Konten dari Pengguna

SCO 25 Tahun: Pergeseran Arsitektur Pertahanan dari Eurasia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muh Khamdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi KTT Organisasi Kerjasama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organisation (SCO) 2026 di Bishkek, Kirgistan (Sumber: AI Chatgpt)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi KTT Organisasi Kerjasama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organisation (SCO) 2026 di Bishkek, Kirgistan (Sumber: AI Chatgpt)

KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Bishkek, Kirgistan, pada 31 Agustus–1 September 2026 bukan sekadar pertemuan rutin para kepala negara Eurasia. Ia merupakan panggung strategis ketika dunia sedang mengalami perubahan distribusi kekuasaan yang semakin menjauh dari dominasi tunggal Barat. Perayaan 25 tahun SCO menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa organisasi yang lahir pada 2001 itu telah berkembang dari mekanisme keamanan regional menjadi salah satu platform geopolitik paling penting di luar arsitektur Barat. Sepuluh negara anggota, mencakup China, Rusia, India, Pakistan, Iran, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan, kini membentuk ruang politik, ekonomi, keamanan, dan demografi yang sangat besar.

Secara geopolitik, angka-angka tersebut penting bukan semata karena ukurannya, melainkan karena memperlihatkan perubahan balance of power. SCO mengklaim merepresentasikan sekitar 40 persen populasi dunia dan sekitar seperempat ekonomi global. Karena itu, organisasi ini tidak lagi tepat dibaca hanya sebagai blok Asia Tengah. Ia telah menjadi forum tempat kekuatan besar, kekuatan menengah, negara berkembang, serta negara yang berhadapan dengan sanksi Barat bernegosiasi mengenai masa depan tata dunia.

Dari perspektif hubungan internasional, fenomena tersebut menunjukkan berlangsungnya transisi dari unipolarity menuju contested multipolarity. Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya masih memiliki keunggulan luar biasa dalam teknologi, militer, finansial, dan institusi global. Namun, kemampuan Washington menentukan agenda internasional secara sepihak semakin menghadapi resistensi. SCO menawarkan bentuk resistensi yang berbeda. Bukan aliansi militer formal seperti NATO, melainkan jaringan kepentingan yang menghubungkan energi, perdagangan, keamanan, konektivitas, teknologi, dan diplomasi.

Inilah sebabnya pertemuan Xi Jinping dan Vladimir Putin di sela-sela KTT Bishkek memiliki arti jauh melampaui hubungan bilateral China-Rusia. Xi menegaskan bahwa fondasi hubungan kedua negara akan semakin kuat dan bahwa Beijing siap bekerja dengan Rusia serta negara lain untuk mendorong reformasi tata kelola global menuju dunia multipolar. Putin sendiri menggunakan SCO untuk menunjukkan bahwa Rusia masih mempunyai ruang diplomatik dan strategis yang luas di luar hubungan dengan Barat.

Namun, menyebut SCO sebagai “NATO versi Timur” merupakan simplifikasi yang berbahaya. SCO tidak memiliki klausul pertahanan kolektif seperti Pasal 5 NATO. India bahkan mempunyai rivalitas strategis dengan China, sementara India dan Pakistan mempunyai sejarah konflik yang panjang. Karena itu, kekuatan SCO bukan terletak pada homogenitas politik anggotanya, melainkan pada kemampuan mempertemukan negara-negara yang berbeda kepentingan di bawah prinsip strategic autonomy. Dalam perspektif studi perdamaian, justru heterogenitas tersebut dapat menjadi mekanisme conflict management daripada sekadar instrumen pembentukan blok.

Rusia merupakan contoh paling jelas mengenai fungsi strategis SCO. Setelah invasi Ukraina dan rangkaian sanksi Barat, Moskow menghadapi pembatasan akses terhadap sistem keuangan, teknologi, pasar, dan investasi Barat. Tetapi isolasi ekonomi tidak otomatis berarti isolasi geopolitik. Pertemuan Putin dengan Xi, Modi, Pezeshkian dan pemimpin lainnya di Bishkek menunjukkan bahwa Rusia masih mampu mempertahankan jaringan hubungan internasional yang signifikan. Dengan demikian, perang Ukraina telah mempercepat, bukan menghentikan, proses Rusia menggeser orientasi strategisnya ke Eurasia.

