Fakta-fakta Hantavirus, Yang Tewaskan 3 Orang di Kapal Pesiar
·waktu baca 3 menit

Kasus dugaan hantavirus mencuat di kapal pesiar MV Hondius milik Oceanwide Expeditions yang berada di lepas pantai Tanjung Verde, Afrika Barat. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah lainnya jatuh sakit.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat total tujuh kasus yang terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek.
"Per 4 Mei 2026, telah diidentifikasi tujuh kasus, terdiri dari dua kasus hantavirus yang terkonfirmasi melalui laboratorium dan lima kasus suspek, termasuk tiga kematian, satu pasien dalam kondisi kritis, serta tiga individu yang melaporkan gejala ringan," kata WHO dalam pernyataan tertulis, Selasa (5/5).
Sekitar 150 penumpang dan awak kapal masih berada di atas kapal yang belum diizinkan merapat oleh otoritas setempat.
Kapal Dikarantina, Evakuasi Dilakukan Bertahap
Kapal berbendera Belanda itu tetap berlayar di Samudra Atlantik dengan pembatasan ketat. Seluruh penumpang diminta tetap berada di dalam kabin.
Dikutip Reuters, dua awak kapal berkewarganegaraan Inggris dan Belanda dijadwalkan dievakuasi. Sebelumnya, seorang penumpang asal Inggris telah lebih dulu dirawat di Afrika Selatan.
Institut kesehatan Belanda (RIVM) menyatakan virus telah dipastikan pada setidaknya satu pasien, termasuk salah satu korban meninggal.
Seorang penumpang, Jake Rosmarin, menggambarkan situasi penuh ketidakpastian.
"Ini bukan sekadar berita utama, kami adalah orang-orang dengan keluarga yang menunggu di rumah. Ketidakpastian ini yang paling berat," ujarnya kepada Reuters.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus yang pertama kali diidentifikasi pada 1970-an di Korea Selatan. Virus ini menyebar melalui tikus dan hewan pengerat lainnya.
Penularan umumnya terjadi saat partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus mengering lalu terhirup manusia.
WHO menegaskan bahwa penularan antar manusia sangat jarang terjadi. Mayoritas kasus berasal dari paparan lingkungan yang terkontaminasi.
Gejala Awal Mirip Flu
Gejala hantavirus sering kali tidak spesifik pada tahap awal sehingga sulit dideteksi.
Penderita biasanya mengalami:
demam
kelelahan
nyeri otot
sakit kepala
mual dan muntah
Gejala tersebut dapat muncul dalam 1–8 minggu setelah terpapar. Dalam beberapa hari, kondisi bisa memburuk menjadi batuk, sesak napas, hingga penumpukan cairan di paru-paru.
Tingkat Kematian Tinggi
Hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama:
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS/HCPS) → menyerang paru-paru dan jantung
Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) → menyerang ginjal
Infeksi paru menjadi yang paling berbahaya dengan tingkat kematian sekitar 20–40 persen. Bahkan, menurut CDC, angka kematian dapat mencapai sekitar 38 persen pada kasus tertentu.
Kasus Jarang, Tapi Berisiko Tinggi
Meski kasusnya relatif jarang, dampaknya cukup serius. WHO melaporkan terdapat sekitar 10 ribu hingga lebih dari 100 ribu kasus setiap tahun secara global, dengan mayoritas terjadi di Asia dan Eropa.
Sementara itu:
sekitar 200 kasus HPS terjadi setiap tahun secara global (data Kanada)
890 kasus tercatat di Amerika Serikat sejak 1993–2023 (CDC)
Diduga Berasal dari Paparan Tikus
Sumber wabah di kapal pesiar masih diselidiki. Namun, indikasi awal mengarah pada paparan hewan pengerat, baik di dalam kapal maupun saat persinggahan sebelumnya.
Aktivitas sederhana seperti menyapu area bekas sarang tikus dapat memicu penyebaran virus ke udara.
Belum Ada Obat Khusus
Hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik untuk hantavirus. Penanganan medis berfokus pada perawatan suportif, seperti:
pemberian cairan
bantuan pernapasan (ventilator)
Pencegahan menjadi langkah utama, terutama dengan menghindari paparan tikus dan membersihkan area terkontaminasi secara hati-hati.
Risiko Global Dinilai Rendah
Meski kasus ini menimbulkan kekhawatiran, WHO menilai risiko penyebaran ke masyarakat luas masih rendah. Hingga kini, belum ada rekomendasi pembatasan perjalanan.
Kasus Serupa Pernah Terjadi
Pada Februari 2025, Betsy Arakawa—istri aktor Gene Hackman—meninggal akibat infeksi terkait hantavirus.
Penyelidik menemukan sarang dan bangkai tikus di properti tempat ia tinggal. Sebelum meninggal, Arakawa sempat mencari informasi terkait gejala flu dan COVID-19.
