Jurnal Pribadi Ternyata Memiliki Akar Tradisi Panjang
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar kata “jurnal”, tautan ingatan yang segera terbentuk adalah media yang menjadi wadah untuk tulisan-tulisan ilmiah. Hal itu sepenuhnya dapat terpahami, demi mencermati sejarah, jurnal ilmiah ternyata pada mulanya merupakan jurnal pribadi.
Dalam perspektif historis, para ilmuwan pada abad ke-17 memiliki kebiasaan menuliskan pengamatan dan penelitian mereka di buku catatan pribadi. Ada yang menyebutnya jurnal naturalis (naturalist’s journal). Dan, memang jurnal pribadi merupakan akar dari kelahiran jurnal ilmiah.
Nah, lalu dalam kacamata sejarah, bagaimana sesungguhnya jurnal pribadi itu bertransformasi menuju ke jurnal ilmiah? Begini ceritanya. Sebelum ada jurnal ilmiah, para ilmuwan seperti Galileo Galilei (15 Februari 1564 - 8 Januari 1642) atau Isaac Newton (16 Januari 1643 - 31 Maret 1727), mencatat hasil eksperimen di dalam buku atau jurnal pribadi masing-masing.
Tradisi saling mengirim surat menjadi bagian dari upaya masyarakat pada kala itu untuk menjalin komunikasi, terutama yang terpisahkan jarak geografis relatif jauh. Para ilmuwan pun menginformasikan hasil temuan mereka melalui perantara surat kepada rekan yang mempunyai bidang perhatian relatif sama atau komunitas perhimpunan ilmuwan.
Praktik mengirim hasil temuan penelitian lewat surat-menyurat ini, menyebabkan Henry Oldenburg (1677 - 5 September 1677), Sekretariat Royal Society of London, merasakan kerepotan pada suatu ketika. Sebab, dia harus menyalin surat-surat berisi temuan penelitian itu dan meneruskannya ke berbagai pihak.
Filsuf, diplomat, dan teolog yang tersohor sebagai salah seorang pelopor pertukaran informasi ilmiah di Eropa tersebut, kemudian menjadi salah seorang penggagas utama jurnal ilmiah. Henry Oldenburg juga merupakan pendiri, editor, dan penerbit Philosophical Transactions.
Jurnal terbitan Royal Society di Britania Raya ini adalah salah satu jurnal ilmiah di dunia tersebut diluncurkan pada Maret 1665. Hampir lima tahun setelah akademi sains tertua di dunia itu didirikan pada 28 November 1660. Hingga kini Royal Society masih terus beroperasi.
Pada tahun yang sama pula di Paris, Prancis terbit Journal des Sçavans. Bahkan lebih dahulu, karena terbit pada 5 Januari 1665. Kedua publikasi jurnal tersebut menyediakan wadah bagi para ilmuwan untuk keperluan mendokumentasikan, menguji, dan menyebarluaskan temuan mereka secara terbuka dengan tujuan kepada komunitas akademik.
Memang benar Journal des Sçavans terbit lebih dahulu beberapa bulan. Ia merupakan jurnal sastra dan umum. Sisi cakupan umum ini juga memuat laporan dan diskusi tentang penemuan ilmuwan, dengan format ringkasan. Jurnal ini didirikan penulis dan pengacara Prancis Denis de Sallo (1626 - 14 Mei 1669) dan diakui sebagai jurnal ilmiah pertama di dunia.
Akan tetapi, Philosophical Transactions memegang rekor sebagai jurnal ilmiah murni tertua di dunia yang masih mampu bertahan dan beroperasi hingga dewasa ini. Itu sudah melintasi titian waktu 361 tahun. Hampir empat abad.
Dalam perkembangan selanjutnya, secara bertahap, format terbitan berkala itu menetapkan standar akademis modern. Antara lain hak paten atas penemuan (scientific priority) dan sistem evaluasi sejawat (peer review).
Dengan narasi pendahuluan ini, tampak jelas, bahwa catatan atau jurnal pribadi menjadi titik pijak kehadiran jurnal ilmiah. Ada yang menyebutnya logbook. Teristimewa yang berasal dari para ilmuwan itu dan telah mengalami transformasi menjadi sarana komunikasi publik.
Dengan demikian, hasil temuan mereka bisa memperoleh tindakan pemverifikasian, pengujian ulang, dan pengembangan lebih lanjut dari komunitas ilmiah dalam cakupan yang lebih luas.
