Indonesia Mengering: Fenomena Sesaat atau Kenormalan Baru?

Wakil Rektor Bidang Riset dan Pengembangan Bisnis, Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB).
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dani Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permukaan danau menjauh dari garis tepian. Dasar sungai yang biasanya tertutup air mulai terlihat. Di sejumlah daerah, waduk harus dioperasikan dengan semakin hati-hati agar cadangan air tidak habis sebelum hujan kembali turun.
Pemandangan tersebut menjadi wajah musim kemarau Indonesia tahun ini. Di Kawah Putih, Jawa Barat, permukaan air dilaporkan menyusut hingga sekitar 70 meter dari tepian sejak awal Agustus 2026. Di Pati, debit Sungai Juana menurun sehingga pemerintah harus mengoptimalkan pelepasan air dari Waduk Kedungombo sebesar sekitar 3,141 meter kubik per detik untuk membantu kebutuhan pertanian.
Apakah ini hanya siklus kemarau biasa? Atau kita sedang melihat cuplikan masa depan ketika kekeringan menjadi lebih sering, lebih luas, dan lebih sulit diprediksi?
Jawabannya tidak sesederhana menyalahkan musim kemarau. Kekeringan tahun ini merupakan hasil pertemuan antara siklus iklim alami, anomali atmosfer-laut, perubahan bentang lahan, meningkatnya kebutuhan air, dan pemanasan global.
Kemarau yang Tidak Lagi Biasa
Indonesia memang mengalami musim kemarau setiap tahun. Namun, kemarau 2026 memiliki karakter yang lebih kuat.
BMKG mencatat bahwa pada dasarian pertama Agustus 2026, sebanyak 76,5 persen Zona Musim Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 90,79 persen wilayah. Pada dasarian kedua Agustus, wilayah dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter bahkan diperkirakan mencakup 95,62 persen Indonesia.
Angka tersebut menjelaskan mengapa kekeringan muncul hampir bersamaan di banyak tempat. Air yang menghilang dari sungai, waduk, dan danau bukanlah tiga peristiwa yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan bagian dari satu rangkaian hidrologis.
Ketika hujan berkurang, kelembapan tanah turun terlebih dahulu. Setelah itu, aliran permukaan dan debit sungai melemah. Jika kondisi kering berlanjut, volume waduk dan danau ikut menyusut. Air tanah kemudian semakin banyak dipompa untuk menggantikan kekurangan air permukaan.
Inilah perbedaan antara kekeringan meteorologis dan kekeringan hidrologis. Hujan dapat kembali turun dalam satu atau dua hari, tetapi sungai, waduk, dan air tanah belum tentu langsung pulih. Sistem air memiliki jeda waktu, dan semakin rusak daerah tangkapan airnya, semakin panjang pula waktu pemulihannya.
Data Kementerian Pekerjaan Umum memperlihatkan tekanan tersebut. Dari 16 waduk utama yang dipantau, hanya enam berada dalam kondisi normal dan 10 berada di bawah normal. Dari 75 waduk lainnya, 58 berada di bawah rencana operasi, sedangkan tujuh dilaporkan kering dan memasuki status siaga kekeringan.
Ini bukan lagi sekadar persoalan cuaca panas. Ini adalah tekanan langsung terhadap air minum, irigasi, produksi pangan, energi, perikanan, dan ekosistem.
El Niño: Mesin Pengering dari Samudra Pasifik
Salah satu penggerak utama kemarau 2026 adalah El Niño, yaitu pemanasan suhu muka laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang mengubah pola sirkulasi atmosfer.
Bagi Indonesia, El Niño umumnya menggeser pembentukan awan hujan ke arah Pasifik sehingga curah hujan berkurang, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.
Pada Juli 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat mencapai +2,22 derajat Celsius. BMKG kemudian mencatat indeks ENSO rata-rata Juni–Juli–Agustus sebesar +2,2, yang dikategorikan sebagai El Niño sangat kuat. Pada akhir Agustus, Indian Ocean Dipole atau IOD juga bergerak positif. Kombinasi keduanya dapat menekan pembentukan hujan dari sisi timur maupun barat Indonesia.
Karena itu, kemarau tahun ini bukan hanya akibat berkurangnya hujan musiman. Indonesia sedang menghadapi penguatan anomali iklim dalam skala samudra.
Namun, El Niño bukan perubahan iklim. El Niño adalah fenomena alami yang telah berulang selama ribuan tahun. Perubahan iklim global bekerja sebagai penguatnya.
Analogi sederhananya, El Niño adalah pemantik, sedangkan pemanasan global membuat bahan yang akan terbakar menjadi semakin kering.
Mengapa Pemanasan Global Memperparah Kekeringan?
Suhu udara yang lebih tinggi meningkatkan penguapan dari tanah, tanaman, sungai, waduk, dan danau. Artinya, jumlah hujan yang sama belum tentu menghasilkan cadangan air yang sama seperti beberapa dekade lalu.
Ketika udara semakin panas, tanaman membutuhkan lebih banyak air. Tanah kehilangan kelembapan lebih cepat. Permukaan waduk dan danau juga mengalami evaporasi lebih besar. Jika daerah hulu telah kehilangan vegetasi, tertutup bangunan, atau mengalami degradasi tanah, air hujan yang seharusnya meresap justru mengalir cepat sebagai limpasan.
