Konten dari Pengguna

Ketika Kurawa Menyaru Menjadi Batara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Oktavianus Ken tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dari ChatGPT - Ketika Kurawa Menyaru Menjadi Batara
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari ChatGPT - Ketika Kurawa Menyaru Menjadi Batara

Dalam pewayangan, Kurawa relatif mudah dikenali. Penonton biasanya sudah tahu siapa yang sedang menyembunyikan kepentingan dan siapa yang memainkan tipu muslihat, bahkan sebelum tokoh-tokoh lain dalam cerita menyadarinya.

Kehidupan nyata jauh lebih rumit. Kepentingan jarang datang dengan wajah seram; ia justru sering mengenakan pakaian yang indah: demi masyarakat, demi generasi muda, demi masa depan profesi, demi persatuan keilmuan, atau demi kebaikan bersama. Lebih rumit lagi, orang yang mengucapkannya belum tentu sedang berpura-pura karena bisa jadi ia sungguh mempercayainya.

Mungkin di situlah penyamaran menjadi sempurna: bukan sekadar saat Kurawa mengenakan jubah Batara, melainkan ketika ia terlalu lama memakainya hingga lupa bahwa jubah itu bukan bagian dari dirinya.

Ketika Bangunan Lama Bertemu Kenyataan Baru

Bayangkan sebuah sistem yang telah berdiri puluhan tahun. Di dalamnya ada institusi, kurikulum, gelar, reputasi, biaya, jaringan kepentingan, dan ribuan orang yang telah tumbuh bersama keyakinan bahwa bangunan itu memang sudah semestinya seperti itu.

Lalu dunia sekitarnya mulai berubah. Aturan baru muncul, batas kewenangan diperjelas, dan sesuatu yang sebelumnya dianggap lumrah ternyata harus dibaca kembali dengan ukuran yang berbeda.

Secara rasional, jawabannya terdengar sederhana: sistem lama sudah selayaknya menyesuaikan diri. Namun, semua menjadi kompleks ketika yang harus disesuaikan bukan sekadar prosedur, melainkan juga identitas, reputasi, dan keyakinan yang telah dipelihara bertahun-tahun.

Penyesuaian ini pada akhirnya memicu disonansi kognitif—sebuah kondisi ketidaknyamanan mental ketika keyakinan manusia berbenturan dengan kenyataan yang tak selaras.

Sebagaimana dirumuskan oleh Leon Festinger (A Theory of Cognitive Dissonance, 1957), makin besar investasi seseorang pada suatu keyakinan, makin sulit baginya untuk menerima bahwa ada bagian dari keyakinan itu yang keliru.

Akibatnya, pertanyaan “apakah sistem ini perlu berubah?” dapat bergeser menjadi sesuatu yang lebih pribadi: “kalau berubah, apakah berarti selama ini kita salah?” Pada titik inilah persoalan yang seharusnya bisa diperiksa secara rasional mulai bersentuhan dengan harga diri.

Ketika Pikiran Membela Keyakinannya Sendiri

Melalui karyanya, The Case for Motivated Reasoning (1990), Ziva Kunda memperlihatkan bagaimana pikiran manusia bekerja pada situasi seperti ini. Kita tidak selalu bergerak dari fakta menuju kesimpulan; kita kadang sudah memiliki kesimpulan yang ingin dipertahankan, lalu berburu alasan yang terasa cukup masuk akal untuk membenarkannya.

Di sinilah kecerdasan mempunyai sisi yang ironis. Orang cerdas tidak otomatis lebih bebas dari bias; ia justru dapat memiliki lebih banyak cara untuk menemukan tafsir, alasan, dan argumentasi yang membuat keyakinan lama tetap terasa benar.

Ketika aturan baru tidak selaras dengan bangunan yang mapan, godaan terbesar bukanlah penolakan terang-terangan. Godaan yang jauh lebih halus adalah ketika kenyataan ditafsirkan sedemikian rupa hingga terasa cocok dengan apa yang sejak awal ingin dipercayai.

