Prai Salura: Kondisi Pendidikan di Wilayah Perbatasan Indonesia–Australia

Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Pulau Terluar - Barakati Indonesia. Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andarifka Daffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Prai Salura merupakan sebuah pulau kecil di wilayah Nusa Tenggara Timur yang masih jarang dikenal oleh masyarakat luas. Terletak di bagian selatan Indonesia dan termasuk wilayah pulau terluar dan terdepan, Salura menghadapi berbagai keterbatasan akses serta tantangan pembangunan. Kegiatan pengabdian masyarakat di pulau ini dilaksanakan di bawah naungan Yayasan Barakati Indonesia, lembaga yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), termasuk Mentawai, Supiori, Runduma, dan sejumlah daerah terpencil lainnya.

Melalui kegiatan ini, Barakati mengajak masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan sosial sekaligus berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, sektor pendidikan dan kebudayaan difasilitasi oleh Andarifka, bersama delapan delegasi dengan latar belakang beragam, mulai dari guru, mahasiswa S2, bidan, hingga profesional dari berbagai bidang.
Ekspedisi tersebut dipersiapkan selama dua bulan dan dilaksanakan selama dua minggu di lapangan. Persiapan meliputi penyusunan program kerja serta pemaparan rencana kegiatan kepada masyarakat melalui pertemuan daring bersama para pemangku kepentingan dan tim Barakati.
Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua minggu dan dipersiapkan selama dua bulan, meliputi penyusunan program kerja serta pemaparan rencana kegiatan kepada masyarakat melalui pertemuan daring bersama para pemangku kepentingan dan tim Barakati. Setelah tahap persiapan, tim berkumpul di Surabaya dan menempuh perjalanan laut selama tiga hari dua malam hingga tiba di Waingapu. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Katundu dengan estimasi waktu sekitar lima jam.
Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur laut melintasi Samudra Hindia menggunakan perahu nelayan. Setibanya di Pulau Salura, tim disambut oleh masyarakat setempat. Selanjutnya, tim berkumpul di rumah Perangkat Desa untuk memaparkan program kegiatan yang akan dilaksanakan selama pengabdian, yang mencakup tiga sektor utama, yakni sektor kesehatan, sektor pendidikan dan kebudayaan, serta sektor Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Alam (PSDMA).
Tim kemudian menuju sumur alam untuk mengikuti tradisi adat setempat berupa pemasangan gelang lontar. Dalam prosesi tersebut, para tamu diminta menyiramkan air sumur ke tangan sebagai simbol penyambutan, sebuah tradisi yang masih dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Salura.
Setelah itu, setiap sektor menjalankan program sesuai dengan tugas masing-masing. Pada sektor pendidikan, terdapat enam program kerja yang dilaksanakan, yakni Forum Guru, Suara Salura, Pustaka Pulau, Kelas Inspirasi, Kenali Kom Tubuh, dan Sekolah Alam Salura.
Desa ini memiliki tiga sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga MA. MA Safinatunnajah. Sekolah ini berdiri dari hasil swadaya masyarakat yang prihatin melihat anak-anak harus menyeberangi pulau untuk melanjutkan pendidikan. Meski fasilitas yang tersedia masih terbatas, semangat belajar mengajar guru dan siswa tetap luar biasa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa akses pendidikan di wilayah terluar Indonesia masih jauh dari pemerataan. Namun, semangat dan dedikasi masyarakat setempat menjadi pengingat bahwa lembaga terkait memiliki tanggung jawab nyata untuk mendukung pendidikan di daerah 3T.
Selain keterbatasan fasilitas, guru di Salura juga menghadapi tantangan kurikulum yang sering berubah dari pusat. Mereka harus menyesuaikan diri dengan Kurikulum Merdeka, yang mengharuskan pelatihan berkala di kota, jauh dari desa mereka.
Namun, tidak semua sekolah mampu menerapkan kurikulum ini secara optimal. Faktor seperti fasilitas yang terbatas, sinyal internet yang minim, hingga kebutuhan siswa untuk membantu keluarga menjadi kendala nyata dalam proses belajar mengajar. Kondisi ini menunjukkan perlunya dukungan lebih dari lembaga terkait agar pendidikan di wilayah terluar dapat berjalan lebih merata dan berkualitas.
Namun, semangat tersebut tidak seharusnya berjalan sendiri. Diperlukan kehadiran dan tanggung jawab yang lebih nyata dari lembaga terkait agar pendidikan di pulau-pulau terluar seperti Halura tidak terus bertahan dalam kondisi darurat, melainkan dapat berkembang secara layak dan berkelanjutan.
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan ke salah satu sudut Indonesia, melainkan kesempatan untuk berbagi, belajar, dan berkontribusi. Andarifka pun belajar banyak dari guru dan pelajar di Salura.
"Semoga upaya ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk mendukung pendidikan di wilayah terluar Indonesia, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan bermimpi." Ujar Andarifka Daffa Aryabima.
