Ketika Politik yang Jauh Terasa Lebih Dekat

Lulusan Baru Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yohanes William Ivakdalam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar tentang kemenangan partai sayap kanan di salah satu negara bagian Jerman, yaitu Sachsen-Anhalt. Partai tersebut ialah Alternative für Deutschland (AfD).
Dilansir dari ZDFheute, Alternative für Deutschland (AfD) merupakan partai politik Jerman yang didirikan pada 2013 dan kini menjadi fraksi terbesar kedua di Bundestag. Partai ini dipimpin oleh Alice Weidel dan Tino Chrupalla. Dalam Pemilu Bundestag 2025, perolehan suara AfD meningkat hampir dua kali lipat, dengan Alice Weidel sebagai calon kanselir.
Meski semakin kuat secara politik, AfD juga menuai kontroversi karena sejumlah cabangnya di tingkat negara bagian telah dikategorikan sebagai kelompok ekstremis kanan. Pada Mei 2025, Badan Perlindungan Konstitusi Federal bahkan menetapkan AfD secara keseluruhan sebagai kelompok ekstremis kanan.
Tentu saja saya bukan orang Jerman dan tidak ikut memilih dalam pemilu Jerman. Ketika pertama kali mendengar kabar kemenangan AfD, awalnya saya hanya melihatnya sebagai dinamika umum sebuah pemilu yang terjadi di Jerman. Namun, ternyata dinamika tersebut lebih besar dari yang saya bayangkan.
Ketika AfD Berhasil Mencetak Sejarah
Melansir dari Deutsche Welle (DW), Partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) memperoleh 43,8% suara dalam pemilihan negara bagian Sachsen-Anhalt di Jerman. Tingkat partisipasi pemilih bahkan hampir mencapai 78%, menunjukkan angka tertinggi di Sachsen-Anhalt sejak Jerman bersatu pada 1990.
"Kami telah membuat sejarah, ini harus dikatakan dengan tegas,"
kata Ulrich Siegmund, Ketua AfD di Sachsen-Anhalt, kepada stasiun penyiaran publik ARD. Ia juga menyatakan bahwa kemenangan ini merupakan "sinyal" bagi pemerintah federal Jerman yang dipimpin politisi CDU, Friedrich Merz.
Kemenangan AfD juga mendapat respons dari sejumlah pihak. Mantan Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengaku merasa sedih dan mengatakan bahwa kemenangan AfD merupakan sebuah titik perubahan dalam sejarah Republik Federal Jerman.
Tidak kalah juga dengan Friedrich Merz yang terguncang dengan kemenangan AfD. Ia seakan tidak percaya dengan peristiwa yang terjadi. Ia mengatakan bahwa kemenangan AfD tidak hanya membawa perubahan bagi Sachsen-Anhalt, tetapi juga bagi seluruh Jerman.
AfD dan Dinamika dengan Migran
Berkaitan dengan remigrasi—melalui tulisan yang berjudul “Wie die AfD den Begriff „Remigration“ definiert” (“Bagaimana AfD mendefinisikan istilah ‘remigrasi’”)—situs resmi AfD membahas pandangannya melalui tujuh poin.
Pada poin ke-2, AfD menyatakan,
“Ein humanitärer Aufenthalt nur so lange gewährt wird, wie tatsächlich ein Fluchtgrund besteht.”
(Izin tinggal atas dasar kemanusiaan hanya diberikan selama alasan untuk mengungsi tersebut benar-benar masih ada.)
Lalu pada poin ke-3, mereka menyatakan,
“In diesem Sinne wollen wir die seit 2015 …. erfolgte Massenzuwanderung umkehren.”
(Dalam hal ini, kami ingin membalikkan arus imigrasi massal yang telah terjadi sejak tahun 2015.)
Meskipun kedua poin tersebut merupakan pandangan AfD secara umum, kemenangan mereka di tingkat negara bagian membuat isu tersebut semakin relevan untuk diperhatikan.
