Melihat Pilar Raksasa dan Sistem Penahan Longsor Kelok 23 JJLS Jogja

Kelok 23 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membelah kawasan perbukitan untuk menghubungkan Bantul dan Gunungkidul. Di sejumlah titik, bukit dipotong hingga membentuk dinding setinggi puluhan meter dengan struktur menyerupai deretan pilar raksasa.
Jalur ini sebelumnya dirancang memiliki 18 titik tikungan. Namun, desain kemudian berubah menjadi 23 kelok dengan mempertimbangkan keselamatan pengendara.
Di balik bentuknya yang mencolok, deretan pilar tersebut memiliki fungsi penting dalam konstruksi jalan. Struktur itu dibangun untuk menahan tekanan tanah dan menjaga kestabilan lereng di kawasan yang memiliki medan curam.
Lantas, bagaimana struktur Kelok 23 dibangun dan bagaimana sistem pengamanan lerengnya ketika menghadapi hujan?
Bukan Sekadar Deretan Pilar
PPK 1.2 Provinsi DI Yogyakarta, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah Provinsi DI Yogyakarta, Ridwan Subarkah, menjelaskan bahwa struktur yang terlihat seperti deretan pilar tersebut menggunakan kumpulan borepile atau tiang beton bertulang.
Tiang-tiang tersebut berfungsi menahan tekanan tanah sekaligus membantu menjaga kestabilan lereng. Keberadaannya bukan semata untuk tampilan, melainkan menjadi bagian dari sistem perkuatan lereng di Kelok 23.
“Yang terlihat seperti deretan pilar raksasa itu merupakan bagian dari struktur perkuatan dan penahan lereng yang terdiri dari kumpulan borepile/tiang beton bertulang. Fungsinya untuk menahan tekanan tanah dari belakang, sekaligus menjaga lereng tetap stabil karena kondisi medan di Kelok 23 cukup curam,” kata Ridwan kepada Pandangan Jogja,” Rabu (23/9).
“Jadi, struktur tersebut bukan sekadar ornamen, tetapi bagian dari sistem konstruksi jalan untuk mengurangi risiko longsor,” ujarnya.
Selain deretan pilar, pengguna jalan dapat melihat bentuk dinding penahan yang berbeda-beda di sepanjang Kelok 23.
Menurut Ridwan, perbedaan itu disesuaikan dengan kondisi medan di setiap titik. Kemiringan lereng, kondisi tanah, ketinggian dinding, hingga kebutuhan struktur menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk perkuatan yang digunakan.
Karena kondisi bukit tidak seragam, struktur penahan juga tidak dibuat dengan satu bentuk yang sama. Di sejumlah lokasi struktur terlihat seperti pilar, sementara di bagian lain berbentuk rata maupun bertingkat.
“Dalam pembangunan infrastruktur seperti ini, fungsi dan keamanan tetap menjadi pertimbangan utama. Namun, tampilan struktur juga bisa diperhatikan supaya tidak terlalu kontras dengan lingkungan dan memberikan kesan lebih rapi,” kata Ridwan.
Galian Kelok 23 Capai Sekitar 30 Meter
Membangun jalan yang membelah kawasan perbukitan membuat pengerjaan Kelok 23 memiliki tantangan tersendiri. Konstruksi tidak dilakukan di medan datar, tetapi harus menyesuaikan kontur bukit dan kondisi tanah di setiap lokasi.
Pada area galian, ketinggiannya dapat mencapai sekitar 30 meter. Sementara itu, pada area timbunan, tingginya mencapai sekitar 28 meter.
Pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan mengikuti kontur kawasan.
“Untuk area galian tertinggi sekitar 30 meter, sedangkan pada area timbunan tinggi sekitar 28 meter. Pembangunannya dilakukan secara bertahap mengikuti kontur bukit,” kata Ridwan.
Selain medan yang curam, pengerjaan juga menghadapi tantangan berupa akses menuju lokasi, pekerjaan pada ketinggian, hingga kondisi tanah yang berbeda-beda.
“Tantangan terbesarnya adalah akses ke lokasi, kondisi medan yang curam, pekerjaan pada ketinggian, kondisi tanah yang berbeda-beda, serta menjaga kestabilan lereng selama proses pembangunan. Karena itu, pekerjaan seperti ini membutuhkan perencanaan geoteknik dan metode konstruksi yang sangat hati-hati,” tambahnya.
Bagaimana Kelok 23 Menghadapi Hujan?
Struktur penahan di Kelok 23 berfungsi menahan dorongan tanah dari belakang. Namun, kestabilan lereng tidak hanya bergantung pada dinding maupun tiang penahan.
Air juga menjadi faktor yang harus dikendalikan, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan perbukitan.
Air hujan harus diarahkan agar tidak masuk dan tertahan terlalu banyak di dalam tanah. Untuk itu, sistem drainase disiapkan di sejumlah bagian, mulai dari bagian atas lereng, sekitar badan jalan, hingga di belakang dan di antara struktur penahan.
“Air hujan harus segera dikumpulkan dan diarahkan ke saluran yang sudah direncanakan. Sistemnya terdiri dari saluran di bagian atas lereng, saluran di sekitar badan jalan, serta saluran atau drainase di belakang maupun di antara struktur penahan,” kata Ridwan.
Kelok 23 sebelumnya telah menjalani uji coba selama satu pekan pada 14-20 September.
Saat ini, pengerjaan di kawasan tersebut masih berlanjut. Salah satunya berupa penurunan grade atau tingkat kelandaian jalan sepanjang sekitar 980 meter untuk memudahkan manuver kendaraan berat.
Pekerjaan lanjutan juga mencakup pembangunan rest area dan pelebaran jalan.
Pekerjaan tambahan tersebut ditargetkan berlangsung selama sekitar 12 bulan sejak kontrak dan diperkirakan selesai pada Agustus 2027.
