Sastra di Tengah Dominasi Kecerdasan Buatan
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kecerdasan Buatan alias Artificial Intelligence (AI) konon dewasa ini sudah mendominasi kehidupan. Sebab, ia memiliki kemampuan guna memproses data besar secara instan. Ia juga mengenali pola, lantaran belajar dari berbagai data untuk mendapatkan persamaan, keteraturan, dan ciri khas.
Serta, memanfaatkan temuan itu dalam upaya menebak, meramalkan, atau memutuskan sesuatu tanpa harus melalui pemrograman kaku. Misalnya tentang aplikasi musik (Spotify). Kecerdasan buatan mencatat genre lagu yang sering seseorang memutarnya tiap hari. Ia mengenali selera musikal seseorang itu dan menebak lantas memasukkan lagu baru ke daftar putar.
Kecerdasan buatan pun belajar mandiri mengotomatisasi berbagai aspek. Belajar mandiri dengan teknik machine learning atau deep learning guna memperkaya data baru. Selain itu, ia menyelesaikan pekerjaan fisik atau digital secara cepat tanpa perlu sokongan tenaga manusia.
Contoh riil, ia menjadi power dari sistem rekomendasi pada toko online dengan mencatat kebiasaan belanja dari para pembeli yang mengakses dan otomatis menampilkan barang yang mereka sukai.
Demikianlah, sejarah peradaban umat manusia di seantero Bumi mengetengahkan episode kehidupan, betapa dewasa ini hampir di semua sektor, kecerdasan buatan telah mengubah cara para homo sapiens (bahasa Latin yang bermakna “manusia berakal” atau “manusia bijak”) bekerja, mencari informasi, dan mengambil keputusan.
Pertanyaan yang mengemuka, apakah penyebab kecerdasan buatan bisa mendominasi? Yang paling depan adalah kemampuannya membaca dan menganalisis jutaan data dalam hitungan detik. Kemudian sistemnya, yang terus membenahi akurasi dan pergerakan kinerjanya melalui algoritma machine learning.
Selanjutnya, kemampuan kecerdasan buatan melakukan efisiensi waktu. Sebab, tugas rutin dan repetitif, kini menjadi “camilan” yang bergulir melalui penyelesaian dengan pengunyahan mesin secara otomatis. Dan tidak ketinggalan, sistem digital yang beroperasi tanpa jeda tanpa mengenal penurunan stamina performa.
Pengaruh riil dalam kehidupan sehari-hari, di media sosial dan hiburan, algoritma kecerdasan buatan menjadi pengatur setia konten yang hadir di beranda dan sekaligus membangun kebiasaan para pengakses. Di navigasi dan transportasi, aplikasi peta pintar memandu rute perjalanan secara relatif akurat serta real-time.
Sementara itu, di bidang pendidikan dan kerja, chatbot dan asisten virtual membantu menulis, merangkum, hingga melakukan pencarian gagasan-gagasan baru. Di bidang kesehatan, teknologi pengenalan pola menolong dokter melakukan pendeteksian penyakit dengan pemindaian tubuh atau foto medis.
Karya Sastra
Di tengah-tengah fakta adanya dominasi kecerdasan buatan itu, di manakah sesungguhnya peran sastra yang benar-benar merupakan hasil tulisan manusia. Hal ini perlu mendapat pengaksentuasian, karena proses kreatif karya sastra pun ternyata tidak sepi dari sentuhan intervensi kecerdasan buatan itu.
Fakta menunjukkan, proses kreatif karya sastra dewasa ini bertalian pula dengan kecerdasan buatan. Ia bisa menjadi sarana pendukung untuk mengeksplorasi gagasan estetik, pengembangan alur cerita, dan pengayaan pilihan kata (diksi). Meskipun demikian, tetap memerlukan kendali, jiwa, dan kedalaman emosi penulis manusia. Dengan begitu, keaslian karya sastra tetap terjaga.
Adapun bentuk campur tangan kecerdasan buatan dalam proses kreatif karya sastra, dapat berupa eksplorasi gagasan. Penulis manusia memanfaatkan kecerdasan buatan guna menjaring inspirasi awal, merancang kerangka plot, dan melakukan penelitian latar belakang cerita.
