Konten dari Pengguna

Menebar Jala Asa Selepas Wisuda

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 13 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para wisudawan dan wisudawati S-1 Program Studi Ilmu Pemerintahan berfoto bersama di depan Gedung A FISIP Undip Semarang selepas Upacara Yudisium Ke-182 Sesi pukul 08.00 - 11.00 WIB, Senin (27/4/2026). (Foto: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Para wisudawan dan wisudawati S-1 Program Studi Ilmu Pemerintahan berfoto bersama di depan Gedung A FISIP Undip Semarang selepas Upacara Yudisium Ke-182 Sesi pukul 08.00 - 11.00 WIB, Senin (27/4/2026). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Ada dua momen krusial di pekan wekasan April 2026 yang terkait dengan kehidupan Si Sulung. Pertama, Upacara Yudisium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (FISIP Undip) Semarang Ke-182 pada Senin (27/4/2026). Dan kedua, Wisuda Ke-182 Universitas Diponegoro pada Rabu (28/4/2026). Dua momen krusial tersebut merupakan hasil perjalanan pembelajaran dari 12 Agustus 2022 (tanggal masuk) hingga 26 Maret 2026 (tanggal lulus). Tiga tahun tujuh bulan empat belas hari.

Ada sedikit catatan kecil. Terdapat tradisi Upacara Yudisium yang meriah dan formal sebagaimana terlihat kini. Para mahasiswa-mahasiswi mengenakan toga, ada pendampingan orang tua/wali, dan prosesi senat di Auditorium. Tradisi tersebut baru rutin terselenggara secara terpisah dari wisuda utama pada kisaran 2018 - 2019. Dewasa ini, momen pelepasan di tingkat fakultas, mengalir dengan adonan rasa formal dan sekaligus emosional.

Secara emosional, karena penyelenggaraan wisuda tingkat fakultas dengan nama Upacara Yudisium tersebut memberikan celah kesempatan bagi para orang tua untuk menyaksikan putra-putri masing-masing memperoleh apresiasi secara lebih personal sebelum “terbenam” dalam prosesi wisuda tingkat universitas yang melibatkan ribuan personel yang mengenakan jubah, topi toga, samir, dan selempang yang khas di dunia pendidikan tinggi itu.

Anak saya, Fauzan Haidar Ramadan, di lingkungan Program Studi Ilmu Pemerintahan, memang bukan sosok yang berada di pemuncak klasemen sebagai pemegang indeks prestasi kumulatif (IPK). Akan tetapi, dengan sentuhan angka 3,96 setidaknya dia bisa menandai keberadaanya pada level potensial. Dan, satu hal yang nyaris tidak pernah mampir di pikiran saya sebelumnya, keberaniannya mengelola rasa percaya diri secara positif dan konstruktif.

Ketika saya membonceng Si Sulung memasuki area parkir di FISIP Undip untuk mengikuti Upacara Yudisium Ke-182 di Gedung Auditorium Fimena, Gedung A Lantai III, Senin (27/4/2026). Barulah saya tersadar, rupanya motor Yamaha VegaR tahun keluaran 2007 itu, merupakan sedikit (bisa jadi satu-satunya) kendaraan bermotor “klasik” di tengah kerumunan motor-motor matic dengan fasilitas teknologi otomotif canggih yang berjajar dalam tatanan parkir rapi di sana.

Ini jelas membutuhkan kekuatan rasa percaya diri yang betul-betul full charge. Akan tetapi, selama ini dia mampu relatif baik beradaptasi dengan lingkungannya. Selain menjalani masa perkuliahan dengan hampir tidak pernah absen, beberapa organisasi tingkat kampus dia ikuti. Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (HMPSIP) pernah dia sapa dengan sejumlah jabatan. Aktif di organisasi olahraga bulu tangkis dengan teman-teman sekampus pernah dia jalani.

Selain itu, Lembaga Pers Mahasiswa FISIP Opini, juga menjadi tempatnya berkiprah. Dia memulai dari reporter dan terus merangkak naik hingga “kebablasan” duduk di kursi pemimpin umum (PU) selama satu periode (dua semester). Setelah demisioner, dia juga masih mendapat kepercayaan untuk menyiapkan kandidat pengganti dirinya. Seluruh pencapaian itu, bagi saya adalah wujud dari kemampuan mengelola rasa percaya diri dengan kekuatan yang terdistribusikan dengan konstruktif dan positif. Belum lagi keikutsertaannya dalam Ekspedisi Patriot yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi selama empat bulan terakhir tahun 2025.

