Konten dari Pengguna

Satuan Hitung "Saset" dan "Bungkus" Bisa Bersulih

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Rabu (12/8/2026) petang lalu. Sehabis membeli dua galon air mineral isi ulang di tempat langganan. Saya melihat buku catatan penjualan barang manual di toko kecil tempat kami yang baru membuka usaha pada awal Juni 2026 lalu terbuka lebar.

Buku tersebut tergeletak di atas meja, sekitar 150 sentimeter di belakang etalase yang terletak hanya berjarak 50 sentimeter dari pintu ruang tamu. Di meja kecil itulah kami terbiasa mengeksekusi pembukuan sederhana plus (sekali lagi) manual.

Mata saya tertuju pada barang dagangan terakhir yang tertulis di buku itu. Tertulis sebuah jenama sampo. Rupanya baru saja ada tetangga yang membelinya. Itu tertulis di kolom “Barang yang Terjual”. Kemudian, pada kolom “Jumlah” hanya tertera angka 3. Tanpa satuan hitung atau kata penggolong (klasifikator). Dan, di kolom “harga” tercantum Rp3.000.

Saya menduga, istri yang mencatatnya agak terpenuhi keraguan ketika akan mencantumkan sebutan kata penggolong barang berupa sampo kemasan kecil tertutup rapat dari pabrikan berisi takaran satu hingga beberapa kali pemakaian.

Saya sendiri juga tidak sedemikian segera alias cepat untuk menimang pemakaian penyebutan nama per satuan yang relevan dengan kondisi barangnya. Saya menunaikan Salat Magrib dahulu, karena kebetulan kumandang azan, bahkah iqamah, telah terdengar dari masjid terdekat.

Kemasan Saset

Seusai Salat Magrib. Setelah berpikir lumayan lama, sampai akhirnya ingatan saya terkait dengan kata sachet. Berasal dari bahasa Prancis, yang merujuk ke referen kantong kecil. Ia merupakan diminutif (versi lebih kecil) dari sac atau kantong. Makna awalnya, dahulu di Eropa mengacu pada kantong kecil berisi wewangian atau rempah pengharum pakaian.

Kemudian terjadilah suatu pergeseran makna manakala kata sachet memasuki era modern, menjadi wadah atau bungkus plastik (ada pula yang berupa kertas yang kedap udara) dengan ukuran kecil yang kebanyakan untuk satu takaran saji suatu produk.

Dan, kalaupun bisa dimanfaatkan lagi, seperti produk sampo, kecap (seharga Rp1.000 atau Rp2.000), tidak lebih dari satu atau dua kali pemakaian lagi. Atau, ada juga produk bumbu penyedap masakan atau susu bubuk (kalau yang ini umumnya bisa lebih dari dua kali pemakaian).

Sebelumnya, kata sachet lebih dahulu terserap ke bahasa Inggris modern dengan tetap mempertahankan ejaan aslinya dari bahasa Prancis (unadapted borrowing). Namun, terjadi penyesuaian pengucapan dari lidah orang Prancis, yang lebih kurang terdengar seperti “sa-syè”. Bunyi huruf “t” di akhir kata tidak berbunyi alias mengalami pelesapan.

Kemudian mengikuti lidah orang Britania Raya, sehingga terdengar seperti “SÆ-syei” dengan penekanan di awal dan bunyi akhir seperti bunyi huruf "ei" (versi British English). Sementara itu, untuk versi American English terdengar seperti "sæ-SYEI" atau kadang mirip "SÆ-chei".

Melalui perantara bahasa Inggris modern, kata sachet berseiring jalan dengan langkah globalisasi perdagangan dan kemerebakan produk untuk konsumen dengan kemasan kecil untuk satu atau dua kali pakai. Dengan demikian, masuk sebagai kosakata serapan guna memenuhi kebutuhan penamaan jenis kemasan fleksibel modern.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, lema “saset” merupakan hasil penyesuaian ejaan pada silabel kedua (chet), dari “ch” menjadi “s” dan dari bunyi yang kedengaran “ei” dalam bahasa Inggris. Dan, justru menimbulkan kembali bunyi huruf “t” yang pada ucapan bahasa Prancis mengalami pelesapan. Adapun silabel pertama (sa) relatif tidak ada adaptasi bunyi.