Setelah itu, juga berupa penyuntingan diksi. Sistem algoritma kecerdasan buatan dapat menolong untuk memperkaya pilihan kata. Di samping itu, juga berfungsi untuk merapikan struktur kalimat agar lebih memenuhi asas koherensi. Hubungan logis antarkalimat dalam satu paragraf dan juga hubungan logis antarparagraf dalam suatu karya sastra (prosa).
Bila dalam proses kreatif suatu karya sastra seseorang menghadapi kendala berupa kemacetan mental (writer’s block), maka kecerdasan buatan dapat membantu mengatasinya dengan menghidangkan alternatif narasi secara cepat. Contoh bantuan itu misalnya terkait dengan kelanjutan plot.
Ketika seorang penulis kebingungan menentukan arah bagian selanjutnya sebuah cerita detektif (taruh misal), kecerdasan buatan bisa menyarankan sejumlah opsi. Seperti pelaku ternyata orang terdekat korban. Atau, korban memalsukan kematiannya. Atau lagi, sang detektif itu sendiri yang merupakan pelaku di luar kesadarannya.
Bantuan kecerdasan buatan itu, juga dapat terkait dengan masalah pengembangan dialog karakter. Manakala masalah yang muncul berupa kemandekan atau kekakuan dialog antarkarakter, kecerdasan buatan bisa merencanakan sejumlah variasi dialog yang memuat emosi tegang, sinis, atau sarat rahasia tersembunyi.
Kemungkin bantuan lain dari kecerdasan buatan adalah pembuatan deskripsi latar suasana. Manakala seorang penulis kerepotan mendeskripsikan (misalnya) suasana pasar malam nan suram, kecerdasan buatan dapat menghadirkan diksi puitis mengenai aroma minyak tanah, deru bianglala tua, dan lampu bohlam yang berkedip.
Bantuan kecerdasan buatan bisa datang dengan melakukan penyusunan premis dan konflik. Hal ini dengan cara membantu memetik gagasan fundamental. Misalnya menggabungkan genre fiksi historis dengan elemen surealisme lokal di suatu desa.
Dalam suatu fiksi historis dengan latar waktu pada zaman dahulu di sebuah desa riil atau mirip kenyataan. Di situ ada peristiwa sejarah atau suasana masa lalu yang menjadi dasar cerita. Lalu ada sentuhan surealisme lokal. Plus kejadian ajaib dan mimpi. Serta, hal aneh, berupa ambilan mitos, kepercayaan, atau cerita mistis khas suatu daerah. Terdapat adonan realitas sejarah dengan keajaiban mistis lokal. Tidak ada lagi batas dunia nyata dan gaib.
Contoh cerita, tersebutlah warga desa yang hidup pada zaman kolonial Belanda. Lalu ada kejadian aneh. Pohon sawo di tempat itu bisa berbicara. Atau, ada warga yang bayangannya bisa bergerak sendiri. Kejadian aneh ini merupakan hal yang lumrah dan berada di dalam ranah pemahaman warga. Dalam artian, warga tidak menganggapnya aneh. Sebab, sesuai dengan mitos leluhur mereka.
Walaupun ada celah peluang kerja sama antara penulis manusia dan kecerdasan buatan, seharusnya tetap ada batasan dan dominasi manusia. Di samping kelebihannya, kecerdasan buatan tetap mempunyai keterbatasan. Kecerdasan buatan bekerja berlandaskan data statistik dan pola bahasa. Tidak cukup optimal menghadirkan pengalaman hidup atau empati yang otentik.
Keunggulan kualitas utama suatu karya sastra juga sangat membutuhkan sentuhan akhir, kontemplasi mendalam, dan suara hati personal penulis manusia. Oleh karena itu, kolaborasi hibrida dibutuhkan di sini. Dengan pendekatan augmented creativity, penulis manusia memosisikan kecerdasan buatan sebagai mitra atau asistennya.
