Konten dari Pengguna

Kolonisasi di Kampus Sendiri: Epistemisida

Arinafril

Arinafril

Pemerhati Lingkungan, Pendidikan, Literasi dan Lintas Agama. Doktor Biogeografi dari Universitaet des Saarlandes, Saarbruecken, Jerman. Dosen Proteksi Tanaman, Universitas Sriwijaya. Dosen Tamu Truong Dai hoc Nong Lam, Thai Nguyen, Vietnam

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arinafril tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik permasalahan pendidikan tinggi Indonesia saat ini, masih ada sisa utopia besar dan ketidakadilan yang selalu muncul di menara gading pendidikan tinggi kita.

Ilustrasi anak desa dengan akses terbatas, dan suatu gejala deskilling. (Sumber: Grok)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak desa dengan akses terbatas, dan suatu gejala deskilling. (Sumber: Grok)

Ketidakadilan substantif ini bermula dari fakta struktural yang tidak bisa dibantah: akses terhadap pendidikan tinggi kita memang masih teramat sempit. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia selama bertahun-tahun seolah membatu, mandek di kisaran 31% hingga 39% (Kemendikbudristek, 2024).

Artinya, dari seluruh populasi usia kuliah di republik ini, terdapat lebih dari 60% anak bangsa yang hak-hak akademiknya terpasung di luar pagar kampus, dan mayoritas dari mereka berasal dari kelas pekerja dan komunitas pedesaan marjinal.

Eksklusivitas ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi kita belum sepenuhnya berfungsi sebagai eskalator sosial, melainkan masih menjadi hak istimewa yang melanggengkan ketimpangan kelas.

Vietnam: Membongkar Fungsi Kampus

Stagnasi ini menjadi tamparan keras ketika kita menyandingkannya dengan dinamika sesama negara Asia Tenggara, khususnya Vietnam. Negara yang sempat luluh lantak oleh perang itu kini melesat melampaui Indonesia dengan APK yang menembus angka di atas 50% (World Bank, 2024).

Vietnam berhasil mendobrak kebuntuan tersebut bukan semata karena mereka memperbanyak kuota kursi, melainkan karena mereka merekonstruksi relevansi perguruan tinggi agar selaras dengan realitas kebutuhan masyarakat lokal.

Artinya ada yang salah fatal dalam cara kita membaca kemajuan. Vietnam tidak menang karena sekadar membuka fakultas baru atau menambah daya tampung. Strategi mereka lebih mendasar: membongkar total fungsi kampus.

Perguruan tinggi di Vietnam tidak lagi jadi menara gading pencetak sarjana yang tercerabut dari tanahnya. Mereka sengaja diikat ke dua realitas: Ekologis dan industrial lokal. Kampus di selatan fokus riset perikanan dan ketahanan pangan, kampus di kawasan industri utara langsung bermitra dengan pabrik Samsung dan Foxconn.

Pertumbuhan APK Vietnam bukan statistik kosong. Itu angka partisipasi yang dibayar lunas dengan jaminan relevansi. Mahasiswa masuk karena tahu ilmunya laku di kampung halamannya sendiri.

Kita? Masih sibuk mengurus dokumen akreditasi dan peringkat di saat banyak negara maju sudah meninggalkannya, menambah jumlah guru besar yang tidak memiliki laboratorium sendiri, dan bahkan menambah Program Studi yang lulusannya bingung mau kerja di mana.

Melalui integrasi program pendidikan yang adaptif terhadap kebutuhan kawasan sub-nasional, universitas-universitas di Vietnam bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi sirkular dan ketahanan pangan secara inklusif.

Kolonisasi Dan Epistemisida

Tragedi kolonisasi berupa ketidakadilan yang sesungguhnya justru mengintai segelintir anak pedesaan marjinal yang berhasil menembus barikade akses tersebut. Di dalam ruang-ruang kelas, mereka kerap menjadi korban epistemisida, yaitu melemahkan atau mengerdilkan sistem pengetahuan lokal akibat kolonisasi kurikulum yang mekanistik, elitis, dan bias urban-sentris.

Ketika Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan bahan ajar melulu mengimpor referensi luar atau realitas korporasi metropolitan tanpa proses penerjemahan kontekstual, pengalaman empiris mahasiswa tentang resiliensi agraria atau tata kelola komunal dianggap tidak sah secara ilmiah.

