Ragam Cerita Keluarga Korban Tragedi Kereta Tabrak KRL di Bekasi Timur

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pemakaman Nur Aina Eka Rahmadhyna, seorang jurnalis KompasTV, yang tewas dalam tabrakan maut antara KA Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, pada Rabu (29/4/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pemakaman Nur Aina Eka Rahmadhyna, seorang jurnalis KompasTV, yang tewas dalam tabrakan maut antara KA Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, pada Rabu (29/4/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Hari kedua semenjak insiden kereta api tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Gerbong KRL yang ringsek telah disingkirkan dari relnya, dan stasiun yang sempat sepi berangsur ramai.

Yang tersisa; mereka yang mengenang dan mereka yang melepas. Insiden maut ini merenggut 16 nyawa, dan berikut adalah sejumlah cerita dan kenangan soal mereka.

Pilu Radit di Pusara Istrinya, Korban Tragedi Stasiun Bekasi Timur

Radit (36) melepas istrinya, Harum Anjarsari (30), ke peristirahatan terakhir di TPU Cipayung, Jakarta Timur, setelah Harum menjadi salah satu dari 16 korban tewas dalam tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur. Di tengah duka, Radit mengenang pekan yang seharusnya menjadi momen bahagia keluarga mereka sebelum dirinya mutasi ke Tasikmalaya.

Suasana pemakaman Harum Anjarsari di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

“Kemarin tuh seharusnya kita sudah mulai mau jalan-jalan,” kenang Radit.

Harum, yang tetap masuk kerja demi menghadiri halal bihalal kantor meski sudah cuti, dikenang sebagai sosok pekerja keras dan istri yang baik. Radit mengaku sempat merasa bersalah melihat istrinya bekerja tanpa lelah.

“Dia keras kepala, tapi positif. Enggak pernah mau berhenti kerja. Saya sempat merasa bersalah, kenapa dia harus kerja sekeras ini,” ujar Radit.

Ia menambahkan, “Istri yang baik, baik banget. Baik banget, istri yang baik.”

Malam kecelakaan, komunikasi terakhir mereka terjadi saat Harum memberi kabar sudah tiba di Stasiun Bekasi Timur. Sesaat kemudian, Harum mengirim pesan yang menjadi kontak terakhir mereka: “Sayang, ini keretanya nabrak ini... nabrak mobil,” katanya.

Setelah itu, Radit kehilangan kabar dan bergegas mencari istrinya di lokasi kecelakaan hingga sejumlah rumah sakit.

Pencarian Radit berlangsung semalaman. Harapannya sempat muncul saat ponsel Harum masih aktif, namun yang menjawab justru petugas damkar. Dalam cemas, ia terus berharap istrinya selamat.

“Saya berdoanya ya handphone-nya aja yang di situ, jadi orangnya istri saya tuh sudah di rumah sakit,” ucapnya. Namun pencarian berakhir pilu setelah jenazah Harum teridentifikasi di RS Polri Kramat Jati melalui pencocokan DNA.

Meski kehilangan istrinya akibat kecelakaan yang dipicu taksi mogok di rel, Radit memilih tidak menyalahkan keadaan. Ia memandang tragedi itu sebagai takdir.

“Manusiawi kalau marah. Tapi kalau menyalahkan kejadian, buat saya enggak dewasa. Apapun sudah digariskan Tuhan. Nikah, punya anak, sampai meninggal pun sudah ditulis,” tuturnya.

Hal yang paling membebani batin Radit justru rasa bersalah kepada keluarga istrinya, karena merasa gagal menjaga Harum.

“Kan pasti ya kalau nikahin anak orang tuh apalagi seorang laki-laki selalu nitipin anaknya, nah saya ngerasa bersalah aja nggak bisa jaga anaknya, nggak bisa jaga istri saya,” ujarnya.

Kini, ia harus membesarkan dua anak mereka yang masih berusia 7 dan 3 tahun tanpa sosok ibu yang selama ini menjadi pusat keluarga.

Cerita Korban 10 Jam Terjepit di KRL: Tidur di Atas Orang-Lihat Korban Jiwa

Endang Kuswati (40), salah satu penumpang gerbong khusus wanita, harus bertahan hidup selama 10 jam dalam kondisi terjepit.

Pada Senin (27/4) malam, KRL yang ditumpanginya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek.

