Konten dari Pengguna

Sampah yang Kita Buang, Bencana yang Kita Undang

Natalius Sebayang

Natalius Sebayang

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natalius Sebayang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pilihan hari ini menentukan: mewariskan bencana atau menjaga masa depan bumi. Gambar ini dihasilkan oleh Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Pilihan hari ini menentukan: mewariskan bencana atau menjaga masa depan bumi. Gambar ini dihasilkan oleh Gemini AI

Setiap hari, tanpa banyak berpikir, kita membuang sampah. Sisa makanan setelah makan siang, bungkus kopi instan yang habis diminum, kantong plastik dari belanja harian, hingga kardus bekas belanja daring. Aktivitas itu begitu biasa sehingga nyaris tidak pernah dipertanyakan. Sampah dianggap hilang begitu saja setelah diangkut petugas kebersihan atau dibuang ke tempat penampungan sementara. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Sampah yang kita buang tidak pernah benar-benar lenyap. Ia hanya berpindah tempat, menumpuk di tempat pembuangan akhir, mencemari sungai dan laut, menghasilkan gas berbahaya, bahkan dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi bencana yang merenggut nyawa.

Indonesia sedang menghadapi persoalan sampah yang semakin serius. Ironisnya, persoalan ini kerap dipandang sebagai masalah teknis semata, seolah cukup diselesaikan dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan akhir. Padahal, akar masalahnya jauh lebih kompleks. Pengelolaan sampah di Indonesia masih menghadapi persoalan tata kelola, lemahnya penegakan regulasi, minimnya kesadaran masyarakat, serta rendahnya komitmen untuk mengubah pola konsumsi yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Sudut pandang yang hendak saya tegaskan dalam tulisan ini sederhana tetapi mendasar: persoalan sampah bukan sekadar urusan kebersihan lingkungan, melainkan persoalan peradaban. Cara sebuah bangsa memperlakukan sampah mencerminkan kualitas tanggung jawab sosial, efektivitas kebijakan publik, dan tingkat kepedulian warganya terhadap masa depan bersama. Jika pengelolaan sampah terus diabaikan, kita sedang menyiapkan berbagai bencana ekologis, kesehatan, dan sosial untuk generasi mendatang.

Sampah yang Terus Bertambah, Kesadaran yang Tertinggal

Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perubahan gaya hidup, dan meningkatnya konsumsi masyarakat menyebabkan jumlah sampah di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Di sisi lain, kemampuan sistem pengelolaan sampah tidak berkembang secepat laju timbulan sampah itu sendiri.

Data Kementerian Lingkungan Hidup melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa timbulan sampah Indonesia masih berada pada angka yang sangat besar. Bahkan, berdasarkan data nasional tahun 2023, Indonesia menghasilkan sekitar 56,63 juta ton sampah per tahun. Namun, hanya sekitar 39,01 persen yang berhasil dikelola secara layak. Sisanya masih berpotensi berakhir di tempat pembuangan terbuka, dibakar secara sembarangan, atau mencemari lingkungan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara produksi sampah dan kapasitas pengelolaannya.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat berbagai konsekuensi nyata yang dirasakan masyarakat. Tumpukan sampah yang tidak tertangani dapat menyumbat saluran drainase dan memperparah banjir ketika musim hujan tiba. Pembakaran sampah secara terbuka menghasilkan polutan yang membahayakan kesehatan. Sampah plastik yang terbawa aliran sungai bermuara ke laut dan mengancam ekosistem pesisir. Sementara itu, tempat pembuangan akhir yang sudah melebihi kapasitas menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana.

Masalahnya menjadi semakin rumit karena sebagian masyarakat masih memandang pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab pemerintah semata. Setelah sampah keluar dari rumah, urusan dianggap selesai. Padahal, konsep pengelolaan sampah modern justru menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Kebiasaan memilah sampah dari rumah masih belum menjadi budaya yang mengakar. Banyak rumah tangga mencampur sampah organik, plastik, kaca, kertas, hingga limbah berbahaya dalam satu wadah. Akibatnya, proses daur ulang menjadi lebih sulit dan mahal. Padahal, sebagian besar sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dipisahkan dengan benar sejak awal.

