Jeratan Fintech, Ilusi Kekayaan, dan Kelas Pekerja

Penulis esai dan lulusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Pernah terlibat dalam kurasi dan pengelolaan data di Museum Sangiran. Serta Fasilitator PKBM Flexi School
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Daffa Farras Ardyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum kalian membaca esai mengenai jeratan fintech, kekayaan, dan ilusi gaya hidup saya rekomendasikan kalian untuk minum atau sesekali menarik nafas seacara mendalam dan lepaskan.
Okey sudah? Mari kita lanjut pembahasan.
Mari kita akui satu realitas pahit yang selalu terjadi di minggu ketiga setiap bulannya: kepanikan kolektif di kota-kota besar. Di parkiran kos-kosan sempit berukuran 3x3 meter yang sumpek dan lembap, berjejer motor-motor keluaran terbaru yang bodinya masih mengkilap. Di kafe-kafe estetik bernuansa monokrom, anak-anak muda dengan lanyard mentereng berpakaian trendi, sibuk menatap layar iPhone seri mutakhir sambil menyesap kopi seharga lima liter Pertalite.
Semuanya tampak indah, setidaknya untuk layar Instagram. Namun, ketika tanggal tua menyingsing, panggung sandiwara itu perlahan runtuh. Ponsel mahal di genggaman mendadak berubah fungsi. Ia tak lagi sekadar alat pemamer gengsi, melainkan menjelma menjadi mesin teror yang bergetar tanpa henti. Layarnya dihujani notifikasi tagihan jatuh tempo dan pesan WhatsApp bernada ancaman dari penagih utang.
Pertanyaannya menyeruak: Bagaimana mungkin di sebuah negara yang digadang-gadang kaya raya, yang para elitenya gemar memamerkan data pertumbuhan ekonomi dan hilirisasi triliunan rupiah, kelas pekerjanya justru hidup kembang-kempis dan terjebak dalam pusaran utang mencekik hanya untuk sekadar "terlihat" hidup?
Jika kita membedah fenomena ini dengan jujur, kita sedang tidak melihat masalah literasi keuangan semata. Menyalahkan anak muda karena "kurang paham finansial" adalah analisis yang terlalu cetek. Apa yang ada di depan mata kita adalah sebuah tragedi struktural yang bertabrakan dengan kerapuhan psikologis umat manusia, yang pada akhirnya dieksploitasi habis-habisan oleh kapitalisme digital.
Dongeng Kesejahteraan di Tanah yang Kaya
Pada masa kiwari ini, kita hidup dalam sebuah paradoks yang cukup mutakhir . Di satu sisi, narasi kehebatan ekonomi dan visi "Indonesia Emas 2045" terus digaungkan dari mimbar-mimbar resmi. Negara ini punya segalanya: tambang nikel yang berlimpah, batu bara yang tak habis dikeruk, dan pasar konsumen yang masif. Namun di sisi lain, realitas di aspal jalanan menunjukkan bahwa mendapatkan pekerjaan yang layak dengan upah yang memanusiakan manusia ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
Ekspektasi dunia kerja kita telah dirusak oleh kenyataan. Seorang sarjana yang lulus dengan susah payah, berharap ijazahnya bisa menebus masa depan yang stabil, justru disambut oleh realita sistem kerja kontrak (outsourcing) yang dingin dan kejam.
Mari kita lihat angka-angkanya tanpa bumbu pemanis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024 menunjukkan bahwa rata-rata gaji karyawan di Indonesia hanyalah Rp3,04 juta per bulan. Di kota besar seperti Jakarta, UMR mungkin menyentuh angka lima jutaan, tapi mari kita berhitung secara jujur. Bagi perantau yang berdiri di atas kaki sendiri dan tidak tinggal di bawah ketiak orang tua, ini adalah "matematika bertahan hidup" yang memilukan.
Uang sewa kos yang layak, makan tiga kali sehari (yang seringkali dikompromikan menjadi dua kali ditambah mi instan), biaya transportasi, dan kuota internet langsung memangkas habis upah tersebut. Sisa uang di akhir bulan secara definitif mendekati nol. Setiap keping rupiah yang tersisa selalu berada dalam status "kritis," siap menguap oleh satu saja kejadian tak terduga—seperti ban motor bocor atau sakit tipes ringan.
