Konten dari Pengguna

Bumi Bukan Warisan, tapi Titipan: Refleksi di Hari Bumi

Joice Lubis

Joice Lubis

Mahasiswa Hukum Universitas Katolik St. Thomas Medan yang gemar mengamati dinamika sosial

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Joice Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok: Ai
zoom-in-whitePerbesar
Dok: Ai

Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai momen untuk kembali mengingat satu hal penting: kita hidup bukan hanya di bumi, tetapi dari bumi. Namun, peringatan ini sering kali hanya menjadi seremonial tanpa makna yang benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Realitanya, kondisi lingkungan saat ini semakin mengkhawatirkan. Perubahan iklim, polusi udara, sampah plastik, hingga kerusakan hutan menjadi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya bijak dalam menjaga alam. Kita sering kali mengambil lebih banyak daripada yang kita jaga. Padahal, bumi bukanlah warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi yang akan datang.

Hari Bumi seharusnya menjadi titik refleksi, bukan sekadar perayaan. Ini adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga lingkungan? Tidak perlu hal besar untuk mulai peduli. Mengurangi penggunaan plastik, hemat listrik, menanam pohon, atau sekadar tidak membuang sampah sembarangan adalah langkah kecil yang berdampak besar jika dilakukan bersama.

Menurut saya, perubahan terbesar tidak dimulai dari kebijakan besar saja, tetapi dari kesadaran individu. Jika setiap orang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, maka perubahan positif akan terjadi secara perlahan namun pasti. Edukasi lingkungan juga perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak hanya memahami, tetapi juga mencintai bumi.

Hari Bumi bukan sekadar tanggal dalam kalender, tetapi pengingat bahwa waktu kita untuk memperbaiki keadaan semakin terbatas. Jika kita terus abai, bukan tidak mungkin bumi yang kita tempati hari ini akan menjadi tempat yang tidak layak untuk ditinggali di masa depan.

Mari jadikan Hari Bumi sebagai awal perubahan, bukan akhir dari kepedulian sesaat. Karena menjaga bumi berarti menjaga kehidupan—termasuk kehidupan kita sendiri.