Orientasi Keilmuan dan Relevansinya di Setiap Zaman

Dosen Tetap di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen Tidak Tetap di Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang Kandidat Doktor Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Khidmah di PP. Bahrul Ulum Tambakberas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Izzul Islam An Najmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, muncul pernyataan publik mengenai wacana penutupan program studi (jurusan) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Isu ini memicu beragam tanggapan, terutama dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat yang menaruh perhatian pada masa depan pendidikan tinggi.
Di tengah dorongan agar kampus menghasilkan lulusan yang “siap kerja”, muncul pertanyaan mendasar: Apakah tujuan utama keilmuan memang semata-mata untuk memenuhi kebutuhan industri? Ataukah ilmu pengetahuan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menjadi alat produksi tenaga kerja?
Pengetahuan Tidak Selalu Harus Berakhir di Industri
Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, banyak cabang ilmu lahir bukan karena kebutuhan pasar, melainkan karena rasa ingin tahu. Ilmu teologis (agama), filsafat, astronomi, linguistik, antropologi, seni, sejarah, bahkan matematika murni berkembang dari dorongan manusia untuk memahami dunia.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak selalu memiliki tujuan praktis yang langsung terlihat. Banyak pengetahuan baru awalnya tampak tidak relevan secara ekonomi, tetapi kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan teknologi dan masyarakat.
Sebagai contoh, penelitian matematika abstrak pada abad lalu tidak dibuat untuk menciptakan internet atau keamanan digital. Namun hari ini, teori bilangan dan kriptografi menjadi dasar sistem keamanan data global. Pengetahuan yang dahulu dianggap “tidak praktis” ternyata menjadi fondasi industri masa depan.
Artinya, nilai sebuah ilmu tidak bisa diukur hanya dari kegunaannya saat ini. Banyak bidang ilmu membutuhkan waktu panjang untuk menunjukkan dampaknya.
Pendidikan Tinggi Tidak Sama dengan Pelatihan Kerja
Kampus bukan hanya tempat mencetak pekerja. Pendidikan tinggi memiliki fungsi yang lebih besar, yaitu membentuk manusia berpikir, menghasilkan gagasan, mengembangkan kritik sosial, dan menjaga keberlanjutan pengetahuan.
Jika universitas hanya berorientasi pada industri, pendidikan berpotensi berubah menjadi sekadar lembaga pelatihan kerja. Padahal, universitas memiliki tanggung jawab intelektual untuk menjaga keberagaman ilmu.
Program studi yang tidak dianggap “pasar” sering kali justru memiliki kontribusi besar dalam kehidupan sosial dan kebudayaan. Ilmu sastra, sejarah, filsafat, antropologi, dan kajian budaya membantu masyarakat memahami identitas, konflik, bahasa, hingga perubahan sosial. Tidak semua kontribusi ilmu dapat diukur dengan angka ekonomi.
Setiap Informasi Baru adalah Pengetahuan
Dalam dunia akademik, setiap informasi baru memiliki potensi menjadi pengetahuan. Pengetahuan tidak selalu berupa teknologi canggih atau inovasi industri. Sebuah observasi kecil, arsip budaya, bahasa lokal, tradisi masyarakat, atau fenomena sosial dapat menjadi sumber pengetahuan penting.
Pengetahuan bekerja seperti jaringan. Satu informasi dapat terlihat sederhana, tetapi ketika digabungkan dengan pengetahuan lain, ia menciptakan pemahaman yang lebih besar.
Misalnya, penelitian tentang bahasa daerah mungkin tampak tidak relevan bagi industri. Namun, dokumentasi bahasa dapat menyelamatkan identitas budaya, membantu riset linguistik, mendukung pendidikan, dan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang. Dalam konteks ini, orientasi ilmu tidak sekadar menciptakan produk, tetapi juga memperluas cara manusia memahami realitas.
Risiko Jika Pendidikan Hanya Mengikuti Pasar
Industri bersifat dinamis. Kebutuhan hari ini bisa berubah dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Jika program studi hanya dinilai berdasarkan tren pasar jangka pendek, pendidikan tinggi akan selalu tertinggal mengikuti perubahan. Terdapat beberapa risiko besar ketika universitas terlalu tunduk pada logika industri.
1. Ilmu yang tidak “menguntungkan” akan tersingkir.
2. Kampus kehilangan fungsi kritisnya terhadap masyarakat.
3. Ruang eksplorasi intelektual menjadi sempit.
4. Mahasiswa didorong hanya untuk mengejar pekerjaan, bukan memahami dunia.
5. Keberagaman keilmuan terancam hilang.
Ketika semua ilmu harus relevan secara ekonomi, pendidikan kehilangan salah satu nilai terbesarnya, yakni kebebasan berpikir.