Pendekatan augmented creativity ini menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat bantu atau teman diskusi guna mendudah lebih dalam daya cipta. Dan, sudah barang tentu bukan memanfaatkannya sebagai kreator utama alias penulis pengganti yang menuliskan segalanya.
Bagaimanapun, penulis manusia tetap memegang kendali penuh atas arah, isi, dan orisinalitas suatu karya. Peran kecerdasan buatan, adalah sebagai teman diskusi untuk mencari gagasan atau plot cerita, asisten yang bisa cepat merapikan draf dan mencari data, serta penyunting untuk memperbaiki tata bahasa.
Sampai di sini, bisa jadi timbul pertanyaan, bagaimana membedakan mana karya sastra hasil tulisan kecerdasan buatan dan mana karya sastra hasil tulisan penulis manusia? Hal tersebut dapat menerima pencermatan berdasarkan kedalaman emosi, pola bahasa, dan pengalaman subjektif yang terukir di dalamnya.
Karya sastra hasil ciptaan penulis manusia memancarkan kesadaran dan memori hidup. Sementara itu, karya sastra hasil ciptaan kecerdasan buatan bekerja berlandaskan probabilitas statistik dan pola data.
Adapun ciri-ciri karya sastra hasil ciptaan penulis manusia terdapat sajian pengalaman subjektif. Berisikan riwayat batiniah, luka penderitaan, atau rangkulan bahagia yang tidak sempadan meniru data. Memancarkan gaya personal khas dengan ciri kepengarangan yang unik dan konsisten.
Sudah itu terkait dengan bahasa, struktur kalimat, panjang paragraf, dan diksi lebih bervariasi. Tidak dapat ditebak. Suatu ketidakpastian dinamis. Dalam proses pembahasaan, bisa saja terjadi pelanggaran aturan gramatika demi tujuan seni. Atau, pemunculan rasa mendalam.
Sementara itu, ciri-ciri karya sastra ciptaan kecerdasan buatan mempunyai prediktabilitas tinggi. Memilih rangkaian kata-kata yang secara statistik paling sering muncul di dalam data pelatihannya. Terusung sebagai akibat, yaitu diksi, alur, dan gaya bahasa cenderung datar, umum, dan kurang menyajikan kejutan emosional yang orisinal.
Penyebab prediktabilitas tinggi karya sastra hasil ciptaan kecerdasan buatan, karena ia bekerja dengan menebak kata berikutnya yang paling masuk akal berlandaskan rumus matematika. Selain itu, kecerdasan buatan tidak memiliki pengalaman nyata. Ia meniru pola yang sudah tersedia.
Struktur kalimatnya pun acapkali mirip dengan tulisan-tulisan yang terhidang di internet. Ada kecondongan pemakaian kata yang aman, biasa, dan secara frekuentatif banyak muncul dalam kegiatan berbahasa sehari-hari.
Ciri-ciri lainnya karya sastra hasil ciptaan kecerdasan buatan adalah gaya terlalu rapi dan datar. Gramatika begitu sangat teratur dan bersih dari kegalatan. Akan tetapi, terasa dingin dan kurang berjiwa. Selain itu, kurang mempunyai evolusi gaya personal yang otentik. Ada kecenderungan klise dalam pemanfaatan metafora.
Karya sastra hasil ciptaan penulis manusia datang menghambur dari oase pengalaman hidup dan pergulatan perasaan yang manusiawi. Sementara itu, buah garapan kecerdasan buatan merupakan tebakan pola kata dan data statistik. Ada keunggulan dalam persoalan struktur dan kecepatan. Meskipun demikian, manusia mempunyai jiwa dan daya khas yang belum tentu bisa mendapatkan rengkuh pengimitasian mesin.
Perbedaan utamanya, terletak pada sumber gagasan. Karya sastra jerih cipta penulis manusia berakar dari pengalaman batin, hujaman luka, gelora asmara, dan kelok liku sejarah kehidupan yang nyata. Adapun karya sastra hasil rekayasa kecerdasan buatan berakar dari kumpulan data teks yang pernah menjadi ungkapan kreasi manusia.