Generasi Hilang

Dekan FISIP Undip Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin beserta jajaran telah siap mengaktori prosesi Upacara Yudisium, Senin (27/4/2026). (Foto: Mohamad Jokomono)

Entahlah. Tiba-tiba saja, ingatan saya tertuju pada ucapan seorang sepupu perempuan beberapa tahun sikam. Dia pernah berkata, “Lho kae. Adiku Si Edi sing lulusan Ilmu Pemerintahan. Ning jebule, bareng lulus malah kerja neng bank“ (“Lho itu. Adikku Si Edi yang alumnus Ilmu Pemerintahan. Tetapi nyatanya, ketika lulus malah bekerja di bank”). Hal itu dia ucapkan sebagai tanggapan ketika mengetahui anak saya lolos Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Program Studi Ilmu Pemerintahan. Dahulu, saya tidak terlalu mengambil hati dengan statemen tersebut. Dan, segera melupakannya.

Akan tetapi hal itu kembali muncul. Terlebih manakala dalam Upacara Yudisium Ke-182 FISIP Undip, Senin (27/4/2026), seorang Hartawan Triguna, produser film yang pernah menyutradarai Toilet 105 (2010), Darah Perawan Bulan Madu (2009), dan tampil sebagai aktor di Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia (2025). Dia tampil menjadi wakil yang mengisi sesi pesan dan kesan orang tua mahasiswa-mahasiswi dalam acara tersebut.

Lelaki yang menurut pengakuannya sendiri, pada 36 tahun lalu pernah tidak berhasil menembus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan tujuan Undip itu, namanya tercantum dalam profil Indonesian Film Center (IdFilmCenter) dan Internet Movie Database (IMDb) sebagai sutradara dan produser. Dalam performa memikatnya tatkala menyampaikan pesan dan kesan orang tua mahasiswa-mahasiswi, dia antara lain juga sedikit menyinggung soal pemerolehan pekerjaan alumni perguruan tinggi yang tidak linier dengan program studi mereka.

Boleh terbilang ini fenomena yang biasa terjadi di Indonesia. Fenomena bekerja tidak sesuai dengan program studi yang mereka geluti selama menempuh kuliah atau horizontal mismatch merupakan kegaliban yang tumbuh sebagai realitas yang banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hingga April 2026, data menunjukkan sekitar 30% hingga 63% alumni bekerja di bidang yang kurang selaras dengan latar belakang pendidikan yang mereka tempuh. Demikian menurut laporan Tracer Study (Studi Penelusuran Alumni) yang diselenggarakan berbagai perguruan tinggi.

Kondisi sedemikian kerap berada dalam ranah pandangan, bila terus berlangsung pembiaran, maka akan menimbulkan generasi hilang (lost generation). Dengan penanda berupa realitas begitu berlimpah alumni perguruan tinggi yang bekerja di luar program studi masing-masing. Kondisi ini mengacu pada fenomena sosial - ekonomi, manakala kelompok usia muda mengalami disorientasi karier, ketidaksesuaian keahlian (mismatch), dan potensi ekonomi yang tidak tergunakan dengan semestinya.

Pengertian “hilang” dalam konteks ini bukan secara fisik, melainkan kehilangan ilmu. Selama bertahun-tahun mereka mempelajari suatu disiplin ilmu di bangku kuliah. Akan tetapi, ternyata kurang terasakan relevansinya dengan pekerjaan yang mereka tekuni. Kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian ilmunya, dan karena tuntutan untuk bertahan hidup, menjadi faktor yang determinan sehingga mereka terpaksa mengambil pekerjaan apa saja (underemployment).

Dalam kasus ini terjadilah pemborosan modal intelektual. Suatu keadaan tatkala pengetahuan, keterampilan, dan keahlian spesifik yang mereka peroleh dalam perkuliahan yang tentu saja dengan pengurbanan secara biaya dan waktu yang besar. Akan tetapi pada wekasannya justru tidak ada relevansi yang klop dengan sosok pekerjaan yang berada di dalam genggam tangan sang alumni. Ini juga bisa dinamai mismatch lulusan.

