Ketika Modal Sosial Menjadi Kekuatan Pendidikan Indonesia

Dosen Universitas Pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah DPP PUI. Peneliti numerasi, mathematical mindset, productive struggle, dan digital learning.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering kali dipahami sebagai urusan sekolah. Ketika membicarakan pendidikan, perhatian kita segera tertuju pada kurikulum, guru, buku, teknologi, gedung sekolah, dan capaian belajar peserta didik. Cara pandang tersebut tentu tidak keliru. Namun, pendidikan sesungguhnya jauh lebih luas daripada apa yang berlangsung di dalam ruang kelas.
Pendidikan tumbuh dalam kehidupan.
Anak belajar bukan hanya dari guru, tetapi juga dari orang tua, lingkungan, teman sebaya, kebiasaan masyarakat, bahasa yang digunakan sehari-hari, serta nilai-nilai yang hidup di sekitarnya. Sekolah hanyalah salah satu ruang tempat proses pendidikan berlangsung.
Karena itu, ketika kita membicarakan masa depan pendidikan Indonesia, pertanyaan pentingnya bukan semata-mata apa yang harus ditambahkan ke dalam sekolah, tetapi juga kekuatan apa yang sesungguhnya telah dimiliki masyarakat Indonesia untuk menopang pendidikan itu sendiri.
Salah satu kekuatan tersebut adalah modal sosial.
Modal sosial hadir dalam bentuk kepercayaan, hubungan antarmanusia, norma bersama, kepedulian, jaringan sosial, dan kemampuan untuk bekerja sama. Robert D. Putnam mengaitkan modal sosial dengan jaringan, norma resiprositas, dan kepercayaan yang memungkinkan masyarakat membangun kerja sama. James Coleman melihat hubungan sosial sebagai sumber daya yang dapat membantu individu maupun kelompok mencapai tujuan bersama. Pierre Bourdieu menempatkan jaringan hubungan sosial sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh seseorang atau kelompok.
Dalam konteks Indonesia, gagasan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing.
Kita telah lama mengenal gotong royong, musyawarah, kebersamaan, kepedulian terhadap tetangga, dan berbagai praktik sosial yang menempatkan kehidupan bersama sebagai sesuatu yang penting.
Persoalannya adalah bagaimana kekuatan sosial tersebut dapat diolah menjadi energi pendidikan.
Pendidikan Tidak Pernah Terpisah dari Kebudayaan
Pendidikan selalu berada dalam kebudayaan.
Seorang anak datang ke sekolah dengan membawa kebudayaan yang telah lebih dahulu dikenalnya. Ia membawa bahasa rumah, kebiasaan keluarga, nilai yang dipelajari, cara berinteraksi, pengalaman bermain, dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan.
Oleh sebab itu, anak tidak semestinya dipandang sebagai individu yang terputus dari lingkungan sosialnya.
Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna apabila sekolah mampu memahami kehidupan peserta didik dan menghubungkannya dengan pengalaman belajar.
Pendidikan yang demikian tidak menjadikan kebudayaan sebagai hiasan tambahan dalam pembelajaran. Kebudayaan justru menjadi salah satu sumber pengetahuan.
Pada titik inilah pendidikan memiliki dimensi yang lebih dalam. Pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia agar mampu memahami dirinya, lingkungannya, dan masyarakat tempat ia hidup.
Bagi pendidikan dasar, hal tersebut menjadi sangat penting. Anak-anak sedang berada dalam tahap ketika pengalaman konkret memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan cara berpikir dan cara mereka memahami dunia.
Apa yang dekat dengan kehidupan mereka dapat menjadi pintu masuk menuju pengetahuan yang lebih luas.
Anak Belajar dari Kehidupan
Ketika seorang anak melihat orang tua membantu tetangga, ia sedang belajar tentang kepedulian.
Ketika ia bermain bersama teman dan belajar berbagi peran, ia sedang belajar tentang kerja sama.
