Bukan Cuma Pintar Matematika, Anak Sekolah Juga Perlu Belajar Mengelola Emosi

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alya Septin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini, ukuran keberhasilan seorang anak di sekolah sering kali dinilai dari deretan angka di rapor mereka. Anak yang jago matematika, lancar bahasa asing, atau selalu mendapat nilai sempurna di pelajaran sains otomatis akan dianggap sebagai murid yang paling sukses. Kurikulum sekolah kita pun dirancang sedemikian rupa untuk mengejar target-target akademis tersebut. Namun, di tengah tuntutan untuk selalu menjadi yang terpintar secara intelektual, ada satu hal krusial yang kerap terabaikan dari sistem pendidikan kita, yaitu bagaimana cara mendidik kesehatan mental dan kecerdasan emosional siswa.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa menjadi pintar secara akademis saja ternyata tidak cukup untuk menjamin seorang anak bisa bertahan menghadapi tekanan hidup. Kita sering melihat anak-anak yang berprestasi di kelas justru mendadak stres berat, cemas berlebihan, atau bahkan frustrasi ketika menghadapi kegagalan kecil atau tekanan pertemanan. Hal ini terjadi karena selama bertahun-tahun di sekolah, mereka hanya dilatih untuk mengasah otak kiri mereka, sementara kemampuan untuk mengenali, mengontrol, dan mengekspresikan emosi secara sehat hampir tidak pernah diajarkan secara terstruktur di dalam kelas.
Fenomena seperti perundungan (bullying), tawuran, hingga maraknya stres akademis di kalangan remaja sebetulnya menjadi alarm keras bahwa sekolah darurat kurikulum pengelolaan emosi. Ketika anak-anak tidak tahu bagaimana cara menyalurkan rasa kecewa, marah, atau takut mereka dengan benar, emosi-emosi negatif itu akhirnya keluar dalam bentuk tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Mengajarkan kecerdasan emosional di sekolah, seperti cara mengatasi rasa cemas sebelum ujian, cara berempati kepada teman, hingga cara bangkit dari kegagalan, seharusnya memiliki porsi yang sama pentingnya dengan rumus-rumus rumus fisika atau hafalan sejarah.
Memasukkan materi pengelolaan emosi ke dalam kurikulum bukan berarti kita harus menambah beban mata pelajaran baru yang bikin murid makin pusing. Langkah ini bisa dimulai dengan menyelipkan sesi refleksi diri di awal kelas, melatih komunikasi kelompok yang sehat, atau menyediakan ruang konseling yang ramah dan tidak menakutkan bagi siswa. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar mengolah rasa, bukan cuma tempat mengolah angka. Bagaimanapun, tujuan akhir dari pendidikan adalah mencetak generasi yang utuh. Kita tentu tidak ingin melahirkan generasi masa depan yang sangat pintar di atas kertas, tapi rapuh dan gagap saat harus mengendalikan emosi mereka sendiri dalam kehidupan nyata.
