Saksikan Bentornya Dihancurkan, Sugiyo: Sedih, tapi Dapat yang Lebih Baik
·waktu baca 2 menit

Sebanyak 50 becak motor (bentor) dimusnahkan usai para pengemudi bentor Malioboro menerima becak listrik bantuan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Yogyakarta, Rabu (3/6).
Bagi sebagian pengayuh, penghancuran bentor bukan sekadar pergantian kendaraan, melainkan perpisahan dengan alat mencari nafkah yang telah menemani mereka selama bertahun-tahun.
Sugiyo Pranoto (65), pengemudi bentor asal Pandak, Bantul, menjadi salah satu penerima becak listrik dalam program tersebut. Bentor yang digunakannya sejak 2015 harus diserahkan untuk dihancurkan sebagai syarat menerima kendaraan baru.
“Sedih ya, tapi suka sekali, dapat yang lebih baik,” kata Sugiyo ke Pandangan Jogja, Rabu (3/6).
Pria yang telah mengayuh becak sejak 1981 itu mengaku becak listrik memberi harapan baru di usia yang tidak lagi muda. Selain lebih ringan dioperasikan, kendaraan baru tersebut dinilai dapat memangkas biaya operasional karena tidak lagi bergantung pada bensin.
“Lebih murah. Sudah untung nggak beli bensin karena mahal. Sekarang cuma pakai listrik saja,” ujarnya.
Selama menggunakan bentor, Sugiyo menghabiskan sekitar satu liter bensin per hari untuk bekerja sekaligus perjalanan pulang-pergi dari rumahnya di Bantul ke Kota Yogyakarta.
Di lokasi yang sama, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan penghancuran bentor dilakukan untuk memastikan program transisi menuju becak listrik berjalan efektif dan tidak memunculkan armada baru.
“Begitu menerima becak listrik, becak motornya dihancurkan. Harapan saya tidak ada orang yang menambah becak baru dalam bentuk konvensional,” ujar Hasto.
Menurut Hasto, hingga saat ini sudah sekitar 260 becak listrik beroperasi di Kota Yogyakarta. Pemkot menargetkan sekitar 900 bentor yang masih beroperasi dapat tergantikan dalam dua tahun ke depan, dengan sasaran akhir Malioboro bebas bentor pada 2028.