Kita menuntut mereka berpikir kritis tetapi merampas kacamata dan bahasa asli yang mereka miliki, memaksa mereka diam di barisan belakang akibat attention debt (hutang perhatian pedagogis) dosen yang tidak sengaja memprioritaskan mahasiswa dengan modal budaya urban tinggi.

Deskilling dan Alienasi Mahasiswa

Pembiaran atas bias kurikulum ini berdampak fatal pada fenomena tragis deskilling, yaitu sebuah proses penyeragaman kognitif yang mencabut akar budaya mahasiswa marjinal.

Alih-alih mencetak inovator yang memerdekakan daerahnya, pendidikan tinggi kita justru memproduksi manusia transisional yang mengalami keterasingan ganda: Inferior di belantara kota besar, namun gagap dan kehilangan keahlian alaminya untuk mengelola ruang hidup di desanya sendiri saat pulang kampung.

Membenahi interaksi di dalam kelas tanpa membongkar kurikulum yang bias di tingkat regulasi makro hanyalah tindakan kosmetik yang mengobati gejala permukaan. Perguruan tinggi tidak boleh terus-menerus bertindak sebagai agen homogenisasi yang tercerabut dari bumi Nusantara, melainkan harus kembali pada khitahnya sebagai jangkar keadilan sosial.

Ilustrasi epistemisida. (Sumber: Gemini)

Untuk mengatasi alienasi akademik dan ketertinggalan akses ini, tata kelola pendidikan harus digeser secara radikal melalui model kemitraan yang dinamis dan inklusif.

Konsep Penta Helix, yang mensinergikan akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media, harus direaktualisasi bukan sekadar sebagai pemanis dokumen kerja sama, melainkan sebagai mesin penggerak ekosistem inovasi daerah (Carayannis & Campbell, 2010; Etzkowitz & Leydesdorff, 2000).

Transformasi ini menuntut universitas untuk mendefinisikan ulang perannya: dari lembaga menara gading yang eksklusif menjadi inkubator kompetensi yang secara organik memetakan tantangan lokal, menguji solusi teknologi tepat guna, dan membangun kepercayaan digital berbasis kolaborasi multipihak.

Hanya dengan fondasi kurikulum yang kontekstual dan emansipatif, kita dapat melahirkan lulusan yang tangguh, adaptif, serta memiliki keberpihakan moral yang jelas untuk menggerakkan roda ekonomi sirkular yang berkeadilan di tanah air

Membayar Utang Keadilan

Kendati tantangan ini mengakar kuat, optimisme harus tetap menyala di sanubari para pendidik bangsa karena ruang kelas selalu menyimpan benih perubahan. Titik balik keadilan sosial akan terwujud ketika kita berani meredefinisi mutu, meruntuhkan dogma penyeragaman kaku, dan mentransformasikan kampus dari sekadar inkubator industri urban menjadi inkubator kompetensi lokal yang berakar.

Melalui kurikulum yang kontekstual dan emansipatif inilah, perguruan tinggi Indonesia akan melahirkan generasi emas yang tidak hanya fasih menatap dunia, tetapi juga teguh dan berdaya membangun tanah airnya sendiri.

Dengan mengintegrasikan realitas agro-ekologis dan kearifan lokal sebagai epistemologi inti, kita tidak hanya membayar utang keadilan, tetapi juga mengembalikan martabat kemanusiaan serta hak intelektual setiap anak bangsa untuk berdaulat di atas pengetahuannya sendiri.

Kendati tantangan struktur ini mengakar kuat, optimisme harus tetap menyala karena setiap ruang kelas selalu menyimpan benih perubahan yang emansipatif.

Melalui kurikulum yang kontekstual dan berpihak pada keberagaman latar belakang, perguruan tinggi Indonesia akan mampu melahirkan generasi emas yang tidak hanya fasih menatap dinamika dunia, tetapi juga teguh dan berdaya membangun tanah airnya sendiri.

Inilah manifestasi nyata pendidikan Indonesia di masa depan: Sebuah sistem pendidikan yang memerdekakan pikiran, merangkul identitas, dan memastikan bahwa tidak ada lagi anak bangsa yang merasa menjadi penonton asing di rumah mereka sendiri.