Dengan demikian lidah penutur bahasa Indonesia pun melafalkan secara natural kata sachet menjadi saset. Inilah bunyi yang paling mudah diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia. Sesuai dengan Kamus Besar, maknanya “kantong atau paket kecil yang terbuat dari plastik (misalnya untuk pembungkus kopi, susu)”.

Sublemanya ada “sasetan” merujuk pada wujud kemasannya, “susu sasetan” (susu bubuk dalam kemasan 25-35 gram berat bersih) berlainan dari susu bubuk kaleng dengan berat 150, 400, 800, 1.000, hingga 1.600 gram. Ada pula sublema “sesaset” mengacu pada jumlah “satu saset”.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kata “saset” memiliki karakteristik dan fungsi sebagai satuan hitung. Ia cenderung lebih menunjukkan takaran porsi tunggal (single serving). Menandakan jumlah yang pas untuk sekali konsumsi atau sekali pakai. Atau, untuk barang seperti sampo, sabun (bubuk atau cair), yang masih tersisa dari sekali pakai, juga masih dapat diklaim dengan satuan hitung ini.

Di samping itu, dalam standar transaksi eceran, kata “saset” juga menjadi satuan unit terkecil dalam penjualan di toko-toko kelontong skala kecil. Inilah unit eceran tunggal yang menjadi objek transaksi pada tataran ini. Selain “saset”, ada pula satuan hitung “bungkus”.

Kendati keduanya tidak sepenuhnya setara, dalam kehidupan berbahasa sehari-hari sering bisa saling menggantikan untuk produk-produk tertentu. Seperti untuk menyebut permen, bumbu penyedap masakan, bumbu marinasi (cairan bumbu untuk merendam daging, ikan, atau tempe sebelum menggorengnya).

Dengan demikian, sudah lazim terdengar orang menyebut “sebungkus permen” atau “sesaset permen”, “sebungkus bumbu penyedap” atau “sesaset bumbu penyedap”, “sebungkus bumbu marinasi” atau “sesaset bumbu marinasi”.

Meskipun demikian, ada nuansa (perbedaan tipis) antara keduanya. Bungkus merupakan klasifikator atau satuan hitung yang bersifat untuk apa saja yang berada di dalam isi bungkusan dengan bahan bisa berupa kertas, plastik, atau daun. Isinya bisa berupa nasi plus lauk pauk.

Bisa pula di dalam bungkus berisi batang-batang rokok. Dengan demikian, bungkus bisa pula bertukar posisi dengan “pak” sebagai klasifikator. Dalam aktivitas transaksi keseharian di toko-toko kecil pengecer, terkadang ada pembeli yang menginginkan satu bungkus rokok. Dan, itu sama dengan satu pak rokok; untuk menyatakan satu kemasan eceran rokok yang bisa berisi 12 atau 20 batang.

Klasifikator bungkus bisa juga secara luwes masuk menghitung satu kemasan biskuit yang terdiri atas banyak kepingan di dalamnya. Dengan begitu, karakteristik dari bungkus cenderung lebih luas dan tidak beraturan ukurannya. Bisa kecil, bisa pula besar. Isinya bisa berupa satuan dalam jumlah banyak, bisa juga berupa satu porsi utuh.

Sementara itu, saset lebih spesifik daripada bungkus. Kata penggolong ini cenderung merujuk pada jenis kemasan fleksibel berukuran kecil. Ada penyegelan di tiap sisinya. Mengacu pada kemasan pipih mini. Pada galibnya ada perancangan khusus untuk takaran satu kali pakai atau satu porsi saja, seperti satu saset kopi, saus, sampo, dan bubuk minuman.

Kendati demikian, penyebutan klasifikator bungkus untuk satu bungkus kopi, saus, sampo, dan bubuk, masih berterima secara gramatikal dalam konversasi keseharian. Untuk produk-produk tertentu, bungkus dan saset tidak terlalu menimbulkan persoalan kesenjangan makna manakala keduanya saling bertukar tempat sebagai klasifikator.

Demikian pula, misalnya susu kental manis, teh bubuk instan, satuan hitung bungkus dan saset masih bisa berkompromi. Tidak ketinggalan dengan saus sambal, kecap manis, bumbu nasi goreng instan. Serta, produk-produk perawatan diri, antara lain sabun mandi cair (kemasan 30-60 mililiter) dan masker bubuk (10-30 gram untuk travel size).

