Konten dari Pengguna

Irama Aceh PUNGO : Mengapa Obrolan Seni di Banda Aceh Berakhir pada Andaman?

Ari J  Palawi

Ari J Palawi

Praktisi dan Akademisi Seni, Warga Kota Banda Aceh

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Undangan menghadiri majelis gagasan kreatif Irama Aceh PUNGO. Hybrid designed by Ari J. Palawi.
zoom-in-whitePerbesar
Undangan menghadiri majelis gagasan kreatif Irama Aceh PUNGO. Hybrid designed by Ari J. Palawi.

Banda Aceh — Hujan yang turun sejak sore membuat sebagian kursi yang direncanakan tidak terisi penuh. Namun suasana yang lebih kecil justru membuat percakapan di Halaman JEDA Rafly-Kande, Banda Aceh, pada Sabtu malam (20/6/2026) menjadi lebih dalam.

Di ruang itu, sekitar belasan hingga puluhan orang kreatif Aceh, pekerja media kreatif, akademisi, mahasiswa, pegiat komunitas, dan penggerak budaya berkumpul dalam majelis gagasan kreatif Irama Aceh PUNGO.

Mereka tidak datang untuk menghadiri seminar.

Tidak ada panggung besar.

Tidak ada susunan acara yang kaku.

Yang terjadi adalah percakapan panjang tentang satu pertanyaan besar: bagaimana Aceh menyiapkan masa depannya?

Percakapan yang awalnya berbicara tentang seni kemudian berkembang ke isu yang jauh lebih luas: ruang kreatif, regenerasi budaya, ekonomi, hingga potensi energi Andaman.

Sebuah pergeseran yang sebenarnya tidak terlalu jauh.

Sebab bagi peserta yang hadir, persoalan seni dan persoalan pembangunan memiliki akar yang sama: bagaimana sebuah daerah mengelola pengetahuan dan sumber dayanya.

Seni Bukan Sekadar Pertunjukan

Salah satu kegelisahan yang muncul dalam diskusi adalah posisi seni dan kerja kreatif di Aceh.

Banyak karya lahir. Banyak orang kreatif terus bergerak. Namun ekosistem yang menjaga keberlanjutan karya masih membutuhkan perhatian.

Seni sering hadir ketika sebuah acara membutuhkan penampilan. Tetapi proses panjang di belakang karya—riset, latihan, pencarian gagasan, pembentukan karakter, dan kerja profesional—belum selalu mendapatkan ruang yang seimbang.

Dari sini pembahasan bergerak pada satu hal penting: literasi seni.

Literasi seni tidak hanya tentang mengetahui nama karya, mengenal pertunjukan, atau memahami teknik.

Lebih luas dari itu, literasi seni adalah kemampuan membaca hubungan antara karya, masyarakat, sejarah, adat, dan perubahan zaman.

Aceh memiliki banyak pengetahuan yang hidup di kampung, keluarga, komunitas, dan tradisi. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan itu tetap tersambung ketika generasi berubah.

Sebab tradisi tidak hanya bertahan karena dipentaskan.

Tradisi bertahan karena dipahami dan dijalankan.

Rafly Kande dan Cara Lain Menyampaikan Pengetahuan

Di tengah pembicaraan tentang generasi dan pewarisan nilai, Rafly Kande tidak memilih memberikan penjelasan panjang.

Ia memilih bernyanyi.

Musisi Aceh yang dikenal luas melalui perjalanan panjangnya di dunia musik Indonesia itu membawakan lagu Puleh.

Lagu tersebut kemudian menjadi bagian dari percakapan.

Bukan sebagai hiburan, tetapi sebagai contoh bahwa pengetahuan juga bisa hidup melalui karya.

Ada hal-hal yang tidak selalu diwariskan lewat ruang kelas.

Sebagian tersimpan dalam cerita.

Sebagian hidup dalam syair.

Sebagian tumbuh melalui musik.

Momen itu memperlihatkan bahwa seni bukan hanya hasil akhir, tetapi juga cara masyarakat menyimpan ingatan.