Perbedaan berikutnya berada di ranah rasa dan emosi. Karya sastra hasil kreasi manusia mengandung empati dan makna yang mendalam serta sepenuh kejujuran. Lalu, karya sastra yang merupakan jerih rekreasi kecerdasan buatan hanya mengimitasi kata-kata sedih atau senang tanpa merasakan sendiri kesedihan atau kesenangan itu.
Perbedaan selebihnya, terletak pada gaya bahasa. Karya sastra garapan penulis manusia menunjukkan ciri khas yang unik. Tiap karya mempunyai gaya bahasa dengan sentuhan personal serta kedalaman makna. Sementara itu, karya sastra garapan kecerdasan buatan, gaya bahasanya cenderung umum, rapi secara aturan gramatika, dan polanya mudah tertebak.
Contoh kasus yang terjadi pada puisi. Karya puisi buatan manusia memanfaatkan pilihan kata-kata kiasan yang hadir dari kenangan personal dengan bubuhan sunyi dengan lika-liku perasaan yang rumit. Maknanya dapat menyentuh hati khalayak pembaca lantaran tersaji dengan kejujuran rasa.
Alih-alih membutuhkan proses yang relatif berdamai dengan hitungan menit, jam, hari, bahkan pekan, puisi ciptaan kecerdasan buatan sudah bisa tersaji dalam hitungan detik. Rima dan baitnya tertata rapi. Hanya saja, diksinya terasa klise dan tidak mempunyai beban emosi yang nyata.
Penjaga Nurani
Pertanyaan berikutnya, di tengah-tengah dominasi kecerdasan buatan di segenap sektor kehidupan dewasa ini, masih tersisakah peran karya sastra yang asli ciptaan manusia?
Bagaimanapun, berbicara tentang karya sastra ciptaan penulis manusia, tidak dapat terlepas dari peranan sebagai penjaga nurani kemanusiaan. Mengapa? Karena ia merekam realitas. Penulis manusia menyerap penderitaan dan terlibat dalam peristiwa nyata dalam kehidupan dengan adonan liat imajinasinya.
Dengan membacanya, khalayak apresiator mendapat ruang ajakan guna merasakan kehidupan orang lain melalui kemasan imajinasi. Sambil sesekali, menjadi alat untuk menegur ketidakadilan sosial.
Bentuk penjagaan nurani antara lain berupa pembelaan terhadap pihak yang lemah. Oleh karena itu, ada karya sastra yang menyediakan lahan tematik untuk mengangkat kisah mereka yang tertindas dan terabaikan.
Juga sentuhan refleksi moral yang meminta khalayak pembacanya mengarungi samudra kontemplasi yang luas. Serta, menyediakan ruang untuk belajar dari sejarah kemanusiaan di masa lalu dan meniupkan roh kebijaksanaan dalam penyikapan. Merawat rasa kemanusian agar tetap bisa bertumbuh kembang.
Karya sastra ciptaan penulis manusia pun merupakan ruang refleksi pengalaman batin. Ada autentisitas perasaan yang tidak kuasa diimitasi algoritma. Membumikan makna hidup. Bukan hanya sempadan memproses pola bahasa semata. Menjaga dan merawat kedalaman makna bahasa agar tidak berhenti sebagai data atau rumus mesin.
Eksistensi karya sastra sejati yang bukan sekadar produk imitasi pola statistik, menegaskan otoritas penulis manusia yang mempunyai jiwa dan kesadaran. Karya sastra sejati mempertahankan nilai kemanusiaan, karena ia hadir dari pengalaman batin, emosi, dan kesadaran penulis manusia. Tidak bisa ditiru oleh kecerdasan buatan.
Teknologi kecerdasan buatan dapat merangkai kata-kata sehingga seolah-olah merupakan karya sastra. Namun, ia tidak memiliki jiwa atau pengalaman hidup. Padahal, yang menjadi titik pencarian bagi khalayak pembaca adalah ketulusan dan kejujuran emosi. Dan, itu hanya ada pada penulis manusia.
