Konten dari Pengguna

Ketika Bel Sekolah dan Hidden Curriculum Mengajarkan Lebih dari Sekadar Disiplin

Windi Az-Zahra

Windi Az-Zahra

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Prodi Pendidikan Sosiologi

·waktu baca 5 menit

Tulisan dari Windi Az-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bel di Sekolah (Foto oleh Thilina Alagiyawanna dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/36873244/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bel di Sekolah (Foto oleh Thilina Alagiyawanna dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/36873244/)

Hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi hadir dalam bentuk yang paling tidak terduga, salah satunya adalah bel sekolah yang berbunyi setiap hari selama dua belas tahun.

Bel berbunyi, kita masuk kelas. Bel berbunyi lagi, kita boleh istirahat. Bel berbunyi sekali lagi, kita pulang. Tidak ada yang mempertanyakan siapa yang memutuskan jadwal itu, mengapa istirahat hanya dua puluh menit, atau mengapa belajar harus dimulai pukul tujuh pagi. Kita cukup mengikutinya, dan lama-kelamaan, kita menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Justru di sinilah letak persoalannya. Hal-hal yang terlalu wajar untuk dipertanyakan sering kali menyimpan kuasa yang paling besar. Bel sekolah bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah salah satu instrumen pendidikan yang paling efektif, meski tidak pernah tercantum dalam kurikulum resmi mana pun. Tulisan ini mencoba membongkar apa yang sesungguhnya diajarkan bel kepada kita, dan apakah pelajaran itu selalu baik.

Bel Sekolah sebagai Hidden Curriculum yang Tidak Tertulis

Dalam dunia pendidikan, ada yang disebut hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh Philip Jackson dalam bukunya Life in Classrooms (1968). Jackson menyebut bahwa di luar pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia, sekolah juga mengajarkan nilai-nilai seperti kepatuhan, kesabaran menunggu giliran, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan otoritas. Hanya saja, semua itu tidak pernah tertulis di silabus mana pun.

Bel sekolah adalah salah satu wujud hidden curriculum yang paling konkret, namun paling jarang dianalisis. Setiap bunyi bel mengandung pesan implisit: waktu bukan milikmu, ada pihak lain yang berhak mengaturnya. Siswa tidak belajar tentang manajemen waktu dalam arti yang sesungguhnya. Mereka belajar untuk mematuhi waktu yang sudah ditentukan orang lain. Perbedaan antara kedua hal ini sangat signifikan, dan dampaknya terasa jauh melampaui tembok sekolah.

Emile Durkheim dan Sekolah sebagai Mesin Sosial

Ilustrasi siswa yang sedang ujian (Foto oleh Haidar Azmi dari Pexels)

Untuk memahami mengapa sekolah bekerja dengan cara seperti ini, kita perlu melihatnya melalui kacamata Emile Durkheim. Bagi Durkheim, fungsi utama pendidikan bukanlah mengembangkan individu, melainkan mengintegrasikan individu ke dalam masyarakat. Sekolah adalah alat untuk menanamkan nilai-nilai kolektif agar generasi baru dapat berfungsi dalam tatanan sosial yang sudah ada (Durkheim, 1956).

Dalam kerangka ini, bel sekolah memiliki fungsi yang sangat logis. Ia melatih siswa untuk hidup dalam ritme bersama, yaitu datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai tenggat, dan menghormati batas-batas waktu yang disepakati secara sosial. Nilai-nilai ini nyata manfaatnya. Seseorang yang terbiasa disiplin waktu sejak sekolah cenderung lebih mudah beradaptasi di dunia kerja, lebih dapat diandalkan dalam kerja tim, dan lebih tertib dalam mengelola tanggung jawab sehari-hari. Durkheim benar bahwa sekolah perlu mencetak individu yang fungsional dalam masyarakat, dan bel adalah salah satu alatnya yang paling efisien.

