Segini Gaji Lulusan UI, ITB, dan UGM di Tracer Study 2025

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Universitas Indonesia. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Universitas Indonesia. Foto: Shutter Stock

Prospek gaji lulusan perguruan tinggi menjadi salah satu pertimbangan calon mahasiswa saat memilih kampus dan program studi. Tiga perguruan tinggi yang kerap menjadi acuan adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tiga kampus terbaik di Indonesia itu masing-masing juga sudah merilis hasil laporan tracer study untuk tahun 2025. Laporan tersebut di antaranya berisi gambaran lulusan sarjana dan vokasi yang lulus sepanjang 2024 silam. Laporan tersebut memang dibuat untuk melihat karier alumni setelah lulus.

Lantas, seperti apa datanya?

Lulusan ITB Gajinya Paling Besar: Rp 8,3 juta per bulan

Ya, lulusan ITB memiliki median gaji paling besar bila dibandingkan dengan lulusan UI maupun UGM. Tracer Study 2025 mengungkapkan bahwa gaji lulusan ITB mencapai Rp 8,3 juta per bulan. Sementara lulusan UI ada di angka Rp 7,5 juta per bulan. Adapun lulusan UGM median gajinya mencapai Rp 6 juta per bulan.

embed from external kumparan

Berdasarkan laporan tracer study ITB 2025, terungkap bahwa gaji terkecil yang diperoleh alumnus ITB sebesar Rp 400 ribu per bulan. Penghasilan terkecil diperoleh alumnus dari Prodi Seni Rupa yang statusnya masih magang di sebuah perusahaan swasta.

Sementara itu, tulis laporan tersebut, penghasilan terbesar adalah Rp 119.500.000, yang diperoleh alumnus dari Prodi Teknik Geofisika yang bekerja sebagai staf di salah satu perusahaan berskala multinasional. Adapun rincian median gaji di prodi di ITB adalah sebagai berikut.

embed from external kumparan

Berdasarkan tabel di atas, median gaji tertinggi di ITB ada para program studi teknik perminyakan yaitu Rp 13 juta per bulan. Diikuti oleh teknik telekomunikasi yaitu Rp 12,5 juta per bulan dan teknik kimia Rp 12 juta per bulan. Adapun prodi dengan alumni gaji terkecil ada pada alumnus seni rupa yaitu Rp 4,85 juta serta desain produk serta farmasi klinik, masing-masing Rp 5 juta per bulan.

Berbeda dengan ITB, laporan tracer study UI 2025 tidak merinci gaji alumnus UI per prodi. Namun, ada data mengenai median gaji untuk tiap-tiap alumnus per fakultas.

Alumnus fakultas kedokteran (FK) tercatat memiliki median gaji tertinggi yaitu Rp 10 juta per bulan. Kemudian diikuti oleh alumnus fakultas ekonomi dan bisnis (FEB) maupun fakultas ilmu komputer (Fasilkom) yang masing-masing memiliki media gaji di angka Rp 9 juta per bulan.

embed from external kumparan

Sementara itu, fakultas di UI dengan media gaji terkecil ada pada fakultas ilmu keperawatan (FIK). Gaji alumnus FIK mediannya ada di angka Rp 4,5 juta. Kemudian ada pula lulusan vokasi yang median gajinya mencapai Rp 5,92 juta. Lengkapnya ada dalam grafis di bawah ini.

Sementara itu, UGM tak memiliki detail gaji menurut prodi maupun fakultas. Namun, kampus tersebut memiliki data mengenai kisaran gaji sarjana maupun vokasi. Disebutkan bahwa median gaji di atas Rp 20 juta dimiliki oleh 1,92 persen alumni. Kemudian mayoritasnya ada di rentang Rp 5-10 juta yakni mencapai 42,98 persen.

embed from external kumparan

Mayoritas Lulusan Bekerja Sesuai Program Studi

Dari tracer study, diperoleh pula data kesesuaian program studi dengan bidang pekerjaan yang digeluti para lulusan. Dari tiga perguruan tinggi yang kami sandingkan, kesesuaian lulusan dengan pekerjaan di atas 50 persen. Lebih banyak lulusan yang bekerja sesuai bidang studi saat kuliah.