Selanjutnya untuk produk permen, satuan hitungnya bisa disebut saset bilamana permen itu mendapat pengemasan dalam kantong kecil datar dan umumnya berisi lebih dari satu. Adapun, bungkus lebih luas jenis kemasannya, bisa berupa plastik kecil, kantong besar, ataupun kertas (biasanya permen klasik).

Satuan hitung botol juga sering hadir dalam konversasi transaksi di toko-toko kecil. Dewasa ini, botol minuman termasuk air mineral terbuat plastik Polyethylene Terephthalate (PET) yang ringan, jernih, aman untuk makanan (food grade). Minuman dan makanan dalam konteks pangan sehari-hari serta hukum, sering menerima pengelompokan bersama sebagai asupan bagi tubuh manusia.

Botol minuman juga terbuat dari bahan alternatif lain, seperti kaca dan logam. Untuk botol logam biasanya dengan menggunakan material keras seperti baja nirkarat (stainless steel), aluminium, atau titanium. Produk pabrikan dengan botol logam, seperti minuman berkarbonasi (bersoda), susu kental manis dalam kemasan kaleng logam.

Lalu produk perawatan tubuh dan kecantikan, seperti parfum semprot dengan tabung aluminium, deodoran semprot, cat rambut atau produk tata rambut semprot. Juga kebutuhan rumah tangga, seperti obat nyamuk semprot, tabung gas portabel untuk kompor mini.

Minuman yang terjual di pasaran juga bisa mengambil kata penggolong kaleng, ketika wadah pabrikannya berupa aluminium atau baja yang mendapat lapisan timah (pelat timah atau tinplate). Kebanyakan minuman berkarbonasi berada dalam wadah kaleng dari bahan aluminium karena ringan. Dengan demikian, kaleng juga bisa menjadi satuan hitung, seperti dalam frasa “tiga kaleng jus jeruk”.

Kemasan Renteng

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kemudian satuan hitung yang menengah adalah “renteng”. Ada yang menyebutnya “renceng”. Keduanya sama-sama mengacu pada hal serupa, yaitu deretan kemasan produk kecil-kecil, biasanya tersusun berderet secara vertikal dan tiap produk satu dengan produk yang lain tertandai dengan garis putus-putus sehingga mudah memotongnya (easy tear) dengan tangan tanpa menggunakan gunting.

Baik kata “renteng” (misalnya “serenteng kopi saset”) maupun “renceng” (“serenceng kopi saset”) sama-sama mendapat pengakuan kebakuannya dari Kamus Besar. Pemakaian kedua kata itu saling bersulih dan sudah lazim hadir dalam aktivitas berbahasa keseharian di berbagai daerah. Adanya variasi fonetis berupa perubahan bunyi “t” pada “renteng” menjadi “c” pada “renceng” sesungguhnya merupakan hal lazim terjadi pada lidah masyarakat Nusantara.

Nah, dalam satu renteng atau renceng, biasanya berisi beberapa saset yang bergabung bersama, misalnya terdiri atas 10 saset (ada yang kurang dari itu) atau 12 saset (biasanya yang dua merupakan bonus gratis dari pabrik). Ada lagi renteng dalam kemasan plastik yang berisi spon 2-in-1 berupa spons kuning yang lembut untuk pencuci piring dan gelas serta sisi hijau kasar untuk melenyapkan kerak makanan. Dalam satu renteng hanya terdiri atas tiga bungkus (yang satu gratis).

Setara dengan renteng atau renceng, yaitu “pak”. Salah satu maknanya, menurut Kamus Besar, yaitu bungkusan dari pabrik yang berisi barang-barang dagangan yang sudah berada dalam bungkusan lebih kecil, seperti rokok, kotak kecil teh celup, buku, atau garam serbuk yang terkemas dalam plastik. Belum ada standar berapa jumlah barang dalam satu pak. Tergantung pada jenis barang, ukuran, dan aturan pabrik yang mengemas barang produksinya.

Walaupun belum begitu lazim, bisa saja “stoples” berbahan plastik PET menjadi kata penggolong yang setara dengan renteng atau renceng. Tiap satu stoples biasanya terdiri atas 25 bungkus sosis (tersedia dengan rasa sapi atau ayam, ada pilihan yang pedas pula) dalam ukuran kecil yang siap makan.

