Sad Playlist, Sad Life: Ketika Musik Bikin Makin Terpuruk

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nia Arniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musik sering kali dianggap sebagai obat yang ampuh untuk berbagai kondisi emosional. Ia hadir sebagai teman di saat suka maupun duka, menawarkan ketenangan, pelarian, dan hiburan yang kadang tidak mampu diberikan oleh orang lain. Meski begitu, anggapan bahwa musik selalu membawa dampak positif ternyata tidak sepenuhnya tepat. Dalam situasi tertentu terutama bagi individu yang mengalami depresi musik justru bisa memberikan efek sebaliknya dan memperburuk kondisi mental mereka.
Tidak sedikit orang yang mengalami gejala depresi memilih mendengarkan lagu-lagu bernuansa sedih karena merasa isi lirik dan emosi yang disampaikan sesuai dengan perasaan mereka. Lagu-lagu semacam ini memberi kesan bahwa perasaan seperti kesedihan, keputusasaan, dan kehampaan yang mereka alami memang valid dan dapat dimengerti. Sayangnya, dari sinilah potensi masalah muncul. Ketika musik sedih diputar terus-menerus tanpa adanya upaya pemulihan, hal ini dapat memicu proses rumination yakni kecenderungan untuk memutar ulang pikiran serta emosi negatif secara terus-menerus. Alih-alih membantu mengurangi kesedihan, musik bisa membuat seseorang terjebak lebih lama dalam kondisi emosional tersebut.
Remaja yang mengalami gejala depresi cenderung lebih sering memilih lagu-lagu yang mencerminkan perasaan negatif mereka. Bukannya merasa lebih baik, mereka justru semakin tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Beberapa orang bahkan mengungkapkan bahwa mereka sulit berhenti mendengarkan lagu-lagu sedih karena merasa hanya musik seperti itulah yang bisa "mengerti" perasaan mereka. Dalam kondisi seperti ini, musik tidak lagi berperan sebagai alat untuk penyembuhan, tetapi berubah menjadi ketergantungan yang memperkuat luka batin yang belum terselesaikan.
Tak bisa dipungkiri, musik memiliki kekuatan besar untuk merefleksikan emosi. Namun, bila seseorang terus-menerus berkaca pada refleksi tersebut tanpa ada niat untuk bangkit atau berubah, maka musik hanya akan memperdalam luka, bukan menyembuhkannya. Situasi ini diperburuk dengan adanya sistem algoritma di layanan streaming seperti Spotify dan YouTube, yang secara otomatis menyarankan lagu-lagu sejenis berpindah dari satu daftar putar “Sad Vibes” ke daftar putar lainnya. Tanpa disadari, hal ini dapat membuat seseorang terjebak dalam lingkaran emosi yang berulang dan tertutup, yang mereka bangun sendiri.
Mendapatkan validasi emosi lewat musik memang memiliki peran penting, namun jika hal itu justru membuat kondisi emosional semakin memburuk, maka cara kita memanfaatkan musik patut dipertimbangkan kembali. Beberapa psikolog menyarankan agar kita lebih selektif dalam menyusun playlist, dengan kesadaran penuh. Ini berarti tidak hanya dipenuhi oleh lagu-lagu yang bernuansa sedih, tetapi juga diimbangi dengan musik yang netral, penuh harapan, atau bahkan alunan instrumental yang memberi ketenangan. Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan membuat dua daftar putar: satu untuk mengekspresikan emosi negatif, dan satu lagi untuk membantu mengalihkan atau memperbaiki suasana hati. Selain itu, memperhatikan perubahan perasaan sebelum dan setelah mendengarkan lagu juga penting dilakukan.
Pada akhirnya, musik bisa menjadi teman dalam perjalanan emosional kita, tetapi ia bukanlah satu-satunya sandaran. Jika musik yang dipilih justru memperparah perasaan luka, mungkin saatnya untuk mengganti lagu atau menekan tombol jeda. Dalam menghadapi depresi, mencari pertolongan profesional, berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, dan mengembangkan mekanisme koping lainnya tetap menjadi langkah penting. Musik memang punya kekuatan untuk menyembuhkan, namun ia juga bisa melukai semuanya tergantung pada bagaimana dan untuk tujuan apa kita menggunakannya.
