Dari Banda Aceh, Pendidikan Seni Kembali Dipertanyakan

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Diskusi Nasional Pendidikan Seni se-Indonesia yang berlangsung di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, mungkin tidak menghasilkan kesimpulan yang rapi. Tidak ada deklarasi besar. Tidak ada rumusan tunggal yang selesai menjawab seluruh persoalan pendidikan seni hari ini. Tetapi justru di situlah letak pentingnya forum ini.
Ada banyak kegelisahan yang akhirnya bertemu di satu ruang kecil: Ruang Teater Mini Adnan Ganto, Perpustakaan USK.

Sebagian datang dari kampus seni. Sebagian lagi dari FKIP, komunitas budaya, sekolah, pegiat film, peneliti, mahasiswa, hingga orang-orang yang selama ini bekerja diam-diam menjaga ekosistem seni di daerahnya masing-masing. Ada yang hadir langsung di Banda Aceh. Lebih banyak lagi yang bergabung melalui Zoom dari Yogyakarta, Jakarta, Ambon, Bali, Makassar, Samarinda, Semarang, Lampung, Padang, Surabaya, hingga pelosok Aceh.
Forum ini sejak awal memang tidak dirancang sebagai seminar yang terlalu formal. Ia lebih dekat dengan percakapan panjang lintas pengalaman, lintas generasi, dan lintas kegelisahan. Kadang terasa berat. Kadang meloncat ke mana-mana. Kadang membingungkan. Tetapi dari situ justru terlihat satu hal: pendidikan seni di Indonesia sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana.
Diskusi dibuka dari pertanyaan yang sebenarnya sangat mendasar: apakah pendidikan hari ini masih memberi ruang cukup bagi manusia untuk tumbuh secara utuh?
Prof. Bahrun mengingatkan bahwa manusia Indonesia pada dasarnya adalah makhluk yang holistik. Pendidikan tidak bisa terus-menerus memecah manusia ke dalam kotak disiplin yang kaku, sementara kehidupan nyata justru bergerak secara lintas batas. Seni, dalam pandangannya, menjadi salah satu ruang yang masih memungkinkan manusia belajar memahami hubungan antara akal, rasa, tubuh, pengalaman sosial, dan nilai-nilai hidup sekaligus.
Pandangan itu kemudian bergeser ke pembicaraan yang lebih tajam tentang arah pendidikan nasional hari ini.
Edward C. Van Ness berbicara mengenai jurang panjang antara dunia kebijakan dan kenyataan kebudayaan di lapangan. Menurutnya, persoalan pendidikan seni di Indonesia bukan sesuatu yang baru. Ia sudah berlangsung lama: ketika keputusan-keputusan pendidikan lebih banyak disusun melalui ukuran administratif dan ekonomi, sementara praktik seni dan kebudayaan hidup dengan logika yang jauh lebih kompleks.
Ia menyinggung bagaimana seni sering dipaksa membuktikan manfaatnya dengan ukuran-ukuran industri. Ketika tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi angka ekonomi, keberadaannya dianggap tidak cukup penting.
Di titik itu, forum mulai terasa semakin personal.
Banyak peserta mengaitkan pembicaraan dengan kondisi kampus masing-masing: ruang studio yang terbatas, fasilitas kreatif yang tertinggal, kurikulum yang terlalu administratif, hingga mahasiswa yang akhirnya lebih sering belajar di luar kampus dibanding di dalamnya.
Ada yang menyebut istilah “nugas di kafe” sebagai gejala zaman. Bukan semata tren gaya hidup, tetapi tanda bahwa ruang belajar kreatif di kampus belum benar-benar tumbuh mengikuti kebutuhan generasi sekarang.
Prof. Triyono Bramantyo kemudian membawa diskusi pada persoalan pendidikan musik dan pembentukan karakter. Ia menekankan bahwa pendidikan seni seharusnya tidak berhenti pada keterampilan teknis. Seni harus membantu manusia membangun disiplin batin, sensitivitas sosial, kemampuan mendengar, dan kesadaran hidup bersama.
Sementara itu, Prof. Melani Budianta menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan seni, kebudayaan, dan kemanusiaan.
Menurutnya, seni bukan sekadar produk estetika. Seni menyimpan memori kolektif, cara hidup, nilai, hingga cara masyarakat memahami relasinya dengan alam dan sesama manusia. Ketika pendidikan terlalu sibuk mengejar efisiensi dan produktivitas, ruang-ruang seperti inilah yang perlahan terancam hilang.
Ia mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi. Inovasi juga lahir dari kemampuan manusia membaca ulang pengalaman hidupnya sendiri.
Diskusi kemudian bergerak liar, tetapi justru hidup.
Mas Tanto Mendut mengkritik pendidikan seni yang terlalu nyaman berada di lingkungan akademik tanpa cukup dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ada juga pembicaraan tentang AI, globalisasi budaya populer, hilangnya akar tradisi, hingga bagaimana generasi muda hari ini lebih mengenal budaya digital global dibanding kebudayaan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
Namun di tengah semua kegelisahan itu, ada sesuatu yang terasa tumbuh pelan-pelan sepanjang forum berlangsung, yqkni: rasa saling menemukan.
Mungkin itu sebabnya setelah acara selesai, beberapa peserta justru mengatakan diskusi ini terasa “menggantung”, tetapi dalam arti yang baik. Belum selesai. Belum tuntas. Tetapi membuka kemungkinan percakapan baru yang lebih luas.
Dari daftar peserta yang masuk, terlihat bagaimana forum kecil ini diam-diam mempertemukan banyak simpul yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: ISI Yogyakarta, IKJ, ISBI Aceh, IAKN Ambon, UNNES, UNM Makassar, UIN Jakarta, sekolah-sekolah seni, komunitas budaya, hingga mahasiswa dari berbagai daerah.
Tidak ada organisasi resmi yang dibentuk hari itu. Tidak ada struktur baru.
Tetapi setidaknya, ada kesadaran bahwa pendidikan seni di Indonesia tidak bisa terus bergerak sendiri-sendiri.
Rektor USK dalam sambutannya sebelumnya sempat berharap agar forum ini menghasilkan tiga hal: rekomendasi konkret, argumentasi akademik yang kuat, dan jejaring antar kampus yang lebih solid.
Barangkali ketiganya belum benar-benar selesai dicapai dalam satu hari diskusi. Namun sebagai permulaan, benihnya mulai terlihat.
Dan mungkin memang seperti itu cara kerja kebudayaan.
Ia tidak selalu lahir dari keputusan yang rapi. Kadang justru tumbuh dari percakapan yang belum selesai, dari ruang kecil yang sederhana, dari mikrofon Zoom yang sesekali putus-putus, dari peserta yang bertahan mendengarkan sampai akhir, atau dari orang-orang yang diam-diam percaya bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan rasa.
Karena pada akhirnya, pendidikan seni bukan semata urusan mempertahankan program studi.
Ia adalah usaha menjaga manusia tetap manusia.
Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pemrasaran, peserta, penanggap, mahasiswa, dosen, seniman, panitia kecil yang bekerja sejak pagi, para mitra kampus, serta semua yang hadir dengan cara dan kontribusinya masing-masing—sekecil apa pun itu.
Dari Banda Aceh, percakapan ini mungkin baru dimulai.
Dan semoga, ia tidak berhenti di sini.