Fenomena Generasi Hilang ini memicu krisis kepercayaan yang teralamatkan kepada pendidikan tinggi. Ada sebuah survei, tapi tidak dilakukan di Indonesia, tetapi di Amerika Serikat. Harris Poll melakukan survei ini atas nama Indeed Hiring Lab yang telah terpublikasikan pada tahun 2025. Responden surveinya 772 profesional di Negeri Paman Sam dengan gelar associate atau lebih tinggi. Fokus Generasi Z (kelahiran 1997 - 2012).

Sebanyak 51% Generasi Z menganggap gelar sarjana yang telah mereka raih belum sebanding dengan biaya yang terbelanjakan untuk pendidikan tinggi. Mereka, menurut survei itu, menganggapnya sebagai pemborosan uang (waste of money). Angka 51% boleh terbilang meningkat, jika berkomparasi dengan survei serupa untuk Generasi Milenial (kelahiran 1980 - 1996) yang ada di angka 41% dan Generasi Baby Boomers (kelahiran 1946 - 1964) di angka 20%.

Faktor-faktor yang mendiruskan penyebab utama kekecewaan, yaitu biaya kuliah yang tinggi, beban utang mahasiswa yang menumpuk, dan adanya anggapan keterampilan praktis lebih berharga daripada gelar tradisional (termasuk gelar kesarjanaan). Laporan itu pun mencatat, banyak pemberi kerja di Amerika Serikat mulai menghilangkan persyaratan gelar kesarjanaan dalam proses perekrutan yang mereka lakukan, yaitu 52% lowongan kerja di Indeed Hiring Lab.

Dan, banyak alumni yang merasa bahwa saat ini mereka tidak membutuhkan gelar kesarjanaan. Survei tersebut juga menyoroti telah terjadi pergeseran pandangan yang sedemikian drastis di tengah ketidakpastian ekonomi global serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Plis deh pembaca, sekali lagi saya tegaskan, ini adalah gambaran survei di Amerika Serikat. Bukan dan bukan di Indonesia.

Di Negeri Donald Trump itu, banyak mahasiswa yang mengalami krisis kepercayaan terhadap pendidikan tinggi. Bahkan, mereka beranggapan bahwa gelar kesarjanaan itu proses peraihannya lebih serupa pemborosan uang. Di negeri itu, tidak sedikit alumni perguruan tinggi yang “berkeliaran” mencari arah karena ijazah yang berada dalam genggaman tangan mereka, tidak cukup memiliki kekuatan garansi sehingga mereka berhak mendapatkan pekerjaan layak. Hal itu menyebabkan mereka “tersesat” di pasar kerja yang tidak stabil. Nah, sekali dan sekali lagi, ini di Negeri Donald Trump.

Nah, kalau yang ini juga terjadi di Indonesia. Ada berbagai akar penyebab. Kondisi itu terjadi lantaran ketidakselarasan (mismatch) antara dunia pendidikan dan industri. Bisa jadi materi kuliah terlampau teoretis dan lamban dalam menjalin adaptasi dengan teknologi atau kebutuhan industri yang bergulir dalam perubahan cepat. Bisa jadi pula kampus terlalu banyak meluluskan program studi tertentu yang permintaan pasarnya kurang sebanding.

Bisa jadi lagi lantaran adanya tekanan kebutuhan ekonomi, segera memperoleh penghasilan, sehingga memaksa mereka menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan kompetensi program studinya, bahkan sering dengan gaji lebih rendah. Tidak ketinggalan, terjadi adanya deindustrialisasi dini. Ditandai dengan keterbatasan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Hal itu lalu mendorong alumnus masuk ke sektor jasa atau sektor informal.

Dampak Fenomena

Fenomena tersebut di Indonesia menyebabkan generasi muda kita terpaksa banting setir dengan efek lanjut menjadi kurang begitu produktif. Alumni program studi teknik dan sains yang ketika nasib memaksa mereka untuk bekerja pada wilayah sektoral administrasi atau penjualan, malahan menyesatkan mereka ke dekapan realitas yang bercerita mengenai adanya penurunan efisiensi keahlian.

Tidak sedikit di antara mereka mengalami krisis kepercayaan diri. Merasa terkena telikung perasaan telah menghambur-hamburkan waktu kesia-siaan menimba ilmu di pendidikan tinggi dan biaya kuliah yang jauh dari murah. Kesenjangan tentang perbedaan nilai dan harapan di tempat kerja antara mereka dan para seniornya juga terkadang menimbulkan kesenjangan komunikasi.