Menjaga Ekosistem Pengetahuan
Universitas idealnya menjadi ruang yang melindungi keragaman pengetahuan. Ada ilmu yang menghasilkan teknologi, ada yang memperkuat budaya, ada yang mengkritik sistem sosial, dan ada yang memperkaya pemahaman manusia.
Ketika program studi ditutup hanya karena dianggap tidak sesuai dengan industri, kita perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan fungsi pendidikan tinggi. Keilmuan sangat tidak boleh hanya hidup ketika menghasilkan keuntungan ekonomi. Sebab, ilmu adalah investasi jangka panjang bagi peradaban.
Mungkin, hari ini, sebuah disiplin terlihat tidak relevan. Namun, siapa yang bisa memastikan bahwa pengetahuan tersebut tidak menjadi penting di masa depan?
Ketika Ilmu Dinilai dari Kacamata Industri
Di ruang publik, tidak sedikit muncul pernyataan dari influencer maupun tokoh di media sosial yang menyebut bahwa program studi seperti filsafat tidak penting karena tidak memiliki hubungan langsung dengan dunia industri. Pandangan seperti ini sering kali muncul dari cara berpikir yang menilai pendidikan hanya berdasarkan output ekonomi atau peluang kerja jangka pendek.
Namun, anggapan bahwa ilmu tertentu tidak penting hanya karena tidak tampak relevan dengan industri merupakan pandangan yang problematis. Keilmuan tidak lahir dari kebutuhan industri semata. Justru dalam banyak kasus, industri hadir karena adanya perkembangan pengetahuan dan gagasan yang dibangun oleh para pemikir.
Filsafat, misalnya, merupakan disiplin yang mengajarkan cara berpikir kritis, logis, dan reflektif. Banyak konsep modern tentang etika, demokrasi, hukum, ilmu pengetahuan, hingga teknologi lahir dari tradisi berpikir filosofis.
Industri tidak akan berkembang tanpa proses berpikir secara ontologis. Teknologi tidak akan lahir tanpa pertanyaan yang epistemologis. Inovasi tidak akan muncul tanpa imajinasi intelektual yang kemudian bernilai dan menghasilkan aksiologis.
Ketika seseorang menyebut bahwa filsafat tidak penting karena tidak dibutuhkan industri, yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan cara memandang ilmu. Pandangan tersebut mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan bekerja dalam jangka panjang dan memiliki dampak yang sering kali tidak langsung terlihat.
Banyak inovasi besar dalam sejarah tidak berasal dari kebutuhan industri saat itu, tetapi dari pencarian pengetahuan yang tampak “tidak praktis”. Para ilmuwan, filsuf, peneliti, dan pemikir membangun fondasi konseptual yang kemudian digunakan oleh masyarakat dan industri. Dengan kata lain, industri bukan pencipta utama ilmu pengetahuan, melainkan salah satu pengguna hasil perkembangan ilmu.
Ilmu akan Selalu Relevan di Setiap Zaman
Setiap disiplin ilmu lahir karena manusia menghadapi tantangan hidup yang terus berubah. Ilmu bukan sekadar kumpulan teori, melainkan juga cara manusia menjawab persoalan zamannya. Karena itu, ilmu yang beresensi pengetahuan tidak pernah benar-benar kehilangan relevansi. Yang berubah hanyalah konteks penerapannya.
Sebuah ilmu disebut disiplin ilmu karena memiliki metodologi, kerangka berpikir, dan objek kajian yang terus berkembang. Disiplin ilmu tidak berhenti pada satu masa, tetapi bergerak mengikuti perubahan zaman.
Dalam konteks ini, relevansi ilmu tidak selalu ditentukan oleh pasar kerja saat ini. Relevansi ilmu justru terlihat dari kemampuannya menjawab pertanyaan baru yang muncul di masa depan. Ketika masyarakat menghadapi tantangan baru—baik teknologi, sosial, budaya, maupun krisis kemanusiaan—setiap bidang ilmu memiliki potensi untuk berkontribusi.
Maka, mempertanyakan keberadaan suatu ilmu hanya karena tidak terlihat penting bagi industri hari ini adalah cara pandang yang terlalu sempit, karena relevansi tidak harus berarti komersial.
Orientasi utama keilmuan seharusnya adalah pengetahuan. Industri dapat menjadi salah satu ruang penerapan ilmu, tetapi bukan satu-satunya ukuran nilai sebuah disiplin. Semua ilmu memiliki perannya masing-masing, meskipun tidak selalu berkaitan langsung dengan keuntungan ekonomi atau kebutuhan industri. Sebab, tujuan utama keilmuan adalah memperluas pengetahuan manusia.
Industri memang penting, tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran nilai sebuah disiplin ilmu. Selama sebuah ilmu berakar pada pengetahuan dan membantu manusia memahami tantangan zaman, ilmu tersebut akan selalu memiliki tempat dan relevansi.
