Konten dari Pengguna

Riset Dana Pensiun: 86% Pekerja Tidak Siap Pensiun

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah penelitian dana pensiun terbaru berjudul “Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia” yang dilakukan oleh Syarifudin Yunus (Dosen Unindra) dan Farid Nabil Elsyarif (KKA Edial) yang diterbitkan jurnal ilmiah pada April 2026 menyebutkan mayoritas pekerja belum memiliki kesiapan pensiun yang memadai. Terdapat 86% pekerja belum siap pensiun dan 89% pekerja belum punya dana pensiun sukarela. Artinya, dapat disimpulkan 9 dari 10 pekerja tidak siap untuk pensiun. Hanya 1 pekerja yang siap berhenti bekerja atas sebab apapun.

Untuk menjawab, apakah pekerja mengandalkan penyediaan dana pensiun dari tempatnya bekerja? Ternyata, 80% pekerja tidak mengandalkan dana pensiun dari tempat kerjanya. Tapi hanya 45,5% pekerja yang merasa yakin dapat memenuhi kebutuhan hidup di masa tua. Kondisi ini menyiratkan adanya pseudo-awareness (kesadaran semu), di mana pekerja tahu dana pensiun penting tapi sebenaranya belum punya dana pensiun. Terbukti pula, rendahnya literasi dana pensiun pada pekerja tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tapi hasil dari kombinasi berbagai faktor, seperti rendahnya kesadaran, perilaku keuangan jangka pendek, kompleksitas produk, serta belum optimalnya edukasi dan pemanfaatan digitalisasi di dana pensiun.

Penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori ini mempertegas tingkat determinasi rendahnya literasi dana pensiun pada pekerja. Dengan melibatkan 66 responden pekerja sektor formal dan informal di Jakarta, penelitian dana pensiun ini mempertegas adanya ketidaksesuaian antara persepsi dan realitas perilaku dana pensiun di kalangan pekerja. Terjadi kesenjangan antara pemahaman (awareness) dan implementasi (action) soal dana pensiun. Karenanya, peningkatan literasi dana pensiun memerlukan pendekatan yang terintegrasi antara edukasi yang bersifat transformatif dan digitalisasi yang mempermudah akses kepesertaan dana pensiun sukarelai. Edukasi harus mampu mendorong perubahan perilaku, sementara digitalisasi berperan sebagai enabler yang menyederhanakan proses, meningkatkan keterjangkauan, dan memperluas jangkauan literasi. Sinergi antara edukasi, teknologi digital, dan dukungan kebijakan menjadi kunci dalam meningkatkan kesiapan finansial pekerja menghadapi masa pensiun yang berkualitas.

Penelitian tentang “Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun pada Pekerja: Peran Edukasi dan Digitalisasi dalam Industri Dana Pensiun di Indonesia” secara lengkap dapat disimak di Jurnal Manajemen Bisnis Digital Terkini, Volume. 3 No. 2 April 2026 hal 01-15 dengan DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v3i2.1308 di link: https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JUMBIDTER/article/view/1308

Penelitian dana pensiun tentang determinasi rendahnya literasi dana pensiun

Memang potensi pasar dana pensiun, khususnya DPLK di kalangan pekerja sangat besar. Ada 150 juta pekerja (60% di sektor informal dan 40% di sektor informal) di Indonesia, namun inovasi pendekatannya ke pekerja harus lebih divariasikan, sesuai kebutuhann dan kondisi pekerja. Salah satunya, berbasis data seperti penelitian dan melihat tren yang terjadi di pasar pekerja Indonesia. Tujuannya hanya satu, untuk menyiapkan masa pensiun atau hari tua pekerja yang lebih nyaman dan berkualitas. Punya kesinambungan penghasilan di hari tua, tanpa merepotkan anak atau keluarga di masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #PenelitianDanaPensiun #EdukasiDPLK