Bacaan Mujahadah Lengkap untuk Memperoleh Ketentraman Hati

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada banyak amalan yang bisa dilakukan umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya dengan bermujahadah. Bila seseorang rajin berdzikir bacaan mujahadah, ia akan mendapat ketentraman hati dan pikiran. Kendati demikian, tak sedikit orang yang mencari tahu arti mujahadah.
Untuk itu, simak pembahasan terkait pengertian, tata cara, bacaan, tujuan hingga manfaat melakukan mujahadah lebih lanjut berikut ini.
Apa Itu Mujahadah dan Contohnya?
Dikutip dari buku Buku Saku Mujahadah Asmaul Husna oleh Tim MKAH, menurut bahasa, mujahadah artinya bersungguh-sungguh. Sedangkan menurut istilah, mujahadah dapat dipahami sebagai tindakan bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu atau mujahadah an-nafs.
Apa arti mujahadah an nafs? Secara singkat, arti mujahadah an nafs dapat dipahami sebagai kesungguhan untuk melawan hawa nafsu dan menghindari segala perilaku yang dilarang Allah SWT.
Mujahadah dapat dilakukan dengan cara berdzikir untuk mengingat Allah baik melalui lisan maupun hati. Di dalam Alquran, banyak ayat yang mengisyaratkan pentingnya seseorang bermujahadah dalam mengendalikan nafsunya. Salah satunya disebutkan dalam surat Yusuf ayat 53 yang berbunyi:
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Yusuf: 53)
Dari ayat di atas, umat Muslim dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berbuat baik serta melawan hawa nafsu yang mengajak perbuatan jahat.
Selain Al-Qur’an, terdapat hadits tentang mujahadah an nafs sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari).
Dijelaskan dalam buku Pengaruh Pemahaman Materi Tentang Mujahadatun Nafs dan Husnuzan Terhadap Sikap Belajar Siswa oleh Hasrul Hamdani, hadis di atas secara garis besar memuat pentingnya kontrol diri dalam kehidupan. Sebab, kemenangan dan keberhasilan hanya dapat diraih oleh seseorang yang mampu mengendalikan diri dari segala bentuk nafsu dan amarah dalam dirinya.
Adapun beberapa contoh mujahadah di antaranya selalu mengingat Allah SWT dalam kondisi apapun dan mampu menguasai diri untuk tidak melakukan perbuatan dosa.
Bagaimana Cara Mujahadah yang Benar?
Agar amalan mujahadah semakin khusyu dan afdal, penting bagi tiap-tiap muslim mengetahui bacaan yang harus dilafalkan. Selain menambah nilai ibadah, beberapa bacaan berikut dapat mendekatkan kita dengan Allah SWT.
Dikutip dari buku Mujahadah oleh K. Zainuri Ihsan, dkk., bacaan mujahadah diawali dengan membaca Alfatihah tiga kali sebagai hadiah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, serta para sahabat. Kemudian dilanjutkan dengan membaca dzikir berikut.
Membaca Astaghfirullahal adhiem alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaih (100x)
Membaca Robbana dholamna anfusana wain lam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin (41x)
Membaca Allahumma anta salam wa minka salam wa ilaika ya’udus salam fa hayyina robbana bis salam wa adhilnal jannata daros salam tabarokta robana wa ta’alaita ya dzal jalali wal ikrom (41x)
Membaca Allahu robbi laa syarika lah ( dibaca sebanyak 41x)
Membaca Assholatu was salamu ‘alaika yaa rosulullah dhoqot khilati adrikni syari’an (dibaca sebanyak 70x)
Membaca Laisa laha min duni llahi kaasyifah (dibaca sebanyak 70x)
Membaca Wa nunazzilu minal qur’ani maa huwa syifa’un wa rohmatun lilmu’minin ( dibaca sebanyak 17x)
Membaca Wa syifa’un limaa fis shudur (17 x)
Membaca Fihi syifa’un lin naasi (17x)
Membaca Wa idza maridhtu fa huwa yasyfin (17x)
Membaca Qul huwa lilladzina amanu hudan wa syifa (17 kali)
Membaca Wa yasyfi shuduro qaumin mu’minin (17 kali)
Membaca Allah (66x)
Kemudian dilanjutkan membaca surat-surat berikut.
Membaca Al Fatihah sebanyak 7x
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ
Bismilllahirahmaaniraahim. al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn. ar-raḥmānir-raḥīm. māliki yaumid-dīn. iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn. ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn.
Membaca surah Al Insyirah sebanyak 7x
اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ - الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ - اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ - فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ
a lam nasyraḥ laka ṣadrak wa waḍa'nā 'angka allażī angqaḍa ẓahrak wa rafa'nā laka żikrak fa inna ma'al-'usri yusrā inna ma'al-'usri yusrā fa iżā faragta fanṣab wa ilā rabbika fargab
Membaca ayat kursi 3 kali
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm.
Membaca Al Ikhlas sebanyak 7 x
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
qul huwallāhu aḥad. allāhuṣ-ṣamad. lam yalid wa lam yụlad. wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad.
Membaca Al Falaq sebanyak 7x
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ
Qul a'ụżu birabbil-falaq. min syarri mā khalaq. wa min syarri gāsiqin iżā waqab. wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad
Membaca An Nas 7x
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ
qul a'ụżu birabbin-nās malikin-nās ilāhin-nās. min syarril-waswāsil-khannās. allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās minal-jinnati wan-nās
Masih dari sumber yang sama, umat Muslim bisa mengamalkan bacaan mujahadah ini setiap hari. Jika dibaca sungguh-sungguh dengan niat yang ikhlas beribadah kepada Allah SWT, seseorang akan memiliki sikap kontrol atas dirinya. Selain itu, ia akan terhindar dari penyakit hati, sehingga senantiasa merasa aman, nyaman, dan tentram.
Apa Tujuan Melakukan Amalan Mujahadah?
Berdasarkan pengertian mujahadah di atas, secara tak langsung kita telah mengetahui tujuan melakukan amalan ini. Menurut buku Prophetic Character Building: Tema Pokok Pendidikan Akhlak Menurut al-Ghazali yang ditulis oleh Akhmad Sodiq, meski mujahadah merupakan bagian dari perilaku mengendalikan hawa nafsu, bukan berarti menghilangkan hal tersebut sepenuhnya. Sebab, nafsu merupakan insting dasar manusia.
Dengan kata lain, tujuan bermujahadah secara garis besar lebih mengarahkan nafsu pada batas tertentu, proporsional sesuai aturan syara’ dan akal.
Apa Saja Manfaat dari Mujahadah An Nafs?
Berbicara mengenai mujahadah an nafs, tak dapat dilepaskan dengan aspek pengendalian diri yang menjadi salah satu aspek penting dalam kecerdasan emosi seseorang. Disadur dari laman Cendikia Kementerian Agama Republik Indonesia, berikut beberapa manfaat mujahadah an nafs:
Meningkatkan kesabaran sehingga tak cepat bereaksi terhadap segala permasalahan yang tengah dihadapi.
Meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah SWT.
Terhindar dari perbuatan maksiat.
Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
Terjalinnya hubungan baik dengan sesama manusia.
Mengurangi penyakit hati seperti rasa gelisah, cemas, iri, dan tidak puas.
Dapat mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup sesuai kemampuan diri.
Itulai uraian terkait arti mujahadah beserta bacaan, tujuan, hingga manfaatnya bagi seorang muslim yang mengamalkannya. Semoga dengan pembahasan di atas, dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(IPT & ANM)