Suasana di Moeladi Dome sebelum mulai acara Rapat Senat Terbuka Wisuda Ke-182, Selasa (28/4/2026). (Foto: Mohamad Jokomono)

Pemerintah Republik Indonesia per 2026 telah mengevaluasi dan menata ulang pendidikan tinggi kita untuk meminimalisasi “generasi hilang” itu. Ada upaya ke arah tidak membiarkan begitu saja hal-hal yang dapat memicu peningkatan angka pengangguran terdidik dan memperlamban kemampuan produktivitas nasional.

Telah ada pula upaya untuk mengatasi faktor penyebab, mengapa alumni bekerja tidak sesuai dengan program studi. Persoalan ketidaksesuaian kurikulum dan industri pun telah muncul pemikiran serta mengatasi keterlambatan beradaptasi dengan kebutuhan industri yang berkembang sedemikian pesat, seperti data science atau digital marketing.

Telah pula pemikiran ke arah pencapaian solusi guna memecahkan problem ketersediaan yang rendah akan pos-pos pekerjaan yang secara spesifik dan memiliki kesesuaian dengan program studi di pendidikan tinggi, terutama untuk rumpun ilmu sosial dan humaniora.

Kemampuan Adaptasi

Pada akhirnya kemampuan adaptasi, bahkan mungkin dalam kasus-kasus tertentu bisa mendekati atau bahkan mencapai takaran ekstrem, ketika alumni pendidikan tinggi karena faktor keadaan, harus tunduk pada pilihan pragmatis sekadar bertahan hidup. Oleh karena itu, mau tidak mau untuk merawat agar asa lebih positif ketika memandang kehidupan, mereka memang perlu lebih aktif secara mandiri meningkatkan soft skill.

Suatu sosok keterampilan yang membukakan diri pada bentuk ekspresi maksimal bagi kemampuan interpersonal, atribut kepribadian, berikut kecerdasan sosial yang dapat mengantarkan mereka pada kemampuan yang menentukan dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan berkooperasi (bekerja sama) dengan orang lain. Di samping itu, tentu saja dengan mempertajam keterampilan praktis (upskilling) agar dapat menemukan posisi yang lebih mudah dan nyaman manakala berdamai secara adaptif di pasar kerja yang dinamis.

Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. mengesahkan pelantikan untuk para wisudawan dan wisudawati dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda Ke-182 di Gedung Serbaguna Moeladi Dome Kampus Tembalang, Selasa (28/4/2026). (Foto: Mohamad Jokomono)

Perlu ada pandangan optimistis, menyikapi realitas ketidaklineran program studi dengan pekerjaan yang berada di dalam genggam tangan bukanlah sebagai suatu kegagalan melainkan celah peluang guna membangkitkan kemampuan adaptasi. Langkah yang paling awal adalah mengubah pola pikir (mindset), dengan menegakkan validasi perasaan. Tidak merasa gagal atau rendah diri. Meskipun bukan hal ideal, ternyata masih ada realitas yang menaruh bukti konkret orang bisa sukses bekerja di luar latar belakang keilmuannya di perguruan tinggi.

Sebut saja Ferry Unardi yang lahir di Padang, Sumatera Barat pada 16 Januari 1988. Pendiri dan CEO (mulai 2012) situs web Traveloka. Dia lulusan Computer Science and Engineering di Purdue University, West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat. Dia pernah bekerja di Microsoft. Akan tetapi, selanjutnya beralih menjadi pendiri salah satu startup travel tech terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Chairul Tanjung, lahir di Jakarta, 16 Juni 1962, menjadi pendiri dan pemilik CT Corp (Trana Corp, Vank Mrfa). Beralih total dari dunia kesehatan gigi ke bisnis dan konglomerasi.

Juga Nadiem Makarin (lahir di Singapura, 4 Juli 1984), merupakan Sarjana Hubungan Internasional di Brown University, Providence, Rhode Island, Amerika Serikat dan MBA di Harvard Business School di Allston, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Pendiri Gojek, perusahaan teknologi tranaportasi dan layanan dalam jaringan terbesar di Tanah Air. Kariernnya di bidang teknologi terutama, tidak linier dengan latar belakang program studinya dari Hubungan Internasional.