UGM mencetak persentase lulusan yang bekerja sesuai bidang studi terbanyak, 83,7 persen dari keseluruhan lulusan. Sementara UI sebanyak 77,7 persen dan ITB sebanyak 69 persen lulusan.

embed from external kumparan

Masa Tunggu Kerja Rata-rata Kurang dari 3 Bulan

Baik lulusan UI, ITB, dan UGM mayoritas memiliki masa tunggu pekerjaan pertama sekitar 1-3 bulan setelah lulus. Namun bila dicermati, lulusan UGM paling cepat terserap dalam rentang waktu tersebut.

embed from external kumparan

Hasil survei tersebut merupakan data transisi lulusan dari pendidikan tinggi ke dunia kerja.

Adapun pengumpulan data tracer study dilakukan melalui survei yang disebarkan secara daring. Alumni diminta mengisi pertanyaan pada kuesioner online. Tracer study umumnya rutin dilakukan setiap tahun, dengan tujuan melacak kontribusi lulusan di dunia kerja.

embed from external kumparan

Ada lulusan yang mengisi, ada yang tidak. Maka, response rate dari tracer study 2025 tiap perguruan tinggi berbeda-beda. Untuk UI, 4.518 lulusan mengisi survei atau 53,40 persen. ITB sebanyak 3.274 lulusan (89,36%), dan UGM sebanyak 6.365 lulusan (73,87%)

Kata UI soal Tracer Study

Universitas Indonesia (UI) terus berupaya meningkatkan partisipasi alumni dalam mengisi Tracer Study. Saat ini, sekitar 50 persen lulusan UI telah berkontribusi dalam survei yang bertujuan untuk memantau keterserapan alumni di dunia kerja tersebut.

Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UI menyebut secara rutin mensosialisasikan pentingnya tracer study kepada para mahasiswa, bahkan sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di kampus melalui kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB).

"Harapannya, mahasiswa sudah memahami sejak awal bahwa setelah lulus bahwa mereka tetap menjadi bagian dari ekosistem UI dan memiliki peran penting dalam memberikan umpan balik kepada almamater," tulis Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UI melalui jawaban tertulis kepada kumparan, Kamis (4/6).

Ilustrasi Universitas Indonesia. Foto: Shutter Stock

Tak hanya itu, UI juga gencar melakukan sosialisasi menjelang wisuda. Berbagai kanal komunikasi mulai dari media sosial, website, email, hingga WhatsApp dimanfaatkan untuk menjangkau para alumni.

UI juga menggandeng fakultas dan memanfaatkan jaringan alumni untuk semakin mendorong partisipasi lulusan dalam mengisi tracer study. Dukungan para alumni dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan response rate.

"Data tracer study secara rutin disampaikan kepada fakultas dan program studi sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan kemahasiswaan dan pengembangan lulusan. Selain itu, UI melalui Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni juga memperkuat jejaring dengan alumni serta berbagai mitra eksternal untuk membuka akses informasi dan peluang yang dapat mendukung transisi lulusan dari dunia pendidikan ke dunia kerja," tambahnya.

Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UI menyebut rutin menyelenggarakan berbagai program pengembangan karier dan soft skills, seperti pelatihan komunikasi, kepemimpinan, persiapan rekrutmen, penyusunan CV, simulasi wawancara, hingga seminar dan webinar karier. Program-program ini dilaksanakan secara berkala bekerja sama dengan fakultas, alumni, serta berbagai mitra industri.

"UI juga memfasilitasi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman profesional melalui program magang dan berbagai kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan dunia industri. Dengan demikian, kesiapan karier tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan para praktisi serta calon pemberi kerja," pungkasnya.