Konten dari Pengguna

Sejarah Berdirinya Perguruan Islam Al-I’anah Cianjur (1912)

Tatang Hidayat

Tatang Hidayat

Pegiat Student Rihlah Indonesia

·waktu baca 15 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tatang Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

S.M.I Al-I'anah Cianjur (Sumber Gambar : Perguruan Islam Al-I'anah Cianjur)
zoom-in-whitePerbesar
S.M.I Al-I'anah Cianjur (Sumber Gambar : Perguruan Islam Al-I'anah Cianjur)

Sejarah Berdiri Yayasan Perguruan Islam Al-I’anah

Nama YPI (Yayasan Perguruan Islam) Al-I’anah, bagi masyarakat Kabupaten Cianjur, Jabar, sudah tidak asing lagi. Selain karena kiprahnya yang nyata dalam mencetak dan mencerdaskan anak bangsa yang beraklaqul karimah, juga merupakan salah satu perguruan Islam tertua di Kabupaten Cianjur.

KH.R. Muhammad Nuh, mendirikan YPI-Al-I’anah, sebagai perwujudan cita-citanya sejak belajar ilmu agama Islam, yang ingin mendirikan sebuah pesantren dengan metode pembelajaran sistem sekolah.

Nama perguruan tersebut, awalnya diberi nama ianatuththolibin wal miskin yang artinya sesuai dengan tujuannya pada waktu itu, pertolongan bagi pelajar, dan anak-anak yang tidak mampu. Yang juga biasa disebut Al-Ianah atau ianah.

Al-I’anah didirkan dengan upacara yang khidmat, di rumah kediaman Rd. H. Tolhah dan dikunjungi oleh para kiai, ulama, para dermawan dan hartawan pada tanggal 17 September 1912 / 6 Syawal 1330 H. (Risalah Peringatan 60 tahun Perguruan Islam Al-I’anah Cianjur, 1390 H/1972).

Madrasah Al-I’anah pertama Kali membuka pendaftaran murid pada September 1912. Salah seorang murid pertama adalah R. H. M. Soleh Madani (ayahanda Ustadz Drs. KH. Yahya Soleh Madani). Madrasah yang dipakai adalah rumah panggung wakap dari R.H. Tolhah Al-Kholidy (salah seorang pendiri Al-I’anah). Guru pertamanya adalah Syekh Toyyib (Sudan) dan R. H. Muhyiddin, kakak KH. R. Muhammad Nuh bin Idris.

Syekh Toyyib Al Magrobi mengajar di Al-I’anah hanya dua tahun, karena diusir oleh pemerintah Belanda. Maka untuk mengisi kekosongan, Nadhir Al-I’anah dipegang oleh Al Ustadz Rd. Ma’mur keluaran pesantren Kresek Garut (Gudang Alfiyah) dan lulusan Jami’atul Khoer Jakarta (Gudang Bahasa Arab). Bayarannya satalen (25 sen) per bulannya. Satalen (atau sering ditulis “setalen”) adalah istilah lama untuk koin bernilai 25 sen. Istilah ini berasal dari Bahasa jawa dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk merujuk uang logam 25 sen.

Murid-murid belajar dengan duduk bersila, sedangkan gurunya duduk di kursi. Salah seorang murid generasi pertamanya menjadi nadhir (kepala) Madrasah Al-I’anah yaitu Al Ustadz Rd. H. M. Sholeh Madani (Sekitar tahun 1930).

Pada tahun 1918, Madrasah Al-I’anah melahirkan murid-murid pilihannya yang terdiri dari :

1. Rd. Abdullah bin Nuh

2. Rd. M. Zen

3. Rd. Taefur Yusuf

4. Rd. Asy’ari

5. Rd. Akung

6. Rd. M .Soleh Qurowi

Ke-6 orang murid yang bergelar dakhiliyyah itu diberangkatkan ke Pekalongan. Mereka bermukim di Pondok Pesantren Syamailul Huda yang dipimpin oleh seorang guru besar Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir Al-Alawi Al Hadromi, keturunan Hadramaut yang tinggal di Jl. Dahrian (sekarang Jl. Semarang) Pekalongan.

Syamailul Huda, demikian nama yang sering dikaitkan dengan Madrasah Islam yang berbau arab ini, meskipun banyak dari siswanya yang pribumi asli, dan barangkali dari pergaulannya yang supel dan tidak kenal suku maupun bangs aini pula yang kemudian banyak membentuk jiwa nasionalisme dan pan islamisme yang cukup tinggi. Madrasah Syamail Huda Pimpinan Sayyid Muhammad Hasyim seorang ulama dan sastrawan dan pendiri al basyir (1914: surat kabar bilingual (Arab dan Melayu) pertama di Hindia Timur.

