Insecure di Dunia Kampus: Seni Menjaga Kedamaian Pikiran di Lingkungan Kampus

Mahasiswa S1 Keperawatan, Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Salsabila Muna Rafa Aqilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesehatan mental belakang ini menjadi isu krusial, bersamaan dengan hal tersebut fenomena stres di kampus semakin marak. Dari unggahan menfess instagram setiap universitas hingga obrolan harian, mahasiswa terus mengeluhkan rasa lelah dan cemas akibat himpitan tugas, tuntutan portofolio, serta gengsi di media sosial. Yang patut direnungkan bukanlah sekadar menurunnya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau turunnya performa belajar, tetapi bisakah mahasiswa menemukan kedamaian pikiran jika terus terimpit oleh ekspektasi masa depan?
Kita semua tentu tidak asing dengan ungkapan bahwa masa kuliah adalah "masa-masa terbaik untuk mengeksplorasi diri." Bahkan sejak hari pertama orientasi kampus, narasi tentang kesuksesan, kepemimpinan, dan pencapaian tinggi selalu ditanamkan. Namun, ketika berhadapan dengan realitas sehari-hari yang penuh dengan tenggat tugas dan bayang-bayang kegagalan, tidak sedikit mahasiswa yang justru merasa asing dengan dirinya sendiri. Inilah yang menjadi akar persoalan, di mana dunia kampus sering kali dianggap sebagai arena pertandingan, bukan lagi ruang belajar yang nyaman bagi tumbuh kembang emosional.
Mari kita menengok sejenak ke akar persoalannya. Hakikat pendidikan tinggi sesungguhnya dirancang untuk menempa karakter, mengasah keilmuan, dan membentuk manusia yang utuh. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Perkuliahan difungsikan sebagai proses pendewasaan diri yang bertahap, bukan ajang saling menjatuhkan atau memaksakan standar sukses yang seragam kepada setiap individu.
Lantas, mengapa budaya membandingkan diri dan krisis kesehatan mental dapat merajalela di kalangan mahasiswa seperti sekarang ini? Setidaknya ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Pertama, di lingkungan akademis, keberhasilan sering kali diukur secara kaku melalui angka IPK, deretan sertifikat, dan pameran pencapaian di platform profesional. Kedua, minimnya pemahaman tentang pentingnya batas emosional (boundaries) dan ruang aman untuk menyampaikan keraguan tanpa dihakimi. Ketiga, pengaruh paparan media sosial yang secara masif menampilkan highlight reel keberhasilan orang lain, sehingga memicu fenomena productivity guilt atau rasa bersalah saat beristirahat. Keempat, kurangnya kesadaran pada masing-masing individu untuk menghargai lini masa (timeline) perkembangannya sendiri.
Padahal, apabila dicermati lebih jauh, merawat kesehatan mental bukan sekadar tren atau gaya hidup populer. Kedamaian pikiran merupakan fondasi utama bagi mahasiswa untuk dapat berpikir kritis, berinovasi, dan berkarya secara optimal. Apabila fondasi ini tidak kokoh, maka wajar jika kualitas akademik, hubungan sosial, hingga ketahanan fisik dapat ikut terganggu. Belum lagi fungsinya sebagai penopang utama dalam menghadapi ketidakpastian dunia kerja setelah lulus. Tanpa pengelolaan emosional yang baik, potensi depresi dan kegagalan beradaptasi di masa depan akan semakin meningkat.
Menariknya, apabila ditelaah lebih dalam, kesadaran untuk berhenti membandingkan diri sesungguhnya dapat menjadi kunci jawaban atas berbagai masalah psikologis yang dihadapi mahasiswa saat ini. Sikap fokus pada proses pribadi dapat meredakan kecemasan sosial akibat standar ganda di media sosial. Kemampuan menerima keterbatasan diri mampu mencegah dampak buruk dari burnout. Dengan demikian, jawaban atas krisis kesehatan mental di kampus sesungguhnya telah ada dalam kendali kita sendiri, hanya saja keberanian untuk mempraktikkannya yang belum dijalankan secara sungguh-sungguh.
Apabila pengabaian terhadap kesehatan mental ini terus berlanjut, dampaknya dapat berkepanjangan. Motivasi belajar akan merosot tajam, sementara kepekaan emosional dan empati antarsesama mahasiswa semakin memudar. Lingkungan kampus akan berubah menjadi tempat yang dingin dan penuh kompetisi toksik. Generasi muda perlahan-lahan akan kehilangan daya tahan psikologis (resilience) akibat terseret arus ekspektasi seandainya terus memaksakan diri tanpa jeda. Yang tidak kalah mengkhawatirkan, hubungan pertemanan turut berisiko mengalami keretakan, rasa saling dukung antar kawan memudar, digantikan oleh rasa iri dan persaingan yang tidak sehat.
Lantas, langkah apa yang dapat dilakukan? Upaya ini perlu dijalankan pada berbagai tingkatan secara bersamaan. Pada level individu, penerapannya dapat dimulai dari membatasi paparan media sosial yang memicu rasa insecure. Membatasi media sosial di sini bukan semata-mata memutus semua akses informasi akademis, melainkan bijak memilah mana informasi resmi yang benar-benar layak diterima dan mana kebisingan (noise) pencapaian orang lain yang tidak perlu diserap. Selain itu, mahasiswa perlu bersikap jujur pada kapasitas diri serta memprioritaskan istirahat tanpa rasa bersalah.
Sementara itu, pada level kampus, sistem pembelajaran dan fasilitas konseling di universitas perlu dioptimalkan agar lebih ramah dan mudah diakses. Layanan kesehatan mental tidak boleh sekadar menjadi pelengkap administrasi atau formalitas di rektorat, melainkan harus hadir sebagai ruang aman yang menjamin kerahasiaan (confidentiality) serta meruntuhkan stigma psikologis bagi mahasiswa. Di sisi lain, pada level lingkungan sosial, para mahasiswa dituntut untuk membangun support system yang sehat, yang saling merangkul alih-alih saling membandingkan pencapaian. Terakhir, pada level keluarga, orang tua dan kerabat perlu memberikan pemahaman serta dukungan moral tanpa membebankan ekspektasi yang tidak realistis.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukanlah suatu pilihan opsional yang bisa diambil atau ditinggalkan sesuai selera. Kedamaian pikiran merupakan modal utama sekaligus fondasi kuat bagi kehidupan akademis dan masa depan setiap mahasiswa. Mengabaikannya sama artinya dengan meruntuhkan potensi diri sendiri sebelum sempat berkembang. Oleh karena itu, sudah saatnya tidak ada lagi pihak yang memperlakukan isu kesehatan mental sekadar sebagai wacana, melainkan benar-benar menjadikannya pedoman nyata dalam keseharian di dunia kampus.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak diukur dari seberapa banyak pencapaian yang berhasil dipamerkan, melainkan dari seberapa bijak ia mampu menghargai prosesnya, menjaga kedamaian pikirannya, dan tumbuh menjadi manusia yang utuh dalam kehidupan sehari-hari.
