Konten dari Pengguna

Nikel, dari Kekayaan Menjadi Kekuatan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Awang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Saatnya Indonesia mengubah kekayaan SDA Mineral menjadi Kekuatan. Dibuat dengan Ai (Dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Saatnya Indonesia mengubah kekayaan SDA Mineral menjadi Kekuatan. Dibuat dengan Ai (Dokumen pribadi)

Dalam bukunya, Paradoks Indonesia dan Solusinya, Prabowo Subianto menyinggung Ricardo Hausmann. Prabowo memakai gagasan kompleksitas ekonomi untuk menekankan kemampuan suatu negara memproduksi semakin banyak barang di dalam negeri. Dalam pemikiran Hausmann sendiri, gagasan yang lebih dalam terletak pada pengetahuan produktif: kemampuan yang memungkinkan masyarakat membuat barang yang semakin beragam dan kompleks.

Pada 14 Agustus lalu, kini sebagai Presiden, Prabowo mengatakan bahwa kebijakan pemerintah diarahkan untuk “mengubah kekayaan Indonesia menjadi kekuatan Indonesia”. Nikel mungkin merupakan salah satu ujian terbaik bagi gagasan itu.

Indonesia kini menghasilkan sekitar dua pertiga produksi tambang nikel dunia. USGS memperkirakan produksi 2025 mencapai 2,6 juta ton kandungan nikel, dengan cadangan sekitar 62 juta ton. Kapasitas pengolahan bertambah, industri stainless steel berkembang, dan investasi bergerak semakin jauh menuju material baterai.

Ini bukan cerita sederhana tentang hilirisasi yang gagal. Justru keberhasilan tahap pertamanya melahirkan pertanyaan baru: setelah Indonesia mampu mengolah nikel dalam skala dunia, apa yang seharusnya dimaksimalkan—tonase, ekspor, umur cadangan, atau kemampuan industri yang tertinggal?

Nilai Tambah Belum Tentu Kemampuan

Di sinilah Hausmann berguna. Sebuah smelter tidak hanya bernilai dari produk yang keluar dari gerbangnya. Nilainya menjadi lebih besar bila di belakangnya tumbuh kemampuan metalurgi, rekayasa kimia, pengendalian proses, riset, pemasok lokal, tenaga terampil, dan perusahaan yang kemudian mampu membuat produk lain yang lebih rumit.

Hilirisasi mirip membangun rumah bertingkat. Investasi asing dan teknologi dapat membantu kita cepat mencapai lantai atas. Tetapi sampai di lantai tiga belum tentu berarti kita telah menguasai cara membangun rumahnya.

Bukti sejauh ini tidak hitam-putih. Riset Maarten Bosker dan koleganya menemukan pembatasan ekspor meningkatkan total pekerjaan sekitar 3 persen di rata-rata daerah kaya nikel, terutama melalui pertumbuhan pekerjaan di manufaktur dan jasa. Namun pembukaan smelter sendiri memberi gambaran yang lebih rumit: ia lebih banyak mendorong perubahan struktur pekerjaan dari pertanian menuju pertambangan dan manufaktur, tanpa banyak menambah total pekerjaan.

Studi Hiau Looi Kee dari World Bank dan Enze Xie dari Zhejiang University menunjukkan sisi lain. Pada industri yang menggunakan besi dan baja, kenaikan kandungan nilai domestik pascalarangan ekspor nikel berjalan bersama masuknya perusahaan yang lebih kecil dan kurang produktif, sehingga menimbulkan kehilangan efisiensi secara agregat pada kelompok industri tersebut.

Pesannya penting: nilai tambah domestik belum tentu sama dengan kemampuan produktif.

Namun tanda pendalaman industri juga nyata. IEA mencatat Indonesia kini memiliki pipeline manufaktur material anoda yang lebih besar daripada Jepang atau Korea. Industri prekursor katoda dan material katoda juga berkembang cepat.