Pada saat seperti itulah Kurawa tidak perlu lagi berbicara seperti Kurawa. Ia cukup berbicara seperti Batara: kepentingan institusi dapat disebut kepentingan masyarakat, upaya mempertahankan bangunan lama dapat disampaikan sebagai perjuangan menjaga masa depan generasi, sementara keinginan memperluas kewenangan dibingkai sebagai ikhtiar memperluas pelayanan.

Bahasanya terdengar baik, bahkan mulia. Namun, bahasa yang mulia tetap perlu diuji karena kepentingan tidak otomatis berubah menjadi kebenaran hanya setelah diberi nama yang lebih indah.

Kajian klasik Irving Janis mengenai dinamika kelompok ( Victims of Groupthink, 1972 ) membuka tabir bahaya lain ketika sebuah keyakinan dipelihara dalam kelompok yang sangat kohesif. Keinginan menjaga kesepakatan dan keharmonisan internal dapat membuat kelompok semakin jarang menguji asumsi yang selama ini dianggap benar.

Sebuah gagasan kemudian diulang dari rapat ke rapat, seminar ke seminar, dan generasi ke generasi sampai akhirnya terasa seperti fakta. Bukan karena terus-menerus diuji, melainkan karena sudah terlalu lama tidak dipertanyakan.

Orang yang bertanya pun mudah dianggap menyerang kelompok. Kritik terhadap gagasan berubah menjadi ancaman terhadap identitas, padahal kadang orang hanya sedang bertanya apakah keyakinan lama masih sesuai dengan kenyataan hari ini.

Mahasiswa Bukan Pasukan Kurusetra

Kurawa tidak selalu mempertahankan istananya dengan perang terbuka. Kadang cukup mengenakan jubah Batara dan meyakinkan banyak orang bahwa bangunan lama masih layak dipertahankan, meski dunia di luarnya sudah berubah.

Dalam kehidupan nyata, bangunan lama itu bisa jadi berupa sistem pendidikan yang enggan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar, perubahan regulasi, dan tuntutan kompetensi.

Ketika sistem lama tetap dipertahankan, persoalannya tidak lagi berhenti pada pilihan kelembagaan, sebab ada mahasiswa yang masuk, membayar biaya pendidikan, dan menyusun masa depannya berdasarkan arah yang ditawarkan kepada mereka.

Di sinilah tanggung jawab moral pendidikan diuji. Lembaga pendidikan jangan sampai menjual ilmu sekaligus menjajakan harapan tentang masa depan yang kepastiannya sendiri masih sedang diperdebatkan.

Perguruan tinggi boleh mempunyai ambisi. Organisasi boleh memperjuangkan perubahan, dan kelompok profesi pun sah memiliki gagasan mengenai arah masa depannya, tetapi mahasiswa tidak semestinya diminta menjalani hari ini berdasarkan aturan yang mungkin baru ada esok hari.

Mereka bukan pasukan Kurusetra. Mereka tidak seharusnya dijadikan kekuatan jumlah dalam pertarungan yang tidak pernah mereka pilih, apalagi kemudian diminta menanggung akibat ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang dibangun untuk mereka.

Mungkin pada akhirnya kita memang tidak perlu sibuk menunjuk siapa Kurawa dan siapa Batara. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita masih mampu membedakan kepentingan sendiri dari kepentingan publik, serta apakah kita cukup jujur mengakui batas ketika batas itu ternyata tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Dalam pewayangan, jubah boleh menyamarkan rupa, tetapi tidak selamanya mampu menyembunyikan watak. Dalam kehidupan nyata, persoalannya lebih pelik karena setelah terlalu lama mengenakan jubah Batara, Kurawa mungkin tidak lagi sedang berusaha menipu siapa pun.

Ia hanya sudah tidak mengenali wajahnya sendiri ketika bercermin.