Dalam konteks pertahanan nasional global, perubahan tersebut sangat penting. Sanksi ekonomi ternyata tidak selalu menghasilkan strategic isolation. Negara yang terkena sanksi dapat membangun resilience network melalui perdagangan alternatif, mata uang nasional, jalur logistik baru, kerja sama energi, transfer teknologi, dan hubungan pertahanan. Rusia memperlihatkan bagaimana kekuatan militer dapat disokong oleh diversifikasi hubungan ekonomi dan diplomatik. SCO, BRICS, hubungan bilateral dengan China dan India, serta konektivitas Eurasia kemudian berfungsi sebagai lapisan-lapisan pertahanan strategis nonmiliter.

Iran memiliki posisi yang bahkan lebih kompleks. Bergabungnya Teheran sebagai anggota penuh SCO pada 2023 memberikan Iran akses terhadap sebuah forum yang mempertemukan China, Rusia, India, Pakistan dan negara-negara Asia Tengah. Dalam kondisi tekanan ekonomi dan konflik dengan Amerika Serikat, keanggotaan tersebut dapat menjadi instrumen strategic hedging. Iran tidak harus sepenuhnya keluar dari sistem internasional yang dipimpin Barat. Iran dapat memperluas ruang manuver dengan membangun hubungan simultan dengan China, Rusia, India, negara-negara Teluk, dan jaringan Eurasia.

Pertemuan Pezeshkian dengan Putin karena itu mempunyai dimensi pertahanan yang sangat sensitif. Rusia dan Iran merupakan dua negara yang menghadapi tekanan berat dari Barat dan dalam beberapa tahun terakhir memperdalam kerja sama militer maupun ekonomi. Tetapi hubungan tersebut tidak boleh dibaca sebagai aliansi tanpa batas. Moscow memiliki kepentingannya sendiri, Beijing mempunyai kalkulasi sendiri, sedangkan Teheran berusaha mempertahankan otonomi strategisnya. Inilah karakter utama geopolitik asimetris. Negara-negara dapat berada pada sisi yang sama terhadap tekanan tertentu tanpa memiliki kepentingan yang identik terhadap seluruh isu.

Bagi Iran, SCO juga menawarkan apa yang dalam studi keamanan disebut sanctions diversification. Ancaman ekonomi tidak hanya dihadapi dengan meminta pencabutan sanksi, tetapi dengan mengurangi ketergantungan pada sistem yang dapat digunakan sebagai instrumen tekanan. China menjadi penting karena kebutuhan energi dan kapasitas ekonominya. Rusia penting bagi kerja sama strategis. India penting sebagai pintu konektivitas dan perdagangan. Sementara itu, negara-negara Asia Tengah dapat menjadi bagian dari jaringan logistik Eurasia. Tetapi efektivitas strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan Iran mengubah hubungan politik menjadi mekanisme ekonomi yang konkret.

India menghadirkan paradoks lain. New Delhi merupakan anggota SCO sekaligus mempunyai hubungan strategis yang sangat kuat dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia dan negara-negara Indo-Pasifik melalui Quad. India juga mempunyai sengketa perbatasan dengan China. Namun India tidak memilih keluar dari SCO. Ini menunjukkan bahwa politik internasional abad ke-21 semakin sulit dijelaskan melalui logika “teman atau musuh”. India justru mempraktikkan multi-alignment, yaitu bekerja sama dengan Washington dalam satu isu, namun dengan Moskow dalam isu lain, sekaligus dengan Beijing dalam forum tertentu. Pertemuan Modi-Putin di Bishkek memperlihatkan pola tersebut.

Pakistan juga memperoleh keuntungan strategis dari konfigurasi ini. Islamabad memiliki hubungan pertahanan dan ekonomi yang erat dengan China, tetapi sekaligus mempunyai kepentingan besar terhadap stabilitas Afghanistan, Asia Tengah dan hubungan dengan negara-negara Teluk. Keberadaan Pakistan di SCO membuat organisasi tersebut semakin memiliki dimensi keamanan Asia Selatan. Dengan demikian, SCO bukan hanya organisasi Eurasia bagian utara, namun semakin menjadi simpul yang menghubungkan Asia Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Kehadiran Recep Tayyip Erdogan sebagai mitra dialog menambah lapisan geopolitik yang menarik. Turki bukan anggota penuh SCO, tetapi memiliki hubungan dengan Rusia, China, Asia Tengah, NATO, Uni Eropa, serta dunia Islam. Ankara menggunakan politik luar negeri yang semakin fleksibel untuk memperbesar ruang tawarnya. Status Turki sebagai dialogue partner memperlihatkan bahwa pengaruh SCO tidak harus diukur hanya dari jumlah negara anggota. Jaringan 15 mitra dialog termasuk Turki, Arab Saudi dan Qatar, membuat SCO mempunyai outer circle yang jauh lebih luas daripada struktur keanggotaannya.