Kontemplasi Rafly. Dok. pribadi.

Dari SPS Revival hingga Ruang Kreatif Baru

Percakapan kemudian mengarah pada pentingnya ruang kreatif.

Partisipan mengingat kembali pengalaman Skate Park Stage (SPS), sebuah ruang yang menjadi titik temu berbagai komunitas seni, musik, media, dan anak muda di Banda Aceh.

Bagi sebagian partisipan, SPS bukan sekadar tempat kegiatan.

Ia menjadi ruang sosial.

Tempat orang bertemu, bertukar gagasan, mencoba karya, dan membangun jaringan.

Gagasan SPS Revival kembali muncul sebagai refleksi bahwa Aceh membutuhkan ruang-ruang yang memungkinkan orang kreatif tumbuh bersama.

Dalam pembahasan itu juga muncul gagasan mengenai upaya seperti Darud Dunia, yang dipandang sebagai salah satu bentuk ikhtiar membangun ruang kolaborasi, pembelajaran, dan perjumpaan.

Pesan yang muncul cukup jelas: ekosistem kreatif tidak selalu lahir dari fasilitas besar.

Ia tumbuh dari kepercayaan.

Dari pertemuan.

Dari ruang yang memungkinkan orang berbeda latar belakang bekerja bersama.

Ketika Pembicaraan Sampai ke Andaman

Hal yang menarik dari malam itu adalah bagaimana pembicaraan seni akhirnya sampai pada isu energi.

Partisipan membahas potensi gas Andaman yang berada dalam konteks strategis pembangunan Aceh.

Bagi mereka, isu energi bukan hanya persoalan investasi atau industri.

Energi menyangkut masa depan.

Aceh memiliki pengalaman panjang dengan industri energi, termasuk sejarah Arun. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kekayaan alam membutuhkan tata kelola yang kuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Potensi Andaman kemudian dilihat sebagai peluang sekaligus tanggung jawab.

Peluang karena dapat membuka ruang ekonomi baru.

Tanggung jawab karena Aceh harus memastikan sumber daya tersebut tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat kapasitas manusia, pendidikan, lingkungan, dan kebudayaan.

Intensitas diskusi Irama Aceh PUNGO saat Rafly Kande menjelaskan perspektif tentang potensi energi Aceh. Percakapan berkembang dari seni, budaya, hingga masa depan pembangunan Aceh. Dok. pribadi.

Dalam diskusi muncul satu gagasan utama:

Aceh tidak harus memilih antara energi dan budaya.

Energi dapat menjadi fondasi ekonomi.

Sementara seni, adat, ilmu pengetahuan, dan kreativitas menjadi penjaga arah pembangunan.

Manifesto Arah: Dari Kekayaan Alam ke Kekuatan Peradaban

Dari percakapan panjang itu lahir gagasan yang dirangkum dalam Manifesto Arah Irama Aceh PUNGO.

Intinya adalah tiga prinsip:

Artistik.

Kerja kreatif harus menjaga kualitas, kejujuran, keberanian, dan kreativitas.

Edukatif.

Karya harus mampu memperluas pengetahuan dan membangun cara berpikir.

Bernilai ekonomi tinggi.

Kreativitas harus mampu menciptakan nilai dan memberi manfaat yang berkelanjutan.

Sebab kesejahteraan tidak hanya lahir dari pembagian hasil, tetapi dari kemampuan menciptakan nilai.

Irama Aceh PUNGO tidak melahirkan organisasi baru atau keputusan formal.

Namun forum itu menghadirkan satu hal yang semakin penting di tengah perubahan zaman: ruang untuk berpikir bersama.

Karena masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh apa yang tersimpan di bawah tanah dan lautnya.

Masa depan Aceh akan ditentukan oleh kualitas manusia yang mampu membaca peluang, menjaga nilai, dan mengelola amanah tersebut.

Geut tapubuet geut beunalah, nyang geut takubah keu aneuk cuco.

Yang baik kita kerjakan, yang baik pila hasil yang kita dapatkan, dan yang segala hal baik tersebut yang kita wariskan kepada anak cucu.