BGN Siapkan Aplikasi Rating MBG, Sekolah Bisa Beri Nilai SPPG 1-5

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelajar bersama petugas SPPG Ie Masen Ulee Kareng dan guru membawa paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dibagikan kepada peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri 11 Banda Aceh, Aceh, Jumat (17/7/2026). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pelajar bersama petugas SPPG Ie Masen Ulee Kareng dan guru membawa paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dibagikan kepada peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Negeri 11 Banda Aceh, Aceh, Jumat (17/7/2026). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan aplikasi rating Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nantinya, kepala sekolah dan guru dapat memberikan penilaian terhadap layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani sekolah masing-masing.

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan aplikasi tersebut disiapkan sebagai bagian dari penguatan pengawasan dan evaluasi kualitas layanan SPPG. Sekolah nantinya dapat memberikan umpan balik berdasarkan kondisi yang mereka temui secara langsung.

“Melalui aplikasi rating MBG, kami ingin memastikan suara dari sekolah dapat tersampaikan secara langsung dan menjadi bagian dari proses evaluasi layanan,” kata Tysa dalam keterangannya yang diterima kumparan, Jumat (25/9).

“Kepala sekolah dan guru nantinya dapat memberikan penilaian sekaligus mencantumkan catatan apabila terdapat layanan yang belum sesuai. Masukan tersebut menjadi bahan bagi BGN untuk melihat bagian mana yang perlu segera diperbaiki,” sambungnya.

Dalam aplikasi tersebut, sekolah dapat memberikan penilaian menggunakan skala bintang 1 hingga 5. Penilaian itu juga dapat disertai catatan mengenai aspek layanan yang dinilai.

Adapun aspek yang dapat dinilai mencakup ketepatan waktu distribusi hingga kelayakan dan kualitas menu yang diterima peserta didik.

Menurut Tysa, mekanisme tersebut dirancang untuk membuka ruang umpan balik yang lebih sistematis dari sekolah sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan pelaksanaan MBG.

“Sekolah tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan penilaian berdasarkan kondisi yang mereka temui secara langsung di lapangan,” katanya.

BGN berharap sistem rating tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih terukur mengenai kualitas layanan SPPG. Data penilaian juga akan digunakan untuk membantu BGN mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan tindak lanjut.

Selain melalui aplikasi rating, sekolah yang menemukan layanan yang belum sesuai dapat menggunakan jalur pelaporan dan pemantauan yang telah disediakan. Jika persoalan belum mendapatkan perbaikan, sekolah dapat menyampaikan laporan melalui kanal tersebut dengan memberikan tembusan kepada BGN.

Karyawan mengemas paket makanan bergizi gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (23/2/2026). Foto: Adiwinata Solihin/ANTARA FOTO

Dengan mekanisme tersebut, informasi mengenai persoalan dalam pelaksanaan layanan MBG diharapkan dapat diterima dan ditindaklanjuti secara lebih cepat.

BGN menyebut penguatan mekanisme umpan balik tersebut menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola MBG yang transparan dan responsif. Sekolah dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan penerima manfaat program.

BGN juga terus mendorong pengawasan pelaksanaan MBG dilakukan secara kolaboratif. Masukan dari sekolah nantinya menjadi salah satu bagian dari sistem pengawasan untuk memastikan layanan SPPG berjalan sesuai ketentuan.