KNKT Soroti Perekrutan-Edukasi Sopir Taksi yang Tertabrak KRL di Bekasi
·waktu baca 2 menit

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyoroti pola perekrutan serta minimnya edukasi teknis kendaraan yang diberikan kepada sopir oleh perusahaan taksi Green SM. Sorotan itu usai adanya taksi Green SM yang terlibat kecelakaan dengan KRL di perlintasan sebidang di kawasan Bekasi Timur.
Soerjanto mengungkapkan, proses rekrutmen pengemudi taksi tersebut hanya dilakukan dalam beberapa hari kerja.
“Jalur rekrutmen pengemudi secara normal antara 3 sampai 5 hari kerja,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (21/5).
Menurut Soerjanto, proses pengenalan kendaraan kepada pengemudi dilakukan hanya melalui kelas teori secara singkat. Materi pelatihan yang diberikan juga dinilai masih terbatas pada pengoperasian dasar kendaraan.
“Proses pengenalan kendaraan melalui kelas teori secara singkat. Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knob transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman, tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadinya error,” katanya.
Soerjanto juga menyoroti desain indikator transmisi kendaraan yang dinilai kurang mudah terlihat saat kondisi siang hari. Hal itu disebut menjadi salah satu temuan dalam investigasi awal.
“Knob lampu indikator pada saat siang hari susah dilihat,” ujar Soerjanto.
Selain itu, ia menyebut pengemudi taksi yang terlibat dalam kecelakaan tersebut merupakan sopir baru yang belum lama bekerja.
“Pengemudi yang terlibat laka baru diterima melalui Job Fair dan baru bekerja 3 hari,” katanya.
Berdasarkan data per 2024, Green SM memiliki 9.995 unit armada.
“Dari data perusahaan, kami melihat bahwa izin penyelenggaraan angkutan taksi reguler di Jabodetabek pada tahun 2024 kalau tidak salah itu adalah 9.995 unit. Izin reguler bandara 200 unit. Rasio kendaraan dan pengemudi 1 banding 1,5,” papar Soerjanto.
Tertabraknya taksi Green SM ini berujung pada kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Insiden itu menewaskan 16 orang.