Dari Jurnal Pribadi
Memang begitulah adanya, sebagaimana narasi pendahuluan tulisan ini, praktik itu pada mulanya mengambil ruang ekspresi di jurnal pribadi. Terutama yang berupa buku catatan lapangan (field journal) dari para ilmuwan, dalam perkembangan selanjutnya menebarkan inspirasi sehingga dapat menangkap dengan hangat uluran tangan dari kehadiran jurnal ilmiah modern.
Untuk menambah satu contoh lagi ilmuwan yang mengawetkan pengamatan alamnya dan berbagai catatan naturalis pertama-tama di jurnal pribadi, sebut saja Charles Darwin (12 Februari 1809 - 19 April 1882).
Bermula dari catatan lapangan selama mengikuti ekspedisi Kapal HMS Beagle (1831 - 1836). Kemudian dia kembangkan menjadi buku perjalanan, selanjutnya makalah, dan ujungnya menjadi buku ilmiah yang merevolusi disiplin ilmu biologi.
Meskipun tidak hadir sebagai jurnal ilmiah, karyanya tetap teguh kukuh menghadap kiblat ilmiah. Jurnal pribadi Charles Darwin terdiri atas catatan harian personal berupa pengalaman, reaksi emosional, dan interaksi dengan penduduk lokal. Juga ada catatan zoologi mengenai spesimen flora-fauna dan catatan geologi tentang formasi batuan serta fosil di berbagai lokasi.
Sepulang ke Britania Raya, Charles Darwin melakukan perapian dan penyusunan ulang atas catatan geologi dan sejarah alamnya. Dia pun membukukan catatan itu sebagai bagian dari narasi resmi jagat pelayaran pada 1839.
Terbit di bawah naungan judul Journal and Remarks. Dirilis sebagai jilid ketiga dari The Narrative of the Voyages of H.M. Ships Adventure and Beagle. Buku ini lebih dikenal luas dengan judul populer The Voyage of the Beagle.
Literatur perjalanan (travel literature) ini menjembatani antara karya sastra dan sains. Di samping mendapat tempat penting dalam dunia sastra klasik dunia. Komunitas ilmiah pun mengakui pengamatan detail soal geologi, ekologi, antropologi, dan keanekaragaman hayati dari sejumlah wilayah singgah, seperti di Amerika Selatan, Kepulauan Galapagos, Australia, dan Selandia Baru.
Berdasarkan catatan tentang fosil, burung, dan tumbuhan yang Charles Darwin kumpulkan di Amerika Selatan dan Kepulauan Galapagos, dia mulai merumuskan hipotesis mengenai bagaimana spesies berubah.
Dia membuka jurnal pribadi khusus mengenai transmutasi spesies (teori evolusi) pada Juli 1837. Dia menguji gagasannya selama bertahun-tahun dengan meneliti, membaca literatur dari berbagai disiplin ilmu, dan mewawancarai peternak serta ahli tanaman.
Jauh di lubuk hati Charles Darwin sesungguhnya ada rasa keraguan yang menyelinap untuk memublikasikan gagasan revolusioner ihwal seleksi alam. Terbukti selama belasan tahun, dia melakukan penundaan.
Akan tetapi pada akhirnya, tahun 1858, dia menerima makalah dari naturalis Alfred Russel Wallace (18 Januari 1823 - 7 November 1913) dengan kandungan gagasan yang hampir sama. Berkat dukungan rekan-rekannya, karya Charles Darwin dan makalah Wallace kemudian menemukan bentuk presentasinya di Linnean Society of London pada 1 Juli 1858.
Sebelumnya, Charles Darwin selanjutnya memublikasikan sejumlah monograf ilmiah. Salah satunya terbit pada 1842, yaitu The Structure and Distribution of Coral Reefs, Being the First Part of the Geology of the Voyage of the Beagle, Under the Command of Capt. Fitzroy, R.N. During the Years 1832 to 1836.
Monograf ilmiah ini diterbitkan sebagai buku oleh Smith Elder & Co di London. Karya ini merupakan volume pertama dari trilogi studi geologi yang Charles Darwin tulis berdasarkan pengamatannya selama pelayaran dengan kapal HMS Beagle.
Pada akhirnya, 24 November 1859, Charles Darwin hadir dengan mahakaryanya, On the Origin of Species. Edisi ini membuku berkat tangan penggarapan Penerbit John Murray London.
