Hantavirus Punya Dua Tipe, Ini Perbedaan Gejala dan Tingkat Bahayanya
·waktu baca 4 menit

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan penyakit virus Hanta memiliki dua bentuk klinis dengan gejala yang berbeda, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hanta Pulmonary Syndrome (HPS).
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan perbedaan keduanya penting dipahami agar tidak terjadi kekeliruan persepsi di masyarakat.
“Nah, HFRS atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome, ya, pertama, itu yang terjadi di Asia dan Eropa. Kemudian HPS, Hanta Pulmonary Syndrome, ya, itu yang terjadi di Amerika dan saat ini yang terjadi di kapal pesiar, ya,” jelas Andi dalam konferensi pers yang digelar daring, Senin (11/5).
Ia merinci bahwa HFRS memiliki gejala khas yang lebih dikenal di wilayah Asia, termasuk yang terjadi di Indonesia.
“Dan kalau kita lihat gejalanya, perbedaannya itu terjadi pada kalau HFRS, ya, itu gejala demam, kemudian juga ada lemas, kemudian yang paling kentara yakni adanya ikterik atau tubuh menguning, ya. CFR (Case Fatality Rate) daripada HFRS itu sebesar 5 sampai 15 persen dengan masa inkubasi 1 sampai 2 minggu. Inilah yang terjadi di Asia, termasuk di Eropa dan juga termasuk di Indonesia,” ungkap Andi.
Berbeda dengan itu, HPS memiliki tingkat fatalitas yang jauh lebih tinggi.
“Itu beda dengan HPS, Hanta Pulmonary Syndrome, di mana jenis ini, ya, ini CFR-nya, Case Fatality Rate-nya lebih tinggi yakni sekitar 60 persen dengan masa inkubasi 1 sampai 8 minggu untuk tipe Andes virus hingga 42 hari,” jelasnya.
Andi juga menegaskan perbedaan sebaran geografis dan jenis virus penyebab kedua penyakit tersebut.
“Tipe HPS atau Hanta Pulmonary Syndrome, ya, tersebar di Amerika terutama Amerika Selatan dan belum dilaporkan di Indonesia baik pada manusia maupun tikus. Kemudian strain-nya itu tadi saya juga sudah sampaikan, itu ada Andes virus ya, yang ditemukan di kejadian kapal pesiar MV Hondius,” jelas Andi.
“Kemudian juga ada strain Sin Nombre virus, kemudian Laguna Negra dan lain sebagainya, ya. Dan binatang pembawa penyakitnya itu tikus jenisnya Oligoryzomys longicaudatus ya,” lanjutnya.
Sementara itu, HFRS disebut sudah ditemukan di Asia dan Indonesia dengan jenis tikus berbeda sebagai pembawa penyakit.
“Dan kalau kita bandingkan dengan HFRS, ya, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome ya, yang terjadi di Eropa dan Asia, dan dilaporkan di Indonesia pada manusia dan tikus, ya. Kemudian strain-nya itu di antaranya, ya, Seoul virus yang ditemukan di Indonesia, ya, dan juga strain ini yang disebarkan oleh genus tikus ini, ya, Rattus norvegicus ya, tikus got itu, ya. Di strain-nya itu salah satunya adalah Hantavirus maupun Puumala virus,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan perbedaan gejala utama kedua tipe tersebut.
“Bahwa tipe HFRS yakni gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, ya, lemas, dan paling khas adalah ikterik maupun jaundice atau tubuh menguning. Kalau di tipe HPS itu tidak ada ikterik atau jaundice atau tubuh menguning,” kata Andi.
Andi juga mengingatkan masyarakat agar tidak keliru memahami jenis Hanta yang terjadi di Indonesia, yakni tipe HFRS.
“Jangan sampai bahwa kita ataupun juga masyarakat awam ya, mengira bahwa yang terjadi selama ini di Indonesia adalah tipe HPS, ya. Tipe HPS terjadi di kapal pesiar MV Hondius dan tipe HFRS berbeda dan itu terjadi di Eropa maupun di Asia termasuk di Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan cara penularan virus Hanta yang umumnya berasal dari tikus.
“Jadi tadi saya sudah sampaikan bahwa dari kontak dengan pembawa penyakit tikus atau celurut ya, melalui gigitan, ekskresi, atau sekresi, atau melalui inhalasi aerosol atau terhirup debu ketika urine atau feses daripada tikus tersebut mengering kemudian terhirup oleh manusia,” kata Andi.
Ia juga menambahkan penularan antarmanusia sangat terbatas dan hanya terjadi pada kondisi tertentu.
“Kemudian untuk penularan antarmanusia, ini juga perlu saya sampaikan di sini pada kesempatan ini, kalau tipe HPS Andes virus yang terjadi di Amerika Selatan, ya, itu ada penelitian oleh Martinez tahun 2005 di Argentina menunjukkan bahwa transmisi antarmanusia yang disebabkan oleh Andes virus yang terjadi di kapal pesiar Hondius tersebut, ya, disebabkan oleh Andes virus dan dapat terjadi penularan ya, terbatas pada kontak intens dan berkepanjangan, ya,” pungkasnya.