Ali Ahmad Shahab, ialah salah seorang pendiri Jamiatul Khoir organisasi Pendidikan (1901) termasuk alumni Syamailul Huda. Putranya, Asad Shahab Bersama kakaknya D. Dzya Shahab dan sahabatnya Husein Alhabsyi mendirikan Arabian Press Board (APB) pada 2 September 1945.

Beberapa alumni Madrasah Al-I’anah yang pernah menjadi Imam di Masjid Agung diantaranya: K.R.H. Al-‘Allamah Abdullah bin Nuh, K.R.H. Abdullah, KH. Sholeh Al Madani dan K.R.H. Syafei Affandi (Hamijaya, N, 2025).

Adapun guru-guru Madrasah Al-I’anah generasi awal (1917-an) adalah :

1. Syeikh Toyyib

2. Ustadz R.H. Muhyiddin

3. Ustadz R. Ma’mur

4. Ustadz R. H. Abdullah bin Nuh

5. Ustadz R.H. Munji bin R.H. Muhammad

6. Ustadz R.H. Muhammad Zein bin R. H. Bakri

7. Ustadz R.H. Affandi bin R.H. Abdullah F

8. Ustadz R. H. Kosim bin Nuh

Perkembangan Al-I’anah dari Masa ke Masa (1917-1982)

1. Masa Pendahuluan

Pada pertengahan bulan September 1912 di rumah R.H. Tolhah al-Kholidi, di kampung kaum Kota Cianjur, telah diadakan pertemuan penuh dengan kegembiraan yang dihadiri para ulama, para dermawan dan orang-orang tua para pemimpin di Kota Cianjur. Maksudnya untuk mendirikan sebuah Madrasah yang sesuai dengan panggilan zaman.

Akhirnya dengan usaha yang cukup memakan waktu, tenaga dan pikiran, terutama harta, menjelmalah suatu lembaga pendidikan dan perguruan yang diberi nama “l’anatuttolib wa miskin” (Pertolongan bagi pelajar dan anak-anak yang tak mampu)

Usaha ini dipelopori oleh seorang ‘Alim, KH. R. Muhammad Nuh bin Idris dengan sokongan dari para tokoh masyarakat dan mendapat izin dari yang berwajib dalam bentuk Rechtpersoon (Badan Hukum) Al-l’anah dapat bekerja dengan penuh semangat.

Kira-kira tahun 1962 setelah Bapak Wijaya pimpinan pengajian diserahkan kepada Rd. H. Toha dengan bantuan dan Ustadz A. Abdurohim dan Sabilul-Muhtadin oleh Bapak Rd. Η Toha, sedangkan pengajian wanita dapat bimbingan dari ibu Re Khodijah Makhtum.

Perguruan besar Al-l’anah karya KH. R. Muhammad Nuh yang kedua didirikan pada tahun 1912 diusahakan sampai mendapatkan akta Badan Hukum (Rechtpersoon) pada waktu itu namanya l’anatuththolibin wal Miskin nama yang sesuai dengan tujuannya, mendidik dan mengarah kesosialan.

Oleh karena akte Recht Person itu dengan batas waktu yang tertentu, maka pada tanggal 11 September 1962 akte pergurua Islam Al-l’anah diperbaharui dengan ditandatangani oleh KH.Rd. Abdulah bin Nuh dan R. N. Abubakar dihadapan notaris Abdullatif di Jakarta dan selesai pada tanggal 11 Desember 1962. dengan nama Yayasan Perguruan Islam Al-l’anah

2. Masa Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan berdirinya Negara Republik Indonesia dan UUD 1945 pada 18 Agutsus 1945, pihak Belanda tetap berusaha melakukan upaya menguasai kembali wilayah jajahannya melalui Agresi Militer-nya termasuk Cianjur sehingga terjadi pertempuran.

Siasat pimpinan perjuangan Cianjur ialah meninggalkan kota dan dibumihanguskan, maka Perguruan Al-l’anah ditutup dan anak-anak muridnya yang dewasa ikut berjuang menjadi anggota barisan Hizbullah tepat pada bulan Juni 1946.