Buku ini menancapkan perubahan yang besar-besaran dari jurnal pribadi, catatan perjalanan naturalis (peneliti flora dan fauna), yang boleh terbilang amatir menjadi teori ilmiah yang utuh dan komprehensif tentang bagaimana spesies berkembang melewati seleksi alam. Dan, semua itu tidak termungkiri memang berangkat dari jurnal pribadi.
Bukan Sekadar Diari
Tulisan ini ingin lebih memfokuskan pembahasan pada jurnal pribadi. Dalam praktiknya, ia merupakan catatan tertulis atau digital tentang pikiran, perasaan, kejadian sehari-hari, pengalaman hidup. Fungsinya sebagai media refleksi diri dan manajemen stres. Dan, jurnal pribadi bertransformasi dari sekadar buku harian (diari) fisik menjadi aplikasi modern.
Sentuhan teknologi telah mengubah jurnal pribadi yang dahulu bersifat tertutup dan personal menjadi media dokumentasi yang lebih menunjukkan kreativitas, kemudahan pengaksesannya, daya tarik interaktifnya, dan terkoneksi dengan dunia luar.
Nah, itu perkembangan dewasa ini. Akan tetapi, ada baiknya pula kita menengok barang sejenak tentang jurnal pribadi yang ternyata mempunyai akar tradisi yang panjang.
Kata “jurnal” secara etimologi dapat terlacak keberasalannya dari kata dalam bahasa Latin, darium, akar katanya dius,, yang bermakna masukan harian. Dengan demikian, jurnal pribadi merupakan wadah untuk mengekspresikan rekaman peristiwa atau kejadian, pemunculan gagasan, gejolak pikiran dan perasaan, hingga evaluasi diri.
Ada yang menyamakannya dengan buku harian (diari). Bisa jadi, mereka berpikir demikian, karena baik diari maupun jurnal pribadi sama-sama memberikan tempat bagi para penggunanya untuk menuangkan segenap emosinya.
Akan tetapi, ada pula yang membedakan antara diari dan jurnal pribadi. Menurut kelaziman, diari lebih menunjukkan sifat deskriptif dengan mencatat apa yang terjadi pada “hari ini”.
Sementara itu, jurnal pribadi lebih menegaskan sifat reflektif dan analitis. Penulis jurnal pribadi cenderung mengeksplorasi mengapa dan bagaimana pikiran dan perasaannya terhadap suatu temuan kejadian memicu naluri pengamatannya.
Terdapat sejumlah ragam jurnal pribadi berdasarkan tujuan sang penulis. Ada jurnal harian (daily journal), catatan aktivitas keseharian guna latihan untuk penguatan memori. Bisa jadi, inikah sumber pandangan yang menyamakan jurnal pribadi dengan diari?
Lalu jurnal syukur (gratitude journal), fokus untuk mensyukuri hal-hal yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, apa pun kualitas menaruh pada kondisinya, guna meningkatkan kesejahteraan mental.
Selanjutnya jurnal refleksi (reflective journal), bertujuan untuk mengevaluasi emosi dan tindakan yang telah terjadi agar dapat menjadi lebih baik.
Kemudian ada jurnal impian (dream journal), ungkapan tentang impian dan tujuan hidup. Serta, bullet journal (terkenal pula dengan akronim BuJo, kombinasi catatan harian terencana, buku agenda, dan perencanaan jadwal.
Perjalanan Evolusi
Jurnal pribadi atau catatan harian ternyata telah mengalami perjalanan evolusi seiring dengan langkah peradaban sejak ribuan tahun yang lalu. Jurnal pribadi paling tua yang tercatat dalam sejarah ditemukan di Tiongkok pada tahun 55 Masehi. Berupa surat-surat yang tertulis di kayu dan bambu. Dikenal sebagai Juyan Bamboo Slips (Juyan Hanjian).
Banyak ditemukan dari masa Dinasti Han. Salah satunya berupa koleksi surat pribadi para tentara yang bertugas di garis depan wilayah perbatasan, seperti Koridor Hexi, diperkirakan dari kisaran abad pertama dan kedua Masehi.
Juga zaman Kekaisaran Romawi Kuno (27 Sebelum Masehi - 476 Masehi), ditemukan jurnal harian dari lembaran kulit kayu dengan pena dan tinta. Para jenderal, pejabat, dan negarawan menggunakan agar dapat memainkan peran dokumentatif atas strategi, juga sentuhan administrasi, dan pelunasan gelegak emosi mereka.
