Kisah Kuswantoro, Mapres Tunanetra UNY Bertekad Jadi Guru bagi Disabilitas

Menjadi disabilitas tunanetra tak menyurutkan tekad Kuswantoro (27) meraih pendidikan setinggi mungkin. Pria asal Pedagung, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, ini membuktikan tekad yang kuat dapat menembus keterbatasan, termasuk di bidang pendidikan.
Kuswantoro lahir dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Kondisi ini membuat orang tuanya belum mampu membiayai Kuswantoro ke jenjang perguruan tinggi.
"Orang tua memang mengatakan belum sanggup membiayai kuliah saya, tetapi mereka selalu mendoakan dan memotivasi agar saya tetap melanjutkan pendidikan," kata Kuswantoro dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Selasa (30/6).
"Harapan mereka (orang tua), paling tidak ada satu anak yang bisa kuliah dan menjadi guru," ceritanya.
Sejak dahulu, Kuswantoro bercita-cita menjadi guru pendidikan luar biasa. Ia ingin mengajar bagi siswa disabilitas.
Gayung bersambut, keinginannya berkuliah makin tumbuh ketika bertemu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sedang bertugas di sekolahnya, SLB Yaketunis Yogyakarta.
Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNY sudah bulat menjadi pilihannya.
Hingga akhirnya kesempatan berkuliah itu tiba ketika dirinya lolos Jalur Mandiri Prestasi Unggul dan memperoleh Beasiswa ADik (Afirmasi Pendidikan Tinggi) Disabilitas.
Beasiswa tersebut membebaskan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Tak hanya itu, Kuswantoro juga diberikan bantuan biaya hidup. Dengan begitu, diharapkan ia fokus mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik.
"Arti beasiswa ini sangat besar bagi saya. Uang hasil olahraga yang sebelumnya saya gunakan untuk biaya kuliah sekarang bisa saya gunakan untuk membantu keluarga dan menabung untuk masa depan," kata anak bungsu pasangan Tamsir dan (alm) Warni tersebut.
Mahasiswa Berprestasi di Bidang Olahraga dan Akademik
Tentang olahraga, Kuswantoro yang kini semester 8 aktif menggeluti cabang olahraga atletik dan goalball. Bermacam prestasi diraih mulai dari tingkat provinsi hingga nasional.
Prestasi itu menjadi modal untuk melanjutkan pendidikan dan mengantarkannya ke UNY melalui jalur prestasi.
Kegiatan olahraga ini juga tak surut meski kini Kuswantoro telah berkuliah. Dia disiplin membagi waktu antara perkuliahan dan olahraga. IPK-nya pun tembus 3,58.
Kuswantoro juga mendapat penghargaan Mahasiswa Berprestasi (Mapres) UNY Kategori Disabilitas yang makin memotivasinya untuk terus meningkatkan prestasi, baik akademik maupun nonakademik.
Tantangan Saat Berkuliah
Bagi Kuswantoro, tantangan terbesarnya saat berkuliah bukan keterbatasan penglihatan. Namun, adaptasi di lingkungan perguruan tinggi. Adaptasi ini dapat berlangsung cepat karena suasana belajar inklusif di kampusnya.
"Pengalaman yang paling berharga adalah ketika saya mengalami kesulitan, dosen dan teman-teman selalu memberikan solusi. Mereka membantu saya memahami materi sehingga saya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik," kisahnya.
Ia bercerita, dosen juga mau mengubah materi dari gambar ke teks deskripsi supaya bisa diakses menggunakan pembaca layar.
Teman-teman kuliahnya juga sukarela membacakan maupun mendeskripsikan materi yang bersifat visual.
Ingin Lanjut Studi
Setelah S1 rampung, Kuswantoro ingin melanjutkan ke Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau jenjang Magister Pendidikan Luar Biasa.
Alumni MAN 2 Sleman ini ingin berkontribusi bagi pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia.
"Jangan malu dengan kondisi yang dimiliki. Hambatan pasti ada, tetapi semuanya memiliki solusi. Terus semangat belajar, manfaatkan kesempatan beasiswa yang tersedia, dan yakinlah bahwa setiap orang memiliki peluang untuk sukses," kata Kuswantoro.
