Kemenkes: WNA Kontak Erat Hantavirus Tinggal Sendiri, Langsung Karantina Mandiri

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Hantavirus. Foto: StepanPopov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hantavirus. Foto: StepanPopov/Shutterstock

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap warga negara asing (WNA) yang menjadi kontak erat kasus Hantavirus dari kapal MV Hondius langsung menjalani karantina mandiri setibanya di Indonesia.

WNA laki-laki berusia 60 tahun yang berdomisili di Jakarta Pusat itu juga disebut tinggal sendiri sehingga dinilai meminimalkan risiko kontak dengan orang lain.

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan kontak erat tersebut memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko penyakit Hantavirus sehingga langsung melakukan isolasi mandiri setelah menerima notifikasi dari otoritas kesehatan.

“Jadi pertama bahwa kontak erat yang dimaksud ini sudah memiliki pemahaman dan kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit khususnya Hanta ini. Sehingga setelah tiba di Indonesia dan mendapatkan notifikasi daripada IHR NFP dari Inggris, kontak erat segera melakukan karantina mandiri di tempat tinggal dan bekerja secara WFH ya,” jelas Andi dalam konferensi pers daring, Senin (11/5).

WNA tersebut kembali tiba di Indonesia pada tanggal 30 April dan bekerja sebagai karyawan swasta.

“Dan kembali ke Indonesia melalui Qatar ya, itu tiba di Indonesia kembali tanggal 30. Dan kami melalui notifikasi dari IHR Inggris dan juga sudah ada pemeriksaan yang kita lakukan ya, dan hasilnya negatif ya dan tambahan informasi bahwa KE bekerja sebagai karyawan swasta perusahaan asing di Indonesia,” ungkapnya.

Ia menegaskan kondisi WNA tersebut sampai saat ini stabil dan tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

“Kontak erat juga sangat kooperatif dan bersedia mengikuti prosedur penanganan di Indonesia serta saat ini kondisinya sehat dan tidak ada gejala atau stabil,” katanya.

Andi juga mengungkap faktor lain yang membuat risiko penularan dinilai rendah adalah karena WNA tersebut tinggal sendiri di Jakarta.

“Kontak erat ini tinggal sendiri sebenarnya ya. Jadi risiko-risiko ketemu dengan orang lain, berkomunikasi dengan orang lain itu tidak ada, di samping memang pemahamannya dan kewaspadaannya yang sudah bagus atau tinggi,” ungkapnya.

Wartawan melakukan liputan di area RSPI Sulianti Saroso tempat isolasi pasien Corona Covid 19, Rabu (11/3). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Kemenkes Minta Kontak Erat Jalani Karantina dan Monitoring Harian

Kemenkes menyebut penanganan terhadap kontak erat dilakukan mengikuti rekomendasi World Health Organization (WHO), termasuk karantina dan pemantauan aktif setiap hari.

“Jadi sesuai dengan rekomendasi dari WHO maka kontak erat ini harus dilakukan karantina dan monitoring aktif setiap hari ya. Dan kontak erat ini melakukan sebaiknya melakukan work from home ya, serta segera melaporkan ke petugas kesehatan jika ditemukan adanya gejala,” ungkap Andi.

Kemenkes melakukan penjemputan dan membawa WNA tersebut ke RSPI Sulianti Saroso untuk pemantauan lanjutan.

“Dan pemeriksaan tersebut tentunya juga mempertimbangkan hal-hal karena ini pemeriksaannya kita bawa ke rumah sakit ya, syukurlah lebih bagus kan kalau di rumah sakit, walaupun sebenarnya ini kemungkinan untuk melakukan sesuai dengan protokol WHO itu dimungkinkan untuk isolasi mandiri, tetapi kami pikir ada baiknya bahwa ini dilakukan dulu di Rumah Sakit Sulianti Saroso,” kata Andi.

Andi menjelaskan langkah cepat dilakukan sejak pemerintah menerima notifikasi resmi dari Inggris.

“Kementerian Kesehatan kemudian Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan juga pihak terkait lainnya, tentunya bahwa harus segera melakukan tindakan-tindakan untuk pemeriksaan dan juga edukasi lebih lanjut. Dan pemeriksaan tersebut kita lakukan setelah mendapatkan notifikasi daripada IHR NFP Inggris tersebut malamnya, paginya itu kami sudah berkoordinasi dan langsung kita minta untuk segera dilakukan pemeriksaan,” jelas Andi.

Kemenkes menerima notifikasi terkait kontak erat tersebut pada 7 Mei 2026.

“Tanggal 7 ada notifikasi dari IHR NFP Inggris, kemudian tanggal 8 Mei penyelidikan epidemiologi dengan kontak erat tersebut, dan kami mengimbau untuk karantina dan edukasi pencegahan penularan via telepon. Dan pada tanggal 8 Mei ya, pukul 13:30 kami berkoordinasi dengan WHO, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, BBLK Jakarta dan Dinkes DKI Jakarta via daring,” ungkapnya.

Keesokan harinya, kontak erat dijemput dan dibawa ke RSPI Sulianti Saroso. WNA pun tetap dipantau walau hasil tes mengatakan ia negatif dari Hantavirus.

“Kabar baiknya adalah bahwa hasil pemeriksaan ya PCR tersebut itu negatif Hantavirus,” katanya.

Puskesmas Senen Ikut Pantau Kontak Erat

Kemenkes juga melibatkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga Puskesmas dalam pemantauan berkala terhadap kontak erat tersebut.

“Jadi kontak erat yang dimaksud tadi, yang warga negara asing itu akan dilakukan pemantauan aktif ya, sesuai waktu yang telah ditetapkan oleh WHO. Dan koordinasi telah juga saya sampaikan tadi bahwa koordinasi itu bukan hanya kepada Lab-nya saja tetapi dengan Dinas Kesehatan tentunya juga dengan Puskesmas,” katanya.

Menurut Andi, Puskesmas Senen akan melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi pasien.

“Jadi nanti Puskesmas di wilayah tersebut ya, saya sebut aja deh Puskesmas Senen begitu, itu akan melakukan pemantauan secara reguler ya terhadap kondisi pada pasien tersebut walaupun saat ini ya kita tahu bersama bahwa pasien tersebut masih di Rumah Sakit Sulianti Saroso,” ungkap Andi.

Ia menambahkan pemeriksaan laboratorium akan dilakukan ulang sesuai masa inkubasi virus.

“Kalau inkubasi kan tadi sudah disampaikan, itu kita akan lakukan pemantauan tersebut dengan melakukan proses pemeriksaan laboratorium nanti berulang lagi untuk setiap 2 minggu. Rencananya seperti demikian,” pungkasnya.