Bukan Sekadar Merayakan: Pemuda RW 09 Kp.Pulo Berani Bergerak dan Berdampak

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Studi Manajemen Pendidikan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cahya Anindya Argyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
17 Agustus selalu punya cara sendiri untuk membuat lingkungan menjadi lebih hidup. Bendera mulai terpasang, jalanan dihias, anak-anak mulai sibuk mengikuti lomba, dan suasana kampung terasa lebih ramai dari biasanya. Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada cerita lain yang tidak kalah menarik. Cerita tentang para pemuda RW 09 Kp. Pulo yang memilih untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut turun langsung dan mengambil bagian.

Dari RT 01 sampai RT 05, setiap RT memiliki panitia dan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk menyiapkan perlombaan, mengurus perlengkapan, menghias lingkungan, mengatur peserta, sampai memastikan acara berjalan sesuai rencana. Walaupun kegiatannya dilakukan di lingkungan RT masing-masing, semangat yang dibawa tetap sama, yaitu semangat untuk membuat perayaan 17 Agustus menjadi lebih meriah dan lebih berkesan bagi warga.
Namun, ternyata ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar ramainya perlombaan.
Kegiatan 17 Agustus menjadi kesempatan bagi para pemuda untuk saling mengenal. Sebelum kegiatan dimulai, mungkin ada yang hanya tahu nama. Ada yang hanya mengenali wajah ketika berpapasan. Bahkan ada juga yang sebenarnya tinggal tidak terlalu jauh, tetapi jarang sekali punya kesempatan untuk berbicara.
Semua itu perlahan berubah ketika mereka mulai terlibat dalam kegiatan.
Pertemuan yang awalnya hanya karena urusan panitia berubah menjadi obrolan ringan. Yang awalnya canggung mulai berani bercanda. Yang tadinya hanya saling tahu wajah, akhirnya tahu nama, tahu cerita, bahkan bisa saling menyapa ketika bertemu. Dari sekadar “kenal muka”, berubah menjadi “kenal orangnya”.
Mungkin terdengar sederhana, tapi justru hal-hal seperti itulah yang sering kali kita lewatkan. Kesibukan sehari-hari membuat kita jarang benar-benar mengenal orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Lewat kegiatan 17 Agustus, jarak itu perlahan hilang. Ada waktu untuk duduk bersama, berdiskusi, bercanda, saling membantu, bahkan sama-sama merasakan capeknya menyiapkan acara.
Mungkin terdengar sederhana, tapi justru hal-hal seperti itulah yang sering kali kita lewatkan. Kesibukan sehari-hari membuat kita jarang benar-benar mengenal orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Lewat kegiatan 17 Agustus, jarak itu perlahan hilang. Ada waktu untuk duduk bersama, berdiskusi, bercanda, saling membantu, bahkan sama-sama merasakan capeknya menyiapkan acara.
Capeknya mungkin hanya dirasakan selama kegiatan, tapi kedekatan yang terbentuk bisa bertahan jauh lebih lama.
Setiap RT memang punya cerita dan keseruannya masing-masing. Ada yang sibuk sejak pagi, ada yang harus mempersiapkan banyak hal, ada yang sempat bingung ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Tapi semuanya menjadi bagian dari pengalaman yang nantinya bisa dikenang. Bukan karena acaranya harus sempurna, tetapi karena ada orang-orang yang mau berusaha membuatnya berjalan.
Dan di situlah letak kebanggaannya.
Melihat pemuda dari RT 01 sampai RT 05 mau bergerak, mau membantu, dan mau meluangkan waktunya untuk lingkungan adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Mereka mungkin tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah, tetapi mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting: pengalaman, kebersamaan, dan teman-teman baru.
Yang awalnya hanya berkumpul karena sebuah kegiatan, akhirnya bisa menjadi lebih dekat karena proses yang dijalani bersama. Dari yang awalnya hanya saling tahu nama dan muka, sekarang bisa saling menyapa, ngobrol, bercanda, bahkan saling membantu tanpa lagi merasa asing.
Mungkin inilah salah satu hal paling indah dari sebuah kegiatan di lingkungan. Kita tidak pernah tahu siapa yang nantinya akan menjadi teman dekat kita. Kadang, pertemanan itu justru dimulai dari hal yang sederhana: duduk bersama saat menyiapkan acara, membantu mengangkat perlengkapan, atau tertawa bersama karena sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu lucu.
17 Agustus tahun ini akhirnya bukan hanya meninggalkan cerita tentang siapa yang menang lomba atau seberapa meriahnya acara. Ada cerita tentang bagaimana para pemuda belajar untuk hadir, bergerak, dan tumbuh bersama.
Setiap RT punya panggungnya sendiri, setiap panitia punya perjuangannya sendiri, tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari satu cerita besar: cerita pemuda RW 09 Kp. Pulo.
Setiap RT punya panggungnya sendiri, setiap panitia punya perjuangannya sendiri, tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari satu cerita besar: cerita pemuda RW 09 Kp. Pulo.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, yang paling kita ingat bukan siapa yang memenangkan perlombaan. Yang kita ingat justru orang-orang yang dulu belum kita kenal, tetapi akhirnya menjadi teman. Obrolan-obrolan kecil yang dulu terasa biasa, tetapi ternyata menjadi awal dari sebuah kedekatan. Serta rasa bangga karena pernah menjadi bagian dari sebuah kegiatan yang mempertemukan banyak orang.
Karena kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan apa yang sudah diperjuangkan para pahlawan, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai kesempatan untuk bersama.
Bukan sekadar merayakan. Bukan sekadar membuat acara. Tapi tentang berani turun tangan, berani mengenal satu sama lain, dan berani membangun kebersamaan dari lingkungan sendiri.
Dari RT 01 sampai RT 05, dari sekadar kenal nama dan muka, menjadi satu cerita yang sama: pemuda RW 09 Kp. Pulo yang mau bergerak, mau bersama, dan mau meninggalkan kesan.
