Gelar Mubes ke-5, Bahlil Kenang Kosgoro Pernah Nyaris Pisah dari Golkar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia saat acara Mubes V Kosgoro 1957 di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia saat acara Mubes V Kosgoro 1957 di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia membuka Musyawarah Besar V Kosgoro 1957 di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (5/6).

Ia pun mengungkap salah satu fase penting dalam sejarah Kosgoro. Bahlil mengenang Kosgoro sempat berada di persimpangan jalan pada masa transisi politik pasca reformasi. Bahkan, menurutnya, organisasi pendiri Partai Golkar itu pernah memiliki keinginan untuk keluar dari jalur penyaluran aspirasi politik Golkar.

Ia mengatakan, Kosgoro lahir dengan tujuan mulia, yakni mengisi kemerdekaan Indonesia setelah perjuangan merebut kemerdekaan berhasil dilakukan.

“Kosgoro dalam sejarahnya adalah merupakan satu organisasi yang dilahirkan dengan cita-cita mulia, yaitu untuk mengisi kemerdekaan pasca merebut kemerdekaan,” kata Bahlil.

Menurut dia, sejak awal Kosgoro tidak hanya hadir dalam konteks perjuangan politik, tetapi juga berperan dalam pembangunan ekonomi bangsa.

“Kosgoro ’57 lahir tidak hanya pada konteks bagaimana kita merebut kemerdekaan, tapi kita juga harus mengisi kemerdekaan dengan ekonomi. Kita tahu semua bahwa Kosgoro adalah salah satu organisasi yang melahirkan Partai Golkar,” ujar Bahlil.

“Di dalam berbagai referensi buku, sekalipun Kosgoro tidak merupakan bagian yang melahirkan Sekber, tapi harus diingat Kosgoro adalah salah satu pionir organisasi terbaik yang mengisi dan memberikan bobot pemikiran kepada Sekber, lalu kemudian Sekber melahirkan Golkar, dan ketika fusi, Kosgoro menjadi salah satu kino-kino terbaik,” lanjutnya.

Bahlil mengungkap cerita yang ia peroleh dari Ketua Majelis Pertimbangan PPK Kosgoro 1957 Agung Laksono mengenai dinamika internal Kosgoro pada masa awal reformasi.

Menurut Bahlil, saat itu sempat muncul keinginan agar Kosgoro berdiri sendiri dan tidak lagi menjadi bagian dari saluran aspirasi politik melalui Partai Golkar.

“Tapi Kosgoro ini ternyata mengalami dua fase besar, Pak Agung, setelah Pak Agung mendoktrinisasi pemikiran saya. Jadi, Pak Agung menjelaskan kepada saya bahwa Kosgoro pernah ada pada transisi kepemimpinan pasca reformasi di mana pada tahun ’99, Kosgoro yang seutuhnya pengin keluar daripada bagian penyaluran aspirasi politik di Partai Golkar, tapi Pak Agung kemudian mempertahankan bahwa tetap Kosgoro harus ada,” ujar Bahlil.

Ia menilai keputusan mempertahankan Kosgoro dengan Golkar menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan organisasi tersebut.

Menurut Bahlil, dari fase itulah kemudian Kosgoro yang tetap berada dalam orbit Partai Golkar kembali menegaskan identitas organisasinya dengan menggunakan nama Kosgoro 1957.

“Maka, di situ sudah terjadi persimpangan, kemudian Kosgoro yang ada di bawah Partai Golkar mengembalikan namanya menjadi Kosgoro 1957,” katanya.

Bahlil menilai keberadaan Kosgoro 1957 di dalam Golkar memiliki landasan historis dan ideologis yang kuat.

“Nah, ini Kosgoro beneran, karena memang aspirasi politik Kosgoro itu adalah memang ke Partai Golkar sebagai bentuk daripada peloporisasi untuk melahirkan doktrin karya-kekaryaan,” ujarnya.

Momen Ketum Golkar Bahlil Lahadalia tertawa imbas disambut lagu MBG di Mubes V Kosgoro 1957. Foto: YouTube/ Kosgoro 1957

Bahlil juga menjelaskan posisi strategis Kosgoro sebagai salah satu organisasi pendiri Golkar.

Menurut dia, setelah proses fusi berbagai organisasi yang tergabung dalam Sekber Golkar, Kosgoro mendapatkan mandat membidangi dua sektor utama, yakni ekonomi dan pendidikan.

“Yang saya pahami Kosgoro ini begitu KINO-KINO (Kelompok Induk Organisasi) dibentuk, terjadi fusi dari sekitar hampir 300 organisasi yang dalam Sekber, kemudian dibuat segmentasi. Nah, Kosgoro ini membawahi dua bidang substansi. Yang pertama adalah ekonomi, yang kedua adalah pendidikan,” kata dia.

Bahlil menilai kedua bidang tersebut merupakan faktor utama dalam membangun partai politik modern.

“Kalau kita mau tarik kekuatan partai modern, itu ada pada dua hal, logistik dan kecerdasan. Kecerdasan tanpa logistik, susah. Logistik tanpa kecerdasan, juga susah. Tapi Kosgoro membawahi dua ini, kecerdasan dan logistik,” ujarnya.

Karena itu, ia menyebut Kosgoro memiliki posisi yang sangat penting bagi Partai Golkar.

Menurutnya, organisasi pendiri partai seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter dan peningkatan kapasitas kader sebelum nantinya berkiprah di partai politik.

“Saya meminta dalam musyawarah yang kelima ini, Kosgoro dalam memberikan rekomendasi kepada partai, kader-kadernya itu bukan kader-kader yang baru belajar. Harusnya organisasi-organisasi yang mendirikan, organisasi-organisasi yang didirikan, jadi-dijadikan sebagai tempat untuk mengasah pembentukan karakter diri dan peningkatan kualitas diri terhadap kader, yang kelak nanti untuk disuplai kepada partai. Ini yang menjadi harapan kita semua,” pungkasnya.