Polling kumparan: 13,07 Persen Pembaca Sudah Vaksin HPV

Sebanyak 13,07 persen atau 26 pembaca kumparan sudah vaksin HPV. Angka ini merupakan hasil polling kumparan yang dilakukan pada 10 sampai 24 Agustus 2026.
Total ada sebanyak 199 responden yang menjawab polling ini. Sementara, terdapat 48,24 persen atau 96 orang mengaku tidak tertarik dengan vaksin HPV. Terdapat 38,69 persen atau 77 responden yang mengaku belum vaksin HPV, tetapi tertarik untuk mencoba vaksin tersebut.
Vaksin HPV atau human papillomavirus ternyata tidak hanya mencegah kanker serviks. Lebih dari itu, ternyata vaksin HPV benar-benar dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Sepanjang 2020 hingga 2024, untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan data kesehatan di Inggris, tidak ada satu pun perempuan usia 20-24 tahun di negara itu yang meninggal akibat kanker serviks.
Padahal, tanpa program vaksinasi, model statistik para peneliti memperkirakan sekitar 23 kematian semestinya terjadi pada kelompok usia dan periode yang sama.
Temuan ini berasal dari tim Queen Mary University of London yang dipimpin Profesor Peter Sasieni, dengan menganalisis data cakupan vaksinasi HPV periode 2008-2018 berdampingan dengan data kematian akibat kanker serviks di Inggris sejak 2001 hingga 2024. Hal ini dibuktikan oleh sebuah studi besar di jurnal The Lancet pada 17 Juni 2026.
Studi yang didanai Cancer Research UK ini mendapati penurunan kematian paling besar justru pada perempuan usia 20-24 dan 25-29 tahun. Ini adalah kelompok yang pertama kali menerima vaksin HPV semasa sekolah lewat program nasional yang dimulai tahun 2008.
Peneliti juga menemukan hubungan dosis-respons yang jelas: Makin tinggi cakupan vaksinasi di satu kelompok kelahiran, makin besar penurunan angka kematiannya.
Sebelum mencapai titik nol pada 2020-2024, kelompok usia 20-24 tahun ini sudah mencatat penurunan kematian sekitar 80 persen pada periode 2015-2019.
Secara kumulatif, peneliti memperkirakan vaksinasi HPV telah mencegah sekitar 200 kematian akibat kanker serviks di Inggris hingga akhir 2024. Mereka juga memproyeksikan bahwa anak yang divaksin pada usia 12-13 tahun kini punya risiko meninggal akibat kanker serviks sebelum usia 30 tahun yang mendekati nol.
"Ini adalah tonggak sejarah yang luar biasa dan kemajuan besar dalam misi kami untuk mengalahkan kanker," kata Michelle Mitchell, kepala eksekutif Cancer Research UK, mengutip IFL Science.
Kita tahu bahwa vaksin HPV sangat efektif dalam menghentikan kanker serviks sebelum dimulai dan untuk pertama kalinya, temuan ini menunjukkan bahwa vaksin ini menyelamatkan nyawa.
- Michelle Mitchell, Kepala Eksekutif Cancer Research UK -
Kini Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) pun juga mulai memberikan vaksin Human Papillomavirus (HPV) bagi anak laki-laki dalam pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Agustus 2026. Program ini akan dimulai di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali, sebelum diperluas secara bertahap hingga ditargetkan berlaku secara nasional pada 2029.
Direktur Imunisasi Kemenkes, Indri Yogyaswari, mengatakan pemberian vaksin HPV kepada anak laki-laki dilakukan dalam rangka eliminasi kanker leher rahim pada perempuan.
“Jadi memang di tahun ini kami rencanakan untuk BIAS Agustus, kita akan memulai introduksi pemberian vaksin HPV pada anak laki-laki di tiga provinsi. Jadi betul di Yogyakarta, kemudian di Jakarta dan Bali,” kata Indri dalam media briefing, Selasa (4/8).
Indri menjelaskan, pemberian vaksin HPV bagi anak laki-laki sebelumnya telah masuk dalam Rencana Aksi Nasional (Renaksi).