Teknologi kecerdasan buatan dapat menciptakan puisi dengan tingkat kerapian bahasa yang tinggi. Akan tetapi, puisi itu relatif kosong dari niat atau pesan batin. Hanya sebatas pada permukaan, puisi itu mungkin terdengar indah. Tidak memiliki suara batin atau makna sejati. Penulis manusia mempertaruhkan nama dan hidupnya dalam karya. Teknologi kecerdasan buatan tidak hirau dengan makna hasil karya tulisannya.
Demikianlah, karya sastra bukan sekadar rangkaian kata nan indah. Karya sastra merupakan jembatan hati dari manusia untuk manusia. Karya sastra merekam geliat perasaan, ingatan, makna hidup yang sering terlelap di antara senandung buai nan panjang mesin dan teknologi.
Hari ini, karya sastra masih mempunyai peran untuk menjaga kemanusiaan. Mengingatkan penulis manusia dan khalayak pembaca pada adanya rasa sedih, cinta, dan empati makhluk darah daging.
Karya sastra juga merupakan ruang kontemplasi, yang memberi waktu bagi khalayak penulis dan pembaca untuk menerobos dimensi rutinitas dengan pemikiran-pemikiran yang menohok hakikat kehidupan. Dan, menjadi persinggahan bagi suara-suara rintihan mereka yang termarginalkan.
Karya sastra menampik keseragaman cara berpikir. Ia merayakan keanekaragaman ekspresi kebahasaan dan menonjolkan pengalaman hidup yang unik. Ia pun mencatat sejarah batin manusia dengan mempertaruhkan kejujurannya.
Selanjutnya, menulis atau membaca karya sastra adalah cara manusia melawan sunyi. Kesunyian itu muncul manakala kata-kata telah mati. Tidak lagi menghidangkan kenyataan atau kebenaran. Hanya menjadi alat untuk memanipulasi, memanjakan kedustaan. Atau, sekadar merupakan perpanjangan kepentingan politik dan kekuasaan.
Melawan sunyi adalah juga dengan terus menghidupkan empati. Tujuannya agar bahasa tidak kehilangan nurani. Melawan kehadiran bahasa yang tidak mampu lagi membangun kepedulian terhadap sesama. Sastrawan acapkali memaknai kondisi demikian sebagai keruntuhan komunikasi yang jujur dan rasa kemanusiaan.
Kesunyian itu juga muncul saat rasa sepi menekan jiwa. Ia bisa datang menyambangi bukan lantaran secara jasadi memang sedang seorang diri. Melainkan, lantaran ada kehampaan dan keterasingan di dalam batin. Ia merupakan alarm alami bagi seseorang yang kurang mampu membina relasi emosional atau spiritual secara dewasa dengan orang-orang di sekelilingnya.
Dengan rangkaian kata, sastrawan manusia mengisi kekosongan itu. Mereka memindahkan isak nestapa atau hasil kontemplasi dini hari menjadi suara yang menghidupkan estetika bahasa. Karya sastra pun memosisikan diri sebagai ruang bebas bagi akal sehat dan imajinasi manusia. Ia hadir guna merawat pikiran jernih dan rasa kemanusiaan.
Peran sastra dalam kehidupan sehari-hari, untuk melatih daya pikir, kreativitas, dan imajinasi tanpa batas. Ia menjadi jalan kesadaran. Suatu proses batin manakala seseorang berupaya mengenali diri sendiri, memahami realitas hidup, dan terkait dengan Sang Khalik sebagai penguasa hakikat kebenaran. Ia menjadi wahana untuk membaca isi hati manusia.
Karya sastra merupakan kecamuk batin sang sastrawan manusia yang mengajak khalayak pembaca masuk ke dalam perasaan, pikiran, dan rahasia hidup manusia manakala merasakan cengkeraman kesunyian yang erat membelenggu. Dengan kata-kata, novel atau cerita pendek bekerja lebih daripada sekadar menggelar narasi. Akan tetapi, juga menjamah sisi empati, dan merawat kesadaran diri apresiator sebagai sesama makhluk hidup. Demikian pula dengan puisi.