Akibatnya muncul paradoks iklim: ketika musim hujan, air datang terlalu banyak dan terlalu cepat sehingga menimbulkan banjir. Ketika musim kemarau, air menghilang karena terlalu sedikit yang tersimpan di dalam tanah dan lanskap.
World Meteorological Organization mencatat 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,55 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1850–1900. Tahun 2025 tetap menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas, sekitar 1,43 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Sebelas tahun sejak 2015 hingga 2025 merupakan sebelas tahun terpanas yang pernah tercatat.
Tren tersebut menunjukkan bahwa anomali seperti El Niño kini bekerja di atas “lantai suhu” yang sudah lebih tinggi. Karena itulah dampaknya dapat terasa lebih tajam meskipun kekuatan El Niño bukan satu-satunya faktor penentu.
Lima Tahun Mendatang: Air Akan Semakin Tidak Pasti
Prediksi iklim tidak dapat memastikan bahwa setiap tahun akan terjadi kekeringan. Namun, arah risikonya semakin jelas.
WMO memperkirakan suhu rata-rata global tahunan selama 2026–2030 berada sekitar 1,3–1,9 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Ada peluang 86 persen bahwa setidaknya satu tahun dalam periode tersebut akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat.
Bagi Indonesia, hal ini tidak selalu berarti hujan tahunan akan terus berkurang secara merata. Justru yang lebih mungkin terjadi adalah peningkatan ketidakstabilan distribusi air: hujan menjadi semakin terkonsentrasi dalam waktu singkat, sedangkan jeda hari tanpa hujan dapat bertambah panjang.
Proyeksi BMKG berbasis model CMIP6 menunjukkan wilayah utara Indonesia cenderung menjadi lebih basah hingga sekitar delapan persen, sedangkan sebagian wilayah selatan berpotensi menjadi lebih kering hingga sekitar sembilan persen.
Dengan kecenderungan tersebut, ada beberapa risiko yang perlu diantisipasi hingga awal dekade 2030-an.
Pertama, defisit air musiman akan semakin sering terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi ketika El Niño bertepatan dengan kemarau.
Kedua, konflik alokasi air berpotensi meningkat. Air yang sama harus dibagi untuk rumah tangga, pertanian, industri, pembangkit listrik, dan kebutuhan ekologis sungai.
Ketiga, kualitas air dapat menurun. Debit sungai yang kecil membuat konsentrasi limbah dan polutan meningkat. Danau dan waduk yang menyusut juga lebih rentan mengalami peningkatan suhu, ledakan alga, dan kematian ikan.
Keempat, produksi pangan akan menghadapi volatilitas lebih tinggi. Persoalannya bukan hanya berkurangnya luas tanam, tetapi juga meningkatnya biaya pompa, irigasi, pakan ternak, serta risiko gagal panen.
Kelima, musim hujan tidak otomatis mengakhiri krisis. Hujan ekstrem yang jatuh di lahan terdegradasi lebih mudah berubah menjadi banjir daripada mengisi air tanah.
Prediksi ini bukan kepastian bahwa bencana akan terjadi setiap tahun. Namun, tanpa perubahan pengelolaan air dan bentang lahan, setiap episode El Niño berikutnya berpotensi menghasilkan kerugian yang lebih besar.
Jangan Hanya Menunggu Hujan
Respons terhadap kekeringan masih sering berhenti pada distribusi air bersih, pengerukan waduk, pembangunan sumur, atau modifikasi cuaca. Semua langkah tersebut penting dalam keadaan darurat, tetapi belum menyelesaikan akar persoalan.
Indonesia perlu mengubah cara pandang dari sekadar “menambah pasokan air” menjadi “memulihkan kemampuan lanskap menyimpan air”.
Daerah tangkapan sungai dan danau harus diperlakukan sebagai infrastruktur air alami. Rehabilitasi hutan dan lahan di wilayah hulu, perlindungan sempadan sungai, pengendalian sedimentasi waduk, pemanenan air hujan, peningkatan bahan organik tanah, serta perluasan ruang resapan harus menjadi investasi utama.
Di sektor pertanian, kalender tanam tidak lagi cukup disusun berdasarkan kebiasaan musim. Keputusan tanam perlu menggunakan prediksi iklim, neraca air, kebutuhan air tanaman, dan kondisi cadangan waduk secara real time. Tanaman serta varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan juga perlu ditempatkan pada wilayah yang sesuai.
Kota dan kawasan industri harus menghitung neraca airnya sendiri: berapa air yang diambil, berapa yang dikembalikan, dan berapa yang dapat disimpan ketika musim hujan. Tanpa perhitungan tersebut, pembangunan ekonomi dapat melampaui daya dukung air wilayahnya.
Pesan dari Dasar Sungai yang Terlihat
Sungai yang mengering, waduk yang menyusut, dan danau yang garis airnya terus menjauh sebenarnya sedang menyampaikan pesan yang sama: krisis iklim pada akhirnya adalah krisis air.
El Niño mungkin akan melemah. Hujan pada waktunya akan kembali. Permukaan waduk dan sungai mungkin kembali naik. Namun, pemanasan global tidak berhenti ketika musim berganti.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan kapan hujan akan turun, melainkan apakah kita telah menyiapkan tanah, hutan, sungai, waduk, dan kota untuk menyimpan air ketika hujan itu akhirnya datang.
Jika tidak, pemandangan dasar sungai yang terbuka pada kemarau 2026 bukanlah kejadian langka. Ia mungkin sedang memperlihatkan wajah keseharian Indonesia beberapa tahun mendatang.