Tragisnya, alih-alih membaik, kelas menengah kita justru sedang babak belur. BPS mencatat data yang mengkhawatirkan: sejak 2019 hingga 2024, sebanyak 9,48 juta orang Indonesia terlempar dari status "kelas menengah" alias turun kelas. Kita dihadapkan pada realitas di mana harga rumah melonjak gila-gilaan tak terkejar oleh kenaikan gaji, sementara kepastian kerja semakin semu di tengah ancaman PHK massal.
Ketika masa depan yang stabil—seperti memiliki rumah beralaskan tanah sendiri dan jaminan pensiun—menjadi kemewahan yang tak mungkin dibeli, manusia mencari kompensasi. Jika masa depan terlalu gelap dan mahal untuk diraih, mengapa saya tidak "membeli" sedikit kebahagiaan hari ini? Jika rumah bernilai miliaran terasa mustahil, bukankah segelas kopi artisan seharga lima puluh ribu dan ponsel belasan juta terasa lebih masuk akal untuk dikonsumsi sebagai obat penenang? Di titik keputusasaan struktural inilah, masalah psikologis kita bermula.
Jacques Lacan dan Ilusi Kosong
Untuk memahami mengapa kita bersedia berutang demi barang yang tidak esensial, kita harus meminjam pisau bedah psikoanalisis dari Jacques Lacan, pemikir asal Prancis. Lacan pernah mengutarakan sebuah teori bahwa pada dasarnya, manusia adalah subjek yang selalu digerakkan oleh perasaan "kurang" (lack atau manque).
Sejak kita lahir dan terpisah dari tubuh ibu, kita kehilangan apa yang Lacan sebut sebagai "kesatuan primordial"—sebuah masa di dalam rahim di mana kita merasa utuh, lengkap, tanpa beban, dan tak ada jarak antara kebutuhan dan pemenuhannya. Sepanjang hidup, disadari atau tidak, kita terus mencari keutuhan yang hilang itu. Namun, karena keutuhan sejati itu sudah sirna, kita mencoba menambalnya menggunakan simbol-simbol di dunia luar (kebudayaan).
Dalam bahasa kebudayaan modern, hasrat (desire) akan keutuhan itu ditranslasikan menjadi hasrat konsumsi. Kita mengidentifikasi nilai dan wujud diri kita melalui objek-objek di luar diri kita (the imaginary phase). Saat lingkungan sosial yang kejam di perkotaan menganggap bahwa "kesuksesan" wujudnya adalah pakaian branded, motor sport, atau gawai canggih, maka barang-barang itu bukan lagi sekadar alat fungsi.
Barang-barang itu menjelma menjadi "seragam keselamatan sosial." Ia adalah ilusi, sebuah topeng yang kita pakai untuk menutupi rasa rendah diri, kecemasan, dan kekosongan jiwa akibat kerasnya penindasan ekonomi. Kita memamerkan kemewahan semu di media sosial demi mendapat validasi, demi sebuah ilusi bahwa kita masih "memiliki nilai."
Untuk beberapa detik saat foto itu diunggah dan tombol likes bermunculan, kita merasa utuh, dan sejajar dengan yang lain. Sayangnya, seperti kata Lacan, substitusi ini bersifat fana. Objek material tidak akan pernah bisa menutup lubang kekosongan eksistensial tersebut. Akibatnya, kita terus-menerus haus, terus-menerus membeli, dan terperangkap dalam metonimi hasrat—perpindahan dari satu keinginan barang ke barang lainnya tanpa pernah merasa cukup.
Fintech dan Ilusi Kesejahteraan Semu
Celakanya, kerapuhan psikologis dan rasa "kurang" ini dibaca dengan sangat analitis oleh arsitektur finansial modern. Datanglah paylater dan Pinjaman Online (Pinjol) bertopeng "teknologi keuangan" (fintech) yang menawarkan diri sebagai pahlawan kesiangan. Padahal, mereka tak ubahnya lintah darat berwajah startup teknologi.
Di masa lalu, berutang adalah proses yang melelahkan dan memalukan. Kita harus ke bank, membawa agunan, ditolak berkali-kali, atau harus menahan malu meminjam pada kerabat. Kini, arsitektur itu dihancurkan. Digitalisasi ini secara psikologis menghilangkan "rasa sakit membayar" (pain of paying) yang biasanya muncul saat kita menyerahkan lembaran uang kertas fisik dari dompet.
