Garis Akhir di Rel Baja: Saat Pengabdian dan Kasih Terhenti karena Tragedi
·waktu baca 5 menit

"Ibu pulang kapan?"
Pesan singkat itu masuk ke layar ponsel Nurlaela (40) pada Senin (27/4) sore. Di ujung sana, putranya yang baru menginjak bangku kelas 6 SD menunggu kepulangan ibunya di rumah.
"Pulang malem," balas Nurlaela singkat.
Bagi keluarga di Kampung Ceger, Desa Tanjungbaru, Cikarang Timur, rutinitas pulang malam Ela—sapaan akrabnya—sudah menjadi hal yang lumrah. Selain mengajar, ia mengemban tugas tambahan sebagai bendahara sekolah sekaligus pembina pramuka di SDN Pulogebang 11, Jakarta Timur.
Tugas-tugas pengabdian itu terkadang membuatnya baru tiba di rumah pukul 10 malam. Normalnya, sebelum pukul 6 atau waktu magrib ia sudah sampai di rumah.
Jarak sekitar 43 kilometer sekali jalan tak pernah menyurutkan langkahnya. Saban pukul 05.00 WIB pagi, ia memacu sepeda motor menuju Stasiun Cikarang. Dari sana, ia membelah kepadatan KRL menuju ibu kota, lalu menyambung dengan ojek online hingga tiba di gerbang sekolah. Total lebih dari 80 kilometer ia tempuh setiap harinya demi mengabdi di dunia pendidikan.
Lelah itu sebenarnya baru saja terbayar lunas. Tiga bulan sebelumnya, pada Januari 2026, perempuan yang menjadi satu-satunya guru di keluarga besarnya ini baru saja menyelesaikan studi Strata 2 (S2) dan kebanggaannya paripurna saat diwisuda meraih gelar Magister Pendidikan (M.Pd).
"Sempat cerita ke orang tua ya cerita mau ngelanjutin sekolah S2, ke kakak, ke adik-adiknya mau ngelanjutin sekolah. Doain gua ya biar rezekinya lancar juga," kenang Ade Shofyan (35), adik kandung Nurlaela.
Di balik kesederhanaan dan kesehariannya yang rela melibas puluhan kilometer, Nurlaela sedang merajut satu mimpi besar secara diam-diam: menabung untuk memberangkatkan kedua orang tuanya umrah. Ade pun baru tahu hal itu dari rekan Ela, seorang guru di SDN Pulo Gebang 11.
Namun, janji "pulang malam" hari itu menjadi janji yang tak pernah ditepati. Sekitar pukul 21 kurang, KRL 5568A jurusan Cikarang yang ditumpangi Nurlaela dihantam keras dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek 4B di Stasiun Bekasi Timur.
Ade Shofyan yang sedang bersiap masuk kerja shift malam mendadak panik saat melihat berita kecelakaan kereta di Bekasi pada pukul 22.30 WIB. Ia menelepon nomor kakaknya berkali-kali, namun tak ada jawaban. Tak lama berselang, orang tuanya menyuruhnya pulang. Tanpa pikir panjang, Ade langsung meluncur ke Stasiun Bekasi Timur.
Sempat ada secercah harapan ketika telepon genggam Nurlaela akhirnya diangkat menjelang tengah malam. Suara di seberang sana rupanya petugas tim evakuasi yang meminta Ade segera datang. Ade bersiaga di posko pengaduan stasiun, memandangi setiap korban yang dimasukkan ke dalam ambulans demi mengenali wajah kakaknya.
Kepastian pahit itu akhirnya datang menjelang pukul 02.00 dini hari, setelah rekan sesama guru Nurlaela yang ikut mencari memanggil Ade ke ruang jenazah RSUD Kota Bekasi. "Begitu saya buka, kaget, shock, luar biasa gitu. Yaitu almarhum," ucap Ade lirih.
Tubuh Nurlaela utuh, hanya menyisakan luka di kaki kiri dan memar di telinga belakang kiri akibat hantaman maut tersebut.
Di stasiun yang sama, pada malam yang sama, KRL nahas itu tak hanya mengubur mimpi mulia seorang guru, tetapi juga menghentikan detak kasih sayang seorang ibu dan nenek bernama Nuryati.
Di salah satu gerbong tengah KRL 5568A, Nuryati tengah melakukan perjalanan dari Stasiun Kemayoran menuju Cikarang. Tujuannya amat mulia: menjenguk sang anak yang sedang terbaring sakit. Ia ditemani salah satu putrinya, Shofia (32), dan seorang cucu perempuan yang masih berusia 5 tahun (anak Shofia).
"Karena mama orangnya perhatian banget sama anak-anaknya walaupun jauh-jauh juga. Ada yang sakit dikabarin, langsung ke sono," cerita Shofia mengenang tabiat hangat ibunya. Niat baik itu tak pernah memandang jarak maupun lelah.
Namun, saat benturan dahsyat dari KA Argo Bromo Anggrek itu meremukkan gerbong belakang dan memadamkan seluruh kelistrikan kereta, semuanya berubah menjadi jeritan kelam.
Shofia yang sedang berdiri memegang tiang berhasil selamat tanpa luka berarti. Sayangnya, ibunya yang sedang duduk tak jauh darinya terseret oleh kuatnya guncangan. Nuryati yang memiliki riwayat penyakit jantung langsung syok berat dan jatuh pingsan di tengah kegelapan gerbong.
Di tengah kepanikan penumpang yang berebut mencari jalan keluar, evakuasi berjalan memilukan. Di tengah kepanikan, Shofia berusaha tetap tegar menjaga sang anak sembari menenangkan ibunya yang tak kunjung merespons.
Dengan postur tubuh yang cukup berat, Nuryati terpaksa dibopong keluar menggunakan bangku panjang KRL yang dicopot paksa oleh warga untuk dijadikan tandu darurat.
Setelah menunggu sekitar setengah jam di peron, laki-laki tak dikenal bergotong-royong memikul Nuryati naik ke lantai dua stasiun. Di sana, Shofia kaget banyak korban luka lainnya bergeletakan menunggu dalam kepasrahan sebelum ambulans akhirnya tiba.
Di RSUD Bekasi, pertolongan medis tak lagi mampu mengembalikan embusan napas Nuryati. Ia dinyatakan meninggal dunia.
"Makasih banyak yang udah nolongin walaupun mama sampai nggak ada. Makasih banyak yang udah nolongin walaupun saya nggak kenal," kata Shofia, suaranya bergetar menahan kepedihan yang teramat dalam.
Malam di Stasiun Bekasi Timur itu mengambil lebih dari sekadar 16 nyawa. Ia merenggut seorang pendidik yang rela melibas 80 kilometer setiap hari demi mencerdaskan anak bangsa, dan seorang ibu yang kasihnya terputus sebelum sempat menjenguk anaknya.
Di atas rel baja yang dingin itu, janji untuk pulang dan rindu yang dibawa Nuryati tertinggal selamanya.

