Kursus Bahasa Inggris di Jogja Kombinasikan Kurikulum Cambridge dan Budaya Lokal
ยทwaktu baca 3 menit

Kemampuan berbahasa Inggris kini menjadi kebutuhan penting untuk pendidikan dan karier. Menjawab kebutuhan tersebut, Jogja English Training Centre (JETCentre) menghadirkan Cambridge Learning Pathway, sistem pembelajaran berstandar internasional yang dikembangkan Universitas Cambridge dan diakui di berbagai negara.
Didirikan pada 2016, JET Centre menjadi satu-satunya lembaga pelatihan bahasa Inggris di Yogyakarta yang menerapkan sistem ini secara terstruktur. Cambridge Learning Pathway membagi kemampuan bahasa Inggris ke dalam enam level, dari A1 hingga C2, sehingga perkembangan peserta dapat diukur secara jelas.
Peserta yang menyelesaikan program dapat memperoleh sertifikat Cambridge English Qualifications yang diakui oleh universitas, perusahaan multinasional, dan institusi pemerintah di berbagai negara serta berlaku seumur hidup.
Sejak berdiri, lebih dari 200 peserta telah menyelesaikan program di JETCentre, sementara lebih dari 100 siswa saat ini tengah menempuh Cambridge English Qualifications.
Meski mengusung kurikulum global, JETCentre tetap mengintegrasikan budaya Yogyakarta dalam proses pembelajaran.
Tutor JET Centre, Nia Alviani, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan lembaga pelatihan bahasa Inggris lainnya.
"JETCentre namanya saja sudah Jogja English Training Centre. Fokusnya itu kita selain mengajarkan bahasa Inggris, kita juga selalu mengaitkan budaya Jogja dan kita sering bekerja sama dengan instansi-instansi lain seperti Teras Malioboro dan juga yang berkaitan dengan Jogja," ujar Nia Alviani.
Integrasi budaya lokal tidak hanya hadir dalam materi yang dipelajari peserta, tetapi juga tercermin dalam pendekatan pengajaran sehari-hari. Di tengah metode belajar yang interaktif dan komunikatif, nilai-nilai unggah-ungguh tetap menjadi bagian yang dijaga dalam setiap proses pembelajaran.
"Meskipun kita mengajarkan bahasa Inggris dengan gaya yang bebas seperti itu, kita juga tetap sebagai orang Jawa memiliki unggah-ungguh ketika mengajar," tambah Nia Alviani.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui berbagai aktivitas di luar ruang kelas. Pada setiap akhir periode pembelajaran, peserta diajak mengikuti outing class ke sejumlah ruang budaya di Yogyakarta, mulai dari museum hingga kawasan Sumbu Filosofi. Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami konteks budaya yang menjadi bagian dari identitas daerah.
JETCentre juga membuka kesempatan belajar bagi berbagai kelompok usia dan latar belakang. Mulai dari siswa sekolah dasar hingga profesional yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris untuk mendukung karier mereka.
"JETCentre itu kita memiliki program belajar mulai dari anak-anak usia SD sampai General English untuk dewasa, antara usia SMA sampai orang bekerja. Dan banyak juga kelas untuk preparation test seperti IELTS atau TOEFL," jelas Nia Alviani.
Untuk memastikan setiap peserta mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai kebutuhan, JET Centre didukung tim curriculum dan materials development yang merancang materi secara khusus, termasuk kelas yang dapat disesuaikan dengan tujuan masing-masing peserta.
"Di JETCentre itu kami juga memiliki tim curriculum development dan materials development, tim inilah yang biasanya membuat materi sesuai dengan jenjangnya atau sesuai dengan keperluannya, seperti materi untuk Teras Malioboro itu juga sudah disusun oleh tim yang ada," ungkap Nia Alviani.
Dengan dukungan 20 tutor dan sistem pembelajaran yang menggabungkan standar internasional dengan nilai-nilai lokal, JET Centre terus memperluas kontribusinya dalam pengembangan kemampuan bahasa Inggris masyarakat.