Hormon dopamin disuntikkan secara instan ke otak kita setiap kali transaksi "checkout" berhasil dilakukan hanya dengan usapan jempol. Layar ponsel berukuran enam inci menciptakan ilusi daya beli yang sangat manipulatif. Seorang pekerja dengan gaji tiga juta mendadak merasa memiliki taraf hidup sepuluh juta hanya karena limit kredit di aplikasinya membesar.
Buktinya bukan sekadar asumsi, tapi sangat mengerikan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2024 mencatat bahwa outstanding (sisa utang) pinjaman online perorangan meledak mencapai Rp63,5 triliun. Dan coba tebak siapa penyumbang terbesarnya? Generasi muda, urat nadi bangsa ini. Kelompok usia 19-34 tahun menyerap Rp32,6 triliun (51,3%) dari total utang tersebut, dengan 11,3 juta rekening yang aktif.
Angka belasan juta pemuda yang terjerat ini adalah bukti sebuah sistem yang gagal. Ini bukan lagi kebetulan; ini adalah jebakan sistemik. Kapitalisme digital menyewakan rasa percaya diri instan di saat negara belum mampu menyediakan kesejahteraan yang merata.
Gaji Sebagai "Uang Transit": Wajah Baru Perbudakan
Akibat dari ilusi ini sungguh memilukan. Para pekerja muda ini pada akhirnya tidak memiliki kehidupan yang merdeka. Gaji yang mereka terima dari hasil memeras keringat sebulan penuh, menembus kemacetan, dan menahan makian atasan, akhirnya terdegradasi fungsinya. Gaji itu tidak lagi menjadi modal masa depan. Gaji hanyalah "uang transit."
Uang itu masuk ke rekening di pagi hari, untuk kemudian disetorkan secara masif dan otomatis ke puluhan aplikasi pembiayaan di sore harinya. Kita kembali pada titik nol, atau bahkan minus.
Ini adalah bentuk perbudakan modern (neofeodalisme digital). Kita tidak lagi diikat menggunakan rantai besi dan dicambuk di perkebunan tebu layaknya zaman kolonial. Hari ini, kelas pekerja dikerangkeng menggunakan deretan angka merah penagihan di layar gawai, diterror oleh debt collector maya, dan secara sukarela bekerja keras hanya untuk memperkaya para pemilik modal platform kredit. Kita dipenjara oleh keringat dan gengsi kita sendiri.
Kedaulatan Finansial Sebagai Deklarasi Kemerdekaan
Pada titik nadir ini, siapakah yang harus disalahkan? Apakah negara yang abai menciptakan ekosistem kelas pekerja yang sejahtera? Ataukah kita sendiri yang dengan sukarela menyodorkan leher untuk dicekik demi segenggam gengsi?
Keduanya berkelindan rumit. Lingkungan sosial kita memang sedang sakit parah. Kita hidup di era di mana kemiskinan dan kesederhanaan dianggap sebagai aib moral yang harus disembunyikan, sedangkan kemewahan palsu hasil berutang dipuja layaknya prestasi agung. Namun, terus-menerus menempatkan diri sebagai korban keadaan juga merupakan sikap kepasrahan yang fatal. Mengutuk negara dan sistem kapitalis di media sosial tidak akan melunasi cicilan paylater Anda besok pagi.
Oleh karena itu, perlawanan paling radikal dan subversif yang bisa dilakukan oleh pekerja UMR hari ini bukanlah semata dengan turun berdemonstrasi di jalan, melainkan dengan memenangi pertarungan di dalam pikiran sendiri: memiliki keberanian untuk berkata, "Saya tidak mampu."
Harus ditekankan dalam-dalam: tidak ada yang memalukan dari hidup sederhana di kos-kosan sempit, membawa bekal dari rumah, menaiki kendaraan tua yang catnya mulai kusam tapi BPKB-nya ada di laci Anda, atau menahan diri dari godaan nongkrong di kafe mahal. Mengucapkan "ini di luar kapasitas finansial saya" adalah bentuk tertinggi dari kejujuran, integritas, dan penerimaan diri. Sebaliknya, yang benar-benar memalukan adalah bersumpah seolah-olah kita kaya, padahal kita membeli gaya hidup itu menggunakan uang yang belum pernah kita miliki.
Sudah saatnya kita menyadari dengan pikiran yang jernih bahwa paylater dan pinjol tidak pernah benar-benar menjual kemudahan atau membantu Anda. Mereka sedang menyewakan ilusi rasa percaya diri. Dan biaya sewanya teramat mahal: yaitu ketenangan tidur malam anda.