"Jadi aku dapat salah satu foto dari pers itu korban itu masih di dalam dalam kondisi lemas dan sudah di dalam proses oksigen ya, karena di situ dia sudah posisinya sudah dari jam 9 malam juga untuk terjepit gitu," kata Iqbal.

Petugas Basarnas masih berusaha mengevakuasi penumpang KRL Commuterline yang masih terjepit di gerbong KRL Commuterline akibat tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Endang baru berhasil dievakuasi pada Selasa pagi.

Dia termasuk korban terakhir yang dievakuasi.

"Dia sampai tidur di reruntuhan orang ya, karena dia cukup banyak, karena di bawah ataupun di belakangnya itu masih banyak, ada beberapa yang meninggal," ucap Iqbal menceritakan ulang kisah Endang.

Kisah Sausan, Korban Tabrakan Kereta: Terlempar hingga Tersangkut di Rak Bagasi

Kecelakaan KA Argo Bromo menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur menyisakan cerita dari para penumpang selamat.

Salah satunya adalah Sausan (30), penumpang KRL tujuan Stasiun Tambun.

"Posisi duduk di sebelah kiri ya. Dia juga nggak tahu, lagi main HP, jadi langsung bunyi 'brak' gitu. Dia kayak enggak sadar, ingat-ingat posisi sudah ada di atas (rak bagasi) yang biasa kita naruh-naruh barang. Nah, dia sudah di situ," kata Yuli di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4).

Petugas mengevakuasi korban yang terjebak di dalam gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Saat ditemui sang kakak di lokasi, Sausan dalam kondisi lemas dan bertanya mengenai keadaannya sendiri serta barang bawaannya.

Sausan mengalami patah tulang lengan kiri dan luka robek di paha kiri.

"Lemas Kak. Aku masih hidup Kak? Tas aku Kak, handphone aku Kak?" ucapnya menirukan Sausan.

Pemred Kompas TV Kenang Sosok Pegawainya yang Jadi Korban Tabrakan KRL di Bekasi

Karyawan Kompas TV, Nur Ainia Eka Rahmadhynna (Ain), menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam insiden kecelakaan kereta api menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Pemimpin Redaksi Kompas TV, Yogi Arief Nugroho, menyampaikan belasungkawa atas kepergian Ain.

Ibu dari Nur Aina Eka Rahmadhyna, seorang jurnalis KompasTV, yang tewas dalam tabrakan maut antara KA Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, menangis selama prosesi pemakaman di Bekasi, Rabu (29/4/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kami keluarga besar Kompas TV dan redaksi Kompas TV mengalami kehilangan yang luar biasa atas kepergian rekan kami, rekan kerja, sahabat, saudara kami," kata Yogi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4).

Yogi mengatakan, almarhumah dikenal sebagai sosok yang sangat membantu dalam proses siaran.

Sejak bergabung pada November 2015 lalu, Ain bertugas di Departemen Production Support.

"Akhirnya pukul pagi kita sudah putuskan krisis, kita siapkan untuk yang terburuk sembari berdoa tetap ada mukjizat. Tapi sekitar siang tadi pukul 14.00 kami mendapat konfirmasi bahwa rekan kami, sahabat kami, teman kerja kami sudah berpulang," ucapnya.

Sosok Citra, Perantau Asal Jambi Korban Tabrakan KRL di Bekasi: Selalu Ceria

Sosok Nur Alimantun Citra (19), salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur, dikenang sebagai pribadi yang ceria dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Aku sedih banget, bener-bener sedih. Karena almarhumah ya orangnya ceria gitu. Terus kalo ke temen-temennya itu bener-bener care. Ya sering banget nanya, 'Cath lu kenapa'. Makanya waktu ngedenger kabar ini, bakal kebayang nanti nggak ada yang nanya gitu kali ya. Nggak ada yang se-care itu lagi kali ya sama gue,” kata Catherine saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4).

Catherine (19) dan Riza (21), kerabat salah satu korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Riza (21), teman satu kampusnya, menjadi orang terakhir yang bertemu langsung dengan Citra sebelum kejadian nahas itu.

Kebetulan tujuan di keretanya sama, cuma beda rute saja.

“Jadi kita memang satu kampus, jadi bareng-bareng pulangnya. Kebetulan tujuan di keretanya sama, cuma beda rute saja. Jadi kita memang ada rencana buat bareng kan dari awal di kampus, terus sempat ngobrol-ngobrol, terus sebelum kereta juga sempat kita ngobrol-ngobrol dulu bentar, bincang-bincang,” ujarnya.