Namun pertanyaannya kemudian adalah: masyarakat seperti apa yang sedang dipersiapkan oleh sekolah itu?

Ketika Waktu Sekolah Bukan Milik Siswa

Di sinilah perspektif Karl Marx dan Pierre Bourdieu menjadi relevan. Marx melihat bahwa institusi-institusi dalam masyarakat kapitalis, termasuk sekolah, cenderung mereproduksi struktur yang menguntungkan kelas yang berkuasa. Struktur waktu sekolah yang ketat bukan kebetulan. Ia mencerminkan kebutuhan sistem industri yang membutuhkan tenaga kerja terlatih, disiplin, dan terbiasa bekerja dalam blok-blok waktu yang terukur (Bowles & Gintis, 1976). Dengan kata lain, bel sekolah secara tidak langsung adalah latihan awal menjadi pekerja yang patuh pada jam kantor.

Bourdieu memperdalam analisis ini melalui konsep habitus, yakni disposisi atau kebiasaan yang terinternalisasi melalui pengalaman berulang hingga terasa alamiah (Bourdieu, 1977). Dua belas tahun mengikuti ritme bel setiap hari membentuk habitus tertentu dalam diri siswa. Tubuh menjadi gelisah jika tidak ada struktur, pikiran terbiasa menunggu izin sebelum bergerak, dan muncul perasaan bersalah ketika tidak produktif sesuai jadwal orang lain. Habitus ini kemudian terbawa ke kehidupan dewasa. Kita sulit menikmati waktu luang tanpa merasa membuang waktu, dan kita terbiasa mengukur nilai diri dari seberapa patuh kita pada jadwal.

Yang lebih penting dicatat adalah bahwa habitus ini tidak dialami secara merata. Siswa dari keluarga dengan modal budaya tinggi, yang di rumah sudah terbiasa berdiskusi dan mempertanyakan aturan, lebih mampu menavigasi sistem ini secara kritis. Sementara itu, siswa dari kelas sosial bawah cenderung menerimanya sebagai satu-satunya kebenaran yang ada (Bourdieu & Passeron, 1990).

Bel Mengajarkan Disiplin atau Ketaatan Buta?

Tidak adil jika kita hanya melihat bel sekolah sebagai instrumen penindasan. Disiplin waktu adalah keterampilan nyata yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masalahnya bukan pada disiplin itu sendiri, melainkan pada absennya ruang refleksi di dalamnya.

Henry Giroux melalui gagasan critical pedagogy-nya menekankan bahwa tugas pendidikan bukan hanya mentransfer nilai dan kebiasaan, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan untuk mempertanyakan nilai-nilai tersebut (Giroux, 1983). Sekolah yang hanya mengajarkan kepatuhan pada bel tanpa pernah mengajak siswa mendiskusikan mengapa jadwal itu ada, siapa yang merancangnya, dan untuk kepentingan siapa, adalah sekolah yang menghasilkan individu patuh, bukan individu yang berpikir.

Saatnya Kita Dengarkan Bel dengan Lebih Kritis

Bel sekolah mengajarkan banyak hal yang berharga: keteraturan, tanggung jawab, dan kemampuan hidup bersama dalam ritme kolektif. Namun ia juga diam-diam menanamkan kebiasaan untuk tidak mempertanyakan siapa yang berkuasa atas waktu kita, dan itulah yang perlu mulai disadari.

Kesadaran ini bukan ajakan untuk melawan sistem atau menolak disiplin. Ia adalah ajakan untuk mendidik generasi yang tidak hanya tahu cara mengikuti jadwal, tetapi juga tahu kapan harus mempertanyakannya. Guru, orang tua, dan pengambil kebijakan pendidikan perlu membuka ruang refleksi di dalam sekolah, bukan hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengajak siswa berpikir tentang mengapa hal itu dilakukan.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan yang menghasilkan siswa paling patuh, melainkan yang menghasilkan manusia paling merdeka dalam cara berpikirnya.