Strategi yang tepat adakah fokus pada transferable skills. Keterampilan diri tidak hanya berupa posisi teknis spesifik sebagaimana terwadahi dalam terminologi hard skill. Akan tetapi, acapkali bersifat soft skill yang bisa dengan mudah mengalami transfer guna menunjang performa pada peran yang tidak sama. Dengan kepemilikan soft skill yang bersifat transferable skill, memberi celah pemungkinan seorang profesional tetap relevan dan kompeten walaupun mengalami pergeseran bidang pekerjaan.

Kiranya perlu memperoleh sentuhan penyadaran, bahwa kemampuan seperti komunikasi, analisis, pemecahan masalah, manajemen waktu yang menjadi menu pembelajaran di bangku kuliah, dapat secara fleksibel menemukan realisasi penerapan di bidang pekerjaan apa pun. Selain itu, penanaman sudut pandang yang positif, bahwa integrasi antara penguasaan disiplin ilmu dari program studi dan pengalaman pekerjaan yang tidak linier dengan program studi dapat membentuk sosok keahlian yang unik.

Selanjutnya perlu ada pemikiran mengenai peningkatan kompetensi (upskilling). Tidak ada ruginya mengikuti pelatihan dan sertifikasi. Bisa dengan mengambil kutsus dalam jaringan, program pelatihan jangka pendek 3 - 6 bulan (bootcamp), atau seminar yang relevan dengan bidang pekerjaan yang tidak linier dengan latar belakang program studi.

Kemudian, menjadi keharusan mempelajari digital skill jika tidak ingin tersesat terlalu jauh sebagai “generasi hilang”. Pemerolehan keterampilan digital, seperti copywriting (penulisan persuasif untuk mendorong tindakan mengeklik, membeli, dan mendaftar di media digital), data science (krusial untuk otomatisasi, prediksi perilaku konsumen, dan pengambilan keputusan berbasis data).

Demikian pula dengan penguasaan digital marketing perlu mendapat pertimbangan. Ini terkait dengan strategi pemasaran produk atau layanan yang memanfaatkan media digital dan internet. Dengan demikian, mampu menjangkau audiens dalam.cakupan lebih luas, terukur, dan efisien. Cakupan aktivitasnya seperti media sosial dan Search Engine Optimization (SEO).

SEO ini merupakan teknik bagaimana menegaskan optimalisasi pemanfaatan website, agar memperoleh peringkat lebih tinggi di halaman hasil peringkat organik (tidak berbayar) mesin pencari seperti Google. Arah tujuannya, meningkatkan visibilitas, menghadirkan arus traffic berkualitas dan membangun kepercayaan jenama (merek). Lalu penguasaan e-mail marketing dan iklan online. Dengan biaya lebih fleksibel, data real-time, dan interaksi langsung dengan konsumen, ini menjadi potret keunggulan digital marketing berbanding dengan metode konvensional.

Adapun website development merupakan proses pembangunan, penciptaan, dan pemeliharaan website ataupun aplikasi yang memiliki roh internet. Cakupannya mengarah ke berbagai aspek, antara lain pemrograman (coding), bahasa komputasi (scripting), konfigurasi server, dan manajemen database guna menegakkan situs berada di dalam situasi yang fungsional, cepat, dan aman.

Guna mengantisipasi realitas tidak semua alumni bisa beberja di bidang yang linier dengan program studinya, bisa dengan jalan membangun pengalaman dan portofolio. Misalnya dengan mencari pengalaman lewat kerja sampingan. Atau terlibat dalam proyek freelance, menjadi bos bagi diri sendiri dengan menawarkan jasa ke berbagai klien. Dengan keluwesan waktu dan kesempatan membangun portofolio profesional.

Contoh kecil proyek freelance di bidang penulisan dan konten. Misalnya menjadi content writer atau blogger dengan menulis artikel SEO, blog post, artikel industri untuk website perusahaan. Bisa pula menjadi copywriter, menulis naskah iklan, kepsen media sosial, atau landing page yang persuasif demi tujuan pemasaran.

Tidak kecil perannya adalah memainkan strategi networking dan pencarian kerja. Perbarui currriculum vitae (CV) dan LinkedIn, dengan menonjolkan skill dan pengalaman yang relevan sekalipun tidak linier dengan program studi yang tercantum dalam ijazah. Jika perlu, temukan mentor yang sudah terlebih dahulu sukses di bidang pekerjaan yang sama guna memandu ke arah perspekti yang terarah tepat. Bisa pula dengan mengakses berbagai pertemuan profesional di industri yang menjadi peminatan guna memperjembar jaringan. ***