Ketika ia melihat masyarakat menyelesaikan persoalan bersama, ia sedang belajar tentang tanggung jawab sosial.
Pembelajaran semacam itu tidak selalu tertulis dalam buku pelajaran, tetapi memiliki makna yang sangat besar dalam pembentukan manusia.
Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya bertanya tentang apa yang diketahui anak. Pendidikan juga perlu bertanya tentang bagaimana anak hidup bersama orang lain.
Pengetahuan yang tinggi tanpa kemampuan hidup bersama akan menghasilkan manusia yang mungkin cerdas secara akademik, tetapi belum tentu mampu membangun kehidupan sosial yang baik.
Pendidikan karena itu memiliki tugas kebudayaan: membantu peserta didik mengenal dunia, sekaligus menempatkan dirinya sebagai bagian dari dunia tersebut.
Gotong Royong sebagai Modal Pendidikan
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, gotong royong merupakan salah satu bentuk modal sosial yang sangat kuat.
Gotong royong mengandung kesediaan untuk berbagi, membantu, dan bekerja bersama. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan secara individual.
Nilai tersebut memiliki relevansi yang sangat besar bagi pendidikan.
Sekolah dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong melalui pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik bekerja bersama, bertukar gagasan, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab terhadap tugas bersama.
Yang lebih penting, gotong royong tidak berhenti sebagai materi pelajaran.
Ia harus menjadi pengalaman.
Anak belajar bekerja sama karena ia benar-benar bekerja bersama. Anak belajar bertanggung jawab karena ia memperoleh tanggung jawab. Anak belajar menghargai orang lain karena ia hidup dalam lingkungan yang menghargai sesama.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak menjadi sekadar hafalan mengenai nilai-nilai baik. Nilai tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah salah satu kekuatan pendidikan yang berakar pada masyarakat.
Sekolah Bukan Pulau
Sekolah tidak semestinya menjadi pulau yang berdiri sendiri di tengah masyarakat.
Sekolah merupakan bagian dari kehidupan sosial.
Apa yang terjadi di rumah akan memengaruhi anak ketika berada di sekolah. Apa yang dialami anak di sekolah akan dibawanya kembali ke rumah dan masyarakat. Karena itu, batas antara sekolah dan masyarakat sesungguhnya tidak pernah benar-benar tegas.
Hubungan tersebut perlu dibangun dalam semangat kemitraan.
Orang tua bukan sekadar penerima laporan perkembangan anak, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan. Masyarakat bukan hanya lingkungan di luar sekolah, melainkan sumber pengalaman yang dapat memperkaya pembelajaran.
Ketika hubungan tersebut dibangun berdasarkan kepercayaan, maka sekolah memiliki energi sosial yang lebih besar.
Sekolah memperoleh dukungan.
Guru memperoleh ruang untuk berkembang.
Orang tua merasa memiliki.
Anak memperoleh lingkungan yang lebih utuh untuk belajar.
Di sinilah modal sosial mulai bekerja sebagai kekuatan pendidikan.
Kearifan Lokal dan Pengetahuan yang Hidup
Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa.
Di setiap daerah terdapat pengetahuan yang lahir dari pengalaman masyarakat: bagaimana masyarakat mengelola lingkungan, membangun rumah, membuat kerajinan, mengolah makanan, menggunakan bahasa, menjaga hubungan sosial, atau mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.
Semua itu adalah pengetahuan.
Namun, pendidikan sering kali lebih sibuk mencari sumber belajar yang jauh daripada memperhatikan apa yang sebenarnya tersedia di sekitar peserta didik.
Padahal, lingkungan dapat menjadi laboratorium pendidikan.
Matematika dapat ditemukan dalam pola kerajinan.
Sains dapat ditemukan dalam kehidupan alam sekitar.
Bahasa dan literasi dapat dikembangkan melalui cerita masyarakat.
