Kemenkes Percepat Distribusi Oseltamivir, Warga Diminta Tak Panic Buying

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Oseltamivir. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Oseltamivir. Foto: Shutterstock

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat distribusi obat antivirus Oseltamivir ke sekitar 196 rumah sakit. Sebelumnya, banyak laporan yang diterima Kemenkes mengenai sulitnya memperoleh obat tersebut di sejumlah rumah sakit atau wilayah.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, menjelaskan perbedaan ketersediaan obat di sejumlah wilayah menjadi perhatian pemerintah.

"Kami memahami kekhawatiran masyarakat dalam beberapa hari terakhir terkait meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan sulitnya memperoleh obat antivirus Oseltamivir di sejumlah rumah sakit atau tempat," kata Lucia dalam konferensi pers perkembangan situasi dan penanganan influenza di Indonesia, Senin (28/9).

Lucia mengatakan pengadaan Oseltamivir dilakukan melalui produksi dalam negeri dan impor untuk mengatasi keterlambatan produsen domestik dalam memenuhi kebutuhan.

"Kementerian Kesehatan telah mengupayakan ketersediaan obat tersebut melalui percepatan impor dan distribusi," ujar Lucia.

Namun, Lucia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying. Menurutnya, tidak semua pasien influenza membutuhkan antivirus karena sebagian besar kasus tanpa tanda bahaya dapat ditangani dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup.

"Jadi, tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau Oseltamivir. Jika menunjukkan tanda bahaya, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," jelas Lucia.

Lucia menegaskan Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau dikonsumsi untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Pengobatan influenza diutamakan untuk mengobati gejala dengan tetap memperhatikan kondisi pasien.

"Kami juga tidak menyarankan penggunaan antibiotik jika tidak terdapat infeksi sekunder lainnya. Oseltamivir perlu diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama pada pasien dengan influenza terkonfirmasi berat dan dirawat di rumah sakit," terang Lucia.

"Obat ini juga diberikan kepada pasien dengan komorbid atau pasien yang berisiko mengalami komplikasi, terutama anak di bawah dua tahun, lansia di atas 65 tahun, dan ibu hamil," katanya.

Dia pun mengingatkan masyarakat agar tidak membeli atau menyimpan Oseltamivir tanpa resep dan kebutuhan medis yang ditentukan dokter.

"Penggunaan Oseltamivir yang tidak sesuai indikasi medis dalam jangka panjang dapat menyebabkan munculnya virus influenza yang kurang sensitif atau resisten terhadap antivirus," ucap Lucia.

Oseltamivir pada Anak

Ahli Farmakologi Dr. dr. Dewi Selvina Rosdiana menjelaskan bahwa Oseltamivir dapat membantu memperpendek durasi influenza pada anak.

Namun, manfaatnya perlu dilihat dari seberapa cepat obat diberikan dan kondisi pasien.

Dewi memaparkan hasil meta-analisis terhadap lebih dari 2.500 anak di bawah 18 tahun yang mengalami influenza tanpa komplikasi dan menjalani rawat jalan.

"Hal tersebut terlihat jika obat diberikan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah gejala mulai muncul, pada anak usia di bawah enam tahun, pada anak tanpa asma, dan jika infeksinya benar-benar terbukti disebabkan oleh virus influenza melalui pemeriksaan laboratorium," jelasnya.

Meski demikian, rata-rata durasi sakit hanya berkurang sekitar 18 jam. Dewi menggambarkan selisih tersebut kurang dari satu hari.

"Jadi, Oseltamivir memang dapat memperpendek durasi penyakit secara statistik. Namun, pemberian Oseltamivir pada kelompok anak dengan influenza tanpa komplikasi yang dirawat jalan itu hanya mengurangi durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam, atau kurang dari satu hari," terang Dewi.

"Boleh kita bilang, kelompok yang mendapatkan Oseltamivir mungkin sembuh pada pagi hari, sedangkan kelompok yang mendapatkan plasebo (zat tanpa kandungan obat aktif yang digunakan sebagai pembanding) atau tidak mendapatkan Oseltamivir juga sudah sembuh pada malam harinya," lanjutnya.

Dewi mengatakan, bukti yang tersedia belum cukup kuat untuk menunjukkan manfaat klinis yang bermakna dalam memperpendek lama sakit. Sementara itu, anak yang mengonsumsi Oseltamivir memiliki risiko muntah 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang menerima plasebo atau tidak mendapatkan obat tersebut.

Untuk itu, Dewi menjelaskan bahwa antivirus diprioritaskan bagi pasien influenza yang memerlukan rawat inap, mengalami kondisi berat atau komplikasi, maupun berisiko tinggi mengalami komplikasi. Rekomendasi tersebut merujuk pada panduan lembaga kesehatan Amerika Serikat (CDC).

"Lembaga kesehatan di Amerika Serikat atau CDC merekomendasikan penggunaan antivirus untuk terapi influenza diprioritaskan pada pasien influenza yang memerlukan rawat inap, pasien dengan kondisi berat atau komplikasi, ataupun pasien dengan risiko tinggi mengalami komplikasi," ujarnya.

Karena itu, Dewi mengingatkan pemberian Oseltamivir pada anak perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien dan dilakukan atas pertimbangan dokter.