Dalam masa pendudukan tentara Belanda di Cianjur, pada tanggal 6 September 1947 tibalah saatnya Al-l’anah dibuka kembali dengan keputusan perundingan antara RH. Kosim Iman, RH. Kosim bin Nuh, S. Ali Marta dan R.N. Abubakar dan R. Hasan Sumintapura selaku pelindung.

Setelah tercapainya Persetujuan Linggarjati, pada masa pendudukan Belanda, Madrasah Al-l’anah mulai dibuka kembali pada sore hari, tepatnya sejak 6 September 1947. Pada 16 Agustus 1948, kegiatan belajar mengajar dilakukan pada sore hari karena pada pagi harinya bangunan digunakan oleh SD Gadis. Al-I’anah terpaksa menggunakan bangku-bangku SD tersebut, karena perabotan sekolah sebelumnya telah habis dibakar oleh tentara pendudukan Belanda untuk dijadikan kayu bakar.

Setelah diterima berita bahwa SD Gadis akan pindah, mulai dibentuk “Panitia Bangku” yang bertugas membuat bangku-bangku. Alhamdulillah lebih kurang 450 orang murid pada waktu SD Gadis pindah tidak pernah murid-murid duduk di atas lantai, berkat hasil perjuangan Panitia tersebut.

Madrasah Al-l’anah itu adalah tingkat Ibtidaiyah dan Diniyah.

1. Guru-guru Madrasah :

a. R. Mh. Soleh

b. R.N. Abubakar

c. RHS. Affandi

d. A. Abdurrahim

e. RE. Hasan

f. E. Saman

g. A. Kosasih

h. S. Turo

2. Susunan Pengurus Al-l’anah

Ketua : RH. Bustom

Wm. Ketua: R. Mh. Soleh

Penulis I : N. Abubakar

Penulis II: RHS. Affandi

Bendahara: S. Ali Marta

Penasehat: R.I. Buldan Jayawiguna

Penasehat: R.A. Muchtar

Sekolah Menengah Islam Al-I’anah Didirikan 1950

Cita-cita adanya perguruan dan pendidikan tingkat menengah berdasarkan Islam telah tumbuh dimana-mana, termasuk di seluruh Indonesia. Dalam hal ini Ummat Islam di Cianjur tidak mau ketinggalan. Oleh karenanya pemuka-pemuka Al-l’anah segera bertindak mendirikan sekolah tersebut di atas, yang menjelma dengan nama SMI Al-l’anah (Sekolah Menengah Islam Tingkat Pertama).

Jelasnya pada tanggal 4 Juni 1950 di salah satu ruangan Perguruan Al-l’anah telah dilangsungkan pertemuan di antara para pemuka di Kabupaten Cianjur antara lain:

R.H. Bustom, Ketua Perguruan Al-l’anah, juga menjabat sebagai Penghulu Kabupaten Cianjur.

S. Ali Marta, Bendahara dan Pengusaha

R.I Djajawiguna, Kepala Kantor Pengajaran Cianjur

N. Abubakar, Penulis Perguruan Al-I’anah

RH. Mh.Sein, Guru Kepala Al-I’anah

R.M. Sirodj, Wakil Kepala KUA Kab. Cianjur

S. Muljosuhardjo, A. Abdurrahhim, Sobirudin masing-masing Guru di Al-I’anah dan beberapa orang tua/wali murid.

1. Guru-Gurunya

Beberapa guru dari SMP Negeri ikut serta menyumbangkan tenaga dan pikirannya yang dipelopori oleh kepala sekolah, yaitu B. Endropranoto. Dengan dorongan moral dan material dari masyarakat berdirilah SMI Al-I’anah dengan susunan dewan guru sebagai berikut:

a. N. Abubakar – Kepala Sekolah; mengajar ilmu sejarah

b. S. Mulyosuhardjo – Guru Bahasa Indonesia

c. E. Nonong – Guru Bahasa Inggris

d. M. Ocid – Guru Ilmu Ukur

e. R. Muharam – Guru Ilmu Al Jabar

f. B. Endropranoto – Guru Ilmu Alam

g. Djunaedi Warcadjaja – Guru Ilmu bumi

h. R.E. Hasan – Guru Ilmu Hayat

i. R. H. M. Syadi’ie – Guru Fiqh, Tafsir dan Hadis

j. R. M. Soleh – Guru Bahasa Arab

k. D. Djuhdi – Guru Ilmu Tauhid

2. Jumlah Murid-Muridnya

Murid-muridnya yang masuk ada sejumlah 20 orang. Pada akhir tahun pelajaran 1953 yang lulus masuk SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) ada 11 orang yang berlokasi di Bandung.