Pendidikan karakter dapat dihidupkan melalui tradisi sosial.
Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing bagi anak.
Ia menjadi bagian dari kehidupan.
Anak belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang hanya berada di buku, tetapi juga dapat ditemukan dalam lingkungan dan kebudayaan yang mereka kenal.
Pendekatan etnomatematika dan etnosains berkembang dari kesadaran semacam ini: bahwa pengalaman budaya masyarakat dapat menjadi jembatan menuju pemahaman ilmiah.
Guru sebagai Pendidik dan Penghubung Kebudayaan
Dalam proses tersebut, guru memiliki kedudukan yang sangat penting.
Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum. Guru adalah pendidik yang bekerja dengan manusia.
Karena itu, guru perlu memahami peserta didik bukan hanya dari hasil tugas dan nilai ujian, tetapi juga dari lingkungan tempat mereka tumbuh.
Guru yang mengenal konteks kehidupan peserta didiknya memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Lingkungan sekitar dapat dijadikan sumber pertanyaan.
Pengalaman keluarga dapat menjadi bahan refleksi.
Budaya lokal dapat menjadi konteks pembelajaran.
Permasalahan sehari-hari dapat menjadi bahan untuk melatih kemampuan berpikir.
Dengan cara seperti itu, guru menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.
Peran tersebut semakin penting di jenjang pendidikan dasar, ketika anak masih membutuhkan pengalaman konkret dan hubungan yang dekat antara apa yang dipelajari dengan apa yang mereka lihat dan rasakan.
Teknologi Harus Tetap Berpihak kepada Manusia
Kita sedang berada dalam perubahan besar.
Teknologi digital telah membuka ruang belajar yang semakin luas. Informasi dapat diperoleh dengan cepat. Sumber belajar semakin beragam. Komunikasi antara sekolah dan keluarga dapat berlangsung lebih mudah.
Namun, pendidikan tidak boleh kehilangan manusia di tengah kemajuan teknologi.
Anak tetap membutuhkan guru.
Anak tetap membutuhkan keluarga.
Anak tetap membutuhkan teman.
Anak tetap membutuhkan masyarakat.
Sebab pendidikan bukan hanya persoalan memperoleh informasi. Pendidikan adalah proses memahami, menghayati, mengembangkan nilai, dan belajar hidup bersama.
Teknologi dapat memperluas ruang pengetahuan, tetapi hubungan sosial memberikan arah dan makna.
Karena itu, modernisasi pendidikan tidak seharusnya berarti meninggalkan kebudayaan.
Justru teknologi perlu dipergunakan untuk memperkuat kemampuan manusia dalam belajar, bekerja sama, dan memahami lingkungannya.
Jangan Sampai Pendidikan Kehilangan Akarnya
Ada kecenderungan untuk melihat kemajuan pendidikan dari seberapa jauh kita mampu mengikuti perubahan global.
Kita berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, keterampilan abad ke-21, dan berbagai kompetensi baru.
Semua itu penting.
Tetapi pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: dari mana pendidikan Indonesia berangkat?
Pendidikan yang kehilangan akar akan mudah kehilangan arah.
Karena itu, pendidikan Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk membuka diri terhadap dunia tanpa kehilangan identitas kebudayaannya.
Kearifan lokal bukan penghambat kemajuan.
Budaya bukan lawan dari modernitas.
Gotong royong bukan nilai masa lalu.
Justru berbagai kekuatan tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun pendidikan yang memiliki karakter Indonesia dan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan dunia.
Di sinilah modal sosial menemukan relevansinya.
Modal sosial memberikan akar.
Pengetahuan memberikan kemampuan untuk tumbuh.
Teknologi memberikan ruang untuk berkembang.
Ketiganya dapat dipertemukan dalam sebuah pendidikan yang memandang manusia sebagai pusat.
Membangun Pendidikan sebagai Gerakan Sosial
Pendidikan yang kuat tidak mungkin dibangun hanya melalui kebijakan dari atas.