Pada era Renaisans di kisaran abad ke-16 dan ke-17, penulisan jurnal pribadi dalam bentuk buku harian kian menunjukkan popularitasnya di dunia Barat. Tidak sedikit yang menunjukkan adanya asupan nilai sastra. Administrator Angkatan Laut Britania Raya, Samuel Pepys (23 Februari 1633 - 26 Mei 1703), termasuk salah seorang tokoh yang layak mendapat pengetengahan.
Jurnal pribadi Samuel Pepys itu menjadi salah satu dokumen sejarah paling penting pada era Restorasi Britania Raya. Proses penulisannya berlangsung pada 1660 - 1669. Jurnal pribadi ini tidak hanya mendokumentasikan kehidupan keseharian secara detail. Namun, juga menghadirkan saksi mata yang sangat berharga tentang beberapa tragedi memilukan di London.
Sejumlah kejadian besar tidak luput menjadi fokus pencermatan dari Samuel Pepys. Pada tahun 1665, ketika wabah pes merajalela, dia mendeskripsikan Kota London yang berubah menjadi begitu sepi dan menakutkan. Dia mendeskripsikan rumah-rumah yang mendapat tanda cat merah untuk tempat karantina. Dia mengungkapkan kesedihannya menyaksikan mayat-mayat korban yang berjatuhan.
Pada tahun 1666, pada saat terjadi kebakaran yang mengerikan di London, Samuel Pepys menjadi salah seorang saksi mata. Dia secara detail mendeskripsikan kebakaran yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah kota tersebut.
Dia mengisahkan dengan begitu rinci tentang awal mula api membesar, warga yang tampak merespons dengan begitu panik, upaya pemadaman. Demikian pula tindakan warga yang mengubur keju dan anggurnya di kebun agar terselamatkan dari amukan api.
Samuel Pepys yang tersohor dengan kejujurannya, juga menuliskan di jurnal pribadinya itu, tentang rutinitas biasa, seperti makan malam, pekerjaannya di Angkatan Laut, relasi dengan sang istri. Tidak ketinggalan gosip politik dan pertengkaran pribadinya.
Yang menarik lagi dari Samuel Pepys, setidaknya dari pandangan saya, dia menciptakan semacam kode sandi atau steno guna menjaga privasinya, ketika dia menuliskan di dalam jurnal pribadinya itu rahasia terdalam dan kehidupan personalnya.
Gaya penulisan Samuel Pepys sangat menarik, hidup, dan bergerak progresif mendahului eranya. Dia menulis dengan jujur, blak-blakan, tanpa pretensi hendak menjemput penerbitannya. Oleh karena itu, tulisannya seolah mengintip kehidupan pribadi seseorang secara langsung dalam jarak yang sedemikian dekat.
Lalu pada abad ke-18 hingga ke-19 menjadi zaman keemasan buku harian alias jurnal pribadi. Wadah refleksi moral dan catatan perjalanan. Tidak sedikit tokoh internasional dan penulis besar yang melakukannya dengan rutin.
Sebut saja John Quincy Adams (17 Juli 1767 - 23 Februari 1848). Presiden Ke-6 Amerika Serikat (berkuasa 4 Maret 1825 - 4 Maret 1829) ini menulis ribuan halaman jurnal pribadi yang berisikan kisah mengenai karier diplomatiknya. Serta, renungan moral mengenai politik dan perbudakan.
Anne Lister (3 April 1791 - 22 September 1840), penulis dan petualang Britania Raya mengisahkan perjalanan dan kehidupannya lewat jurnal pribadi yang bersandi. Dia menulis seperenam dari buku harian itu (sekitar 1 juta hingga 5 juta kata) dengan kode rahasia (crypthand).
Sandi berupa kode rahasia itu, dia kreasikan dengan kombinasi simbol-simbol Yunani dan matematika, abjad dan tanda baca tertentu, serta huruf-huruf zodiak. Tujuannya, menyamarkan rincian paling intim dari kisah perempuan penulis itu.
Terutama terkait dengan catatan terus-terang tentang kehidupan asmara sejenisnya (lesbian). Dan, perasaan intim yang bersemayam di perasaannya terhadap sosok perempuan idamannya. Padahal, dia hidup pada abad ke-19 yang sedemikian konservatif.