Kira-kira tahun 1962, setelah Bapak Wijaya, pimpinan pengajian diserahkan kepada Rd. H. Toha, dengan bantuan dari Ustadz A. Abdurohim dan Sabilul-Muhtadin. Sedangkan pengajian wanita dibimbingan oleh Ibu Rd. Khodijah Makhtum.

Perguruan besar Al-l’anah tahun 1912 diusahakan sampai mendapatkan akte Badan Hukum (Rechtpersoon) pada waktu itu namanya l’anaththuTholib wal Miskin nama yang sesuai dengan tujuannya, mendidik dan mengarah kesosialan.

Oleh karena akte Recht Person itu dengan batas waktu yang tertentu, maka pada tanggal 11 September 1962 akte perguruan Islam Al-l’anah diperbaharui dengan ditandatangani oleh KH. Abdulah bin Nuh dan R.N. Abubakar dihadapan notaris Abdullatif di Jakarta selesai pada tanggal. 11 Desember 1962 dengan nama Yayasan Perguruan Islam Al-l’anah.

Alumni Madrasah Al I’anah (1918-1950)

1. R.H. Moch Sholeh Madani Murid Pertama yang Menjadi Nadir Al I’anah

Beliau adalah angkatan pertama madrasah Al- l’anah (1917-1918). Menjadi guru bersama R. Moch. Kosim bin Nuh, sampai dengan tahun 1930. Kepala Sakola (Nadzir) Madrasah Al-I’anah (1930-1946) Kepala Jawatan Agama Kabupaten Cianjur merangkap Ketua Sementara DPRD Kabupaten DT II Cianjur (1948-1959). Tahun 1951-1959 sebagai Pemilik Pendidikan Agama Cianjur. Tahun 1959 – 1979 Ketua Majelis Soleh juga merupakan tokoh ulama di Cianjur.

2. KH. Endang Abdurrahman: Ketua Umum PP Persis (1962-1983)

KH. Endang Abdurrahman dilahirkan di kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Cianjur pada hari Rabu 12 Juni 1912. Ayahnya bernama Ghazali, ibunya bernama Hafsah. Ust. Abdurrahman (begitu beliau disapa jama’ah Persis) merupakan putra sulung dari 11 bersaudara.

Setelah memasuki usia 8 tahun (1919) KH. Endang Abdurrahman melanjutkan pendidikan ke Madrasah Al-l’anah di Cianjur. Di madrasah Al-l’anah ini, KH. Endang Abdurrahman mendapat pembinaan dan dididik dengan berbagai disiplin ilmu, terutama dalam kemampuan bahasa Arab. Apalagi madrasah al-I’anah pada saat itu sudah memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa percakapan. Sehingga para santri diwajibkan untuk menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari, baik di dalam maupun di luar kelas. Bagi yang melanggar ketentuan tersebut akan mendapat sangsi hukum. KH. Endang Abdurrahman menamatkan pendidikannya selama kurang lebih tujuh tahun di Al-l’anah (1919-1926).

3. K.H. Ali Ghazaly: Pakar Hisab Persatuan Islam

Di kalangan organisasi Persatuan Islam (Persis), nama KH. Ali Ghazaly, bukan sosok yang asing lagi. Tokoh kelahiran Bojong Herang, Cianjur 1935, itu merupakan cendekiawan yang ahli di bidang astronomi atau ilmu falak. Ustaz Ali, begitu akrab disapa, piawai dalam hisab.

Putra dari pasangan Didi dan Maemunah itu, lahir di lingkungan keluarga yang agamis. Jenjang pendidikan yang ia tapaki, semakin memperkuat bekal yang ia serap dari keluarganya. Merasa tidak puas bersekolah di sekolah rakyat pada tahun 1947, putra ketiga dari 12 bersaudara itu, berminat belajar ilmu agama di madrasah Muawanah Cianjur. Ia mulai menyelami ragam ilmu pengetahuan agama. Pada tahun 1950 1952, Ghazaly, begitu pula sebagian orang menyapanya, menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyyah Al-I’anah Cianjur.

4. H. Moch. E. Kosasih Bin H. Basari/Enung Saribanon Binti H. Edi

Beliau lahir di Cianjur, 15 September 1929; wafat di Cianjur, 24 September 2009 yang juga merupakan alumni Madrasah Al-I’anah pada tahun 1946-1948. Menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia Kab. Cianjur tahun 1964 dan anggota DPRGR Kab. Cianjur Fraksi Partai Nahdatul Ulama Indonesia Kab. Cianjur pada tahun 1960. Kemudian pensiun dari Departemen P&K Propinsi Jawa Barat. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga KH. R. Marzuki bin R.H. Yusuf Pamoyanan Cianjur.