Kebijakan memang diperlukan. Negara memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan.
Namun, pendidikan juga membutuhkan partisipasi sosial.
Orang tua perlu memiliki rasa memiliki terhadap pendidikan anak.
Guru perlu didukung untuk terus berkembang.
Masyarakat perlu diberi ruang untuk berkontribusi.
Perguruan tinggi perlu terus hadir melalui pengetahuan dan inovasi.
Sekolah perlu membuka diri terhadap lingkungannya.
Dengan demikian, pendidikan bergerak dari sekadar sistem administratif menjadi gerakan sosial.
Gerakan sosial yang dibangun bukan melalui instruksi semata, tetapi melalui kepercayaan.
Ketika masyarakat percaya bahwa pendidikan adalah urusan bersama, maka keterlibatan akan tumbuh.
Ketika sekolah dipercaya oleh masyarakat, kolaborasi menjadi mungkin.
Ketika anak merasa dihargai, proses belajar memperoleh ruang untuk berkembang.
Itulah kekuatan modal sosial.
Indonesia Memiliki Modal yang Besar
Kita sering melihat pendidikan dari sisi kekurangan.
Kita menghitung gedung yang belum tersedia, fasilitas yang belum merata, atau berbagai persoalan yang masih harus diselesaikan.
Semua itu penting sebagai dasar perbaikan.
Namun, pembangunan pendidikan juga harus dimulai dari kekuatan yang telah kita miliki.
Indonesia memiliki modal sosial yang besar.
Kita memiliki keluarga.
Kita memiliki komunitas.
Kita memiliki budaya gotong royong.
Kita memiliki keragaman kebudayaan.
Kita memiliki pengetahuan lokal yang hidup.
Kita memiliki guru yang berada di tengah masyarakat dan setiap hari berhadapan dengan generasi yang sedang tumbuh.
Modal tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Ia merupakan kekuatan strategis.
Tugas kita adalah menghubungkan berbagai kekuatan tersebut agar menjadi energi pendidikan.
Pendidikan untuk Kehidupan
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar menyiapkan anak agar mampu menjawab soal.
Pendidikan harus menyiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan.
Ia harus mampu berpikir, tetapi juga mampu bekerja sama.
Ia harus memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab.
Ia harus terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak tercerabut dari kebudayaannya.
Ia harus mampu hidup dalam dunia global, tetapi tetap memahami masyarakat dan lingkungannya sendiri.
Karena itu, pembangunan pendidikan Indonesia tidak cukup hanya dengan memperkuat sekolah.
Kita juga perlu memperkuat masyarakat yang menghidupkan pendidikan.
Keluarga harus menjadi ruang pendidikan.
Sekolah harus menjadi ruang kebudayaan.
Masyarakat harus menjadi ruang belajar.
Dan ketiganya perlu dipertemukan oleh kepercayaan serta semangat bekerja bersama.
Di situlah modal sosial menjadi penting.
Ia bukan sekadar konsep dalam ilmu sosial.
Ia adalah kekuatan yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Ketika kekuatan tersebut mampu diolah dan diarahkan untuk pendidikan, Indonesia sesungguhnya memiliki fondasi yang sangat besar untuk membangun generasi masa depan.
Sebab pendidikan yang kuat bukan hanya pendidikan yang menghasilkan anak yang pintar.
Pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang menumbuhkan manusia yang berakar pada kebudayaan, mampu hidup bersama, dan sanggup menghadapi perubahan zaman.
Dan mungkin, di tengah derasnya perubahan dunia pendidikan hari ini, salah satu jawaban paling penting justru berada di sekitar kita: pada keluarga, pada masyarakat, pada kebudayaan, dan pada semangat gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Indonesia.
Itulah modal sosial yang perlu kita hidupkan kembali sebagai kekuatan pendidikan Indonesia.
