Konten dari Pengguna

Kenapa Umur 30-an Terasa Cepat Banget?

foto diskusi - aldridge christian seubelan
zoom-in-whitePerbesar
foto diskusi - aldridge christian seubelan

Ada satu hal yang mulai saya sadari ketika memasuki usia 30-an: waktu terasa berbeda. Bukan karena jam berjalan lebih cepat, tentu saja. Satu hari tetap 24 jam, satu minggu tetap tujuh hari, dan satu tahun tetap 12 bulan. Tapi entah kenapa, rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru, tiba-tiba sudah masuk pertengahan tahun. Baru rasanya kemarin ulang tahun, tahu-tahu umur bertambah lagi. Bahkan kadang saya membuka galeri foto dan menemukan foto tiga atau empat tahun lalu, lalu spontan berpikir, "Serius? Itu sudah selama itu?" Mungkin banyak dari kita yang mulai merasakan hal yang sama. Umur 20-an terasa panjang, tetapi begitu masuk 30-an, waktu seperti memiliki tombol fast forward.

Ketika masih kecil, satu tahun terasa sangat lama. Menunggu ulang tahun berikutnya seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Menunggu liburan sekolah terasa panjang. Bahkan menunggu akhir pekan pun bisa terasa seperti perjalanan yang sangat jauh. Sekarang? Januari bisa terasa seperti baru kemarin, lalu tiba-tiba sudah September. Hari Senin terasa berat, tetapi Jumat datang begitu cepat. Kita menjalani banyak hari, tetapi ketika menoleh ke belakang, beberapa tahun terakhir justru terasa seperti satu potongan pendek yang samar. Seolah-olah banyak hal terjadi, tetapi tidak banyak yang benar-benar kita ingat.

Ada penjelasan psikologis yang menarik mengenai hal ini. Salah satunya berkaitan dengan novelty atau pengalaman baru. Ketika kita masih muda, hidup dipenuhi dengan pengalaman pertama. Sekolah baru, teman baru, lingkungan baru, pertama kali jatuh cinta, pertama kali patah hati, pertama kali naik pesawat, pertama kali mendapatkan uang sendiri, pertama kali masuk universitas, pertama kali bekerja. Otak kita memiliki begitu banyak "penanda" untuk mengingat waktu karena setiap periode kehidupan terasa berbeda. Sebaliknya, ketika memasuki usia dewasa, kehidupan mulai menjadi lebih repetitif. Bangun pagi, bekerja, meeting, pulang, makan, tidur, lalu mengulanginya lagi. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tetapi tidak banyak yang berubah. Dan mungkin justru karena itulah waktu terasa semakin cepat ketika kita mengingatnya kembali.

Coba pikirkan satu minggu terakhir dalam hidup kita. Berapa banyak hari yang benar-benar berbeda satu sama lain? Senin mungkin meeting. Selasa meeting lagi. Rabu deadline. Kamis pekerjaan yang sama. Jumat mencoba bertahan sampai weekend. Sabtu keluar sebentar, Minggu bersiap menghadapi Senin lagi. Kita mungkin menjalani tujuh hari penuh, tetapi ketika ditanya apa yang paling kita ingat dari minggu itu, jawabannya mungkin hanya satu atau dua hal. Bukan karena hidup kita kosong, tetapi karena terlalu banyak bagian dari hidup kita berjalan dalam mode autopilot. Kita hadir secara fisik, tetapi tidak selalu benar-benar hadir secara mental.

Dan mungkin di sinilah masalah sebenarnya. Bukan waktu yang berjalan semakin cepat, tetapi kehidupan kita yang semakin repetitif. Ketika hari-hari kita hampir sama, otak tidak memiliki banyak pengalaman baru untuk dijadikan landmark memory. Akibatnya, ketika kita melihat kembali beberapa bulan atau beberapa tahun terakhir, semuanya seperti menyatu menjadi satu blok waktu. Kita tidak merasa telah menjalani begitu banyak hari karena hanya sedikit hari yang terasa benar-benar berbeda.

Itulah sebabnya umur 20-an sering terasa lebih panjang. Bukan karena kita benar-benar memiliki lebih banyak waktu, tetapi karena kita memiliki lebih banyak "firsts". Kita sedang membangun hidup. Kita pindah kota, mencari pekerjaan, bertemu orang baru, mencoba hubungan baru, gagal, mencoba lagi, belajar banyak hal, mengambil keputusan yang belum pernah kita ambil sebelumnya. Bahkan kesalahan-kesalahan kita terasa penting karena semuanya menjadi bagian dari proses menemukan siapa diri kita. Hidup terasa penuh dengan cerita, dan cerita membuat waktu terasa memiliki bentuk.

Kemudian kita memasuki usia 30-an. Banyak hal yang dulu terasa baru mulai menjadi familiar. Kita sudah tahu seperti apa rasanya bekerja. Kita sudah tahu seperti apa rasanya patah hati. Kita sudah tahu seperti apa menghadapi deadline, menghadapi atasan, membayar tagihan, menghadapi hubungan yang rumit, dan menjalani rutinitas. Kita menjadi lebih kompeten dalam menjalani kehidupan, tetapi mungkin tanpa sadar menjadi kurang sadar terhadap kehidupan itu sendiri. Kita semakin pintar menjalani hari, tetapi belum tentu semakin pandai mengisinya.

Ada sesuatu yang agak ironis tentang menjadi dewasa. Ketika masih muda, kita sering ingin hidup kita lebih stabil. Kita ingin pekerjaan tetap, rumah yang nyaman, penghasilan yang lebih baik, hubungan yang lebih pasti, dan rutinitas yang lebih teratur. Kita mengejar stability karena merasa hidup akan lebih tenang ketika semuanya sudah settled. Tetapi setelah mendapatkannya, kita kadang baru menyadari bahwa stabilitas juga bisa membuat hidup terasa sangat repetitif. Kita mendapatkan apa yang dulu kita inginkan, tetapi kemudian bertanya-tanya, "Kok hidup terasa cepat sekali?"