Kemasan Kardus

Dalam hierarki satuan barang, untuk ukuran toko-toko kecil di perumahan atau perkampungan, biasanya satuan hitung untuk barang dagangan yang terbesar adalah kardus yang berisikan puluhan hingga ratusan produk dari pabrik atau distributor.

Kardus merupakan tempat untuk membungkus produk dagangan yang terbuat dari bahan kertas tebal. Fungsinya untuk melindungi isinya agar tidak mudah rusak terkena benturan, debu, atau basah.

Selain itu, untuk memudahkan pengiriman (praktis ketika berada dalam pengangkutan di mobil) dan sekaligus menjadi media promosi. Sebab, biasanya di kardus itu juga tercantum merek produk yang meliputi nama, logo, dan pendukung lain (misal tagline produk yang memudahkan khalayak pembeli mengingat produk tersebut).

Terdapat jenis-jenis ketebalan kardus. Seperti single wall yang terdiri atas tiga lapisan, tipis, cocok untuk makanan dengan berat ringan, seperti mi instan atau stoples berisi sosis. Kemudian ada double wall yang terdiri atas lima lapisan, biasanya untuk botol-botol air mineral. Kedua jenis ketebalan kardus inilah yang acapkali hadir untuk membungkus produk-produk yang terjual di toko-toko kecil.

Setara dengan kardus, ada satuan hitung “ke.rat /kêrat/”. Menurut Kamus Besar, ia merupakan “wadah berbentuk kotak yang bagian atasnya terbuka, terbuat dari bahan kayu atau plastik berbahan keras, terdiri atas sekat-sekat yang berfungsi untuk tempat menyimpan botol minuman”.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Dengan perkataan lain, kata “kerat” dalam konteks satuan hitung mengacu pada kotak atau peti pengangkut botol, bisa berupa minuman siap teguk, bisa pula kecap yang berada dalam wadah botol (terutama yang botolnya berbahan kaca). Satu kerat pada umumnya berisikan 12 hingga 24 botol, tergantung pada ukuran botol dan jenis produknya.

Untuk telur ayam, ada yang menjualnya di dalam peti telur dengan kisaran berat 10-15 kilogram. Ada pula yang menyebutnya dengan kerat telur. Kalau yang ini satuan hitung ecerannya dimulai dari seperempat, lalu setengah, kemudian satu kilogram.

Untuk timbangan ecerannya fleksibel, tergantung pada kebutuhan pembeli. Bahkan, ada toko sembako kecil yang menjualnya per butir untuk melayani mereka yang berbujet terbatas.

Anomali Hierarki

Mi instan dengan berbagai variasi rasa produk Indonesia dengan kisaran umum berat bersih 60-91 gram per bungkus (versi duo 111-140 gram), termasuk salah satu yang memiliki anomali hierarki tiga tingkat satuan hitung, yaitu kardus, renteng/renceng, bungkus. Sebab, tidak ada mi instan ukuran ini yang tersedia dalam kemasan renteng/renceng. Dengan demikian, dari satuan hitung kardus langsung ke per satuan bungkus.

Begitu pula dengan minuman air mineral dalam kemasan botol atau gelas, dari satuan hitung kardus langsung ke satuan hitung botol atau gelas tanpa melalui renteng atau renceng. Pun minuman kaleng bersoda, teh siap minum, kopi kaleng, susu cokelat, atau minuman isotonik, satua hitungnya dari kerat langsung ke kaleng.

Sebagai pembanding, untuk mi gelas instan yang di Indonesia pada umumnya mempunyai berat bersih 28 gram per bungkus, dalam realisasi penjualannya masih mengenal hierarki satuan hitung, dari bungkus (satuan terkecil), renteng (terdiri atas 10-15 bungkus), hingga kardus (berisi 10 renteng).

Sementara itu, ada mi instan yang berupa mi kering mentah (tanpa bumbu) dengan berat 100-110 gram tersedia dalam kemasan renteng ekonomis yang terdiri atas tiga bungkus. Nah, kalau yang ini masih ada hierarki satuan hitung dari kardus, renteng (meski hanya tiga bungkus), dan bungkus sebagai unit terkecil ketika produk bersangkutan telah tiba di tangan khalayak konsumen. ***