unsur serapan atau penggabungan bentuk terikat awa dengan kata nama untuk menegaskan label identitas yang hilang dari suatu subjek. Kata ini begitu relevan menyulihi anonim yang paling kerap melekat dalam percakapan sehari-hari dan karya ilmiah.

Selain anonim juga ada “anonimitas” (anonymity), nomina yang mengacu pada kondisi pelaku perbuatan, penulis, atau subjek tidak mendapatkan pengenalan secara pasti. Kemudian ada “nirnama” (belum tercantum resmi di KBBI, tapi sudah ada “nirlaba”, “nirguna”, “nirleka”), dengan referen makna yang persis sama: tanpa nama.

Memang, suatu kata masuk ke KBBI VI Daring merupakan soal pengakuan dan pencatatan negara, dalam hal ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sementara itu, frekuensi pemakaiannya di masyarakat, merupakan cerminan dari dinamika berbahasa dan kebutuhan komunikasi keseharian.

Suatu kata dapat terdaftar di KBBI beranjak dari adanya pemenuhan kaidah fonetis, leksikal, dan memperoleh persetujuan penggunaannya dari Badan Bahasa. Akan tetapi, KBBI mencatat adanya jenis kata baku dan tidak baku.

Kata Baku

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kata baku merujuk pada kata yang pemakaian dan penulisannya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia berdasarkan penetapan sumber utama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Penggunaannya wajib dalam situasi formal, seperti penulisan karya ilmiah, dokumen resmi, dan pidato.

Di samping kata baku, terdapat pula kata tidak baku ataupun yang realisasi penerapannya hanya untuk ragam percakapan. Kosakata demikian mendapat pengakuan keberadaannya sebagai rekam jejak bahasa. Akan tetapi, tidak ada anjuran pemakaiannya untuk acara atau situasi formal.

Terkait dengan contoh kata baku untuk situasi formal, pilihan tentu jatuh pada yang dirujuk silang (efek tebal), seperti komoditi → komoditas, standarisasi → standardisasi, marwah → muruah. Dan, sudah pasti sulit mendapatkan tempat yang semestinya pada situasi formal untuk kata-kata yang identik dengan ragam percakapan para kawula muda, semacam mager, bucin, atau gacor.

Nah, terkait dengan kriteria baku atau tidak baku dan ragam percakapan di atas, awanama termasuk ke dalam kata baku. Kehadirannya dalam penulisan karya ilmiah relatif lebih relevan. Sebab, ada tuntutan penggunaan kata yang formal dan objektif. Awanama tepat menjadi diksi bagi peneliti tatkala hendak merahasiakan identitas responden atau subjek penelitian. Oleh karena itu, dikenal istilah narasumber awanama.

Terkait dengan frekuensi atau kekerapan pemakaian suatu kata sangat tergantung pada konteks penutur dan zaman. Tidak sedikit kata yang resmi di KBBI sangat jarang (kategori pasif) menerima realisasi pemakaian dari masyarakat penutur umum. Bisa karena terasa asing, termasuk ragam arkais atau klasik. Atau, bisa pula karena terlalu spesifik. Contoh tamsil, nirmana, swatantra, dewana.

Sebaliknya, banyak istilah serapan dari bahasa asing (termasuk ragam bahasa gaulnya) yang tingkat kekerapan atau frekuensinya tinggi (kategori aktif), sangat masif di ruang digital. Akan tetapi, konteks penggunaan untuk situasi komunikasi yang tidak menuntut penggunaan kata-kata baku. Dan, malahan bisa jadi belum secara resmi tercantum di KBBI.

Banyak contoh kata serapan (kebanyakan dari bahasa Inggris) yang begitu masif pemakaiannya dalam komunikasi digital informal, tapi belum masuk KBBI. Kata untuk aktivitas dan perilaku (slang internet), contoh ghosting (memutus komunikasi mendadak tanpa penjelasan kepada pacar atau orang dekat), flexing (memamerkan harta atau prestasi secara berlebihan di media sosial).

Kemudian, ada gaslighting (pelaku memanipulasi psikologis korban sehingga korban bersangkutan mempertanyakan realitas, ingatan, dan kewarasannya sendiri). Lalu, gatekeeping (tidak mau membagikan informasi atau sumber, misal tempat nongkrong atau produk, kepada orang lain agar tetap eksklusif peredarannya).