Di sinilah konsep geopolitik asimetris menjadi penting. Amerika Serikat masih memiliki keunggulan militer global, tetapi negara-negara seperti China, Rusia, Iran, India dan Turki tidak harus menandinginya secara simetris. Mereka dapat menggunakan energi, pasar, jalur perdagangan, teknologi, populasi, posisi geografis, sumber daya strategis, serta diplomasi multilateral sebagai instrumen countervailing power. Dengan kata lain, kompetisi global semakin bergeser dari pertanyaan “siapa memiliki militer terbesar?” menjadi “siapa paling mampu menghubungkan berbagai sumber kekuatan menjadi jaringan strategis?”

SCO karena itu dapat dipahami sebagai networked security architecture. Keamanan tidak lagi dibatasi pada tank, rudal, kapal perang atau pesawat tempur. Ketahanan energi, keamanan pangan, keamanan siber, infrastruktur digital, sistem pembayaran, jalur kereta api, pelabuhan, rantai pasok, mineral kritis, dan kemampuan menghadapi sanksi juga merupakan bagian dari pertahanan nasional. China memiliki kapasitas ekonomi dan teknologi. Rusia memiliki kekuatan militer dan energi. Iran memiliki posisi geografis serta energi. India memiliki pasar, teknologi dan demografi. Kombinasi tersebut menciptakan kekuatan yang tidak selalu terlihat dalam indikator militer konvensional.

Tetapi SCO juga mempunyai keterbatasan fundamental. Organisasi ini sangat beragam dan tidak mempunyai satu kepentingan nasional bersama. India tidak selalu sejalan dengan China. Negara-negara Asia Tengah menjaga jarak dari dominasi Rusia maupun China. Iran mempunyai agenda keamanan sendiri, dan Pakistan memiliki kalkulasi tersendiri. Karena itu, masa depan SCO tidak akan ditentukan oleh kemampuan membuat deklarasi anti-Barat, melainkan oleh kemampuan membangun institusi ekonomi, keamanan, konektivitas dan mekanisme penyelesaian konflik yang benar-benar operasional. Bahkan agenda Bishkek mengenai dana pembangunan dan investasi menjadi ujian penting bagi transformasi SCO dari forum politik menjadi instrumen material.

Dari perspektif studi perdamaian, justru terdapat peluang yang sering luput dari pembacaan geopolitik konvensional. SCO dapat menjadi ruang komunikasi ketika hubungan bilateral mengalami kebuntuan. Pertemuan Putin, Xi, Modi, Pezeshkian dan Shehbaz Sharif dalam satu forum memberikan peluang preventive diplomacy, terutama ketika perang Ukraina dan konflik Iran-Amerika Serikat mempunyai konsekuensi lintas kawasan. Jika SCO mampu berfungsi sebagai kanal dialog, organisasi ini tidak hanya menjadi instrumen kompetisi terhadap Barat, tetapi juga dapat berkembang menjadi mekanisme de-escalation dalam sistem internasional yang semakin terfragmentasi.

Karena itu, KTT SCO Bishkek 2026 sebaiknya dibaca sebagai indikator perubahan arsitektur kekuasaan dunia, bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-25. Rusia memperlihatkan bahwa sanksi tidak otomatis menghasilkan isolasi. Iran memperoleh ruang untuk melakukan strategic hedging. China memperluas proyek multipolaritas. India mempertahankan politik multi-alignment, sementara Turki, Arab Saudi, Qatar dan negara mitra lainnya menunjukkan bahwa negara-negara menengah semakin enggan terperangkap dalam satu kubu permanen.

Tantangan terbesar SCO ke depan bukan membuktikan bahwa Barat sedang kalah, melainkan membuktikan bahwa dunia multipolar dapat menghasilkan stabilitas, pembangunan dan perdamaian. Jika SCO berhasil mengubah kekuatan demografi dan ekonomi menjadi institusi yang efektif, Bishkek dapat dikenang bukan hanya sebagai perayaan 25 tahun sebuah organisasi, tetapi sebagai salah satu titik penting ketika pusat gravitasi geopolitik dunia bergerak dari dominasi blok menuju kompetisi jaringan kekuatan yang lebih asimetris, cair, dan multipolar.