Melalui kedua poin tersebut, kita dapat melihat bahwa AfD ingin menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih ketat, khususnya mengenai perlindungan pengungsi dan arus imigrasi. Tentunya kebijakan ini dapat menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian migran, karena status perlindungan mereka kemungkinan dapat ditinjau kembali, sedangkan tidak semua migran berada dalam kondisi hidup yang sama—sebagian migran masih menghadapi persoalan kerja, birokrasi, maupun kepastian izin tinggal.
Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan: Siapa yang menentukan bahwa alasan seseorang untuk mencari perlindungan sudah tidak ada? Bagaimana jika negara asal seseorang dianggap aman, tetapi orang tersebut sudah membangun kehidupannya di Jerman? Lalu bagaimana nasib para migran yang masih menghadapi masalah kerja, birokrasi, dan izin tinggal?
Suara dari WNI
Kemenangan AfD di Sachsen-Anhalt juga mendapat perhatian dari Joshua Djami, seorang Warga Negara Indonesia yang sedang menempuh studi Magister di bidang Peace and Conflict, University of Magdeburg.
Joshua sudah mengenal AfD sejak lama—karena sebelumnya dia pernah tinggal selama dua tahun di Magdeburg, ibu kota Sachsen-Anhalt, sebelum akhirnya pindah ke Berlin—termasuk isu remigrasi mereka. Ia mengaku khawatir terhadap meningkatnya pengaruh AfD, terutama bagi para migran yang masih menghadapi persoalan birokrasi, status legal, dan pekerjaan.
Ia juga mempertanyakan siapa yang menentukan bahwa seseorang dianggap “tidak terintegrasi” dengan masyarakat Jerman dan bagaimana penilaian tersebut dibuktikan.
“Sentimen AfD terhadap imigran ini bisa berisiko bagi mereka yang sedang menunggu proses birokrasi, yang masih menunggu status legal karena konflik, dan untuk WNI yang beraspirasi ke sini untuk menawarkan keahlian atau tenaga kerja bisa mengalami kesulitan. Kondisinya memprihatinkan, cuma banyak penduduk di Jerman, termasuk gue, berusaha positif bahwa perangkat demokrasi di Jerman mampu menyeimbangkan kebijakan ekstrem yang mungkin berdampak negatif ke pekerja imigran,” tutup Joshua dalam wawancara melalui pesan daring.
Perjumpaan dengan Jerman di Masa Depan
Kemenangan partai sayap kanan ini bukan hanya menjadi sebuah berita politik dari Jerman. Beberapa tahun ke depan, saya berencana untuk pergi ke Jerman untuk tinggal dan meniti karier sebagai orang asing yang tentunya perlu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Saya juga belum tahu dan tidak dapat memastikan bagaimana keadaan Jerman ketika saya tiba nanti. Namun, berkaca dari cerita seorang rekan, saya belajar bahwa politik tidak hanya berkaitan dengan partai apa yang menang dalam pemilu, tetapi juga dengan bentuk penerimaan dan rasa aman dari orang-orang yang tinggal dan bernaung di dalamnya.
Melalui tulisan ini, saya berharap, perubahan politik di Jerman tetap dapat berjalan bersama dengan nilai demokrasi dan kemanusiaan, yang mana semua orang, baik warga negara asli Jerman maupun para migran yang tinggal di Jerman, didengarkan suaranya dan dihargai hak atas hidupnya, tanpa adanya kotak-kotak tertentu.
Sumber:
https://www.dw.com/id/afd-menang-di-sachsen-anhalt-sayap-kanan-cetak-sejarah/a-79119523
https://www.zdfheute.de/thema/afd-224.html
https://www.dw.com/id/merz-hasil-pemilu-afd-mengubah-seluruh-jerman/a-79153561
https://www.dw.com/id/kekecewaan-angela-merkel-dalam-kemenangan-afd/video-79196843