Juga kata serapan yang berkaitan dengan emosi dan situasi (vibes). Contoh cringe (malu, canggung, jijik ketika melihat sesuatu yang menurut anggapannya norak, berlebihan), burnout (kelelahan fisik dan mental mendalam akibat stres berlarut terkait dengan pekerjaan), healing (pelesetan anak muda untuk rekreasi atau penyembuhan mental dari stres).

Seterusnya kata serapan yang bertalian dengan penilaian (slang Generasi Z), seperti good looking (mengacu pada penampilan seseorang yang menarik atau rupawan), main character energy (tampil percaya diri sebagai tokoh utama di lingkungannya), savage (respons seseorang yang tajam, cerdas, dan berani menanggapi kritik orang lain).

Kendatipun begitu mendulang popularitas di X. Instagram, TikTok, hingga chat WhatsApp, kata-kata tersebut tidak pernah berada di ranah formal, seperti dalam penulisan karya ilmiah, kecuali sekadar penyebutan dalam penelitian sosiolinguistik mengenai bahasa gaul. Demikian juga dalam presentasi seminar (kecuali memang membahas ragam slang, yang tidak lebih dari sekadar penyebutan contoh dan konteks penggunaannya).

Meskipun demikian, dinamika bahasa bisa saja berlaku. Demikian pula dengan bahasa Indonesia. Ia pun terus bergerak. Badan Bahasa pun memutakhirkan entri KBBI, biasanya berlangsung dua kali dalam setahun, untuk mencermati lewat kerja perangkuman kata-kata yang sedang tren di masyarakat. Manakala ada kata dari bahasa gaul, ternyata banyak masyarakat penutur yang menggunakannya dalam rentang waktu tertentu, terbuka peluang bagi kata itu untuk mendapat pertimbangan masuk ke KBBI.

Sangat Jarang

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Lalu bagaimana dengan tingkat kekerapan pemakaian awanama? Untuk teks bahasa Indonesia tergolong sangat jarang penggunaannya. Dalam literatur, media massa, ataupun komunikasi keseharian, masyarakat dan kalangan penulis lebih lazim memakai kata serapan anonim. Secara etimologi berasal dari kata bahasa Yunani, anonymos (ανώνυμος). Dan, diserap bahasa Indonesia lewat bahasa Belanda dari kata anoniem.

Berdasarkan analisis lewat Pangkalan Data Korpus Bahasa Indonesia, seperti Pemodelan Frekuensi Kata, anonim berada di skala ribuan kali lebih sering daripada awanama. Hal ini terkait dengan realitas pemakaian awanama yang cenderung lebih banyak muncul pada tulisan beraroma sastra. Biasanya penulis yang berkecimpung dalam bidang ini ingin menonjolkan kosakata yang relatif berakar pada bahasa Nusantara.

Dalam bahasa Indonesia, awalan awa- merupakan bentuk terikat dari hasil penyerapan bahasa Sansekerta, yaitu ava- (अव). Kata ini juga bukan kata mandiri yang dapat berdiri sendiri dalam kalimat. Ia memiliki fungsi sebagai bentuk terikat dengan klasifikasi sebagai upasarga, awalan verba atau nomina turunan.

Menurut gramatika bahasa Sanskerta dan bentuk serapannya ke dalam bahasa Indonesia (sebagai prefiks awa-), ava- tidak pernah berdiri sendiri. Partikel ini harus senantiasa melekat (terikat) di depan kata dasar untuk membentuk kata baru.

Contoh kata bahasa Sansekerta: avatāra (अवतार). Gabungan ava (turun) dengan tāra (menyeberang). “Turun menyeberang” merupakan tindakan dewa yang tinggal kahyangan turun ke mayapada. Bisa dalam wujud penitisan dewa itu ke dalam tubuh manusia.

Lalu avaniti (अवनति). Gabungan ava (turun/bawah) dengan nati (membungkuk). Kata avaniti atau avantil atau avanati merujuk pada konsep maknawi yang mengacu pada kemunduran, kemerosotan, atau kejatuhan suatu hal baik menuju pada hal buruk.

Sementara itu, dalam bahasa Indonesia, bentuk terikat awa- pada umumnya menjadi padanan prefiks bahasa Inggris de-, seperti dehydrate (tanpa air), decaffeinated (tanpa kafein), defrost (tanpa es), decolorize (tanpa warna). Sepadanan pula dengan prefiks dis-, seperti disagree (tidak setuju), disappear (tidak muncul), dishonest (tidak jujur), dislike (tidak suka).

