Investigasi KNKT soal KA Tabrak KRL di Bekasi: Satu Blok Sinyal Hilang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pria memandangi puing-puing di lokasi kejadian pascatabrakan maut yang melibatkan kereta komuter (Commuter Line) dan kereta api jarak jauh di Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria memandangi puing-puing di lokasi kejadian pascatabrakan maut yang melibatkan kereta komuter (Commuter Line) dan kereta api jarak jauh di Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasinya terkait kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Dari hasil investigasi, ditemukan adanya permasalahan dalam persinyalan kereta.

"Tidak terdapat sinyal yang berfungsi sebagai indikasi berjalan hati-hati," demikian hasil investigasi KNKT, dikutip Senin (28/9).

Gambaran blok sinyal kereta dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL. Foto: KNKT

Gambar di atas merupakan gambaran persinyalan antara Stasiun Bekasi ke Stasiun Bekasi Timur. Kereta datang dari arah J10 menuju ke B104.

Data KNKT menunjukkan terjadi perubahan layout persinyalan Stasiun Bekasi pada 2021.

Sebelum perubahan itu, rangkaian kereta yang bergerak dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Bekasi Timur akan melalui 3 sinyal, yakni J32, B105, dan B104. Biasanya, masing-masing sinyal ini menunjukkan urutan hijau, kuning, dan merah.

Dalam gambar, di atas, tidak ada J32 dan B105. Semula letak kedua sinyal itu ada di antara B104 dan J12. Lalu apa dampaknya?

Setelah adanya perubahan tata letak, hanya tersisa 2 sinyal, yakni J12 (yang sebelumnya bernama J32) dan B104. Sehingga, dalam praktiknya, setelah sinyal hijau muncul di J12 maka masinis langsung melihat sinyal merah di B104, tanpa adanya sinyal kuning (berjalan hati-hati) lebih dulu.

"Kondisi tersebut berdampak kepada aspek yang ditunjukkan oleh Sinyal Keluar J12 tidak selalu memberikan indikasi yang merepresentasikan aspek Sinyal Blok B104 yang akan dihadapi KA," tulis KNKT.

Perubahan ini tak cuma soal posisi tapi pola penerapan sinyal. KNKT menyampaikan perbedaan karakter kedua sinyal setelah adanya perubahan pada 2021:

Dari kedua dokumen tersebut di atas, terdapat perbedaan penggambaran aspek persinyalan. Pada dokumen desain tahun 2014, penggambaran aspek persinyalan digambarkan dalam hubungan signal to track, dimana aspek persinyalan dipengaruhi oleh status okupasi track.

Pada dokumen review desain TA. 2022, penggambaran aspek persinyalan digambarkan dalam hubungan signal to signal tanpa status okupasi track, sehingga perbedaan perilaku Sinyal Keluar J12 terhadap status okupasi track 104AT dan/atau 104BT tidak tergambarkan.

Investigasi menemukan bahwa hubungan persinyalan antara status okupasi track 104AT dan 104BT dengan aspek Sinyal Keluar J12 memiliki karakteristik yang berbeda. Kondisi tersebut berdampak kepada aspek yang ditunjukkan oleh Sinyal Keluar J12 tidak selalu memberikan indikasi yang merepresentasikan aspek Sinyal Blok B104 yang akan dihadapi KA.

Perbedaan karakteristik tersebut tidak tergambarkan pada dokumen signal aspect plan, sehingga kondisi tersebut tidak teridentifikasi sejak tahapan testing dan pengoperasian.

Kecelakaan Maut KA tubruk KRL di Bekasi

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sebelumnya, kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur ini terjadi pada 27 April 2026 dan melibatkan tabrakan beruntun. Peristiwa nahas tersebut bermula ketika KRL Commuter Line menabrak sebuah taksi listrik yang mogok di perlintasan sebidang JPL 86 Ampera, yang memaksa KRL terhenti di Jalur 1.

Nahas, pada pukul 20.40 WIB, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang gagal berhenti dan menabrak gerbong KRL yang tengah tertahan tersebut.

Benturan keras itu mengakibatkan kerusakan parah pada gerbong paling belakang KRL yang merupakan gerbong khusus wanita, menewaskan 16 penumpang perempuan dan melukai puluhan orang lainnya.

Dalam perkembangan kasusnya, pihak kepolisian telah menetapkan sopir taksi listrik sebagai tersangka karena dinilai memicu efek domino kecelakaan, sementara Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) turut menyoroti dugaan kelalaian masinis KA Argo Bromo Anggrek yang gagal merespons sinyal merah di jalur tersebut.