Harley Jadi Barang Paling Laku Dilelang Kejaksaan, Harga Naik 10 Kali Lipat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Motor Harley Davidson yang laku dilelang BPA Kejagung. Foto: Kejagung RI
zoom-in-whitePerbesar
Motor Harley Davidson yang laku dilelang BPA Kejagung. Foto: Kejagung RI

Sepeda motor Harley Davidson Road Glide menjadi aset paling diminati dalam gelaran BPA Fair 2026 yang digelar Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan RI. Motor tersebut tercatat memiliki jumlah peminat terbanyak sekaligus kenaikan harga tertinggi selama lelang berlangsung.

Kepala Badan Pemulihan Aset Kuntadi mengatakan Harley Davidson Road Glide menjadi primadona dalam lelang aset rampasan negara tahun ini. Motor itu diperebutkan ratusan peserta lelang.

“Sedangkan aset terjual dengan peminat terbanyak kembali lagi Harley Davidson Road Glide sebanyak 349 bidder,” kata Kuntadi saat menutup BPA Fair di Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (21/5).

Motor Harley Davidson yang laku dilelang BPA Kejagung. Foto: Kejagung RI

Road Glide juga menjadi aset dengan kenaikan nilai tertinggi. Motor tersebut laku dengan harga Rp 901.445.700 dengan harga limit dari Rp 87.445.700.

“Adapun aset terjual dengan persentase kenaikan harga tertinggi yaitu sepeda motor Harley Davidson Road Glide sebesar 930,86 persen,” ujarnya.

Selain aset kendaraan, BPA Fair tahun ini juga menghadirkan sejumlah inovasi dalam objek lelang. Kuntadi menyebut pihaknya mulai memperkenalkan karya seni hingga instrumen musik sebagai aset bernilai investasi.

“Salah satu inovasi yang kami hadirkan dalam penyelenggaraan BPA Fair kali ini adalah memperkenalkan dimensi baru dalam ekosistem lelang, yaitu mengangkat karya pelukis berbakat serta memperkenalkan instrumen musik sebagai objek lelang yang bernilai tinggi, sebagai sebuah karya seni, bukan sekadar sebuah alat musik,” ujarnya.

Menurut dia, seni dan musik tak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga potensi ekonomi jangka panjang.

“Kami meyakini bahwa seni dan musik bukan sekadar hiburan melainkan aset budaya yang memiliki nilai ekonomi dan investasi jangka panjang,” tutur Kuntadi.