Adapun dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa contoh kata yang menggunakan bentuk terikat awa- selain awanama, yaitu awahama (tanpa hama/penyakit yang berpadanan dengan disinfeksi [disinfection]). Ada lagi awaracun (tanpa/bebas racun atau proses menetralisasi racun atau detoksifikasi [detoxification]).

Terdapat pula kata awabau (tanpa/bebas bau). Acapkali berpadanan dengan deodoran (deodorant). Selanjutnya ada awawarna (penghilangan warna asli atau pemudaran warna). Dan, awaair, bebas dari air, bisa juga pengeringan air. Proses dewatering. Serta, awalengas, tanpa kelembaban. Verbanya dehumidify dan nominanya dehumidification.

Dalam KBBI juga terdapat lema awatara dan avatar. Ini merupakan kata dasar asli hasil serapan secara utuh. Kedua kata merupakan bentuk serapan dari bahasa Sanskerta, yakni avatāra (अवतार). Ketika dewa dari kahyangan turun ke mayapada, bisa berarti pula dewa itu menjelma sebagai manusia. Seperti Dewa Wisnu yang menjelma sebagai Kresna. Atau, Dewa Vayu (Bayu) menitis sebagai Bima. Atau lagi, Dewa Indra hadir memanusia sebagai Arjuna.

Konteks Penggunaan

ilustrasi kreasi Gemini AI.

Pengaplikasian konsep “awanama” dapat menemukan realisasi dalam pelbagai bidang kehidupan. Dalam realitas sehari-hari, kita terkadang menemukan puisi, cerita rakyat (fabel, dongeng), atau lukisan hasil kreasi pada zaman dahulu kala yang mempunyai status awanama. Sebab, tidak terdapat identitas pengarang yang menulisnya atau pelukis yang melukisnya.

Dalam fiksi misteri, konsep awanama menjadi alat penceritaan yang efektif untuk membangun ketegangan. Oleh karena itu, perlu kehadiran karakter awanama yang misterius, tanpa identitas jelas. Di samping itu juga untuk mengaburkan motif. Dan, mengkreasikan teka-teki yang mendorong khalayak audiens terus menebak hingga ujung pungkas narasi.

Karakter misterius yang awanama bisa menjadi begitu efektif dalam fiksi lewat penerapan sejumlah elemen. Ada elemen fungsi utama dalam narasi. Keberadaan tabir identitas (enigma), sehingga khalayak audiens tidak tahu nama asli, deskripsi wajah dan perawakan, atau latar belakangnya, menyebabkan karakter terselubungi aura misteri yang memicu rasa penasaran.

Karakter awanama juga dapat menghadirkan proyeksi ketakutan (kekosongan emosi). Dengan tanpa ciri personal manusiawi, karakter awanama hadir dengan pergerakan tindakan dengan kekuatan tanpa ekspresi wajah (dingin), merepresentasikan intimidasi yang lebih dahsyat sebagaimana takdir atau sindikat rahasia.

Identitas asli karakter awanama kerap kali begitu terawat atau tersimpan sebagai rahasia utama (pengungkapan identitas atau plot twist). Dan, keterungkapan siapa mereka di balik topeng misteri (topeng nama yang tidak sebenarnya) itu bergerak ke arah perubahan drastis dari arah narasi.

Misalnya karakter dalam cerita Naruto, yaitu penjahat bertopeng Tobi, sang dalang Perang Dunia Ninja. Sepanjang cerita, karakter ini menyamar dengan sosok yang berkepribadian konyol. Ketika terjadi plot twist, terbuka identitas aslinya sebagai Obito Uchiha, sahabat masa lalu Kakashi yang menurut kabar sudah tewas, pada akhirnya mengubah wujud konflik dari melawan teroris menjadi tragedi perang yang sedemikian emosional.

Kemudian dalam Star Wars, terdapat karakter misterius berupa sosok cyborg hitam nan kejam, Darth Vader, ternyata adalah ayah Luke Skywalker. Penguakan identitas yang sebenarnya ini seketika membelokkan arah narasi dari pertempuran hitam - putih menuju ke penebusan dosa dan konflik keluarga.