Mungkin karena kita terlalu sibuk menjalani kehidupan sampai lupa mengalami kehidupan. Ada perbedaan besar antara kedua hal tersebut. Menjalani kehidupan berarti memenuhi apa yang harus dilakukan. Mengalami kehidupan berarti benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Kita bisa pergi ke sebuah restoran tanpa benar-benar menikmati makanannya karena sibuk memikirkan pekerjaan. Kita bisa traveling tetapi separuh pikiran masih berada di kantor. Kita bisa duduk bersama orang yang kita sayangi tetapi tangan kita terus memegang smartphone. Kita hadir di sebuah momen, tetapi pikiran kita sudah berada di momen berikutnya.

Dan semakin dewasa, semakin mudah kita hidup seperti itu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, meeting yang harus dihadiri, keluarga yang harus diperhatikan, target yang harus dicapai, cicilan yang harus dibayar, dan begitu banyak hal yang menuntut perhatian. Kita terus berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban lainnya. Sampai suatu hari kita berhenti sebentar dan menyadari bahwa satu tahun telah berlalu. Lalu kita bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi tahun ini?"

Mungkin jawabannya bukan bahwa kita tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, kita mungkin melakukan terlalu banyak hal. Tetapi tidak semua aktivitas otomatis menjadi pengalaman. Tidak semua kesibukan otomatis menjadi kehidupan. Ada hari-hari ketika kita sangat produktif, tetapi tidak merasa benar-benar hidup. Ada minggu-minggu ketika kalender kita penuh, tetapi ketika semuanya selesai, kita tidak punya satu pun momen yang benar-benar ingin kita ingat.

Karena itu, mungkin salah satu cara membuat hidup terasa lebih "panjang" bukan dengan berusaha memperlambat waktu, tetapi dengan memperkaya pengalaman di dalamnya. Kita membutuhkan sesuatu yang membuat kita berhenti sejenak dan berkata, "Ini baru." Tidak harus sesuatu yang besar. Tidak harus selalu traveling ke negara lain atau melakukan sesuatu yang ekstrem. Bisa sesederhana membaca buku yang tidak biasa kita baca, mencoba hobi baru, pergi ke tempat yang belum pernah kita datangi, belajar sesuatu yang selama ini kita tunda, bertemu orang baru, mengambil jalan pulang yang berbeda, atau memulai percakapan yang selama ini kita hindari.

Mungkin kita juga perlu sesekali keluar dari pola yang sudah terlalu nyaman. Karena comfort memang membuat hidup lebih mudah, tetapi novelty membuat hidup lebih terasa. Kita membutuhkan pengalaman yang memberikan warna pada memori kita. Kalau setiap minggu terlihat sama, jangan heran kalau ketika satu tahun berlalu, rasanya seperti satu minggu yang panjang.

Namun ada satu hal lain yang menurut saya jauh lebih penting. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa bahwa suatu hari nanti kita akan merindukan kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. Kita sering berpikir, "Nanti kalau sudah mencapai ini, saya akan lebih menikmati hidup." Nanti kalau karier sudah lebih stabil. Nanti kalau punya lebih banyak uang. Nanti kalau pekerjaan lebih ringan. Nanti kalau sudah punya rumah. Nanti kalau target sudah tercapai. Masalahnya, kata "nanti" bisa menjadi jebakan yang tidak pernah selesai. Karena ketika satu tujuan tercapai, akan muncul tujuan berikutnya.

Dan tiba-tiba kita berumur 30, lalu 35, lalu 40. Kita melihat ke belakang dan menyadari bahwa banyak tahun telah berlalu bukan karena hidup terlalu singkat, tetapi karena terlalu banyak hari kita habiskan tanpa benar-benar kita sadari.

Ada ayat dalam Alkitab yang menurut saya sangat relevan dengan persoalan ini. Dalam Mazmur 90:12 tertulis, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Saya suka ayat ini karena ia tidak berkata, "Ajarlah kami menghentikan hari-hari kami." Waktu memang tidak bisa dihentikan. Kita tidak bisa membuat satu hari menjadi 30 jam. Kita tidak bisa meminta usia 30 kembali menjadi 20. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menghitung hari-hari kita dengan bijaksana.

Mungkin menghitung hari bukan sekadar menghitung berapa banyak hari yang sudah kita lalui, tetapi menyadari bagaimana kita menggunakan hari-hari tersebut. Apakah kita benar-benar hadir? Apakah kita mengasihi orang-orang yang penting bagi kita? Apakah kita melakukan sesuatu yang berarti? Apakah kita masih bertumbuh? Apakah kita masih memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru? Apakah kita menjalani hidup yang memang kita pilih, atau hanya mengikuti rutinitas karena sudah terlalu terbiasa?

Karena pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan bahwa umur 30-an terasa cepat. Mungkin kita hanya mulai menyadari betapa berharga waktu yang kita miliki.

Dan kalau memang waktu tidak bisa kita perlambat, mungkin yang bisa kita lakukan adalah membuat setiap bagian darinya lebih berarti. Mengisi kalender bukan hanya dengan meeting dan pekerjaan, tetapi juga dengan pengalaman. Bukan hanya dengan target, tetapi juga dengan manusia. Bukan hanya dengan pencapaian, tetapi juga dengan momen yang suatu hari nanti akan kita rindukan.

Karena mungkin hidup yang panjang bukan hanya tentang berapa banyak tahun yang kita miliki.

Tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang berhasil kita masukkan ke dalam tahun-tahun tersebut.