Mengapa Komitmen Sering Kalah oleh Rutinitas?

Guru SD Hikmah Teladan Cimahi. Pengurus PP IGI dan BMPS Kota Cimahi. Menulis tentang pendidikan, murid, guru, pembelajaran inklusif, dan refleksi dunia sekolah.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menanam pohon tidak pernah selesai ketika benih dimasukkan ke dalam tanah. Justru pekerjaan yang sesungguhnya dimulai setelah itu. Benih harus disiram, dijaga dari hama, diberi cahaya yang cukup, dan dirawat dengan sabar. Tanpa proses yang terus-menerus, benih yang paling baik sekalipun tidak akan pernah tumbuh menjadi pohon.
Saya sering merasa proses menjadi guru pun tidak jauh berbeda.
Setiap kali guru mengikuti pelatihan, lokakarya, atau forum refleksi, banyak benih baru yang ditanam. Ada gagasan segar, cara pandang baru, dan keinginan untuk memperbaiki pembelajaran. Pada saat itu hampir semua orang percaya bahwa perubahan akan segera terjadi. Namun, tidak semua benih berhasil tumbuh. Sebagian mengering sebelum sempat berakar, bukan karena benihnya buruk, melainkan karena tidak ada proses yang merawatnya.
Di dunia pendidikan, proses merawat benih itu bernama konsistensi.
Banyak orang menganggap bahwa perubahan ditentukan oleh besarnya komitmen. Padahal komitmen hanyalah keputusan awal. Ia menunjukkan arah, tetapi belum menggerakkan langkah. Yang benar-benar membentuk perilaku adalah apa yang dilakukan seseorang berulang kali, bahkan ketika tidak ada yang mengingatkan.
Itulah sebabnya kita sering menjumpai paradoks di sekolah. Guru yang sangat antusias mengikuti pelatihan belum tentu mengalami perubahan dalam praktik mengajarnya. Sebaliknya, guru yang jarang berbicara tentang inovasi justru perlahan memperlihatkan kelas yang semakin hidup. Perbedaannya bukan terletak pada siapa yang memiliki niat lebih besar, melainkan pada siapa yang mampu menjaga kebiasaan kecil setiap hari.
James Clear dalam Atomic Habits menjelaskan bahwa perubahan besar merupakan akumulasi dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Ia mengingatkan bahwa manusia lebih banyak dibentuk oleh sistem yang dijalankannya daripada oleh tujuan yang diinginkannya. Gagasan ini memberi pelajaran penting bagi sekolah. Program yang baik tidak otomatis menghasilkan perubahan apabila tidak diikuti kebiasaan baru yang terus dipelihara.
Karena itu, saya semakin percaya bahwa sekolah tidak perlu selalu mencari program yang spektakuler. Yang jauh lebih penting adalah memastikan praktik-praktik baik benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Guru yang membiasakan diri memberi kesempatan setiap murid berbicara akan perlahan membangun kelas yang lebih demokratis. Guru yang secara rutin memberikan umpan balik akan membantu murid memahami proses belajarnya. Guru yang meluangkan beberapa menit setiap pekan untuk merefleksikan pembelajarannya akan terus menemukan cara mengajar yang lebih baik.
Perubahan-perubahan itu tampak sederhana. Bahkan mungkin tidak menarik perhatian. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Pendidikan tidak dibangun oleh kejadian-kejadian besar yang sesekali terjadi, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang berlangsung setiap hari.
Pengalaman kami di SD dan SMP Hikmah Teladan mengajarkan hal yang sama. Setelah guru menyelesaikan refleksi semester, mereka tidak hanya diminta menuliskan komitmen. Komitmen tersebut dibawa kembali ke forum-forum guru untuk didiskusikan dan ditinjau perkembangannya. Bukan untuk mencari siapa yang berhasil atau gagal, melainkan untuk saling mengingatkan bahwa setiap orang sedang menjalani proses bertumbuh. Ketika komitmen menjadi bahan percakapan bersama, peluang untuk menjaganya menjadi jauh lebih besar.
Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan pemikiran yang menegaskan bahwa perubahan pendidikan merupakan proses sosial. Guru lebih mudah bertahan dalam perubahan ketika ia merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama-sama belajar. Sebaliknya, perubahan sering berhenti di tengah jalan ketika setiap orang berjuang sendirian.
Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Kepemimpinan pendidikan bukan hanya tentang menyusun program atau mengevaluasi kinerja. Kepemimpinan juga berarti menciptakan ruang agar guru terus belajar, saling memberi umpan balik, dan saling menguatkan. Sekolah yang bertumbuh bukan sekolah yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan sekolah yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.
Saya menyadari bahwa perubahan tidak pernah datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia bergerak pelan, hampir tidak terasa, seperti akar pohon yang tumbuh di dalam tanah. Kita mungkin tidak langsung melihat hasilnya hari ini atau bulan depan. Namun ketika kebiasaan-kebiasaan baik terus dirawat, suatu saat kita akan menyaksikan sesuatu yang berbeda. Murid menjadi lebih berani, guru lebih terbuka untuk belajar, dan sekolah menjadi tempat yang semakin menyenangkan bagi semua orang.
Mungkin itulah sebabnya pendidikan selalu menuntut kesabaran. Hasil terbaik tidak lahir dari semangat yang menyala sesaat, melainkan dari ketekunan menjaga hal-hal kecil yang sering dianggap biasa. Sebab pada akhirnya, yang mengubah sekolah bukanlah satu keputusan besar, melainkan ribuan tindakan kecil yang dilakukan dengan setia, hari demi hari.
