Cerita Para Orang Tua Korban Daycare Little Aresha
ยทwaktu baca 5 menit

Kasus kekerasan yang terjadi pada anak di daycare Little Aresha di Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, membuat gempar. Para pelaku memang sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka, namun, rasa khawatir masih menatap pada setiap orang tua korban.
Daycare Little Aresha tidak beroperasi usai digerebek polisi pada Jumat (24/4) terkait kasus kekerasan dan penelantaran anak. Pintu masuk ke tempat penitipan anak tersebut dikunci dan diberikan garis polisi.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian mengatakan diduga ada 53 anak yang jadi korban kekerasan. Total anak yang ada di daycare itu mencapai 103 anak. Anak-anak ini mengalami kekerasan seperti diikat tangan dan kakinya.
"(Korban) usia di bawah 2 tahun," kata Adrian.
Orang Tua Resah
Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, mengatakan penyiksaan yang terjadi di daycare itu sangat tak manusiawi. Anaknya sampai mengalami pneumonia hingga luka-luka usai dititipkan di daycare tersebut.
Noorman membandingkan kondisi di daycare itu dengan yang terjadi di Kamp Guantanamo. Kamp Guantanamo merupakan penjara Amerika Serikat yang dikenal dengan penyiksaannya dan pelanggaran HAM.
"Luka-luka di punggung, di bibir, kemudian ada di selangkangan, ada di tubuh," ungkapnya.
Dia sempat menanyakan luka yang dialami anaknya ke pihak daycare. Namun, menurutnya, pihak daycare selalu membantah.
"Kalau yang punggung sama bibir itu, saya sangat konsen, saya kadang-kadang mandiin, wong punggung itu enggak ada (luka) sama sekali. Kalau luka goresan dan lain-lain, pas di daycare itu langsung kaya difoto sama ya, kata sekolah, 'Ini, adik sudah luka dari rumah, lho.' Itu mulai janggal," jelas dia.
"Yang kedua juga sama, bibir, bibir sampai ngelopek-ngelopek itu masih ada kayak bekas merah-merah. Saya juga enggak mungkin ini di rumah nggak apa-apa," ujarnya.
Ada dua anak yang telah dititipkan Norman di daycare tersebut: yang pertama pada 2022-2025; sementara satu anak lagi 2024 sampai penggerebekan kemarin.
"Yang 2022 mulai 2 tahun lebih sampai 5 tahunan. Yang kedua yang cowok dari 3 bulan sampai 2,5 tahun," bebernya.
Usai penggerebekan kemarin, Noorman sempat melihat foto yang ditunjukkan polisi. Foto itu membuktikan dugaan kekerasan di daycare tersebut.
"Pas anak-anak masih diikat dan tidak pakai baju hanya pakai popok. Ada yang masih berdiri di cagak pintu. Usianya udah besar terus apa namanya diikat. Terus yang dibedong," papar Noorman.
Pada foto yang bayi dibedong Noorman sempat berusaha memastikan apakah ada anaknya difoto. Namun saat itu kondisi dirinya sudah panik dan tidak bisa memastikannya.
"Saya juga akhirnya trauma, trauma di situ, kalau lihat itu (foto) pasti nangis," katanya.
Sementara itu, Antok salah satu orang tua korban lainnya bercerita berat badan anaknya tak berkembang. Ada kekhawatiran anaknya stunting.
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang.
"Anak kami memang berkaitan dengan berat badan, memang stuck begitu saja. Ini tidak ada peningkatan yang signifikan," kata Antok saat pertemuan dengan para orang tua korban daycare di rumah dinas Wali Kota Yogyakarta, Minggu (26/4).
"(Soal stunting) Ya itu kekhawatiran kami sebagai orang tua ketika anak tidak sesuai standar (perkembangannya) ada kekhawatiran ke arah sana (stunting)," ujarnya.
Anak Antok tiga tahun di daycare tersebut sejak usai 2 bulan. Dia mengakui selama tiga tahun itu kerap muncul luka di tubuh anaknya.
"Dari proses kami selama lebih kurang 3 tahun, memang ada beberapa berkaitan dengan luka-luka itu ada memang dengan teman-teman yang tadi juga disampaikan, juga ada beberapa kejadian-kejadian yang tentunya kami selaku orang tua tidak mengharapkan itu, seperti itu," katanya.
Langkah Wali Kota Yogya
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo akan memfasilitasi daycare pengganti untuk anak-anak korban kekerasan dan penelantaran di daycare Little Aresha Yogya. Hal ini disampaikan Hasto usai bertemu orang tua korban di rumah dinas Wali Kota Yogya, Minggu (26/4).
"Ini bagaimana besok pagi hari Senin anaknya mau dititipkan di mana? Ini saya kira suatu hal yang urgensi dan emergensi karena mereka kan orang tuanya pada umumnya kerja, sehingga kami pemerintah daerah harus hadir, pemerintah harus hadir," kata Hasto.
Hasto akan mencari daycare terbaik untuk merawat anak-anak tersebut.
"Kami ini akan segera mengidentifikasi daycare-daycare lainnya yang amanah, yang aman, yang baik, yang sehat," ujarnya.
Hasto mengatakan hari ini sudah mulai dilakukan sweeping daycare tak berizin di Kota Yogyakarta.
"Saya kira kita bisa cek satu per satu sehingga dalam waktu singkat, paling lama dua hari kita sudah tahu semua status daycare yang ada di Kota Yogyakarta," katanya.
Pemda DIY Berikan Pendampingan Psikososial
Pemda DIY melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY akan memberikan pendampingan psikososial kepada anak dan keluarga yang menjadi korban kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
"Kami menyampaikan simpati dan empati yang tulus kepada anak-anak yang menjadi korban serta kepada keluarga yang terdampak," kata Kepala DP3AP2 DIY Erlina Hidayati Sumardi, Minggu (26/4).
"(Kami) memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak korban dan dukungan kepada keluarga melalui layanan terpadu," ujarnya.
Lebih lanjut, DP3AP2 DIY mendukung langkah aparat penegak hukum dalam proses penyelidikan dan penegakan hukum secara transparan, profesional, dan berkeadilan.
"Kami mendorong dan mengawal proses penegakan hukum bekerja sama dengan LPSK Perwakilan DIY agar seluruh pihak yang terlibat dalam dugaan pelanggaran ini diproses sesuai ketentuan peraturan Perundang-undangan yang berlaku," katanya.
