Membawa Kehangatan Nusantara Ke Azerbaijan Lewat Kuliner dan Budaya

Content Writer
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Husni Fatahillah Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari mata, masuk ke perut, meresap dalam hati dan pikiran. Sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana cita rasa sebuah makanan bisa membuat seseorang jatuh cinta. Dan itulah salah satu bentuk kekuatan diplomasi kuliner (gastrodiplomacy) yang makin sering dilakukan dalam diplomasi Indonesia. Karena sejatinya diplomasi tidak selalu harus berlangsung di ruang pertemuan formal atau melalui pembicaraan antar diplomat. Terkadang, sepiring nasi goreng, seporsi sate ayam, manisnya klepon, atau gurihnya sosis solo, justru bisa menjadi cara yang menyenangkan dan lebih efektif untuk memperkenalkan sebuah negara, khususnya Indonesia.
Semangat inilah yang dibawa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baku berkolaborasi dengan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekraf) Azerbaijan dalam acara festival budaya akbar bertajuk “Indonesian Culinary Diplomacy Festival 2026” di Baku, Azerbaijan. Acara yang diselenggarakan guna memperingati Hari Ekonomi Kreatif Nasional ini bertujuan untuk mengoptimalkan gastrodiplomacy dengan memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner Indonesia kepada masyarakat Azerbaijan serta komunitas internasional yang tinggal di negara tersebut, sekaligus mendorong potensi ekonomi kreatif Indonesia dengan menjadi wadah nyata dalam mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diaspora Indonesia di Azerbaijan.
Beragam hidangan khas Indonesia menjadi daya tarik utama acara ini. Mulai dari nasi tumpeng, sate ayam, nasi goreng, hingga soto ayam, para pengunjung diajak mengenal cita rasa Indonesia yang kaya akan rempah dan memiliki karakter berbeda di setiap hidangannya.
Tak hanya makanan utama, aneka kudapan tradisional juga turut melengkapi pengalaman kuliner tersebut. Dadar gulung dengan balutan warna hijaunya, klepon dengan sensasi gula merah yang lumer di mulut, gurihnya sosis solo, hingga bakwan dan pisang molen menjadi bagian dari ragam sajian kudapan yang dihadirkan untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia.
Duta Besar LBBP RI untuk Azerbaijan, Berlian Helmy, mengatakan “Bagi masyarakat yang belum banyak mengenal Indonesia, hidangan-hidangan ini menjadi pintu masuk untuk memahami lebih jauh budaya Nusantara. Sebab, makanan bukan sekadar urusan rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi, kebiasaan, dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya. Ketika mata Anda melihat sajian kuliner Indonesia, lidah Anda merasakan kelezatannya, maka hati dan pikiran Anda akan mendorong untuk lebih mengenal Indonesia”.
Di tengah keberagaman budaya yang ada di Azerbaijan, kehadiran kuliner Indonesia diharapkan menjadi medium yang dekat dan mudah diterima untuk membangun hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact).
Melalui Indonesian Culinary Diplomacy, menunjukkan bahwa upaya memperkenalkan identitas nasional tidak harus selalu dilakukan melalui penjelasan formal. Mencicipi makanan khas, mengenali bahan-bahan yang digunakan, hingga berbagi pengalaman tentang cita rasa dapat membuka percakapan dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap Indonesia.
Inilah salah satu kekuatan diplomasi kuliner. Makanan dapat memberikan pengalaman yang melampaui perbedaan bahasa dan latar belakang. Dari satu hidangan, percakapan bisa berkembang menjadi ketertarikan terhadap tradisi, seni, hingga peluang usaha yang bisa dikembangkan.
Pengalaman mengenal Indonesia di Baku tidak berhenti di sajian kuliner semata. Suasana acara semakin semarak dengan penampilan angklung yang merupakan salah satu kekayaan seni musik tradisional Indonesia.
Selain angklung, peragaan busana batik turut menjadi bagian dari rangkaian acara. Menariknya, peragaan ini melibatkan warga lokal dan warga asing yang berada di Azerbaijan. Keterlibatan mereka memberikan warna tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa budaya Indonesia, khususnya batik, dapat dinikmati, diperkenalkan, dan dipakai oleh siapa saja, tanpa dibatasi kewarganegaraan maupun latar belakang budaya.
Perpaduan kuliner, musik angklung, dan peragaan busana batik menghadirkan gambaran Indonesia yang lebih utuh. Bukan hanya negara dengan kekayaan kuliner, melainkan juga negara dengan tradisi seni dan budaya yang beragam. Pendekatan ini membuka ruang bagi pertukaran budaya yang lebih luas. Ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk merasakan dan menyaksikan langsung kekayaan budaya Indonesia, hubungan antarmasyarakat dapat terbangun melalui pengalaman yang lebih personal.
Pada akhirnya, diplomasi budaya bukan semata-mata tentang bagaimana Indonesia ingin dikenal, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat di negara lain dapat merasakan dan menemukan sendiri daya tarik Indonesia. Dari gurihnya sate ayam hingga manisnya klepon, dari merdunya alunan angklung, hingga keindahan kain batik, KBRI Baku membawa pesan bahwa ragam kuliner dan budaya dapat menjadi jembatan untuk membangun hubungan yang lebih erat antara Indonesia dan Azerbaijan.
Di Baku, pesan itu disampaikan dengan cara yang sederhana, tetapi bermakna: mengenal Indonesia bisa dimulai dari satu suapan makanan, satu nada angklung, atau satu helai kain batik.