Persoalan sampah juga berkaitan erat dengan budaya konsumsi masyarakat. Kemudahan memperoleh makanan siap saji, meningkatnya penggunaan kemasan sekali pakai, serta maraknya perdagangan daring telah menghasilkan lonjakan sampah kemasan dalam jumlah besar. Tanpa disadari, pola hidup yang mengutamakan kepraktisan turut menyumbang beban besar bagi lingkungan.

Kita sering kali lebih memilih menerima lima kantong plastik tambahan daripada membawa tas belanja sendiri. Kita lebih nyaman membeli air minum kemasan daripada menggunakan botol isi ulang. Kita lebih suka membeli barang baru daripada memperbaiki barang lama. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu tampak sepele, tetapi jika dilakukan oleh jutaan orang setiap hari, dampaknya menjadi luar biasa besar.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian masyarakat masih menganggap membuang sampah sembarangan sebagai tindakan yang lumrah. Sungai diperlakukan seperti tempat sampah raksasa. Lahan kosong dijadikan lokasi pembuangan liar. Bahkan, membakar sampah di pekarangan rumah masih dianggap solusi praktis tanpa mempertimbangkan dampak kesehatannya.

Padahal, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pembakaran sampah terbuka dapat menghasilkan zat berbahaya yang memengaruhi kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Kebiasaan semacam ini lahir bukan hanya karena kurangnya fasilitas, tetapi juga karena rendahnya literasi lingkungan.

Pada titik inilah persoalan sampah berubah menjadi persoalan perilaku. Infrastruktur memang penting, tetapi perubahan budaya jauh lebih menentukan. Tidak ada sistem pengelolaan sampah yang akan berhasil apabila masyarakat tetap memproduksi sampah secara berlebihan tanpa disertai tanggung jawab untuk mengelolanya.

Ketika Sampah Berubah Menjadi Bencana

Sebagian orang mungkin masih bertanya: benarkah sampah dapat menjadi bencana?

Sejarah Indonesia telah memberikan jawabannya.

Pada 21 Februari 2005, tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, mengguncang kesadaran bangsa ini. Tumpukan sampah yang menggunung longsor akibat akumulasi gas metana dan curah hujan tinggi. Dua kampung tertimbun, dan sedikitnya 157 orang kehilangan nyawa. Peristiwa tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional setiap tanggal 21 Februari.

Leuwigajah seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa pengelolaan sampah yang buruk bukan hanya menciptakan lingkungan yang kumuh, melainkan juga mengancam keselamatan manusia. Namun, dua dekade setelah tragedi itu terjadi, berbagai persoalan serupa masih terus berulang di berbagai daerah.

Banyak tempat pembuangan akhir di Indonesia masih menggunakan sistem pembuangan terbuka atau open dumping. Praktik ini memungkinkan sampah ditumpuk begitu saja tanpa pengolahan yang memadai. Air lindi dapat mencemari tanah dan sumber air, sementara gas metana yang dihasilkan berpotensi memicu kebakaran maupun ledakan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya belajar dari masa lalu. Pembangunan sektor persampahan sering kali belum menjadi prioritas utama dalam perencanaan daerah. Anggaran yang terbatas, lemahnya pengawasan, serta rendahnya kapasitas kelembagaan menyebabkan persoalan sampah terus diwariskan dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.

Padahal, jika dikelola dengan baik, sampah tidak selalu menjadi ancaman. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos. Sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri. Gas metana dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Bahkan, pengelolaan sampah yang terintegrasi mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.

Persoalannya, transformasi menuju sistem pengelolaan yang berkelanjutan membutuhkan keberanian politik, investasi yang memadai, serta perubahan perilaku masyarakat secara kolektif.

Sampah yang kita hasilkan setiap hari pada akhirnya adalah cerminan pilihan-pilihan kecil yang kita ambil sebagai individu dan keputusan-keputusan besar yang diambil oleh para pemangku kebijakan. Jika pilihan itu terus mengabaikan keberlanjutan, maka tumpukan sampah tidak hanya akan memenuhi tempat pembuangan akhir, tetapi juga mengikis kualitas hidup kita sendiri.

Dengan demikian, sudah saatnya kita berhenti memandang sampah sebagai urusan pinggiran. Sampah adalah isu publik yang menyangkut kesehatan, lingkungan, ekonomi, bahkan hak setiap warga negara untuk hidup dalam lingkungan yang bersih dan aman. Mengabaikan persoalan ini berarti membiarkan bencana menunggu waktunya untuk datang.