5. KH. Drs. Endang Hasbullah Hafidzi : Tokoh Syarikat Islam & Pendiri Yayasan Darul Hikam Bandung

Belilau Lahir di Bandung, 16 Juni 1923 dan wafat pada tahun 2012. Mengenyam pendidikan di Ibtidaiyyah dan Tsanawiyah al l’ianah Cianjur pada tahun 1933-1942. Kemudian beliau kembali ke Cisitu Girang (Dago), Bandung pada tahun 1942 dan merintis majelis taklim, masjid, dan sekolah islam (TK-SMA) dengan mendirikan Yayasan Darul Hikam. Endang aktif sejak muda di Pandu SIAP, Pemuda Muslimin, dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) pada tahun 1950 dan Ormas Islam Syarikat Islam (SI) Jawa Barat.

6. H. R. N. Abubakar : Sekretaris KH. R. Muhammad Nuh bin Idris

Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus Ketua Badan Pengurus Yayasan Perguruan Islam Al-l’anah, sebagaimana tercantum dalam Akte Notaris Abdullatif tertanggal 11 Desember 1962. Yayasan ini beralamat di Jalan Masjid Agung No. 122, Cianjur, dan telah menjadi pusat kegiatan pendidikan dan dakwah Islam yang penting di kota tersebut.

a. Lahir dari Garis Keturunan Ulama dan Bangsawan

H.R.N. Abubakar lahir pada tahun 1912 di Kampung Sadang, Gang Rinjani, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. La merupakan putra dari pasangan R. Alwi dan N.R. Salamah. Dari garis ayahnya, ia adalah keturunan kesembilan dari R. Djayasasana, yang juga dikenal sebagai Aria Wiratanu atau Dalem Cikundul, yang merupakan pendiri dan penguasa pertama Cianjur. Sementara dari pihak ibu, ia merupakan keturunan kesepuluh dari R. Aria Adeg Daha, Bupati Sukapura ketiga.

Namun, sejak kecil Abubakar harus menjalani hidup sebagai yatim piatu setelah ditinggal wafat oleh kedua orang tuanya. Kondisi ini membentuk keteguhan jiwanya dan membuka jalan bagi pembentukan karakter yang matang dan mandiri sejak dini.

b. Tumbuh dalam Dua Lingkungan yang Berbeda

Abubakar dibesarkan dalam dua lingkungan yang berbeda, namun saling melengkapi. Ia tinggal bersama pamannya, R. Hasan Soemintapura, yang menjabat sebagai Patih Cianjur pada tahun 1947. Dari pamannya ini, ia mengenal langsung kehidupan dalam struktur pemerintahan Hindia Belanda. R. Hasan Soemintapura juga dikenal sebagai tokoh yang turut melindungi dan mendukung dibukanya kembali Perguruan Al-l’anah setelah sempat ditutup pada bulan Juni 1946.

Selain itu, Abubakar juga banyak menghabiskan masa kecil dan remajanya bersama bibinya, N.R. Hj. Aisyah, istri KH. R. Muhammad Nuh bin Idris. Lingkungan ini membentuk kehidupan spiritual dan intelektual Abubakar dalam suasana keislaman yang kuat dan mandiri, di luar pengaruh pemerintahan kolonial.

c. Menimba Ilmu dan Membentuk Visi Pendidikan

Sekitar tahun 1919 hingga 1925, Abubakar menempuh pendidikan di Madrasah Al-l’anah, tempat yang kelak menjadi bagian penting dalam perjuangan hidupnya. Selain mengikuti pendidikan formal di madrasah tersebut, ia juga mengikuti berbagai pengajian yang diasuh oleh KH. R. Muhammad Nuh bin Idris dan KH. Abdullah bin Nuh, dua ulama besar yang turut membentuk pemikiran keislaman dan sosialnya. Ia juga sempat menimba ilmu kepada KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah dan sahabat KH. R. Muhammad Nuh bin Idris) ketika tokoh besar tersebut berada di Cianjur.