Lalu karakter awanama (pemakaian identitas samaran), sebagaimana Red John dalam film serial The Mentalist di CBS. Mantan cenayang Patrick Jane memburu pembunuh berantai misterius itu. Ketika kemudian terungkap jati diri sebenarnya dari pembunuh yang semula bertopeng nama julukan Red John itu ternyata Thomas McAllister, sherif Napa County. Kemudian mengubah arah narasi dari investasi kriminal menjadi balas dendam pribadi yang begitu emosional.

Adapun jenis karakter awanama, bisa dalam performa penjahat tanpa wajah (faceless antagonist). Identitas karakter hanya diketahui julukannya, seperti The Stranger, Cipher, atau John Doe yang berperan sebagai dalang dari berbagai konflik cerita.

Bisa pula karakter awanama itu, dalam narasi fiksi, bisa berupa pahlawan bertopeng (the masked vigilante). Karakter protagonis menyembunyikan identitas sejatinya dengan tujuan untuk memproteksi diri atau orang-orang terdekat, dalam sepak terjangnya untuk menegakkan keadilan. Contoh klasik, Zorro dan Batman.

Karakter awanama bisa juga merupakan pengamat misterius. Karakter pendukung yang senantiasa berada di tempat kejadian cerita. Tidak bernama. Kalau pun ada, hanya julukan. Kerap memberi petunjuk secara samar kepada karakter utama.

Contoh Cigarette Smoking Man dalam serial televisi fiksi ilmiah dan supranatural The X-Files. Karakter ini pada mulanya muncul sebagai pengamat tak bernama (karakter awanama) yang senantiasa mengawasi agen Mulder dan Scully. Dia karakter bayangan yang sering memberi isyarat, petunjuk, instruksi samar. Sangat krusial pertaliannya dengan konspirasi pemerintah.

Lalu Observers dalam serial fiksi ilmiah Fringe. Karakter ini berwujud sosok-sosok misterius berkepala plontos. Mereka senantiasa hadir kejadian yang tengah menjadi fokus pengamatan karakter protagonis. Akan tetapi, mereka tidak mengintervensi langsung. Hanya memberi petunjuk atau peringatan secara samar.

Kemudian karakter Varys dalam buku fantasi epik A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin yang kemudian mengalami adaptasi sebagai serial televisi HBO, Games of Thrones. Sebelum terungkap identitasnya, Varys berperan sebagai “laba-laba” yang menjadi pengamat semua kejadian di King’s Landing. Menjadi informan tanpa nama yang memberikan teka-teki dan petunjuk kepada Eddard Stark dan Tyrion Lannister, dua di antara dari banyak karakter utama, demi tujuan politiknya yang misterius.

Secara fundamental, karakter awanama memainkan peran psikologis terhadap khalayak audiens. Bahwa manusia pada umumnya secara naluriah merasa takut dan penasaran terhadap sesuatu yang tidak mereka ketahui atau pahami seutuhnya.

Jurnalisme dan Dunia Digital

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Selain dalam karya fiksi, konsep awanama juga dikenal dalam dunia jurnalisme termasuk jurnalisme daring. Konsep awanama di sini merujuk pada praktik merahasiakan identitas narasumber dari publik. Penerapan konsep ini sangat terbatas dan tunduk pada prinsip etika ketat.

Penerapan konsep awanama biasanya terjadi pada jurnalisme investigasi yang membuka kemungkinan narasumber dapat menghadapi intimidasi keselamatan fisik, teror, risiko kehilangan pekerjaan, atau risiko menjadi target persekusi. Meskipun demikian, syaratnya tentu melalui pemverifikasian terlebih dahulu terhadap informasi yang terberikan.

Penggunaan konsep awanama di dunia jurnalisme adalah untuk memberikan perlindungan kepada narasumber. Misalnya ketika jurnalis mampu memperoleh informasi valid dari “orang dalam” yang tidak berani bersuara secara terbuka. Seperti membongkar kasus korupsi, kejahatan terorganisasi, atau pelanggaran hak asasi manusia (HAM) kategori berat.

Kendatipun tidak termungkiri nilai pentingnya dalam menyingkap tirai kebenaran, ada pembatasan aturan ketat dalam penggunaan narasumber awanama, demi menegakkan kredibilitas pers. Penggunaannya harus melewati izin dari pemimpin redaksi. Informasi narasumber awanama tidak boleh untuk menyerang, memfitnah, atau merusak reputasi seseorang.