Ketika Bijih Menjadi Input Strategis

Persoalan berikutnya muncul pada pasokan. Kuota awal RKAB nikel 2026 ditetapkan di kisaran 260–270 juta ton. Pemerintah kemudian mengevaluasi revisinya, dengan tambahan diarahkan terutama bagi smelter yang kekurangan pasokan.

Artinya, bijih nikel tidak lagi sekadar sesuatu yang harus sebanyak mungkin dikeluarkan dari bumi. Ia semakin menjadi input industri yang harus dialokasikan.

Mengurangi pasokan dapat membantu menopang harga dan memperpanjang umur cadangan. Tetapi bobot pasar bukan berarti kuasa menentukan harga tanpa batas. Harga nikel yang terlalu tinggi juga menaikkan biaya industri hilir dan dapat memperbesar insentif menggunakan teknologi yang membutuhkan lebih sedikit—atau sama sekali tidak menggunakan—nikel.

Pada 2025, baterai lithium iron phosphate atau LFP, yang tidak menggunakan nikel, sudah mencakup lebih dari 55 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global. Meski demikian, IEA tetap melihat permintaan nikel tumbuh kuat hingga 2040 di berbagai skenarionya.

Paradoks Mengimpor Nikel

Paradoks yang lebih menarik datang dari Filipina.

Pada semester I 2026, Indonesia mengimpor 8,57 juta ton bijih nikel dari negara itu. Sementara itu, kerja sama industri Indonesia dan Filipina berkembang dalam kerangka Indonesia-Philippines Nickel Corridor, yang menghubungkan kekuatan pengolahan Indonesia dengan pasokan bijih dari Filipina.

Sekilas, produsen nikel terbesar dunia yang mengimpor bijih terdengar ganjil. Tetapi ada kemungkinan menarik di baliknya. Bila Indonesia dapat mengolah sebagian bahan baku negara lain sambil menjaga cadangannya sendiri dan menangkap pekerjaan, teknologi, serta nilai industri di dalam negeri, impor tidak harus dibaca sebagai kelemahan. Ia dapat menjadi bagian dari perubahan posisi Indonesia: dari pemilik sumber daya menjadi pusat industri regional.

Tentu kemungkinan sebaliknya juga ada. Impor dapat mencerminkan kapasitas smelter yang berkembang lebih cepat daripada pasokan domestik. Ketergantungan pun tidak otomatis hilang hanya karena rantai produksi berpindah ke dalam negeri. Gangguan pasokan sulfur dari Timur Tengah tahun ini menunjukkan fasilitas HPAL Indonesia masih membutuhkan input penting dari luar.

Karena itu, kesimpulannya bukan bahwa produksi nikel harus terus dikurangi. Menahan produksi terlalu jauh dapat menurunkan utilisasi smelter dan melemahkan daya saing industri. Sebaliknya, mengejar produksi setinggi mungkin juga dapat menghabiskan cadangan tanpa memastikan kemampuan baru tumbuh di belakangnya.

Jumlah produksi optimal adalah hasil dari strategi, bukan strategi itu sendiri.

Dari Smelter, Apa Yang Kita Pelajari?

Fase pertama hilirisasi wajar diukur dari investasi, smelter, produksi, dan ekspor. Fase berikutnya membutuhkan ukuran tambahan: produktivitas, keterampilan, kedalaman pemasok, penguasaan teknologi, riset, dan kemampuan perusahaan domestik memasuki industri berikutnya.

Di situlah makna “mengubah kekayaan menjadi kekuatan” menjadi lebih konkret.

Kekayaan alam berkurang ketika ditambang. Pengetahuan dan kemampuan dapat bertambah ketika digunakan. Hilirisasi akan benar-benar mengubah kekayaan menjadi kekuatan bila, setelah nikelnya keluar dari bumi, Indonesia menjadi lebih mampu membuat sesuatu yang sebelumnya tidak mampu dibuatnya.