Franz Kafka (3 Juli 1883 - 3 Juni 1924), sastrawan besar yang lahir di Praha, Ceko dan menulis dengan bahasa Jerman itu, memanfaatkan jurnal pribadi yang berupa buku hariannya untuk menuliskan sketsa sastra, mimpi, dan refleksi filosofisnya.
Perlu mendapat sentuhan penyebutan pula Ratu Victoria (24 Mei 1819 - 22 Januari 1901). Ratu yang berkuasa atas Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia mulai 20 Juni 1837 hingga wafatnya itu, begitu istikamah menulis jurnal pribadi. Dari muda hingga mengembuskan napas terakhirnya.
Dan, Ralph Waldo Emerson (8 Mei 1803 - 27 April 1882). Esais kenamaan Amerika Serikat ini menegakkan fungsi jurnal pribadinya untuk mengetengahkan gagasan transendental. Konsep filosofis tentang pemikiran, pengetahuan, atau realitas yang melampaui pengalaman indrawi. Serta evaluasi spiritual, untuk menggapai kedewasaan batin, kesadaran moral, dan kedamaian pikiran.
Selanjutnya pada abad ke-20, jurnal pribadi yang berupa buku harian menjadi begitu populer di kalangan remaja dan tokoh penting sebagai sarana pendokumentasian sejarah personal. Representasi contoh yang relatif ikonik adalah buku The Diary of a Young Girl, yang mengungkap kekejaman di balik kecamuk Perang Dunia II dari sudut kesaksian seorang gadis remaja.
Penulisnya Anne Frank (12 Juni 1929 - Februari 1945). Buku tersebut terbit secara anumerta setelah penulisnya meninggal di Kamp Konsentrasi Bergen - Belsen, Jerman karena tifus, beberapa minggu sebelum pembebasan. Terbit pertama kali dalam bahasa Belanda di bawah judul Het Achterhuis, dengan penerbit Contact Publishing Amsterdam pada 1947.
Adapun edisi bahasa Inggris yang pertama rilis pada 1952. Ada dua penerbit utama yang membukukannya, yaitu Doubleday di Amerika Serikat dan Constellation Books (serta Vallentine Mitchell) di Britania Raya.
Era Digital
Menginjak di era internet, pengekspresian jurnal pribadi bukan lagi hanya mengandalkan pada kertas dan pulpen, melainkan telah melangkah jauh ke pelbagai wujud digital. Pada ujung akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an, hadir tren blogging, misalnya via platform Blogger. Tidak sedikit anggota masyarakat memanfaatkan blog sebagai jurnal pribadi yang mempublik untuk membagikan kisah hidupnya.
Media sosial juga menjadi tempat pergeseran fungsi jurnal pribadi. Utas panjang, teks, hingga foto di Instagram atau X sering kali menunaikan fungsi tersebut.
Sementara itu, ada pula aplikasi khusus jurnal. Pemunculan Day One, Journey, Notion, Daylio, hingga Notes bawaan ponsel memberi jalan pemungkinan bagi para pengguna untuk menulis jurnal dengan aman. Ada fitur sinkronisasi otomatis, pengunci berbasis biometrik, dan pelacak suasana hati (mood tracker).
Baik jurnal pribadi konvensional (buku harian fisik) maupun jurnal pribadi digital (aplikasi/blog) memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kelebihan jurnal pribadi konvensional, mempersembahkan pengalaman sensorik dengan sentuhan kertas dan tulisan tangan, sehingga terasa lebih personal dan terapeutik. Adapun kekurangannya, tidak fleksibel untuk menyisipkan foto atau mengubah urutan tulisan (mengedit), dan tidak ada pula fitur pencarian otomatis.
Sementara itu, kelebihan jurnal pribadi digital, pengaksesannya sangat praktis di ponsel, ada fitur keamanan privasi yang kuat, mudah mengedit teks dan menyisipkan foto atau menambah audio. Ada fitur pencarian memori. Kekurangannya, rentan gangguan notifikasi ponsel, tergantung pada daya baterai, dan memerlukan langkah antisipasi memori data di dunia maya.
Menulis di jurnal pribadi, pada substansinya merupakan masalah konsistensi atau kejujuran pada diri sendiri. Apa pun pilihan seseorang, mengekspresikan secara konvensional ataupun digital, inti permasalahannya terletak pada satu hal. Yaitu kemampuan menetapkannya sebagai wahana refleksi guna menapakkan jejak langkah demi langkah kehidupan dengan lebih terarah. ***
.