Pengalaman menimba ilmu dari para tokoh ini bukan hanya memperluas wawasan keagamaannya, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya peran pendidikan Islam dalam membentuk masyarakat yang beradab dan mandiri.

d. Aktivitas, Pengabdian, dan Perjuangan

H.R.N. Abubakar mengawali kiprah pengabdiannya sebagai guru agama dan pegawai negeri di SMP Negeri Cianjur. Ia kemudian menjabat sebagai penilik pendidikan agama di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Cianjur, menjadi Dosen di Fakultas Tarbiyah Al-l’anah dan Perguruan Tinggi Suryakencana Cianjur. Beliau menunjukkan dedikasinya dalam pembinaan pendidikan Islam di institusi formal. Kemudian pada tahun 1932 hingga 1939, ia mengelola Majalah Al-Moe’min, sebuah media dakwah yang menjadi sarana penyebaran pemikiran keislaman.

Sebagai Sekretaris pribadi KH. R. Muhammad Nuh bin Idris, ia menyusun buku Lenyeupaneun, yang memuat gagasan dan pemikiran KH. R. Muhammad Nuh bin Idris. Begitu pula sebagai Sekretaris Pengajian KH. R. Abdullah bin Nuh di Cianjur membantu menyebarkan dan memperbanyak pemikiran-pemikirannya dalam bentuk cetakan-cetakan seperti dari Kitab Ana Muslim, sekaligus aktif juga dalam kegiatan pembelajaran di Madrasah Al-l’anah. Ia juga kerap menjadi dewan juri dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di tingkat Kabupaten Cianjur.

Pada tahun 1946, pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Abubakar dan keluarganya ikut dalam strategi pergerakan perjuangan dengan meninggalkan kota dan membumihanguskan Cianjur. Mereka mengungsi ke daerah Golebag Munjul, Cilaku, Cianjur untuk menghindari gangguan dari pihak Belanda, termasuk dengan menutup sementara kegiatan Perguruan dan Madrasah Al-l’anah.

Kemudian pada tahun 1947, ia bersama tim dipanggil dari pengungsian oleh pamannya, R. Hasan Soemintapura, dan diperintahkan untuk membuka kembali Perguruan dan Madrasah Al-l’anah.

H.R.N. Abubakar wafat pada tanggal 3 April 1984 dan dimakamkan di TPU Sirnalaya 1, Cikaret, Cianjur.

Keluarga dan Kehidupan Pribadi Sekitar tahun 1930-an, H.R.N. Abubakar bin R. Alwi menikah dengan Siti Komariah binti Ili Junaedi, yang berasal dari Kampung Bojongmeron, Solokpandan, Cianjur. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai enam orang putra dan putri:

1) H.R. Dungding Nasruddin, Drs. (1936-2021).

2) N. R. Faridah.

3) N.R. Fatmah Muniroh

4) R. Zainul Arifin

5) R. Zainul Muttaqin

6) N. R. Nanay Fatimah, S.E.

Yayasan Perguruan Islam Al-I’anah Lengkap Menyelenggarakan Pendidikan Formal

Pada 1 Agustus 1950, didirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) Al-l’anah dengan H.R.N. Abubakar sebagai Kepala Sekolah. Selanjutnya, pada 11 Desember 1962, Perguruan Al-l’anah secara resmi menjadi Yayasan Perguruan Islam (YPI) Al-I’anah berdasarkan Akte Notaris Abdullatif, dengan H.R.N. Abubakar sebagai salah satu Badan Pendiri dan menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus sampai akhir hayatnya tanggal 3 April 1984, dan berdasarkan laporan pada momen Peringatan 70 Tahun Al-I’anah (Tahun 1912 s/d 1982), Yayasan Perguruan Islan Al-l’anah sudah lengkap menyelenggarakan lembaga Pendidikan Formal mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) Al-l’anah, Madrasah Ibtidaiyah (MI) asalnya Madrasah Al-l’anah, Sekolah Menengah Pertama (SMP) asalnya SMI Al-l’anah yang ada di Kaum Cianjur dan ada SMP Al-l’anah di Parakan Tugu Kadupandak Cianjur, Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-I’anah, Sekolah Teknologi Menengah Al-I’anah (STEKMAL), Sekolah Pendidikan Guru Al-I’anah (SPGAL), Fakuktas Tarbiyah Al-I’anah/Perguruan Tinggi dan termasuk Non Formalnya, Madrasah Diniyah Al-I’anah dan Majlis Ta’lim Al-I’anah.

Daftar Pustaka

Hamijaya, N. A. (2025) KH. R. Muhammad Nuh bin Idris Pendiri Madrasah Al I’anah Cianjur (Ulama, Muqoddam Tijani, Advisuur SI dan Politisi Masjoemi. Cianjur: Pusbangter