Jurnalis Indonesia mendapat perlindungan Pasal 4 ayat (4) Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, untuk menolak mengungkapkan identitas narasumber berita kepada penegak hukum demi menjaga kerahasiaan.

Menurut Pedoman Penerbitan Media Siber yang mendapat pengesahan Dewan Pers pada 26 Maret 2012, hak tolak tersebut merupakan hak profesi untuk melindungi narasumber dari ancaman atau konsekuensi negatif akibat pemberitaan informasi. Juga, hak untuk merahasiakan identitas narasumber demi keselamatan atau kepentingan publik yang lebih besar.

Sementara itu, dari Buku Saku Wartawan yang diterbitkan Dewan Pers pertama kali pada September 2013, disebutkan bahwa jurnalis tidak dapat dipidana atau dipaksa membuka identitas narasumbernya, sekalipun dalam proses peradilan. Namun, jurnalis wajib memastikan motif narasumber tidak ternodai niat buruk, seperti persaingan politik dan bisnis. Serta, memverifikasi keterangan narasumber bersangkutan dengan data atau narasumber yang lain.

Kemudian aturan dan batasan etisnya. Nama asli narasumber perlu tetap diketahui oleh pemimpin redaksi. Tujuannya, demi menjaga akuntabilitas dan pertanggungjawaban hukum. Narasumber awanama tidak boleh dimanfaatkan untuk penyebaran hoaks. Atau, untuk menghindari konsekuensi hukum atas karya jurnalistik.

Penerapan konsep awanama narasumber dalam penulisan berita pada lazimnya mengalami penyamaran menggunakan inisial. Contoh: “Narasumber berinisial S, mantan staf keuangan di perusahaan tersebut, membeberkan dokumen rahasia yang menunjukkan adanya aliran dana mencurigakan ke rekening sejumlah pejabat daerah”.

Adapun, dengan cara pemberian profesi atau posisi umum, seperti “Seorang yang menolak disebutkan namanya, mengatakan, keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut sebenarnya telah direncanakan jauh hari sebelum surat peringatan pertama diterbitkan”. Atau, “Sumber yang dekat dengan investigasi ini, menuturkan, warga setempat tidak pernah dilibatkan dalam proses sosialisasi ataupun penandatanganan persetujuan awal”.

Konsep awanama juga bisa mendapat penerapan di dunia digital dan internet. Dalam forum daring, seperti imageboard, forum diskusi internet yang mayoritas para penggunanya awanana (minimal tidak menggunakan nama asli) dapat saling berbagi dan berdiskusi dengan gambar, foto, serta karya visual lainnya, biasa dengan serta teks.

Demikian pula manakala memberikan respons untuk suatu survei, tidak sedikit orang yang memutuskan untuk memakai identitas awanama. Tujuannya, agar mereka memiliki celah peluang untuk mengemukakan pandangan atau pendapat secara jujur. Tanpa ada perasaan ketakutan terhadap kemungkinan penghakiman di luar ketentuan yuridis.

Sejumlah alasan utama mengiringi sebagai jawaban, mengapa suatu karya atau tindakan mesti mewujud dengan sifat awanama. Bisa beranjak dari keamanan privasi sebagai upaya proteksi terhadap identitas narasumber (karya jurnalisme investigatif), agar terhindar dari ancaman pihak tertentu.

Penerapan konsep awanama juga bisa berangkat dari alasan untuk menegakkan prinsip objektivitas. Tujuannya guna memastikan, karya atau opini mendapatkan rengkuh penilaian secara murni berdasarkan isinya. Bukan lantaran siapa yang menulis.

Seperti blind peer review. Proses evaluasi naskah untuk jurnal akademik dengan identitas awanama, baik si penulis maupun si penelaah. Guna mencegah bias institusional atau personel dan menggaransi kualitas publikasi ilmiah sebelum terbit di jurnal.

Konsep awanama juga hadir dari titik keberangkatan alasan, sebagai bagian yang unik dari kultur tradisional. Pewarisan cerita-cerita rakyat turun-temurun dan komunal, dengan demikian kepemilikan intelektual yang melekat secara kolektif pada masyarakat. Dan, bukan pada satu individu.

Demikianlah awatama. Ia menjadi tatanan konsep yang penting dalam upaya untuk merawat keseimbangan dengan baik, antara kebebasan mengungkapkan ekspresi, proteksi terhadap privasi, dan penyampaian informasi tanpa godaan bias identitas. ***