MUI Jatim soal Sound Horeg Dibatasi: Hadirkan Dancer Wanita hingga Pesta Miras

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Sound Horeg. Foto: Massooll/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sound Horeg. Foto: Massooll/Shutterstock

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menegaskan pihaknya tidak melarang kegiatan karnaval atau pawai sound horeg. MUI hanya meminta kegiatan tersebut diatur agar tidak mengganggu atau merugikan warga.

"Kami tidak melarang mutlak, bukan, tetapi mengatur. Jadi, meletakkan sound horeg itu di satu lapangan yang agak jauh dari pemukiman. Silakan di situ yang ingin menghoregkan, silakan," kata Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur, Ma'ruf Khozin, kepada kumparan, Kamis (10/9).

Menurut Ma'ruf, masih banyak gelaran sound horeg yang dilaksanakan di tengah permukiman warga sehingga berpotensi menimbulkan gangguan.

"Di situ ada orang tua sakit, di situ ada orang yang lemah jantung, ada yang pendengarannya enggak mampu dengan dentuman. Lah, yang mengadu ke kami yang begini-begini ini ya yang mengalami gangguan," ujarnya.

"Kalau yang sehat, silakan. Kami tidak melarang orang mencari hiburan, tidak. Cuma ada batasannya. Monggo batasan ini dijaga. Kami tidak melarang atau harus dibubarkan, enggak, cuma dibatasi, gitu. Itu jalan tengah sebenarnya yang kita temukan dengan mereka," imbuhnya.

Soroti Dancer hingga Minuman Keras

Ma'ruf mengatakan salah satu hal yang dinilai menimbulkan mudarat atau dampak negatif dalam kegiatan sound horeg adalah keberadaan dancer dengan pakaian minim.

Setelah berdiskusi dengan sejumlah pengusaha sound horeg, Ma'ruf mengatakan dancer yang mengiringi kegiatan tersebut bukan bagian dari penyedia jasa sound horeg, melainkan berasal dari pihak penyewa atau penyelenggara.

"Terkait mudarat, kalau dari pihak sound horeg, dancer itu bukan bagian dari sound horeg. Itu dari pemudi atau juga bagian dari yang terpisah begitu. Jadi pihak sound horeg kan tidak menyediakan dancer," katanya.

Selain dancer, Ma'ruf menyoroti adanya konsumsi minuman beralkohol dalam sejumlah kegiatan sound horeg yang dinilainya dapat menimbulkan dampak negatif.

Ilustrasi perempuan minum miras. Foto: Shutterstock

"Jadi dancer itu ada sendiri. Tapi biasanya memang ini sudah menjadi satu paket dengan karnaval, dengan minum-minuman keras. Bahkan beberapa netizen itu ngirim ke saya bagaimana perempuan juga sudah menenggak minuman keras. Di jalan-jalan ada sambil mabuk laki-laki memegang area sensitif perempuan. Itu memang sudah menjadi kesatuan yang mudarat. Tidak hanya mudarat, tetapi juga mengajarkan kepada anak-anak kecil. Anak kecil itu kan nanti kalau yang dilihat itu, besar nanti lebih berat, lebih parah yang mereka contoh itu," kata dia.

Ma'ruf berharap masyarakat dapat melihat sisi lain dari penyelenggaraan sound horeg yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak negatif dan merugikan warga.

"Jadi masyarakat kita itu kan mereka yang mengundang sound horeg. Kalau alasannya sound horeg, 'Kami penyedia jasa. Kami menyediakan apa yang diminta oleh customer, oleh masyarakat.' Jadi kita mohon pertama masyarakat, ya. Kalau pemilik sound sudah mau siap berbenah, ya. Maka yang kita minta monggo masyarakat kita ketika mencari hiburan, monggo. Tetapi jangan lupa di warga kita itu ketika ini dentuman begitu keras, tidak semua mereka mampu. Kalau mereka diungsikan, kalau sedang sakit bagaimana, dan seterusnya," ungkapnya.

Dia juga menyoroti biaya penyelenggaraan sound horeg yang disebut mencapai puluhan juta rupiah.

"Kemudian biayanya besar, 40 juta ya atau 35 juta. Ini banyak yang berkeluh ya. Ketika mereka diminta iuran, itu kalau enggak membayar nanti dicemooh, dibuli. Ya, biaya 40 juta kan lebih baik andaikan iuran lalu dibuat pelatihan wirausaha, dibuat apa. Tapi saya tidak melarang kalau kemudian untuk mencari hiburan, wong itu setahun sekali," lanjut dia.

Minta Sound Horeg Digelar Seperti Konser

Ma'ruf menambahkan masyarakat juga perlu memperhatikan hak warga lain yang tidak dapat menerima keberadaan sound horeg.

Ia meminta untuk mengembalikan gelaran sound horeg seperti konser yang dilaksanakan di lapangan terbuka tanpa mengganggu lainnya.

"Tapi tolong itu tadi kita jaga hak-hak orang secara kebanyakan yang mungkin mereka tidak mampu melawan, enggak enak. Nah, ini yang kemudian saling menjaga. Jadi kembalikan sound horeg itu seperti konser," ucap dia.

"Kayak diletakkan di lapangan, silakan yang ingin ke sana. Tetapi kemudian jangan melewati di perkampungan dengan intensitas bunyi dan hal-hal yang mudarat ataupun yang melanggar aturan agama dan negara itu," lanjutnya.